Ad Placeholder Image

Kapan Pria Harus Mengunjungi Dokter Spesialis Andrologi?

3 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Juni 2026

“Pemeriksaan andrologi menjadi penting untuk mengetahui kemungkinan gangguan pada organ reproduksi pria."

Kapan Pria Harus Mengunjungi Dokter Spesialis Andrologi?Kapan Pria Harus Mengunjungi Dokter Spesialis Andrologi?

DAFTAR ISI


Masalah kesuburan sering kali dipandang secara sepihak sebagai masalah yang hanya dialami oleh wanita. Padahal, secara medis, proses kehamilan membutuhkan kontribusi yang seimbang dari kedua belah pihak. Kurang lebih 30 hingga 40 persen kasus infertilitas (ketidaksuburan) pada pasangan justru berasal dari faktor pria. Oleh karena itu, penting bagi setiap pasangan untuk menyadari bahwa evaluasi kesuburan harus dilakukan bersama-sama, bukan dibebankan pada satu pihak saja.

Dalam dunia medis, dokter yang menangani sistem reproduksi pria dikenal dengan sebutan dokter spesialis andrologi. Berbeda dengan urolog yang lebih berfokus pada masalah saluran kemih pria dan wanita serta anatomi organ intim pria secara umum, androlog secara khusus mendalami fungsi, gangguan, dan penyakit yang berkaitan dengan sistem reproduksi dan kesuburan pria. Mereka adalah ahli yang akan mendiagnosis mengapa seorang pria kesulitan memiliki keturunan, serta mencari tahu akar permasalahan dari kualitas sperma atau fungsi seksualnya.

Sayangnya, masih banyak pria yang merasa enggan atau malu untuk memeriksakan diri ke dokter kesuburan. Stigma masyarakat, rasa gengsi, atau ketakutan akan hasil diagnosis kerap kali menjadi penghalang. Padahal, menunda pemeriksaan hanya akan memperpanjang waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kehamilan, terutama jika pasangan wanita sudah mulai memasuki usia di mana cadangan sel telurnya menurun. Semakin cepat masalah terdeteksi, semakin tinggi pula peluang keberhasilan intervensi medis yang diberikan.

Jika kamu dan pasangan sudah mencoba untuk hamil secara teratur selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi namun belum membuahkan hasil, maka ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan konsultasi dokter spesialis untuk evaluasi lebih lanjut. Mengetahui kapan harus melangkah dan jenis pemeriksaan apa yang akan dihadapi bisa membantu mengurangi rasa cemas yang mungkin kamu rasakan.

Lantas, kondisi apa saja yang sebenarnya membutuhkan penanganan ahli andrologi, dan bagaimana prosedur medisnya? Berikut adalah ulasan lengkap mengenai dokter kesuburan pria yang perlu kamu pahami secara menyeluruh.

Kapan Pria Harus Mengunjungi Dokter Kesuburan?

Banyak pasangan yang bingung menentukan kapan waktu yang paling tepat untuk mulai mencari bantuan medis terkait program hamil. Aturan umum yang direkomendasikan oleh organisasi kesehatan global adalah setelah 12 bulan berhubungan seksual secara rutin (2-3 kali seminggu) tanpa menggunakan kontrasepsi, namun belum juga terjadi pembuahan. Namun, rentang waktu ini bisa menjadi lebih singkat, yakni 6 bulan, apabila pasangan wanita berusia di atas 35 tahun.

Bagi pria, tidak perlu menunggu genap 12 bulan jika kamu sudah menyadari atau pernah memiliki riwayat kondisi medis tertentu. Ada beberapa tanda peringatan dini dan gejala spesifik yang mengharuskan kamu untuk segera menjadwalkan kunjungan ke dokter kesuburan pria, di antaranya:

