
Jangan Panik Hadapi Deltacron, Kenali Gejalanya
“Januari 2022 ditemukan varian Deltacron atau disebut juga Deltamicron atau Delmicron. Varian ini adalah varian rekombinan antara Delta dan Omicron. Kasusnya yang masih terdeteksi dalam jumlah kecil membuat banyak peneliti dan ilmuwan menganjurkan untuk tetap tenang. WHO memastikan tetap memantau varian ini untuk memastikan dampak yang dihasilkan. Masyarakat juga perlu mengenali gejala Delta dan Omicron agar keluhan kesehatan yang dialami bisa segera diatasi oleh fasilitas kesehatan terdekat.”

Halodoc, Jakarta – Pada Januari 2022, beberapa peneliti di Siprus menemukan adanya varian lain dari COVID-19. Varian ini dikenal dengan beberapa nama yang berbeda yaitu Deltacron, Deltamicron, atau Delmicron. Saat pertama kali ditemukan, keberadaan varian ini sempat dipertanyakan penyebabnya.
Saat itu diketahui penyebabnya adalah kontaminasi yang kemudian disebut sebagai disinformasi karena belum adanya informasi resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hingga 27 Februari 2022, data rekombinan yang dilaporkan pada bank data GISAID mencapai 15 kasus.
Berbagai Penelitian Masih Berlangsung untuk Mengidentifikasi Deltacron
Januari 2022 lalu ditemukan varian COVID-19 yang merupakan kombinasi antara varian Delta (AY.4) dan Omicron (BA.1) yang dikenal sebagai Deltacron, Deltamicron, atau Delmicron. Varian ini bukanlah jenis terbaru dari COVID-19, tetapi merupakan varian rekombinan. Varian ini merupakan rekombinan genomik dari varian Omicron dan varian Delta, yang mengubah struktur protein spike; pada bagian RBD (Receptor Binding Domain) menyerupai Omicron 21K/BA.1 dan pada bagian NTD (N-Terminal Domain) menyerupai varian Delta 21J/AY.4
Menurut Philippe Colson, IHU Mediterranee Infection, selama pandemi COVID-19, dua atau lebih varian COVID-19 bisa berada dalam satu wilayah geografis dan satu waktu yang sama. Hal ini tidak menutup kemungkinan adanya peluang rekombinan dari kedua jenis varian, termasuk Delta dan Omicron.
Virus ini dideteksi di Amerika Serikat, Prancis, Belanda, dan Denmark dengan jumlah yang sangat kecil. Peneliti masih terus melakukan penelitian mengenai jenis varian ini. Penelitian yang berlangsung dilakukan untuk mencari tahu seberapa cepat penyebaran dan penularan, hingga dampak yang mungkin terjadi pada kesehatan jika terpapar varian ini.
Masyarakat diimbau untuk tidak terlalu panik menghadapi rekombinan ini. Hal tersebut disampaikan oleh William Lee, Chief Science Officer di Helix yang mengungkapkan varian ini tidak terlalu banyak ditemukan dan kemungkinan tidak berkembang menjadi variant of concern.
Hal serupa juga dikatakan oleh Dr. Maria Van Kerkhove, Technical Lead COVID-19 WHO saat konferensi pers, Rabu (9/3) lalu. Ia menyampaikan bahwa varian ini ditemukan dalam jumlah yang sangat kecil. Meskipun begitu, WHO akan terus memantau varian ini untuk memastikan tingkat keparahan yang ditimbulkan oleh Deltacron.
William Hanage, epidemiolog dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, juga mengatakan jika tidak ditemukan banyak kasus baru mengenai varian ini, masyarakat diminta untuk tidak khawatir.
Apa Gejala COVID-19 Delta dan Omicron?
Penelitian yang masih berlangsung menyebabkan belum dipastikan secara jelas dampak dari rekombinan ini. Untuk mencegah penyebaran dan penularannya, masyarakat diminta untuk segera melakukan pemeriksaan kesehatan ketika mengalami beberapa gejala yang terkait dengan COVID-19 varian Delta maupun Omicron.
Gejala COVID-19 pada umumnya masih hampir sama, yaitu ada demam, gejala pada saluran pernapasan dan nyeri otot atau pegal pegal. Meskipun begitu pada Omicron, gejala lebih sering batuk, pilek, nyeri tenggorokan atau tenggorokan gatal serta lebih jarang terjadi anosmia dibanding pada varian Delta. Pada pengidap Omicron juga lebih jarang terjadi sesak napas berat dan demam tinggi dibandingkan dengan Delta.
Untuk itu, jangan abai terhadap keluhan kesehatan yang kamu rasakan terkait dengan COVID-19. Segera lakukan pemeriksaan di rumah sakit terdekat untuk memastikan kondisi kesehatan. Kamu bisa buat janji di rumah sakit menggunakan aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga melalui App Store atau Google Play.
Selain menjalankan protokol kesehatan dan vaksinasi, jangan lupa untuk selalu mengonsumsi berbagai makanan sehat agar imun tubuh tetap optimal.
Referensi:


