Ad Placeholder Image

Jangan Salah! Bisul Beda Kanker Payudara, Cek Yuk!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   22 Juni 2026

Perbedaan Bisul dan Kanker Payudara yang Penting Diketahui

Jangan Salah! Bisul Beda Kanker Payudara, Cek Yuk!Jangan Salah! Bisul Beda Kanker Payudara, Cek Yuk!

DAFTAR ISI


Menemukan benjolan asing di area payudara tentu bisa menjadi pengalaman yang menakutkan bagi kebanyakan wanita. Pikiran sering kali langsung tertuju pada kondisi serius seperti kanker payudara. Namun, faktanya tidak semua benjolan di payudara merupakan pertanda bahaya. Salah satu kondisi yang cukup sering terjadi dan memicu kepanikan adalah munculnya bisul di payudara.

Bisul pada dasarnya adalah infeksi kulit yang umum terjadi. Area payudara, yang sering kali tertutup rapat, lembap akibat keringat, dan mengalami gesekan dengan pakaian dalam, menjadi salah satu lokasi yang ideal bagi bakteri untuk berkembang biak. Meskipun terdengar sepele, bisul di area yang sensitif ini bisa menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa, kemerahan, hingga pembengkakan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Banyak wanita yang kemudian bertanya-tanya, bisul di payudara apakah berbahaya? Kekhawatiran ini sangat wajar, mengingat anatomi payudara yang kompleks dan berdekatan dengan kelenjar getah bening. Mengetahui perbedaan antara bisul biasa, abses payudara, dan kondisi medis lain yang lebih serius sangatlah penting agar kamu tidak panik namun tetap waspada.

Nah, mau tahu penjelasan medis lengkap mengenai bisul di payudara apakah berbahaya, apa saja pemicunya, dan bagaimana cara penanganan yang tepat? Berikut ulasannya secara mendalam!

Memahami Apa Itu Bisul di Payudara

Secara medis, bisul (furunkel) adalah infeksi bakteri yang terjadi pada folikel rambut (tempat tumbuhnya rambut) atau kelenjar minyak di bawah kulit. Infeksi ini paling sering disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, yang sebenarnya hidup secara alami di permukaan kulit kita tanpa menimbulkan masalah. Namun, ketika ada luka kecil, goresan, atau pori-pori yang tersumbat, bakteri ini dapat masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam dan memicu peradangan.

Di area payudara, bisul bisa muncul di mana saja, mulai dari area kulit luar, di belahan payudara, di bawah lipatan payudara (di mana keringat sering menumpuk), hingga di sekitar puting (areola). Pada tahap awal, bisul mungkin hanya terlihat seperti jerawat kemerahan yang terasa keras dan sakit saat disentuh. Seiring berjalannya waktu, benjolan ini akan terisi oleh nanah akibat perlawanan sel darah putih terhadap bakteri, membuatnya tampak memiliki “mata” berwarna putih atau kekuningan di bagian tengahnya.

Pada beberapa kasus, beberapa folikel rambut yang berdekatan bisa terinfeksi secara bersamaan dan membentuk jaringan bisul yang lebih besar dan lebih dalam, yang disebut karbunkel. Kondisi ini biasanya disertai dengan gejala sistemik seperti demam dan rasa tidak enak badan, serta memerlukan penanganan medis yang lebih serius dibandingkan bisul tunggal.

Penyebab Munculnya Bisul di Payudara

Mengapa bisul bisa muncul di payudara? Ada beberapa faktor risiko dan kebiasaan sehari-hari yang dapat memicu bakteri masuk dan menginfeksi kulit payudara. Berikut adalah beberapa penyebab utamanya:

1. Gesekan dan Penggunaan Bra yang Ketat

Menggunakan bra yang terlalu ketat, terutama yang terbuat dari bahan sintetis yang tidak menyerap keringat, dapat menciptakan gesekan terus-menerus pada kulit payudara. Gesekan ini bisa menyebabkan iritasi mikro pada kulit, yang menjadi pintu masuk bagi bakteri. Selain itu, bra yang ketat membuat sirkulasi udara menjadi buruk, menciptakan lingkungan yang hangat dan lembap, tempat ideal bagi bakteri untuk berkembang biak.

2. Kebersihan yang Kurang Terjaga

Keringat yang menumpuk setelah berolahraga atau beraktivitas berat di luar ruangan jika tidak segera dibersihkan dapat menyumbat pori-pori dan kelenjar keringat di payudara. Keringat dan sel kulit mati yang terperangkap ini menjadi makanan lezat bagi bakteri Staphylococcus, yang kemudian memicu infeksi dan terbentuknya bisul.

