Ad Placeholder Image

Jenis Keputihan Berdasarkan Warna yang Wajib Diketahui

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   10 Juni 2026

Keputihan normal terjadi pada wanita usia subur karena adanya perubahan hormon.

Jenis Keputihan Berdasarkan Warna yang Wajib DiketahuiJenis Keputihan Berdasarkan Warna yang Wajib Diketahui

Ringkasan: Jenis keputihan secara medis dikategorikan menjadi dua, yaitu keputihan fisiologis (normal) dan keputihan patologis (abnormal). Keputihan normal ditandai dengan cairan bening atau putih tanpa bau menyengat, sedangkan keputihan abnormal ditandai dengan perubahan warna menjadi kuning, hijau, atau abu-abu yang disertai rasa gatal, bau tidak sedap, dan iritasi pada area kewanitaan.

Apa Itu Keputihan?

Keputihan atau leukorea adalah kondisi ketika cairan atau lendir keluar dari vagina sebagai bagian dari mekanisme alami tubuh untuk menjaga kebersihan dan kelembapan organ reproduksi wanita. Cairan ini diproduksi oleh kelenjar di dalam vagina dan leher rahim (serviks) untuk membawa sel-sel mati serta bakteri keluar dari tubuh.

Secara medis, keputihan berfungsi sebagai sistem perlindungan alami untuk mencegah terjadinya infeksi pada sistem reproduksi. Frekuensi dan jumlah cairan yang keluar sangat dipengaruhi oleh perubahan hormonal dalam siklus menstruasi, kehamilan, atau penggunaan kontrasepsi hormonal.

Kondisi ini tergolong normal selama tidak menimbulkan ketidaknyamanan fisik atau gejala tambahan. Namun, perubahan signifikan pada konsistensi, jumlah, dan aroma cairan dapat mengindikasikan adanya gangguan kesehatan yang memerlukan evaluasi medis lebih lanjut.

Jenis Keputihan Berdasarkan Warna dan Tekstur

Jenis keputihan dapat dibedakan melalui identifikasi visual terhadap warna serta tekstur cairan yang keluar dari vagina. Perbedaan karakteristik ini sangat krusial karena setiap warna mencerminkan kondisi kesehatan internal atau jenis patogen (mikroorganisme penyebab penyakit) yang mungkin sedang menginfeksi.

Keputihan Bening dan Elastis

Cairan yang berwarna bening dengan tekstur elastis seperti putih telur mentah umumnya dikategorikan sebagai keputihan normal (fisiologis). Tekstur ini biasanya muncul selama masa subur (ovulasi) atau saat tubuh mengalami gairah seksual.

Keputihan Putih Kental dan Menggumpal

Keputihan berwarna putih yang sangat kental, mirip dengan tekstur keju atau susu basi, merupakan tanda khas infeksi jamur (kandidiasis vaginalis). Kondisi ini biasanya tidak berbau namun disertai dengan rasa gatal yang hebat (pruritus vulva) pada area luar vagina.

Keputihan Kuning atau Hijau

Munculnya cairan berwarna kuning tua atau kehijauan dengan tekstur berbusa mengindikasikan adanya infeksi bakteri atau parasit. Kondisi ini sering dikaitkan dengan trikomoniasis, sebuah infeksi menular seksual (IMS) yang juga menyebabkan bau tidak sedap (amis).

Keputihan Abu-abu Encer

Warna abu-abu pada cairan vagina yang disertai aroma amis yang sangat kuat, terutama setelah berhubungan seksual, merupakan indikasi utama Vaginosis Bakteri (ketidakseimbangan bakteri alami vagina). Kondisi ini terjadi ketika bakteri anaerob berkembang biak secara berlebihan.

Keputihan Cokelat atau Berdarah

Cairan berwarna cokelat atau disertai bercak darah biasanya terjadi di akhir siklus menstruasi (pembersihan sisa darah). Namun, jika muncul di luar jadwal menstruasi secara terus-menerus, hal ini perlu diwaspadai sebagai gejala gangguan pada leher rahim atau ketidakseimbangan hormon.

Gejala Keputihan Abnormal

Gejala keputihan abnormal ditandai dengan perubahan mendadak pada karakteristik lendir vagina yang disertai dengan keluhan fisik pada area panggul. Identifikasi dini terhadap gejala patologis sangat penting untuk mencegah komplikasi pada organ reproduksi bagian atas.

Berikut adalah beberapa gejala yang menandakan keputihan bersifat tidak normal:

  • Aroma yang sangat menyengat, amis, atau busuk secara konsisten.
  • Rasa gatal yang mengganggu pada area vulva (bibir kemaluan) dan vagina.
  • Sensasi panas atau nyeri seperti terbakar saat buang air kecil (disuria).
  • Nyeri pada area panggul atau perut bagian bawah (pelvic pain).
  • Kemerahan dan pembengkakan pada jaringan di sekitar lubang vagina.
  • Perubahan volume cairan yang meningkat secara drastis tanpa alasan jelas.

“Infeksi saluran reproduksi yang tidak ditangani dengan tepat dapat meningkatkan risiko penyakit radang panggul dan masalah fertilitas di masa depan.” — Kementerian Kesehatan RI, 2022

Apa Penyebab Keputihan?

Penyebab keputihan dibedakan menjadi faktor alami dan faktor patogenik (infeksi). Keputihan normal disebabkan oleh fluktuasi hormon estrogen dalam tubuh, sedangkan keputihan abnormal dipicu oleh mikroorganisme yang merusak ekosistem vagina.

