Ini Varian-Varian Coronavirus yang Perlu Diketahui
Ada beberapa varian coronavirus yang sudah berkembang sejak pandemi 2020.

Coronavirus (SARS-CoV-2) telah mengalami berbagai mutasi sejak pertama kali ditemukan pada akhir 2019.
Mutasi tersebut melahirkan varian-varian baru yang kadang lebih cepat menular, menimbulkan gejala berbeda, atau bahkan bisa menghindari perlindungan dari vaksin.
Lantas, varian mana saja yang masih menjadi perhatian saat ini? Yuk, simak penjelasan lengkapnya!
Kenali Varian-Varian Coronavirus (COVID-19)
Sejak awal pandemi, virus corona telah mengalami berbagai mutasi.
Proses ini adalah hal alami dari virus yang terus bereplikasi, dan setiap perubahan kecil dalam struktur genetiknya disebut sebagai varian.
Beberapa varian terbukti lebih mudah menular atau menimbulkan gejala yang berbeda dari varian sebelumnya.
Berikut adalah deretan varian utama virus corona yang pernah menyebar di dunia:
1. Varian Alfa
Varian Alfa pertama kali ditemukan pada September 2020 di Inggris, dan dikenal dengan kode varian B. 1.1.7. Tingkat penularan varian virus ini adalah 43-90 persen lebih tinggi dari virus sebelumnya.
Orang yang terinfeksi virus corona varian Alfa mengalami beberapa gejala corona berikut:
- Sesak napas.
- Nyeri dada.
- Hilangnya indera perasa dan penciuman.
2. Varian Beta
Varian Beta adalah mutasi virus corona yang pertama kali ditemukan pada Oktober 2020 di Afrika Selatan.
Selain itu, varian dengan kode B. 1.351 ini diketahui 50 persen lebih mudah menular dari varian sebelumnya.
Gejala infeksi varian coronavirus ini sama seperti gejala pada varian Alfa dan infeksi COVID-19 secara umum.
3. Varian Delta
Sempat menjadi penyebab gelombang kedua di berbagai negara, varian Delta pertama kali ditemukan pada Oktober 2020 di India. Varian ini juga disebut dengan kode B.1.617.2.
Tingkat penularan varian virus ini 30–100 persen lebih mudah menular dari varian Alfa. Selain itu, varian ini juga dapat menular lebih cepat dan berpotensi tinggi menyebabkan gejala yang parah.
Gejala infeksi COVID-19 varian delta dapat muncul dalam 3-4 hari setelah terinfeksi. Berikut beberapa gejala yang umum dialami:
- Sakit kepala.
- Sakit tenggorokan.
- Pilek.
- Batuk.
- Sesak napas.
- Sakit kepala.
- Kelelahan.
- Kehilangan indera perasa atau penciuman.
4. Varian Gamma
Varian Gamma pertama kali ditemukan di Brazil dan Jepang pada November 2020, varian Gamma dikenal dengan kode P. 1.
Gejala umum yang ditimbulkan infeksi COVID-19 varian ini sama seperti varian lain, yaitu sesak napas, sakit kepala, sakit tenggorokan, batuk dan pilek.
5. Varian Epsilon
Varian Epsilon atau B.1.427/B.1.429 adalah mutasi coronavirus yang pertama kali ditemukan di California, Amerika Serikat.
Pada 19 Maret 2021, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memasukkan varian ini sebagai variant of concern (VOC) karena sempat menyebabkan peningkatan kasus di beberapa wilayah.
Gejala dari infeksi coronavirus varian ini mirip seperti varian lain, yaitu:
- Sesak napas.
- Sakit kepala.
- Sakit tenggorokan.
- Batuk.
- Pilek.
6. Varian Lambda
Varian Lambda atau C. 37 pertama kali ditemukan di Peru dan beberapa negara di Amerika pada Desember 2020.
Hingga saat ini, belum diketahui tingkat penularan dan keparahan infeksi akibat varian coronavirus ini.
Namun, tingkat penularan varian ini diketahui tidak berbeda jauh dengan virus corona jenis pertama.
7. Varian Zeta
Varian Zeta adalah mutasi virus corona yang pertama kali ditemukan di Brazil, dengan kore P. 2. Virus corona varian zeta mirip seperti varian Gamma, termasuk dari segi gejala.
8. Varian Eta
Varian Eta pertama kali teridentifikasi di Inggris pada Desember 2020.
