
Jangan Keliru, Ini Perbedaan Difabel dan Disabilitas
Hari Disabilitas Internasional menyoroti perbedaan difabel dan disabilitas serta pentingnya lingkungan inklusif.

DAFTAR ISI
- Mengenal Istilah Difabel
- Perbedaan Difabel dan Disabilitas
- Jenis-Jenis Difabel dalam Konteks Medis
- Hak-Hak Penyandang Difabel di Indonesia
- Manajemen Kesehatan bagi Difabel
- Studi Terkait
- FAQ
Pernahkah kamu mendengar istilah “difabel”? Di tengah masyarakat, istilah ini sering kali disamakan dengan “disabilitas”. Padahal, jika kita telisik lebih dalam dari sudut pandang sosial dan medis, kata ini memiliki makna yang sangat inklusif dan memberdayakan. Mengetahui apa itu difabel bukan sekadar memahami keterbatasan fisik atau mental seseorang, melainkan menghargai perbedaan kemampuan yang dimiliki setiap individu untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
Memahami konsep difabel menjadi sangat penting agar kita bisa membangun lingkungan yang ramah dan suportif. Kondisi kesehatan tertentu atau hambatan fisik yang dialami seseorang sering kali memerlukan penanganan yang tepat, baik dari sisi lingkungan sosial maupun dukungan medis. Tanpa pemahaman yang benar, masyarakat mungkin masih melihat difabel dari sudut pandang keterbatasan, bukan dari sudut pandang potensi yang berbeda.
Penting bagi kita semua untuk memberikan aksesibilitas yang memadai bagi setiap orang. Dukungan ini bisa berupa fasilitas umum yang ramah kursi roda, informasi yang mudah diakses bagi penyandang tunanetra dan tunarungu, hingga akses kesehatan yang praktis. Jika kamu atau keluarga memerlukan dukungan kesehatan tambahan seperti vitamin atau alat kesehatan, kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk menunjang kualitas hidup sehari-hari.
Nah, mau tahu apa saja penjelasan lengkap mengenai apa itu difabel dan bagaimana perbedaannya dengan istilah lain? Berikut ulasannya!
Mengenal Istilah Difabel
Istilah “difabel” berasal dari serapan bahasa Inggris, yaitu different ability atau differently abled. Secara etimologis, istilah ini merujuk pada seseorang yang memiliki kemampuan yang berbeda. Penggunaan istilah ini di Indonesia mulai populer sejak tahun 1990-an sebagai bentuk perlawanan terhadap istilah “cacat” yang dianggap memiliki konotasi negatif dan merendahkan martabat manusia.
Dalam perspektif medis, difabel mencakup individu yang mengalami gangguan pada struktur atau fungsi tubuh tertentu. Namun, dalam perspektif sosial, fokusnya adalah pada bagaimana lingkungan dapat menyesuaikan diri agar individu tersebut tetap bisa berfungsi secara optimal. Sebagai contoh, seseorang yang menggunakan kursi roda dianggap difabel karena ia mampu berpindah tempat dengan cara yang berbeda dari orang pada umumnya, asalkan fasilitas yang ada mendukung pergerakannya.
Menjadi difabel bukanlah sebuah penyakit yang harus disembuhkan total, melainkan sebuah kondisi variasi manusia yang memerlukan akomodasi tertentu. Sebagai seorang apoteker dan praktisi kesehatan, saya melihat bahwa dukungan nutrisi dan pemeliharaan kesehatan fisik sangat krusial bagi kelompok difabel untuk menjaga kemandirian mereka. Dukungan ini mencakup ketersediaan alat bantu hingga asupan suplemen yang dapat membantu menjaga fungsi saraf dan otot.
Perbedaan Difabel dan Disabilitas
Banyak orang sering bingung membedakan antara difabel dan disabilitas. Meskipun keduanya digunakan untuk merujuk pada kondisi serupa, terdapat perbedaan nuansa yang cukup signifikan:
1. Disabilitas (Disability)
Istilah ini lebih sering digunakan dalam konteks hukum dan administrasi negara, termasuk dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Disabilitas merujuk pada adanya keterbatasan fisik, intelektual, mental, atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dapat menghambat partisipasi penuh seseorang dalam masyarakat akibat hambatan lingkungan.
