• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Inilah Fakta Terbaru Seputar Vaksin Booster COVID-19

Inilah Fakta Terbaru Seputar Vaksin Booster COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Inilah Fakta Terbaru Seputar Vaksin Booster COVID-19

“Perlu ada penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas vaksin dengan mendata kapan seseorang terinfeksi pertama kali setelah vaksinasi. Selain membutuhkan penelitian lebih lanjut, disebutkan saat ini dunia mengalami ketimpangan pasokan vaksin COVID-19. Oleh karena itu, hal yang terbaik adalah pemberian vaksin yang merata untuk terciptanya herd immunity.”

Halodoc, Jakarta – Demi mewaspadai serangan varian COVID-19 yang baru, dikabarkan para tenaga kerja kesehatan akan diberikan vaksin booster COVID-19. Para tenaga kerja kesehatan ini sudah mendapatkan dua vaksin sebelumnya. Namun, karena tingginya angka kematian dan infeksi pada tenaga kerja kesehatan, diperkirakan vaksin booster akan dibutuhkan.

European Medicines Agency menilai masih terlalu dini untuk mengatakan apakah lebih dari dua suntikan vaksin COVID-19 diperlukan. 99,5 persen kematian akibat COVID-19 di Amerika Serikat terjadi pada orang yang tidak divaksinasi. Itulah sebabnya dinilai vaksin yang sudah diberikan saat ini  telah cukup, sehingga booster belum dibutuhkan. 

Efektivitas Vaksin Bisa Menurun Seiring Berjalannya Waktu

Pfizer sebagai salah satu perusahaan farmasi yang membuat vaksin COVID-19 memberi pernyataan bahwa kemanjuran vaksin akan menurun enam bulan setelah vaksinasi. Itulah sebabnya mengapa perlu vaksin booster.

Orang dengan gangguan kekebalan mengalami penurunan efektivitas vaksin yang lebih cepat dibanding orang tanpa gangguan kekebalan. Walaupun begitu, tetap saja risiko lebih besar dialami oleh orang yang tidak divaksin. Pada akhirnya, memang tidak ada vaksin yang bisa 100 persen mencegah infeksi. Hal yang paling penting adalah dampaknya pada pengurangan infeksi yang parah dan kematian. 

Baca juga: Efek Samping Vaksin COVID-19 Lebih Terasa saat Dosis Kedua?

Perlu ada penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas vaksin dengan mendata kapan seseorang terinfeksi pertama kali setelah vaksinasi. Ini dilakukan untuk membantu mengidentifikasi kapan kekebalan mengalami penurunan. Pastinya, ada banyak faktor yang membuat seseorang mengalami penurunan efektivitas dari vaksin. Itulah yang perlu dicari tahu dan digali lebih lanjut.

WHO sendiri memberi pernyataan bahwa perlu ada penelitian lebih lanjut mengenai vaksin booster dan seberapa efektif melawan infeksi, terutama varian delta yang sudah menyebar di 104 negara. 

Selain membutuhkan penelitian lebih lanjut, disebutkan saat ini dunia mengalami ketimpangan pasokan vaksin COVID-19. Penerimaan vaksin baik dosis pertama dan kedua belum diterima oleh seluruh masyarakat. Pemberian booster hanya akan menimbulkan ketimpangan yang semakin besar, makanya sebaik-baiknya adalah fokus pada penerimaan vaksinasi dua dosis secara merata. Ketika vaksinasi lebih merata, diharapkan ada herd immunity yang membendung penularan infeksi.

Baca juga: Benarkah Kurang Tidur Tingkatkan Risiko Terinfeksi COVID-19?

Vaksin Booster Bisa Memicu Komplikasi?

Terkait tenaga kerja kesehatan, Indonesia sudah memulai vaksin booster COVID-19 alias dosis ketiga untuk para tenaga kerja kesehatan pada Jumat (16/7). Jenis vaksin yang digunakan adalah Moderna. Vaksin dosis ketiga ini hanya diberikan kepada tenaga kerja kesehatan yang sudah menyelesaikan vaksin dosis pertama dan kedua, dengan jarak waktu 3-6 bulan setelah vaksin kedua. Sejauh ini, belum ada laporan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) yang dialami para tenaga kerja kesehatan.

Namun, berdasarkan data kesehatan yang dihimpun oleh The United States Food and Drug Administration, booster Pfizer-BioNTech dan Moderna bisa menimbulkan potensi komplikasi. Cakupan risiko tersebut adalah peradangan jaringan jantung yang sangat kecil, terutama di kalangan orang yang lebih muda. Sedangkan vaksin Johnson & Johnson mencakup risiko yang sedikit lebih tinggi dalam hal mengembangkan pembekuan darah dan sindrom Guillain-Barré, di mana sel-sel kekebalan menyerang sel-sel saraf tubuh.

Baca juga: Melatih Penciuman Bantu Percepat Pemulihan Kehilangan Penciuman karena COVID-19

Israel sendiri sudah memberlakukan vaksin booster Pfizer kepada masyarakat umum terutama orang yang punya risiko tinggi terinfeksi COVID-19. Pengidap kanker dan orang yang pernah menjalani transplantasi organ adalah beberapa kriteria penerima vaksin dosis ketiga. 

Lebih dari 85 persen warga Israel sudah menerima vaksin dosis kedua. Negara ini juga sudah memberlakukan pelepasan masker di ruang publik. Namun, seiring dengan merebaknya varian COVID-19, pemerintah Israel memberlakukan kembali penggunaan masker dan vaksin booster ke warganya.

Situasi pandemi saat ini kerap membingungkan dan ada begitu banyak informasi yang beredar di media. Kalau kamu masih ragu dan butuh informasi lebih detail mengenai vaksin bisa ditanyakan langsung ke dokter Halodoc. Yuk, download aplikasinya!

Referensi:
Live Science. Diakses pada 2021. Do you need a COVID-19 booster vaccine to prevent delta variant?
National Geographic. Diakses pada 2021. Scientists say COVID-19 booster shots aren’t needed yet—here’s why.
Kompas.com. Diakses pada 2021. Dua Dosis Vaksin COVID-19 Cukup, WHO: Vaksin Booster Belum Diperlukan.
CNN Indonesia. Diakses pada 2021. Israel Mulai Suntikan Ketiga Vaksin untuk Warga Rentan Covid.
Financial Times. Diakses pada 2021. Booster shot debate takes centre stage as global Covid cases rise.
Kompas.com. Diakses pada 2021. Vaksinasi Dosis Ketiga bagi Tenaga Kesehatan Dimulai Pekan Ini.Time.com. Diakses pada 2021.  What You Need to Know About COVID-19 Booster Shots.