Virus ini juga disebut B.1525 ini membawa mutasi E484-K seperti yang ditemukan di varian Gamma, Beta, dan Zeta.
Gejala dari infeksi varian ini sama seperti gejala COVID-19 secara umum.
Namun, hingga saat ini, WHO masih menetapkan varian Eta sebagai Variant of Interest (VOI), karena tidak menjadi kekhawatiran seperti varian lain.
9. Varian Theta
Pertama ditemukan di Filipina pada Maret 2021, varian Theta dikenal juga dengan kode P. 3.
Hingga kini belum banyak informasi mengenai tingkat penularan dan keparahan infeksi akibat varian ini.
Namun, varian Theta disebut-sebut lebih cepat menular dibanding varian sebelumnya.
Dari segi gejala, secara umum sama seperti varian lainnya.
10. Varian Iota
Coronavirus varian Iota pertama kali ditemukan pada November 2020 di New York, Amerika Serikat. Hingga kini, belum diketahui apakah varian dengan kode B.1.526 ini memiliki tingkat penularan dan keparahan infeksi yang lebih tinggi dari varian lain.
11. Varian Mu
Coronavirus varian Mu pertama kali diidentifikasi di Kolombia pada Januari 2021, lalu secara ilmiah disebut dengan kode B.1.621. Hingga saat ini WHO masih mengklasifikasikan varian Mu sebagai VOI.
Sebab, varian ini diketahui belum menimbulkan kekhawatiran seperti pada varian Alpha dan Delta. Gejala umum infeksi COVID-19 varian Mu mirip seperti varian lainnya, yaitu demam, batuk, dan hilangnya indra perasa serta penciuman.
12. Varian Kappa
Sama seperti varian Delta, coronavirus varian Kappa juga pertama kali ditemukan di India pada Desember 2020.
Varian dengan kode B.1.617.1 ini masih diklasifikasikan sebagai VOI, sama seperti varian Lambda, Eta, dan Iota.
Hal ini karena belum ada data untuk memastikan tingkat penularan, keparahan infeksi, dan jenis gejala yang ditimbulkan oleh COVID-19 varian Kappa ini.
13. Varian Omicron
Varian Omicron pertama kali dilaporkan ke WHO pada 24 November 2021, dari Afrika Selatan.
Coronavirus yang memiliki kode B.1.1.529 ini diklasifikasikan sebagai VOC, karena memiliki karakter yang perlu diwaspadai seperti varian Delta, Gamma, Beta, dan Alpha.
Varian Omicron diketahui memiliki sekitar 30 kombinasi mutasi dari sejumlah varian virus corona sebelumnya, seperti C.12, Beta dan Delta.
Ini membuat varian Omicron berpotensi lebih cepat menular dibanding varian Delta dan memungkinkan terjadinya reinfeksi atau infeksi berulang.
Hingga saat ini, ada beberapa subvarian turunan lainnya dari Omicron yang perlu diwaspadai, yaitu:
- BA.2: Subvarian Omicron BA.2 sudah terdeteksi di Indonesia sejak awal Januari 2022. Gejala-gejala yang timbul adalah mirip dengan subvarian BA.1. Cenderung seperti flu biasa, sakit tenggorokan, batuk, pilek, dan badan terasa pegal-pegal. Kendati demikian tingkat penularan subvarian Omicron BA.2 lebih tinggi dibandingkan subvarian sebelumnya.
- BA.3: Subvarian BA.3 pertama kali terdeteksi di barat laut Afrika Selatan. Subvarian Omicron BA.3 menyebar dengan kecepatan yang sangat rendah. Selain itu, subvarian ini juga menyebabkan lebih sedikit kasus dibanding BA.1 dan BA.2. Gejala yang timbul dari infeksi subvarian BA.3 dikabarkan cukup ringan dan hampir sama dengan BA.1 dan BA.2.
- BA.4 dan BA.5: Pertama kali terdeteksi di Indonesia pada 6 Juni 2022. Sub varian BA.4 dan BA.5 ini dikabarkan memiliki efektivitas angka reproduksi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan BA.2 atau subvarian lain. Artinya, sub varian ini memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi dibandingkan sub varian sebelumnya.
- BN.1: Pada November 2022, CDC mencatat subvarian lain dari Omicron, yaitu BN.1. Subvarian ini merupakan nama pendek dari B.1.1.529.2.75.5.5.1. Gejala COVID-19 subvarian Omicron ini mirip dengan subvarian lainnya.
