• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Yang Mungkin Terjadi Jika Physical Distancing Diakhiri Terlalu Cepat

Ini Yang Mungkin Terjadi Jika Physical Distancing Diakhiri Terlalu Cepat

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Sudah hampir satu pekan, Wuhan sebagai kota virus corona SARS-CoV-2, penyebab penyakit COVID-19 bermula telah mengakhiri kebijakan lockdown.  Pemerintah setempat telah memaksa warga untuk tidak keluar atau masuk selama 14 minggu. Kebijakan ini diambil karena kasus aktif di Tiongkok kini hanya berjumlah 1.100 kasus saja. Selain itu sudah ada 77.800 orang yang sudah sembuh dari kondisi ini. 

Selain itu, Italia juga sejak Selasa (14/4) telah melonggarkan kebijakan lockdown. Berbeda dengan apa yang dilakukan di Wuhan, pelonggaran kebijakan ini dimaksudkan untuk memperbaiki ekonomi yang mulai merosot. Namun, beberapa pemilik toko dan pekerja setempat khawatir tindakan ini terlalu cepat untuk dilakukan. Sehingga mereka berpikir bahwa gelombang kedua bisa saja datang lagi.

Baca juga: WHO Ubah Social Distancing menjadi Physical Distancing, Apa Alasannya?

Mengklaim Kemenangan Prematur terhadap Pandemi Bisa Berakibat Fatal

COVID-19 menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru dunia. Virus ini "cukup menular," dan untuk setiap orang yang terkena virus, mereka kemungkinan menularkannya ke beberapa orang lagi meski mereka tidak memiliki gejala (silent carrier). Inilah yang menjadi perhatian para ahli, sebab awalnya penularan asimptomatik jarang terjadi. Namun, beberapa orang sekarang memperkirakan seperempat orang dengan COVID-19 tidak tahu bahwa mereka terinfeksi.

Michael LeVasseur, asisten profesor epidemiologi dan biostatistik di Drexel University's Dornsife School of Public Health menyebutkan bahwa di sini letak pentingnya untuk tetap melakukan physical distancing. Kita harus benar-benar menjaga jarak aman demi menekan penyebaran dan mencegah terjadinya gelombang kedua. 

Saat kebijakan lockdown mulai dihentikan, hal ini bisa saja berbeda efeknya bagi tiap-tiap kota. Nasib kota dan kekuatan infeksi di daerah tertentu mungkin tergantung pada kepadatan populasinya. Seperti yang kita lihat sekarang di kota New York. Semakin padat populasi, semakin banyak kontak yang dimiliki seseorang, maka semakin banyak kesempatan untuk menularkan virus. 

Selain itu, ini juga akan bergantung pada infrastruktur kesehatan publik. Jika suatu kota memiliki layanan kesehatan yang baik sehingga seseorang dapat dengan mudah melakukan tes dan menerima perawatan serta melakukan isolasi, maka risiko penularan akan berkurang. Sehingga meski angka infeksi di desa sedikit, namun dengan fasilitas kesehatan yang kurang memadai, ini akan meningkatkan risiko penularan yang tinggi.

Baca juga: Ini Alasan Tingkat Kematian Akibat Corona Berbeda Tiap Wilayah

Lantas, Apa yang Bisa Dilakukan untuk Memperlambat Penyebaran? 

Selain menaati imbauan physical distancing, Thomas A. Russo, kepala divisi penyakit menular di Jacobs School of Medicine & Biomedical Sciences, New York melihat ada empat game-changers potensial lainnya yang dapat memperlambat penyebaran epidemi ini sehingga dapat berpotensi kembali ke "kehidupan normal." Hal itu antara lain:

  • Ditemukannya Vaksin. Sayangnya, pembuatan vaksin yang aman membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun. Selain itu, kelak vaksin ini sangat terbatas sehingga tidak semua orang bisa mendapatkannya kelak.

  • Obat. Ditemukannya obat yang efektif mencegah infeksi atau efektif mengobati seseorang yang terinfeksi, juga bisa menjadi cara untuk segera menghentikan pandemi ini. Sehingga kelak angka kematian akan berkurang karena setiap pasien tidak akan mengembangkan infeksi serius. 

  • Berharap Virus Ini Musiman. Awalnya banyak yang mengira bahwa virus ini akan mati Ketika memasuki musim panas. Namun, beberapa negara tropis seperti Indonesia misalnya juga memiliki ribuan kasus aktif. 

  • Kekebalan Kelompok. Kondisi ini terjadi ketika cukup banyak populasi yang terinfeksi dan memiliki "kekebalan perlindungan alami" sehingga virus tidak dapat lagi menyebar. Sehingga sekitar 50 persen hingga 75 persen dari populasi perlu terinfeksi. Namun ini bukanlah yang kita inginkan. 

Jadi, kapan keadaan akan kembali normal? Jawabannya tidak jelas. Para ahli setuju bahwa hingga kelak ditemukan vaksin, kamu harus tetap menerapkan physical distancing demi mencegah lonjakan kasus. 

Baca juga: Meski Sudah Sembuh, Virus Corona Kemungkinan dapat Aktif Kembali

Beberapa Hal yang Mesti Dilakukan Sebelum Menghentikan Physical Distancing

Apa yang terjadi saat ini di Tiongkok mungkin bisa kita contoh. Mereka berhasil bertahan dari penerapan kebijakan lockdown hingga kini kehidupan mereka sudah berangsur normal kembali. Kasus-kasus turun ke nol per harinya, atau sangat rendah, dan kemudian mereka menunggu beberapa minggu ekstra untuk memperhitungkan waktu inkubasi.

Setelah periode itu, mereka melonggarkan kebijakan namun tetap menerapkan physical distancing. Selain itu, mereka juga tetap waspada terhadap para silent carrier dengan tetap banyak melakukan tes dan memantau populasi dengan sangat hati-hati.

Apabila kamu ingin kondisi segera membaik seperti di Tiongkok, mari bantu ringankan kerja pemerintah dalam menangani pandemi ini dengan cara menerapkan beberapa cara. Seperti menerapkan physical distancing, menjaga kebersihan diri, dan segera memeriksakan diri jika ada gejala yang mencurigakan.

Namun, jika kamu khawatir untuk datang ke rumah sakit atau klinik, kamu bisa chat dengan dokter di Halodoc perihal kondisi kesehatan yang kamu alami. Dengan begini, kamu tidak perlu keluar rumah untuk mendapatkan layanan kesehatan. Praktis, bukan? Yuk, download Halodoc sekarang di smartphone kamu!

Referensi:
Huffington Post. Diakses pada 2020. What Happens If We End Coronavirus Social Distancing Too Soon?
Detik. Diakses pada 2020. Italia Longgarkan Lockdown, Warga Cemaskan Gelombang Kedua Corona.
The Guardian. Diakses pada 2020. Lockdowns Can't End Until Covid-19 Vaccine Found, Study Says.