2. Difabel (Diffable)
Difabel lebih menekankan pada kemampuan yang berbeda (different ability). Istilah ini dianggap lebih humanis karena tidak menitikberatkan pada apa yang “kurang” atau “tidak mampu” dilakukan, melainkan pada bagaimana individu tersebut melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda. Contohnya, orang tuli tidak bisa mendengar suara, namun mereka memiliki kemampuan luar biasa dalam komunikasi visual dan bahasa isyarat.
Pentingnya Inklusivitas bagi Difabel
- Aksesibilitas fisik yang memadai (jalur landai, lift, toilet khusus).
- Akses informasi yang inklusif (bahasa isyarat, braille, audio deskripsi).
- Kesetaraan dalam mendapatkan pekerjaan dan pendidikan.
Jenis-Jenis Difabel dalam Konteks Medis
Klasifikasi difabel sangat luas dan melibatkan berbagai disiplin ilmu kedokteran. Memahami jenis-jenis ini penting untuk menentukan jenis dukungan kesehatan yang dibutuhkan:
1. Difabel Fisik
Kondisi ini mencakup gangguan pada fungsi gerak, seperti paraplegia (lumpuh anggota gerak bawah), amputasi, stroke, atau kondisi bawaan seperti cerebral palsy. Individu dengan difabel fisik sering kali memerlukan fisioterapi rutin dan bantuan alat medis seperti kursi roda atau kruk.
2. Difabel Sensorik
Terdiri dari hambatan pada fungsi indra, seperti tunanetra (gangguan penglihatan) dan tunarungu atau tunawicara (gangguan pendengaran dan bicara). Penanganan medis biasanya melibatkan penggunaan alat bantu dengar atau operasi tertentu jika memungkinkan.
3. Difabel Intelektual
Merupakan kondisi di mana fungsi intelektual berada di bawah rata-rata yang disertai hambatan dalam perilaku adaptif. Contohnya adalah Down Syndrome atau disabilitas intelektual lainnya. Dukungan biasanya fokus pada terapi okupasi dan pendidikan khusus.
4. Difabel Mental
Kondisi ini merujuk pada gangguan fungsi pikir, emosi, dan perilaku, termasuk skizofrenia, bipolar, atau gangguan kecemasan berat. Dukungan medis berupa psikoterapi dan obat-obatan dari psikiater sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas emosi pasien.
Jika kamu atau kerabat mengalami gejala yang mengarah pada kondisi di atas, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan langkah awal penanganan yang tepat.
Hak-Hak Penyandang Difabel di Indonesia
Pemerintah Indonesia melalui UU No. 8 Tahun 2016 telah menjamin hak-hak penyandang disabilitas (difabel). Beberapa hak dasar tersebut meliputi:
- Hak Hidup: Berhak atas penghormatan integritas mental dan fisik secara setara.
- Hak Aksesibilitas: Berhak atas lingkungan yang mudah dijangkau dan sarana transportasi yang ramah.
- Hak Kesehatan: Berhak mendapatkan layanan kesehatan yang bermutu, terjangkau, dan tanpa diskriminasi.
- Hak Pekerjaan: Kewajiban bagi instansi pemerintah dan swasta untuk memberikan kuota kerja bagi difabel.
Manajemen Kesehatan bagi Difabel
Sebagai apoteker, saya sering menekankan bahwa penyandang difabel memiliki risiko kesehatan sekunder yang perlu diperhatikan. Misalnya, pengguna kursi roda rentan terhadap luka tekan (dekubitus) atau gangguan sirkulasi darah. Oleh karena itu, perawatan mandiri sangatlah penting.
Beberapa langkah manajemen kesehatan yang bisa dilakukan antara lain:
- Nutrisi Seimbang: Menjaga berat badan ideal agar tidak membebani persendian bagi mereka yang memiliki hambatan mobilitas.