3. Mencabut atau Mencukur Rambut Halus

Sebagian wanita memiliki rambut-rambut halus di sekitar area areola (puting). Kebiasaan mencukur atau mencabut rambut di area ini menggunakan alat yang tidak steril dapat menyebabkan trauma pada folikel rambut (folikulitis). Folikel yang meradang ini sangat rentan berubah menjadi bisul jika terinfeksi bakteri.

4. Menyusui dan Mastitis

Bagi ibu menyusui, risiko mengalami infeksi payudara (mastitis) cukup tinggi. Saluran ASI yang tersumbat atau puting yang lecet saat menyusui memungkinkan bakteri dari mulut bayi atau kulit ibu masuk ke dalam jaringan payudara. Jika mastitis tidak ditangani dengan baik, peradangan ini dapat berkembang menjadi kumpulan nanah yang lebih dalam, yang disebut abses payudara. Abses sering kali disalahartikan sebagai bisul besar yang sangat menyakitkan.

5. Kondisi Medis Tertentu

Sistem kekebalan tubuh yang lemah membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi kulit, termasuk bisul. Penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi karena kadar gula darah yang tinggi dapat memperlambat penyembuhan luka dan melemahkan fungsi sel darah putih dalam melawan bakteri. Selain itu, ada kondisi peradangan kulit kronis yang disebut Hidradenitis suppurativa, yang menyebabkan benjolan mirip bisul muncul berulang kali di area lipatan tubuh, termasuk di bawah payudara.

Tips Pencegahan Bisul di Payudara
  1. Segera mandi dan ganti pakaian dalam setelah berolahraga atau berkeringat banyak.
  2. Gunakan bra dengan ukuran yang pas dan terbuat dari bahan katun yang menyerap keringat.
  3. Hindari mencukur atau mencabut rambut halus di sekitar puting secara paksa atau dengan alat yang tidak bersih.
  4. Jaga kebersihan handuk dan rutin menggantinya agar bakteri tidak menumpuk.

Bisul di Payudara Apakah Berbahaya?

Kembali ke pertanyaan utama: bisul di payudara apakah berbahaya? Jawabannya sangat bergantung pada tingkat keparahan, ukuran, lokasi, dan kondisi kesehatan tubuh kamu secara keseluruhan.

Secara umum, bisul biasa (furunkel) yang berukuran kecil, muncul di permukaan kulit, dan dapat sembuh sendiri dalam waktu satu hingga dua minggu tidaklah berbahaya. Infeksi ini bersifat lokal dan hanya terbatas pada lapisan kulit luar dan folikel rambut. Tubuh manusia memiliki mekanisme pertahanan yang baik, di mana sel darah putih akan mengisolasi infeksi tersebut, membentuk nanah, dan akhirnya bisul akan pecah secara alami untuk mengeluarkan isinya sebelum kemudian mengering dan sembuh.

Namun, bisul di payudara bisa menjadi berbahaya dan memerlukan perhatian serius jika terjadi kondisi berikut:

  • Infeksi Menyebar (Selulitis): Jika bisul dipencet secara paksa sebelum matang, bakteri dapat terdorong lebih dalam ke jaringan sekitarnya atau masuk ke aliran darah. Hal ini bisa memicu selulitis, yaitu infeksi bakteri yang menyebar luas ke lapisan kulit yang lebih dalam. Payudara akan terlihat memerah luas, bengkak, dan terasa panas.
  • Bakteri Masuk ke Aliran Darah (Sepsis): Meski jarang terjadi pada individu yang sehat, infeksi bakteri dari bisul yang parah dapat menyebar melalui aliran darah (bakteremia). Jika tidak segera ditangani, ini bisa mengarah pada sepsis, yaitu respons peradangan seluruh tubuh yang mengancam jiwa.
  • Berkembang Menjadi Abses Payudara: Terutama pada ibu menyusui, infeksi yang awalnya terlihat seperti bisul bisa berkembang menjadi abses. Abses adalah rongga yang dipenuhi nanah di dalam jaringan payudara yang lebih dalam. Kondisi ini sangat menyakitkan, sering disertai demam tinggi, dan tidak bisa sembuh hanya dengan kompres. Abses memerlukan tindakan medis berupa insisi dan drainase (pembedahan kecil untuk mengeluarkan nanah) oleh dokter.
  • Infeksi Berulang (MRSA): Jika kamu sering mengalami bisul yang sulit sembuh meski sudah diobati, ada kemungkinan infeksi disebabkan oleh MRSA (Methicillin-resistant Staphylococcus aureus). MRSA adalah jenis bakteri Staph yang sudah kebal terhadap banyak jenis antibiotik umum, sehingga penanganannya jauh lebih sulit dan membutuhkan antibiotik spesifik.

