Ad Placeholder Image

Jangan Abaikan Urine Berdarah? Cek Sindrom Nefritik!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   23 April 2026

Nephritic Syndrome: Waspadai Ginjal Bengkak Berdarah

Jangan Abaikan Urine Berdarah? Cek Sindrom Nefritik!Jangan Abaikan Urine Berdarah? Cek Sindrom Nefritik!

Mengenal Nephritic Syndrome: Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

Nefrotic syndrome adalah kondisi ginjal serius yang ditandai oleh peradangan pada glomeruli, yaitu saringan kecil di dalam ginjal yang berfungsi membersihkan darah. Peradangan ini menyebabkan gangguan pada fungsi penyaringan ginjal, sehingga sel darah merah dan sebagian protein bocor ke dalam urine.

Kondisi ini dapat mengakibatkan serangkaian gejala khas yang memerlukan perhatian medis segera. Pemahaman mendalam tentang sindrom nefritik sangat penting untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.

Apa Itu Nephritic Syndrome?

Nefrotic syndrome adalah gangguan ginjal yang timbul akibat peradangan pada glomeruli. Glomeruli adalah unit penyaringan mikroskopis di ginjal yang bertanggung jawab menyaring limbah dan cairan berlebih dari darah.

Saat terjadi peradangan, penghalang filtrasi glomerulus (glomerular filtration barrier) menjadi rusak, memungkinkan sel darah merah dan sejumlah kecil protein bocor ke dalam urine. Ini berbeda dengan sindrom nefrotik yang umumnya melibatkan kebocoran protein dalam jumlah sangat besar.

Gejala-Gejala Khas Nephritic Syndrome

Nefrotic syndrome memiliki kombinasi gejala yang sangat khas, sering disebut sebagai “trias sindrom nefritik”. Gejala-gejala ini muncul karena kerusakan pada glomeruli dan retensi cairan serta garam dalam tubuh.

Berikut adalah gejala utama yang dapat terjadi:

  • Hematuria: Adanya darah dalam urine merupakan tanda paling menonjol dari sindrom nefritik. Urine mungkin terlihat berwarna merah, merah muda, atau cokelat seperti teh. Dalam beberapa kasus, darah hanya terlihat di bawah mikroskop (hematuria mikroskopis), dengan keberadaan sel darah merah dismorfik (bentuk tidak biasa) atau RBC casts (gumpalan sel darah merah).
  • Proteinuria: Ditemukannya protein dalam urine, meskipun biasanya dalam jumlah yang tidak terlalu masif (kurang dari 3.5 gram per hari). Kehadiran protein ini menunjukkan kerusakan pada saringan ginjal.
  • Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi): Peningkatan tekanan darah adalah gejala umum. Ini terjadi karena ginjal yang meradang tidak dapat membuang kelebihan cairan dan garam dari tubuh secara efektif, menyebabkan penumpukan dan peningkatan volume darah.
  • Edema (Pembengkakan): Retensi cairan dan garam juga menyebabkan pembengkakan, terutama di wajah (sekitar mata), tangan, kaki, dan pergelangan kaki.
  • Penurunan Produksi Urine (Oliguria): Ginjal yang meradang mungkin kesulitan memproduksi urine dalam jumlah normal, menyebabkan penurunan volume urine yang dikeluarkan.

Penyebab Nephritic Syndrome

Nefrotic syndrome dapat disebabkan oleh berbagai kondisi yang memicu peradangan pada glomeruli. Umumnya, kondisi ini berasal dari infeksi atau penyakit autoimun.

Beberapa penyebab umum meliputi:

  • Infeksi: Salah satu penyebab paling sering adalah infeksi bakteri, seperti streptokokus. Setelah infeksi tenggorokan atau kulit oleh bakteri streptokokus, sistem kekebalan tubuh dapat bereaksi berlebihan dan menyerang glomeruli ginjal.
  • Penyakit Autoimun: Kondisi di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan tubuh sendiri, termasuk ginjal. Contohnya adalah lupus nefritis, di mana penyakit lupus eritematosus sistemik menyebabkan peradangan pada ginjal.
  • Vaskulitis: Peradangan pada pembuluh darah kecil di seluruh tubuh, termasuk yang ada di ginjal.
  • Penyakit Ginjal Primer: Beberapa jenis glomerulonefritis primer, seperti glomerulonefritis membranoproliferatif, juga dapat menyebabkan sindrom nefritik.

Diagnosis dan Pengobatan Nephritic Syndrome

Diagnosis nefrotic syndrome melibatkan evaluasi gejala, pemeriksaan fisik, dan serangkaian tes laboratorium. Dokter akan melakukan tes urine untuk mendeteksi hematuria dan proteinuria, serta tes darah untuk menilai fungsi ginjal dan mencari tanda-tanda peradangan atau infeksi.

Dalam beberapa kasus, biopsi ginjal mungkin diperlukan untuk mengonfirmasi diagnosis dan menentukan jenis kerusakan glomerulus.

Pengobatan sindrom nefritik berfokus pada dua aspek utama: mengelola gejala dan mengatasi penyebab yang mendasari. Penanganan yang umum meliputi:

  • Obat Penurun Tekanan Darah: Untuk mengontrol hipertensi dan mengurangi beban kerja pada ginjal.
  • Diuretik: Obat ini membantu tubuh membuang kelebihan cairan dan garam, mengurangi edema dan tekanan darah.
  • Modifikasi Diet: Pembatasan asupan garam dan cairan sangat penting untuk mengurangi pembengkakan dan mengelola tekanan darah.
  • Obat Imunosupresan: Jika penyebabnya adalah penyakit autoimun, obat-obatan ini dapat menekan sistem kekebalan tubuh untuk mengurangi peradangan.
  • Antibiotik: Jika penyebabnya adalah infeksi bakteri, antibiotik akan diberikan untuk memberantas infeksi.
  • Dialisis: Pada kasus yang parah, di mana fungsi ginjal sangat terganggu, dialisis mungkin diperlukan untuk mengambil alih fungsi penyaringan ginjal.

Pencegahan Nephritic Syndrome

Pencegahan nefrotic syndrome seringkali berkaitan dengan pengelolaan kondisi yang mendasarinya. Mencegah infeksi streptokokus melalui pengobatan cepat dan lengkap adalah kunci.

Bagi individu dengan penyakit autoimun seperti lupus, kepatuhan terhadap rencana pengobatan yang diresepkan dapat membantu mencegah komplikasi ginjal. Menjaga gaya hidup sehat, termasuk diet seimbang dan olahraga teratur, juga mendukung kesehatan ginjal secara keseluruhan.

Kesimpulan

Nefrotic syndrome adalah kondisi serius yang memerlukan diagnosis dan penanganan cepat. Memahami gejala seperti urine berdarah, pembengkakan, dan tekanan darah tinggi adalah langkah pertama untuk mendapatkan pertolongan.

Jika mengalami gejala-gejala yang menyerupai nefrotic syndrome, sangat dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Melalui Halodoc, pemeriksaan dan konsultasi medis dapat dilakukan untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan mencegah komplikasi lebih lanjut pada ginjal.