Ad Placeholder Image

Intususepsi: Usus Melipat pada Bayi, Waspada Gejalanya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 April 2026

Intususepsi: Usus Masuk Usus Bayi, Kenali!

Intususepsi: Usus Melipat pada Bayi, Waspada GejalanyaIntususepsi: Usus Melipat pada Bayi, Waspada Gejalanya

Intususepsi Adalah: Memahami Kondisi Gawat Darurat Usus pada Anak dan Dewasa

Intususepsi adalah sebuah kondisi medis gawat darurat yang perlu mendapatkan perhatian segera. Kondisi ini terjadi ketika sebagian usus melipat atau “masuk” ke dalam bagian usus di sebelahnya, menyerupai cara kerja teleskop. Akibat dari kondisi ini adalah terjadinya sumbatan pada saluran pencernaan, nyeri perut yang hebat dan muncul secara tiba-tiba, serta terganggunya aliran darah ke area usus yang terdampak.

Kondisi intususepsi paling sering terdiagnosis pada bayi dan anak-anak, umumnya terjadi pada usia 3 bulan hingga 3 tahun. Gejala utamanya meliputi muntah, feses berdarah atau berlendir, dan tangisan keras yang histeris. Meskipun lebih umum pada anak, intususepsi juga bisa terjadi pada orang dewasa, meskipun penyebabnya seringkali berbeda. Memahami tanda dan gejala kondisi ini sangat krusial untuk penanganan yang cepat dan tepat.

Apa Itu Intususepsi?

Secara sederhana, intususepsi adalah keadaan di mana satu segmen usus, biasanya bagian atas, terdorong masuk ke dalam segmen usus yang berada di bawahnya. Fenomena “telescoping” ini menciptakan sebuah penyumbatan dan dapat menghambat suplai darah ke bagian usus yang terperangkap. Jika aliran darah terhenti dalam waktu lama, jaringan usus bisa mengalami kerusakan serius atau bahkan kematian, yang dikenal sebagai nekrosis.

Kondisi ini merupakan salah satu penyebab umum obstruksi usus pada anak-anak. Jika tidak ditangani dengan cepat, intususepsi dapat menyebabkan komplikasi fatal seperti infeksi parah (peritonitis) atau syok. Oleh karena itu, penting untuk segera mencari bantuan medis jika ada kecurigaan intususepsi.

Gejala Utama Intususepsi

Mengenali gejala intususepsi sangat penting, terutama pada bayi dan anak kecil yang belum bisa mengungkapkan apa yang dirasakan. Gejala yang paling menonjol seringkali muncul secara tiba-tiba dan dapat memburuk dengan cepat. Berikut adalah beberapa gejala utama yang perlu diwaspadai:

  • Nyeri Perut Hebat Secara Tiba-tiba dan Intermiten: Ini adalah gejala paling khas. Anak mungkin tiba-tiba menangis histeris, menarik lutut ke dada, dan tampak sangat kesakitan. Serangan nyeri ini biasanya berlangsung beberapa menit, lalu mereda, dan kemudian muncul kembali.
  • Feses Berdarah dan Berlendir (“Selai Kismis”): Ini adalah tanda klasik yang sering digambarkan seperti “currant jelly stool” atau feses berwarna merah tua bercampur lendir. Tanda ini menunjukkan adanya darah dan lendir dari dinding usus yang meradang atau rusak.
  • Muntah: Awalnya, anak mungkin muntah sisa makanan. Seiring waktu, muntahan bisa berubah warna menjadi kuning kehijauan, yang mengindikasikan adanya sumbatan di usus dan kembalinya cairan empedu.
  • Massa Perut: Pada beberapa kasus, benjolan berbentuk seperti sosis dapat diraba di perut, terutama di bagian kanan atas atau tengah. Ini adalah segmen usus yang mengalami invaginasi.
  • Kelesuan: Di antara serangan nyeri, anak mungkin tampak sangat lemah, lesu, atau tertidur lebih dari biasanya. Ini bisa menjadi tanda kelelahan akibat nyeri yang intens atau akibat kondisi medis yang memburuk.
  • Demam: Pada kasus yang lebih lanjut, demam dapat timbul jika sudah terjadi infeksi atau peradangan parah pada usus.

Jika beberapa gejala ini muncul secara bersamaan, terutama pada bayi atau anak kecil, pertimbangkan kondisi intususepsi dan segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat.

Penyebab Intususepsi

Penyebab intususepsi dapat bervariasi antara anak-anak dan orang dewasa. Memahami perbedaan ini membantu dalam diagnosis dan penanganan yang tepat.