Perbedaan Bisul, Abses, dan Kanker Payudara

Ketakutan terbesar wanita saat menemukan benjolan merah dan nyeri di payudara adalah kanker payudara, khususnya Kanker Payudara Inflamasi (Inflammatory Breast Cancer/IBC). IBC adalah jenis kanker langka namun agresif yang gejalanya mirip dengan infeksi. Penting untuk mengetahui perbedaannya:

1. Bisul Biasa: Benjolan muncul di permukaan kulit, jelas batasnya, berwarna merah terang, terasa sangat nyeri saat disentuh, membesar dalam hitungan hari, dan biasanya akan membentuk titik nanah putih di puncaknya. Jarang memengaruhi bentuk payudara secara keseluruhan.

2. Abses Payudara: Benjolan terasa lebih dalam di jaringan payudara, area kulit di atasnya memerah dan bengkak lebar, nyeri berdenyut yang persisten, sering disertai demam tinggi, menggigil, dan kelelahan. Benjolan terasa kenyal karena berisi cairan (fluktuatif) di dalamnya.

3. Kanker Payudara Inflamasi (IBC): Berbeda dengan bisul yang terlokalisasi di satu titik, IBC menyebabkan peradangan pada sebagian besar atau seluruh payudara. Payudara akan membengkak, terasa panas, kemerahan meluas secara cepat, kulit menjadi menebal dan berlesung pipit seperti kulit jeruk (peau d’orange), dan puting bisa masuk ke dalam (retraksi). IBC biasanya tidak membentuk nanah dan sering kali tidak membaik dengan pemberian antibiotik.

Jika kamu mengalami gejala kemerahan yang meluas dengan cepat dan tidak membaik setelah seminggu, segeralah konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam untuk mendapatkan diagnosis yang akurat. Semakin cepat kondisi medis terdeteksi, semakin baik pula tingkat keberhasilan penanganannya.

Cara Mengatasi Bisul di Payudara di Rumah

Jika bisul di payudaramu masih tergolong kecil dan tanpa penyulit, kamu bisa melakukan perawatan mandiri di rumah untuk meredakan nyeri dan mempercepat proses penyembuhannya. Berikut langkah-langkah yang aman untuk dilakukan:

1. Kompres Air Hangat

Ini adalah cara paling efektif dan aman. Celupkan handuk bersih ke dalam air hangat (bukan air panas), lalu tempelkan pada bisul selama 15-20 menit. Lakukan ini 3 hingga 4 kali sehari. Suhu hangat akan meningkatkan sirkulasi darah ke area infeksi, membawa lebih banyak sel darah putih untuk melawan bakteri. Selain itu, kompres hangat juga membantu melunakkan kulit sehingga bisul lebih cepat “matang” dan pecah dengan sendirinya tanpa perlu dipencet.

2. Jangan Pernah Memencet Bisul

Sangat penting untuk menahan diri agar tidak memencet, menusuk, atau mencoba memecahkan bisul sendiri dengan jarum. Memencet bisul hanya akan mendorong infeksi lebih dalam ke jaringan payudara dan meningkatkan risiko terjadinya selulitis serta meninggalkan bekas luka yang menghitam.

3. Jaga Area Tetap Bersih dan Kering

Gunakan sabun antibakteri yang lembut saat mandi untuk membersihkan area payudara. Jangan menggosok bisul terlalu keras. Setelah mandi, pastikan area di sekitar bisul benar-benar kering sebelum menggunakan pakaian dalam. Hindari menggunakan bra yang ketat; pilihlah bra berbahan katun yang longgar atau olahraga seamless (tanpa jahitan keras) sementara waktu untuk meminimalkan gesekan.

4. Gunakan Obat Pereda Nyeri Jika Diperlukan

Bisul bisa terasa sangat menyiksa, terutama saat bergesekan dengan pakaian. Jika rasa nyerinya mengganggu waktu tidur atau aktivitas, kamu bisa minum obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti paracetamol atau ibuprofen. Jika kamu ingin mendapatkan obat-obatan pereda nyeri atau salep antibakteri yang sesuai, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah.

5. Perawatan Setelah Bisul Pecah

Jika bisul akhirnya pecah secara alami, cuci tanganmu dengan sabun, bersihkan nanah dan darah yang keluar secara perlahan menggunakan kassa steril atau kapas yang dibasahi air matang atau cairan antiseptik. Jangan memeras sisa isinya. Setelah itu, tutup area luka dengan perban atau plester steril agar tidak terinfeksi oleh bakteri lain, dan ganti perban tersebut secara rutin setiap hari.

Kapan Harus Segera Memeriksakan Diri?