Faktor utama penyebab keputihan abnormal meliputi:

  • Infeksi Jamur: Pertumbuhan berlebih jamur Candida albicans akibat kelembapan tinggi atau penggunaan antibiotik.
  • Vaginosis Bakteri: Ketidakseimbangan flora normal vagina di mana bakteri baik (Lactobacillus) berkurang dan bakteri jahat meningkat.
  • Infeksi Menular Seksual (IMS): Penularan melalui hubungan seksual seperti klamidia, gonore, dan trikomoniasis.
  • Penggunaan Produk Kimia: Penggunaan sabun pembersih kewanitaan (douching) atau tisu berparfum yang merusak pH alami vagina.
  • Kondisi Medis Tertentu: Penyakit seperti diabetes atau kondisi imunodefisiensi yang memudahkan infeksi berkembang.

Diagnosis Medis Keputihan

Diagnosis keputihan dilakukan oleh tenaga medis untuk menentukan etiologi (penyebab) pasti dari perubahan cairan vagina. Proses diagnosis dimulai dengan anamnesis (tanya jawab medis) mengenai riwayat kesehatan, siklus menstruasi, dan pola aktivitas seksual.

Setelah itu, beberapa pemeriksaan penunjang yang umum dilakukan meliputi:

  • Pemeriksaan Panggul: Pemeriksaan fisik untuk melihat tanda peradangan pada vulva, vagina, dan serviks.
  • Tes pH Vagina: Pengukuran tingkat keasaman cairan vagina menggunakan kertas indikator khusus (pH normal vagina berkisar 3.8 – 4.5).
  • Pemeriksaan Mikroskopis (Wet Mount): Sampel cairan diambil dengan swab (kapas lidi) untuk diperiksa di bawah mikroskop guna mendeteksi jamur, bakteri, atau parasit.
  • Tes Laboratorium/PCR: Digunakan untuk mendeteksi DNA patogen penyebab infeksi menular seksual secara spesifik dan akurat.

Bagaimana Cara Mengobati Keputihan?

Pengobatan keputihan harus disesuaikan dengan agen penyebab yang ditemukan selama proses diagnosis. Penggunaan obat tanpa resep dokter sangat tidak disarankan karena pengobatan yang salah dapat menyebabkan resistensi bakteri atau memperparah infeksi jamur.

Beberapa metode pengobatan medis yang umum digunakan meliputi:

  • Antijamur: Diberikan dalam bentuk krim, salep, atau tablet vagina (ovula) untuk mengatasi infeksi Candida.
  • Antibiotik: Diberikan dalam bentuk minum atau gel untuk menangani vaginosis bakteri dan infeksi menular seksual (IMS).
  • Antiprotozoa: Obat spesifik seperti metronidazole untuk mematikan parasit penyebab trikomoniasis.
  • Krim Kortikosteroid: Digunakan untuk meredakan peradangan dan gatal hebat pada area vulva jika terjadi iritasi non-infeksi.

Penting bagi individu yang mengalami keluhan ini untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan resep yang tepat.

Cara Mencegah Keputihan

Pencegahan keputihan abnormal berfokus pada menjaga keseimbangan ekosistem vagina dan meminimalkan faktor risiko eksternal. Perawatan mandiri yang tepat dapat membantu mempertahankan pH vagina dalam kondisi asam yang sehat.

Langkah-langkah pencegahan yang efektif adalah:

  • Membersihkan area kelamin dari depan ke belakang (dari arah vagina ke anus) setelah buang air untuk mencegah perpindahan bakteri tinja.
  • Menggunakan pakaian dalam berbahan katun yang menyerap keringat dan tidak terlalu ketat.
  • Menghindari penggunaan cairan pembersih kewanitaan beraroma kuat (douching) karena dapat membunuh bakteri baik.
  • Mengganti pembalut secara rutin (minimal 3-4 jam sekali) selama masa menstruasi.
  • Membatasi konsumsi gula berlebih yang dapat memicu pertumbuhan jamur.

“Praktik kebersihan menstruasi yang baik dan penggunaan pelindung saat berhubungan seksual adalah kunci utama pencegahan infeksi vagina.” — World Health Organization (WHO), 2023

Kapan Harus ke Dokter?

Konsultasi medis segera diperlukan apabila perubahan jenis keputihan tidak membaik dalam beberapa hari atau justru semakin parah. Penundaan diagnosis dapat menyebabkan infeksi menyebar ke rahim (uterus) atau saluran tuba.

Segera hubungi tenaga medis jika ditemukan kondisi berikut:

  • Keputihan disertai demam tinggi atau menggigil.
  • Nyeri hebat saat berhubungan intim (dispareunia).
  • Pendarahan vagina yang terjadi di luar siklus haid normal.
  • Luka lepuh atau bintil-bintil pada area sekitar kelamin.
  • Keputihan yang terjadi berulang kali meskipun sudah mencoba pengobatan mandiri.

Kesimpulan

Memahami jenis keputihan merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan reproduksi wanita. Keputihan adalah proses alami tubuh, namun perubahan pada warna, bau, dan tekstur tidak boleh diabaikan karena merupakan indikasi adanya infeksi atau masalah kesehatan serius. Penanganan dini melalui diagnosis yang akurat sangat menentukan keberhasilan pengobatan dan pencegahan komplikasi jangka panjang. Konsultasi dengan dokter di Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.