• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Jarang Piknik Dapat Sebabkan Nature Deficit Disorder
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Jarang Piknik Dapat Sebabkan Nature Deficit Disorder

Jarang Piknik Dapat Sebabkan Nature Deficit Disorder

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 14 Desember 2022

"Nature deficit disorder adalah istilah untuk menggambarkan kurangnya waktu bermain di alam. Penyebabnya beragam, mulai dari minimnya ruang terbuka dan penggunaan gadget berlebihan."

Jarang Piknik Dapat Sebabkan Nature Deficit DisorderJarang Piknik Dapat Sebabkan Nature Deficit Disorder

Halodoc, Jakarta – Menurut Holding BUMN Pariwisata In Journey, masyarakat Indonesia masuk populasi yang kurang piknik. Melansir dari data UNWTO, orang Indonesia rata-rata hanya piknik 2,6 kali dalam setahun. Jumlahnya jauh lebih kecil daripada negara Asia lainnya, seperti Malaysia, Jepang dan China. Padahal, piknik adalah salah satu solusi untuk melepas penat dan meredam stres.

Dalam sebuah penelitian, fenomena kurang piknik ini bisa mengacu pada nature deficit disorder. Istilah tersebut awalnya diperkenalkan dalam buku berjudul Last Child in The Woods: Saving Our Children From Nature Deficit Disorder karya Richard Louv. Nature deficit disorder didefinisikan sebagai kurangnya waktu bermain di alam sehingga berpotensi mengalami masalah kesehatan. 

Berbagai Penyebab Nature Deficit Disorder

Nature deficit disorder belum diakui sebagai gangguan mental hingga saat ini. Meski begitu, Richard Louv mengumpulkan data-data hasil risetnya untuk mendeskripsikan kondisi seseorang yang mengasingkan diri dari alam. Beberapa penyebab nature deficit disorder, yaitu:

  • Orang tua yang selalu mengekang atau terlalu protektif. Alhasil, anak lebih sering di dalam rumah untuk memastikan keamanannya.
  • Minimnya ruang terbuka atau area alam di daerah perkotaan. Meskipun ada taman, seringkali ada larangan untuk menginjak rumput. Hal ini yang membuat orang-orang kurang terkoneksi dengan alam. 
  • Pesatnya perkembangan teknologi. Kini, anak-anak cenderung lebih memilih bermain  gadget, smartphone, game, dan menonton televisi ketimbang bermain di luar rumah. 

Ketika Louv mewawancarai orang tua dan anak-anak di Amerika Serikat, temuannya mengungkapkan kalau anak-anak ternyata jauh lebih baik saat bermain di luar. Riset lain juga mendukung temuannya ini. Penelitian di Jepang menunjukkan bahwa menghabiskan waktu di alam bisa menurunkan level hormon kortisol sampai 12 persen. Hormon kortisol adalah pemicu stres. Ketika kadarnya cukup tinggi, seseorang bisa kelelahan, stres, depresi, sampai gangguan suasana hati. 

Bermain di alam terbuka selama 90 menit diklaim juga mampu mengusir pikiran negatif, sehingga potensi depresi bisa diturunkan. Kesimpulan dari seluruh riset tersebut, menghabiskan waktu di alam berdampak positif pada kesehatan mental

Bagaimana Mengatasi Fenomena Ini?

Jawabannya tentu saja bermain ke alam. Kamu dan keluarga bisa piknik di ruang terbuka, mengunjungi pantai atau mendaki gunung. Selain itu, mulai batasi pemakaian gadget pada Si Kecil dan dorong mereka untuk bermain di luar bersama teman-temannya. 

Jika kamu benar-benar tidak mempunyai waktu luang untuk berlibur, Louv menyarankan agar kamu membuat kebiasaan sederhana cukup dengan berada di luar ruangan saja. Misalnya, berjalan-jalan ke taman di dekat rumah atau kantor atau berkebun. 

Kamu juga bisa mengubah rumah agar memperoleh nuansa alam di dalamnya. Caranya dengan menanam berbagai jenis tanaman dan membuka jendela lebar-lebar supaya sirkulasi udara di dalam rumah semakin sejuk. Dengan demikian, kamu tetap bisa merasakan sentuhan alam meski hanya di rumah saja. Akan tetapi, yang paling terbaik tetap pergi ke alam bebas sebenarnya. 

Jika kamu punya pertanyaan lain seputar kesehatan mental, hubungi psikolog melalui aplikasi Halodoc saja. Mereka dapat menjawab pertanyaan kamu sekaligus memberikan solusi terbaik. Jangan tunda sebelum kondisinya memburuk, download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Kompas. Diakses pada 2022. Banyak Orang Indonesia Kurang Piknik, Rata-rata Hanya 2,6 Kali Dalam Setahun.
Kripalu. Diakses pada 2022. Five Symptoms of Nature Deficit Disorder, and How Mindfulness Can Help.
Children and Nature. Diakses pada 2022. WHAT IS NATURE-DEFICIT DISORDER?