Meskipun sebagian besar bisul tidak berbahaya dan bisa ditangani di rumah, ada tanda-tanda “bendera merah” (red flags) di mana penanganan medis profesional mutlak diperlukan. Jangan menunda untuk menemui dokter apabila kamu mengalami kondisi berikut:

  1. Bisul Sangat Besar dan Sangat Nyeri: Jika ukuran bisul lebih dari 5 sentimeter, terasa sangat keras, dan nyerinya tak tertahankan.
  2. Disertai Demam: Munculnya demam, tubuh menggigil, atau keringat dingin merupakan tanda bahwa infeksi mungkin sudah menyebar ke aliran darah atau telah berkembang menjadi abses.
  3. Garis Merah Menjalar: Terdapat garis-garis merah yang menjalar dari area bisul ke kulit di sekitarnya, yang mengindikasikan infeksi telah mencapai kelenjar getah bening (limfangitis).
  4. Tidak Kunjung Sembuh: Bisul tidak membaik, tidak kunjung matang, atau malah semakin memburuk setelah lebih dari satu hingga dua minggu perawatan rumahan.
  5. Kondisi Khusus: Kamu sedang menyusui (risiko abses payudara sangat tinggi), penderita diabetes, atau memiliki gangguan sistem imun tubuh.

Dokter biasanya akan meresepkan antibiotik oral atau topikal untuk mengatasi infeksi. Dalam kasus abses atau bisul yang sangat besar, dokter akan melakukan prosedur insisi minor di bawah anestesi lokal. Dokter akan membuat sayatan kecil untuk mengeluarkan nanah, lalu membersihkan rongga luka dengan cairan steril agar infeksi sembuh tuntas dari akarnya.

Studi Mengenai Infeksi Payudara dan Abses

National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan sebuah studi medis yang mengulas tentang abses payudara dan infeksi kulit di area tersebut. Studi tersebut menegaskan bahwa bakteri Staphylococcus aureus merupakan patogen utama di balik sebagian besar infeksi payudara non-laktasi (pada wanita yang tidak menyusui).

Lebih lanjut, studi itu menekankan pentingnya deteksi dini dalam membedakan infeksi bakteri biasa dari Mastitis Karsinomatosa (kanker payudara inflamasi). Penundaan pemberian antibiotik atau kegagalan dalam merespons terapi awal dalam waktu satu minggu harus segera ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lanjutan seperti USG payudara atau biopsi kulit. Hal ini membuktikan bahwa meskipun bisul di payudara umumnya tidak berbahaya, observasi dan kehati-hatian tetap diperlukan untuk menghindari komplikasi berisiko tinggi.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Boils and carbuncles – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Breast Infection (Mastitis) & Abscess: Causes & Symptoms.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Breast Abscess.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Breast cancer awareness and inflammatory breast conditions.
American Cancer Society. Diakses pada 2024. Inflammatory Breast Cancer.

FAQ

1. Apakah bisul di payudara bisa pecah sendiri tanpa perlu diobati?

Ya, sebagian besar bisul kecil dapat “matang” dan pecah dengan sendirinya dalam waktu 1 hingga 2 minggu. Kompres air hangat secara rutin sangat membantu mempercepat proses pematangan ini sehingga nanah bisa keluar secara alami.

2. Apakah boleh memencet bisul di payudara agar cepat kempis?

Sangat tidak disarankan. Memencet atau memaksa bisul pecah bisa mendorong bakteri lebih dalam ke jaringan payudara, menyebabkan selulitis, atau memicu penyebaran infeksi ke aliran darah. Selain itu, kebiasaan memencet juga akan meninggalkan bekas luka yang gelap di kulit.

3. Apakah bisul di payudara apakah berbahaya bagi ibu menyusui?

Bagi ibu menyusui, infeksi seperti bisul harus lebih diwaspadai karena bisa jadi itu adalah tanda mastitis (infeksi kelenjar susu) atau abses payudara. Jika benjolan terasa nyeri, disertai payudara membengkak, dan ibu mengalami demam, segeralah cari bantuan medis karena kondisi ini bisa mengganggu proses menyusui.

4. Bagaimana cara membedakan bisul biasa dengan kanker payudara?

Bisul biasanya muncul cepat, sangat nyeri, memerah, dan memiliki titik nanah putih. Sementara benjolan kanker payudara umumnya tumbuh secara bertahap, sering kali tidak terasa nyeri pada tahap awal, terasa keras dan sulit digerakkan (terfiksasi). Namun, pada kanker payudara inflamasi (IBC), payudara bisa merah dan bengkak tanpa ada titik nanah. Selalu periksakan ke dokter jika benjolan merah tidak membaik setelah seminggu.