- Aktivitas Fisik Terukur: Melakukan latihan fisik sesuai kemampuan untuk menjaga massa otot dan kesehatan jantung.
- Pemantauan Kesehatan Rutin: Melakukan pemeriksaan berkala untuk deteksi dini penyakit degeneratif.
Banyak kondisi difabel yang disertai dengan kebutuhan akan asupan vitamin tertentu. Misalnya, Vitamin D dan Kalsium untuk kekuatan tulang bagi mereka yang mobilitasnya terbatas, atau Vitamin B Kompleks untuk mendukung kesehatan saraf pada pasien pasca-stroke atau penderita gangguan saraf lainnya.
Studi Mengenai Inklusivitas Difabel
World Health Organization (WHO) menerbitkan studi di tahun 2023 yang menjelaskan bahwa diperkirakan 1,3 miliar orang atau sekitar 16% dari populasi dunia mengalami disabilitas yang signifikan.
Laporan tersebut menekankan bahwa penyandang difabel sering kali memiliki risiko kematian dini yang lebih tinggi dan menghadapi hambatan besar dalam mengakses layanan kesehatan. Oleh karena itu, teknologi kesehatan digital seperti telemedis menjadi solusi krusial untuk menjembatani jarak dan kendala fisik bagi para difabel dalam mendapatkan saran medis secara cepat.
FAQ
1. Apakah difabel bisa disembuhkan?
Difabel bukan selalu sebuah penyakit, melainkan sebuah kondisi atau status kemampuan yang berbeda. Beberapa kondisi mungkin bisa diperbaiki dengan terapi atau operasi, namun banyak juga yang bersifat permanen. Fokus utamanya adalah meningkatkan kualitas hidup dan kemandirian melalui alat bantu dan lingkungan yang suportif.
2. Apa perbedaan penyebutan penyandang cacat dan difabel?
Penyebutan “penyandang cacat” dianggap ketinggalan zaman dan tidak sopan karena fokus pada kerusakan fungsi. “Difabel” atau “penyandang disabilitas” lebih dianjurkan karena menghargai harkat manusia dan menekankan pada aspek kemampuan yang berbeda serta interaksi dengan lingkungan.
3. Bagaimana cara berinteraksi dengan orang difabel?
Selalu tanyakan apakah mereka membutuhkan bantuan sebelum langsung membantu. Berbicaralah langsung kepada mereka, bukan melalui pendampingnya. Gunakan bahasa yang sopan dan jangan menunjukkan rasa kasihan yang berlebihan (pity), melainkan tunjukkan rasa empati dan kesetaraan.
4. Apakah penyandang difabel bisa bekerja secara profesional?
Tentu saja. Dengan dukungan teknologi dan kebijakan inklusif di perusahaan, penyandang difabel mampu memberikan kontribusi yang luar biasa. Banyak difabel yang sukses menjadi atlet, pengusaha, programmer, hingga seniman.
Memahami apa itu difabel membantu kita menyadari bahwa setiap individu memiliki cara unik untuk berinteraksi dengan dunia. Dukungan sosial, infrastruktur, dan layanan kesehatan yang inklusif adalah kunci utama bagi teman-teman difabel untuk menjalani hidup yang bermakna.
Jika kamu memerlukan konsultasi lebih lanjut mengenai penanganan kondisi kesehatan tertentu, jangan ragu untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja. Kamu juga bisa mendapatkan kebutuhan penunjang kesehatan melalui layanan farmasi online yang praktis.
Selain itu, pastikan asupan nutrisi dan suplemen harian tetap terjaga agar kondisi fisik selalu prima dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Punya Pertanyaan Mengenai Layanan Kesehatan yang Tepat? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan kesehatan atau bingung mencari dukungan alat kesehatan yang sesuai? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!
HILDA ([Halodoc Intelligent Digital Assistant](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
[HILDA](https://www.halodoc.com/hilda) akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