Beberapa gejala umum dari infeksi varian Omicron adalah:
- Pilek.
- Sakit kepala.
- Kelelahan ringan hingga parah.
- Bersin-bersin.
- Sakit tenggorokan.
Selain berbagai varian virus tadi, beberapa kondisi juga perlu diwaspadai, yaitu flurona. Kondisi flurona adalah koinfeksi atau infeksi ganda yang terjadi ketika seseorang terinfeksi virus corona dan virus flu secara bersamaan. Flurona memiliki gejala yang mirip seperti gejala infeksi COVID-19 pada umumnya.
Pada kasus yang ringan dan sedang, gejala yang dapat muncul adalah:
- Demam.
- Batuk.
- Kelelahan.
- Diare.
- Pilek.
- Mual dan muntah.
- Sakit kepala.
- Sakit tenggorokan.
- Hilangnya kemampuan indra penciuman dan perasa.
Beberapa orang juga dapat mengalami gejala berat akibat flurona. Misalnya sesak napas, nyeri dada, sulit bicara, penurunan kesadaran, serta wajah, bibir, dan kuku tampak kebiruan atau pucat.
14. Varian XBB
Omicron sub varian XBB terdeteksi saat adanya lonjakan kasus infeksi COVID-19 di beberapa negara pada Agustus 2022. Negara-negara tersebut yaitu Thailand, Australia, Bangladesh, Singapura, Denmark, India, Jepang, dan Amerika Serikat.
Para ahli menyatakan sub varian XBB ini memiliki tingkat penularan yang tinggi dibandingkan dengan sub varian Omicron lainnya.
Sementara itu, gejala COVID-19 sub varian ini mirip dengan varian virus corona lainnya, yaitu demam, batuk, sesak napas, dan sakit kepala. Gejalanya pun tidak dapat memburuk dan risiko kematiannya sangat rendah.
15. Varian Kraken (XBB.1.5)
Pada akhir 2022, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mulai mengkhawatirkan kemunculan COVID-19 varian baru yang disebut Kraken atau subvarian omicron XBB.1.5. Pasalnya, varian baru ini dapat menyebar lebih cepat dibandingkan varian lainnya.
Selain itu, menurut Maria Van Kerkhove, pemimpin teknis COVID-19 WHO, Kraken merupakan subvarian yang paling menular. Jenis virus tersebut dapat menempel pada sel dan menggantinya dengan mudah.
Jika subvarian Omicron XBB dapat menghindari sistem kekebalan tubuh manusia, maka tidak demikian dengan XBB.1.5. Meskipun lebih mudah menular dari varian lainnya, Omicron XBB.1.5 tidak bisa menghindari dari sistem kekebalan tubuh yang terbentuk dari vaksin COVID-19 maupun infeksi corona sebelumnya.
Sementara itu, gejala sub varian Omicron XBB 1.5 sama seperti gejala virus corona pada umumnya. Seperti, sakit kepala, kelelahan, bersin, sakit tenggorokan, hingga pegal-pegal pada seluruh tubuh.
16. Varian Orthrus
Varian Orthrus adalah subvarian dari Omicron, atau dikenal juga dengan nama CH.1.1. Subvarian ini dilaporkan pertama kali di India pada Juli 2022, dan kemudian menyebar di 66 negara, termasuk Indonesia.
Mengutip laman Kementerian Kesehatan, hingga artikel ini ditulis, telah tercatat adanya 14 kasus subvarian CH.1.1 atau varian orthrus di Indonesia. Kasus pertama dilaporkan pada 11 oktober 2022. Sepuluh kasus berasal dari Provinsi DKI Jakarta, sementara empat kasus lainnya berasal dari provinsi Lampung, Riau, dan Jawa Barat.
Pengobatan Coronavirus
Meski varian terus berubah, prinsip pengobatan COVID-19 relatif tetap dan melibatkan pendekatan yang disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala:
- Konsultasi Medis Sejak Dini
Segera lakukan konsultasi dokter jika mengalami gejala COVID-19 atau terkonfirmasi positif.
Dokter akan menentukan apakah kamu perlu isolasi mandiri atau perawatan lanjutan.
- Obat Antivirus
Obat seperti Paxlovid (nirmatrelvir/ritonavir) dan remdesivir direkomendasikan untuk pasien berisiko tinggi.