  • Disfungsi Ereksi atau Masalah Ejakulasi: Kesulitan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk berhubungan seksual (impotensi), atau masalah ejakulasi seperti ejakulasi dini, ejakulasi tertunda, hingga ejakulasi retrograde (air mani masuk ke kandung kemih, bukan keluar melalui penis).
  • Rasa Nyeri, Bengkak, atau Benjolan di Area Testis: Testis adalah pabrik tempat sperma diproduksi. Adanya rasa sakit yang persisten, pembengkakan yang tidak wajar, atau benjolan di area skrotum (kantong testis) bisa menjadi indikasi adanya infeksi, kista, tumor, atau varikokel yang dapat merusak produksi sperma.
  • Riwayat Operasi atau Trauma: Jika kamu pernah menjalani operasi di area selangkangan, hernia, testis yang tidak turun (kriptorkismus) saat bayi, atau pernah mengalami cedera olahraga parah pada area genital, hal ini bisa berdampak pada fungsi saluran sperma.
  • Perubahan Libido dan Tanda Gangguan Hormonal: Penurunan gairah seksual yang drastis, hilangnya bulu wajah atau tubuh yang tidak biasa, serta pembesaran jaringan payudara (ginekomastia) adalah tanda-tanda ketidakseimbangan hormon, khususnya penurunan kadar testosteron.
  • Riwayat Penyakit Menular Seksual (PMS) atau Infeksi: Pernah mengidap infeksi seperti klamidia, gonore, atau infeksi pada kelenjar prostat (prostatitis) dapat menyebabkan jaringan parut yang menyumbat saluran tempat sperma mengalir.

Mendeteksi masalah sejak dini sangat krusial. Selain penanganan medis, dokter mungkin menyarankan perbaikan gaya hidup serta konsumsi suplemen dan vitamin pendukung yang spesifik untuk meningkatkan parameter sperma sebelum mencoba prosedur yang lebih invasif.

Kondisi Medis yang Ditangani Dokter Spesialis Andrologi

Dokter spesialis andrologi menangani berbagai kondisi patologis yang memengaruhi kemampuan reproduksi laki-laki. Memahami kondisi ini akan membantu kamu mengenali apa yang mungkin sedang terjadi di dalam tubuhmu. Berikut adalah beberapa kondisi utama yang kerap didiagnosis dan ditangani:

1. Varikokel

Varikokel adalah pembengkakan pembuluh darah vena di dalam skrotum, mirip dengan varises yang sering terjadi pada kaki. Kondisi ini adalah penyebab infertilitas pria yang paling umum dan untungnya, paling bisa diobati (reversible). Pembuluh darah yang bengkak ini mengganggu sistem pendinginan testis. Akibatnya, suhu di dalam testis meningkat, yang kemudian merusak kualitas sperma dan menurunkan jumlah produksinya.

2. Azoospermia dan Oligospermia

Ini adalah istilah medis yang merujuk pada jumlah sperma. Oligospermia berarti jumlah sperma di dalam air mani sangat rendah (di bawah standar normal 15 juta sperma per mililiter). Sedangkan Azoospermia adalah kondisi di mana tidak ditemukan adanya sperma sama sekali dalam cairan ejakulasi. Azoospermia bisa bersifat obstruktif (ada penyumbatan sehingga sperma tidak bisa keluar) atau non-obstruktif (pabrik pembuat sperma di testis memang gagal memproduksi).

3. Antibodi Anti-sperma (Imunologi)

Dalam kondisi yang jarang terjadi, sistem kekebalan tubuh pria bisa saja salah mengenali spermanya sendiri sebagai benda asing (seperti virus atau bakteri). Akibatnya, tubuh memproduksi antibodi yang menyerang dan membunuh sperma. Hal ini sering terjadi setelah operasi seperti vasektomi, infeksi parah, atau trauma pada testis.

4. Gangguan Keseimbangan Hormonal

Produksi sperma dikendalikan oleh sistem hormon yang kompleks yang melibatkan hipotalamus, kelenjar pituitari di otak, dan testis. Gangguan pada salah satu sistem ini—misalnya kadar hormon perangsang folikel (FSH) dan hormon luteinisasi (LH) yang abnormal, atau masalah pada kelenjar tiroid—dapat menghentikan produksi sperma dan menurunkan hormon testosteron.