  • Pada Anak-anak:
    Sebagian besar kasus intususepsi pada anak-anak, khususnya yang berusia di bawah 3 tahun, bersifat idiopatik, artinya penyebab pastinya tidak diketahui. Namun, seringkali kondisi ini dikaitkan dengan infeksi virus sebelumnya, seperti rotavirus atau adenovirus, yang dapat menyebabkan pembengkakan pada kelenjar getah bening di usus, memicu invaginasi. Beberapa kondisi lain yang jarang bisa menjadi pemicu termasuk adanya Meckel’s diverticulum atau polip usus.
  • Pada Dewasa:
    Berbeda dengan anak-anak, intususepsi pada orang dewasa lebih sering disebabkan oleh adanya kelainan struktural di dalam usus. Kelainan ini dapat bertindak sebagai “titik pemicu” yang ditarik masuk ke dalam bagian usus berikutnya. Contoh kelainan struktural tersebut meliputi tumor (jinak atau ganas), polip, jaringan parut akibat operasi sebelumnya, atau bahkan benda asing. Oleh karena itu, intususepsi pada orang dewasa seringkali memerlukan investigasi lebih lanjut untuk menemukan penyebab yang mendasarinya.

Diagnosis Intususepsi

Diagnosis intususepsi memerlukan evaluasi medis yang cermat dan beberapa prosedur pencitraan. Dokter akan memulai dengan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda-tanda nyeri perut, massa, atau distensi (pembesaran) perut. Setelah itu, beberapa metode diagnostik akan dilakukan:

  • Ultrasonografi (USG) Perut: Ini adalah metode pencitraan utama yang paling sering digunakan dan sangat efektif untuk mendeteksi intususepsi. USG dapat menunjukkan gambaran khas usus yang melipat masuk, sering digambarkan seperti “target sign” atau “pseudokidney sign”.
  • Enema Udara atau Enema Kontras (Barium Enema): Prosedur ini melibatkan pemasukan udara atau cairan kontras ke dalam usus melalui rektum. Selain untuk diagnosis, enema udara atau barium juga sering digunakan sebagai metode terapeutik (penanganan) untuk mendorong usus yang terlipat kembali ke posisi semula.
  • Pemeriksaan Fisik: Palpasi perut dapat membantu dokter merasakan adanya massa berbentuk sosis. Dokter juga akan mengevaluasi kondisi umum pasien, seperti tingkat kesadaran dan hidrasi.

Diagnosis yang cepat sangat penting untuk mencegah komplikasi serius dan memulai penanganan secepatnya.

Penanganan Intususepsi

Intususepsi adalah kondisi gawat darurat yang memerlukan penanganan medis segera. Keterlambatan dalam penanganan dapat menyebabkan kerusakan usus permanen atau bahkan kematian.

  • Reposisi Non-Bedah:
    Metode pertama yang sering dicoba adalah reposisi non-bedah menggunakan enema udara atau barium enema. Dalam prosedur ini, udara atau cairan kontras dimasukkan ke dalam usus melalui rektum. Tekanan yang dihasilkan dapat mendorong usus yang terlipat kembali ke posisi normalnya. Prosedur ini berhasil pada banyak kasus, terutama jika didiagnosis dini, dan dapat menghindari kebutuhan operasi.
  • Tindakan Operasi Darurat:
    Operasi darurat diperlukan jika prosedur enema gagal atau jika ada tanda-tanda bahwa usus telah mengalami kerusakan serius, seperti:

    • Nekrosis: Kematian jaringan usus akibat terhambatnya aliran darah.
    • Perforasi: Robeknya dinding usus, yang dapat menyebabkan infeksi parah pada rongga perut (peritonitis).

    Selama operasi, dokter bedah akan secara manual menarik usus kembali ke posisi semula. Jika ada bagian usus yang rusak parah atau mati, bagian tersebut akan diangkat (reseksi) dan kedua ujung usus yang sehat akan disambungkan kembali.

Setelah penanganan, pasien akan dipantau ketat untuk memastikan tidak ada komplikasi dan pemulihan berjalan baik.

Kapan Harus Mencari Bantuan Medis?

Intususepsi merupakan kondisi yang mengancam jiwa jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, penting untuk tidak menunda mencari pertolongan medis jika melihat tanda dan gejala yang mencurigakan, terutama pada bayi dan anak kecil.

Jika seseorang, khususnya bayi atau anak, menunjukkan gejala seperti nyeri perut hebat yang datang dan pergi, muntah berulang, dan terutama jika ditemukan feses berdarah atau berlendir menyerupai “selai kismis”, segera bawa ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat. Penanganan dini adalah kunci untuk mencegah komplikasi serius dan memastikan pemulihan yang optimal. Tim medis di Halodoc siap memberikan informasi dan arahan lebih lanjut mengenai kondisi ini.