Jika dikonsumsi dalam 5 hari sejak timbulnya gejala, obat ini bisa menurunkan risiko perburukan secara signifikan.
- Perawatan Simptomatik di Rumah
Pasien tanpa gejala berat bisa menjalani perawatan di rumah dengan:
- Paracetamol untuk demam atau nyeri tubuh.
- Obat batuk dan pelega tenggorokan.
- Hidrasi yang cukup dan istirahat total.
- Pemantauan saturasi oksigen secara berkala.
- Waspada Komplikasi
Jika muncul sesak napas, nyeri dada, kebingungan, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen, segera ke fasilitas kesehatan.
Lansia dan penderita komorbid harus lebih waspada terhadap kemungkinan pneumonia atau gagal napas.
Cara Mencegah Coronavirus
Menghadapi varian yang terus bermutasi, langkah pencegahan tetap menjadi senjata utama:
- Gunakan masker medis di tempat umum dan ruang tertutup.
- Vaksinasi lengkap dan booster sesuai anjuran otoritas kesehatan.
- Jaga jarak fisik minimal 1–2 meter.
- Cuci tangan secara rutin dengan sabun atau hand sanitizer.
- Pastikan ventilasi baik di dalam ruangan.
- Segera isolasi mandiri dan konsultasi dokter jika merasa tidak enak badan.
Kamu juga disarankan untuk menjaga imunitas tubuh lewat pola makan bergizi, olahraga teratur, tidur cukup, dan mengelola stres dengan baik.
Bingung bagaimana cara memulai pola makan sehat? Ini 7 Tips Menerapkan Pola Makan Sehat yang Mudah Dilakukan.
Infus Immune Booster dengan Cernevit di Rumah Pakai Halodoc
Nah, untuk mendapatkan infus vitamin booster cernevit, kamu tak perlu lagi pergi ke klinik atau antre di rumah sakit.
Sebab, kamu bisa melakukan Infus Immune Booster Cernevit dari rumah dengan layanan Homecare by Halodoc(tersedia di Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar).
Layanan Homecare by Halodoc akan mendatangkan tenaga medis profesional ke rumah atau lokasi manapun yang kamu pilih untuk melakukan Infus Immune Booster Cernevit.
Ada beberapa keunggulan dari layanan vitamin booster di Halodoc:
- Injeksi Vitamin diberikan 100% oleh tenaga medis profesional. Ini Daftar Perawat yang Tangani Layanan Vitamin Booster Homecare by Halodoc
- Setelah vitamin diberikan, petugas medis akan melakukan observasi kondisi kesehatanmu untuk memastikan tidak ada efek samping yang berbahaya.
- Vitamin yang diberikan terdaftar di BPOM dan diberikan sesuai dosis harian.
- Petugas profesional dan responnya cepat.
- Protokol kesehatan ketat.
- Vitamin diberikan secara aman dan steril.
- Peralatan yang digunakan berkualitas, aman, tersegel, dan sesuai standarisasi.
- Tak perlu antre dan menunggu lama.
- Hemat waktu dan biaya.
- Aman, nyaman dan praktis.
- Harganya mulai dari Rp 799.000,-, kamu bahkan bisa melakukan family booking untuk mendapatkan ekstra diskon.
- Setelah tindakan, kamu akan mendapat gratis voucher senilai 25rb di Halodoc untuk chat dokter.
Jadi, kapan saja kamu atau keluarga hendak mendapatkan infus cernevit tambahan, cukup pesan langsung melalui aplikasi Halodoc.
Caranya, download dan buka layanan Homecare, lalu, pilih menu Infus Immune Booster Cernevit.
Selain itu, kamu juga bisa dapatkan potongan harga untuk layanan Infus Vitamin Cernevit hingga Rp 250ribu pakai kode promo INFUSVITAMIN2 di Home Lab Halodoc.
Tunggu apa lagi? Yuk booking sekarang!
Booking Infus Immune Booster Lebih Mudah di Rumah Lewat Halodoc.
Selain melalui aplikasi, kamu juga bisa order dengan cara menghubungi langsung nomor WhatsApp 0888-0999-9226.
Dengan menggunakan Halodoc, kamu dapat dengan mudah terhubung dengan dokter terpercaya secara online untuk mendapatkan saran medis yang tepat dan berkualitas.
Tunggu apalagi? Yuk, download Halodoc sekarang!