Faktor Pemicu Masalah Kesuburan dari Gaya Hidup
  1. Merokok dan Paparan Asap: Zat beracun dalam rokok dapat merusak DNA sperma dan mengurangi pergerakan (motilitas) sperma secara drastis.
  2. Konsumsi Alkohol Berlebih: Alkohol dapat menurunkan kadar testosteron, menyebabkan disfungsi ereksi, dan menurunkan produksi sperma.
  3. Suhu Panas Berlebihan: Sering berendam air panas, sauna, memangku laptop menyala di paha, atau memakai celana dalam terlalu ketat dapat menaikkan suhu skrotum yang membunuh bibit sperma.
  4. Stres Berkepanjangan: Stres psikologis yang tinggi mengganggu hormon yang memproduksi sperma dan dapat menurunkan libido.

Prosedur Pemeriksaan Kesuburan Pria

Kunjungan pertama ke dokter kesuburan mungkin terasa mengintimidasi, namun prosesnya sebenarnya sangat terstruktur. Dokter akan memulai dengan wawancara medis mendalam (anamnesis) mengenai riwayat kesehatanmu, gaya hidup, riwayat seksual, dan obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Setelah itu, rangkaian pemeriksaan fisik dan laboratorium akan dilakukan.

1. Analisis Semen (Tes Sperma)

Ini adalah tes paling fundamental dalam mengevaluasi kesuburan pria. Pasien akan diminta untuk memberikan sampel air mani (biasanya melalui masturbasi di ruangan khusus di klinik/laboratorium). Sampel ini kemudian dianalisis di bawah mikroskop untuk menilai tiga parameter utama: Volume dan Jumlah (Konsentrasi) untuk memastikan air mani cukup padat; Motilitas untuk melihat berapa persen sperma yang bergerak aktif dan lurus menuju sel telur; serta Morfologi yang mengevaluasi bentuk sperma, memastikan bentuk kepala dan ekornya normal agar mampu menembus cangkang sel telur.

2. Pemeriksaan Fisik dan Ultrasonografi (USG) Skrotum

Dokter akan memeriksa ukuran testis dan mencari apakah ada kelainan struktural atau benjolan. USG skrotum sering dilakukan untuk melihat dengan jelas anatomi bagian dalam testis. Tes ini menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk mendeteksi keberadaan varikokel atau masalah lain pada testis dan struktur pendukungnya seperti epididimis.

3. Pemeriksaan Hormon dan Genetik

Melalui pengambilan sampel darah, dokter akan mengecek kadar testosteron dan hormon-hormon pengatur lainnya dari otak. Jika konsentrasi sperma sangat rendah (atau nol), dokter mungkin akan menyarankan tes genetik (kariotipe) untuk melihat apakah ada kromosom yang abnormal, seperti pada sindrom Klinefelter (pria yang lahir dengan kromosom XXY).

4. USG Transrektal (TRUS) dan Urinalisis Pasca-ejakulasi

USG transrektal melibatkan penyisipan alat kecil ke dalam rektum untuk memeriksa kelenjar prostat dan mencari tahu apakan ada penyumbatan pada saluran yang membawa sperma. Sementara itu, tes urine setelah ejakulasi digunakan untuk mendiagnosis ejakulasi retrograde, yaitu untuk melihat apakah terdapat sperma yang “nyasar” masuk ke dalam urine.

Pilihan Penanganan dan Pengobatan

Kabar baiknya, banyak masalah infertilitas pria yang bisa ditangani. Pendekatan medis akan sangat bergantung pada akar penyebab yang ditemukan dari hasil diagnosis. Dokter andrologi memiliki serangkaian metode mulai dari terapi obat hingga teknologi reproduksi berbantu.

1. Tindakan Pembedahan (Operasi)

Jika masalah utamanya adalah varikokel atau adanya sumbatan pada saluran vas deferens, operasi adalah solusi utamanya. Operasi perbaikan varikokel (varikokelektomi) sering kali berhasil meningkatkan kualitas sperma secara signifikan. Jika pernah melakukan vasektomi sebelumnya, operasi pembalikan vasektomi juga dapat dilakukan. Pada kasus di mana sperma tidak bisa keluar sama sekali dalam air mani, dokter dapat melakukan prosedur bedah mikro untuk mengekstraksi sperma langsung dari testis atau epididimis (TESE atau PESA).

2. Terapi Obat dan Hormon

Bagi pria yang mengalami ketidakseimbangan hormon, dokter dapat meresepkan terapi pengganti hormon atau obat-obatan yang merangsang kelenjar pituitari untuk memproduksi hormon yang memicu produksi sperma. Selain itu, jika infertilitas disebabkan oleh infeksi saluran reproduksi, pemberian antibiotik yang diresepkan dengan tepat akan membersihkan infeksi tersebut, meskipun ini tidak selalu menjamin pemulihan kualitas sperma yang sudah terlanjur rusak.

3. Teknologi Reproduksi Berbantu (ART)

Jika pengobatan medis konvensional tidak memungkinkan atau tidak berhasil, dokter kesuburan akan menyarankan prosedur ART (Assisted Reproductive Technology). Ini melibatkan penanganan langsung pada sel sperma dan sel telur. Metodenya meliputi Inseminasi Buatan (IUI) di mana sperma unggul disuntikkan langsung ke dalam rahim wanita, hingga program Bayi Tabung (IVF). Pada kasus di mana sperma sangat lemah, teknologi ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection) dapat digunakan, di mana satu sperma terbaik dipilih dan disuntikkan langsung ke inti sel telur di laboratorium.

Studi Mengenai Penurunan Kualitas Sperma

Human Reproduction Update menerbitkan studi komprehensif pada tahun 2022 yang menjelaskan bahwa terjadi penurunan signifikan pada konsentrasi dan jumlah sperma total pria di seluruh dunia lebih dari 50% dalam kurun waktu 50 tahun terakhir.

Studi meta-analisis yang melibatkan data dari berbagai benua ini menegaskan bahwa faktor lingkungan, polutan bahan kimia pengganggu endokrin, diet tidak sehat, dan gaya hidup sedentari sangat berperan dalam krisis kesuburan pria modern. Temuan ini menyoroti pentingnya pendekatan preventif dan konsultasi dini ke dokter andrologi, karena masalah kesuburan pria kini telah menjadi isu kesehatan masyarakat yang masif dan tidak bisa lagi diabaikan.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Andrologi via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Andrologi terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Male Infertility – Symptoms and Causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Male Infertility: Causes, Treatment & Prevention.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Infertility.
Human Reproduction Update. Diakses pada 2024. Temporal trends in sperm count: a systematic review and meta-regression analysis of samples collected globally in the 20th and 21st centuries.

FAQ

1. Apa bedanya dokter spesialis urologi dan andrologi?

Dokter urologi menangani penyakit pada saluran kemih pria dan wanita serta anatomi organ reproduksi pria secara luas (seperti batu ginjal, prostat). Sementara itu, dokter andrologi adalah spesialisasi yang secara eksklusif fokus pada sistem reproduksi pria, disfungsi seksual, hormon testosteron, dan masalah kesuburan.

2. Apakah sebelum tes sperma pria harus puasa berhubungan intim?

Ya, sangat direkomendasikan. Dokter biasanya akan menyarankan pria untuk menahan ejakulasi (abstinensia) selama 2 hingga 5 hari sebelum hari pengambilan sampel semen. Hal ini bertujuan untuk memastikan volume dan jumlah sperma berada pada level yang paling optimal untuk dianalisis di laboratorium.

3. Apakah masalah infertilitas atau ketidaksuburan pria bisa disembuhkan secara total?

Banyak kasus infertilitas pria yang bisa diatasi dengan baik, seperti perbaikan pembuluh darah melalui operasi varikokel atau mengobati infeksi dengan antibiotik. Namun, beberapa kondisi bawaan genetik mungkin tidak bisa disembuhkan secara total, meskipun pria tersebut masih bisa memiliki anak melalui metode teknologi reproduksi berbantu seperti IVF dan ICSI.

4. Apakah gaya hidup benar-benar berpengaruh besar terhadap kualitas sperma?

Sangat berpengaruh. Sperma diproduksi terus menerus oleh tubuh dalam siklus sekitar 72 hingga 90 hari. Artinya, perbaikan gaya hidup seperti berhenti merokok, menurunkan berat badan, berolahraga teratur, dan mengonsumsi makanan kaya antioksidan dapat memberikan dampak positif dan signifikan terhadap kualitas sperma baru yang dihasilkan tubuh dalam beberapa bulan kemudian.