Ad Placeholder Image

Kasus TBC di Indonesia Meningkat, WHO Beri Peringatan

4 menit
Ditinjau oleh  dr. Fauzan Azhari SpPD   19 November 2025

Kasus TBC di Indonesia meningkat menurut WHO, dan lonjakannya perlu ditangani serius.

Kasus TBC di Indonesia Meningkat, WHO Beri PeringatanKasus TBC di Indonesia Meningkat, WHO Beri Peringatan

DAFTAR ISI


WHO kembali memberikan sorotan tajam setelah merilis Global TB Report 2025 yang menyebutkan bahwa kasus TBC di Indonesia meningkat dan kini berada dalam tingkat yang mengkhawatirkan.

Indonesia tetap berada di posisi penyumbang kasus TBC tertinggi kedua di dunia, mengungguli Tiongkok yang kini turun ke peringkat empat.

Kondisi ini menegaskan bahwa penyebaran dan penemuan kasus tuberkulosis di Indonesia masih belum optimal.

Data WHO juga menunjukkan bahwa Indonesia menjadi kontributor terbesar peningkatan kasus TBC secara global antara 2020–2023.

Situasi ini menandakan bahwa deteksi, pelaporan, dan penanganan TBC masih memiliki celah besar yang harus segera ditutup.

Lebih jauh, Indonesia termasuk dalam tiga negara Asia dengan peningkatan insiden TBC lebih dari 5 persen sejak 2015, bersama Filipina dan Myanmar.

Mengapa Kasus TBC di Indonesia Terus Meningkat?

Peningkatan kasus TBC di Indonesia bukanlah fenomena tunggal, ada beberapa faktornya:

1. Ada kesenjangan besar antara estimasi kasus dan diagnosis sebenarnya

Indonesia berada di peringkat pertama dunia dengan kesenjangan terbesar antara perkiraan jumlah kasus TBC dan kasus yang benar-benar ditemukan.

Gap atau kesenjangan sebesar 10 persen ini menandakan bahwa masih banyak orang yang sebenarnya mengidap TBC tetapi belum pernah terdiagnosis, sehingga tetap menulari orang lain.

2. Masih rendahnya cakupan diagnosis TBC resisten obat

Indonesia juga menjadi satu dari lima negara penyumbang 60 persen kesenjangan global untuk kasus TBC resisten obat (MDR/RR-TB). Artinya, banyak pengidap TBC resisten yang tidak terdeteksi sehingga penyebarannya sulit dihentikan.

3. Ketimpangan akses layanan kesehatan

Walaupun cakupan layanan TBC sudah mencapai 80 persen, distribusi pemeriksaan dan pengobatan belum merata. Wilayah padat penduduk dan daerah terpencil sama-sama mengalami hambatan yang berbeda, mulai dari tenaga kesehatan yang terbatas hingga fasilitas diagnostik yang kurang memadai.

4. Peningkatan mobilitas dan aktivitas ekonomi

Setelah pandemi, mobilitas masyarakat meningkat signifikan. Dalam kondisi kepadatan tinggi seperti transportasi umum dan lingkungan kerja, bakteri penyebab TBC lebih mudah menyebar, terutama bila deteksi kasus masih lambat.

5. Beban TBC-HIV dan MDR-TB yang tinggi

WHO juga menegaskan bahwa Indonesia masih berada dalam kategori high burden atau beban penyakit yang tinggi untuk tiga kelompok sekaligus:

  • TBC umum
  • TBC-HIV
  • TBC resisten obat (MDR/RR-TB)

Kombinasi ini membuat pengendalian menjadi jauh lebih kompleks. Pahami informasi lain seputar Infeksi Saluran Pernapasan – Gejala, Penyebab, dan Pencegahannya agar kamu waspada.

Kenapa Kondisi Ini Berbahaya?

Ketika kasus TBC di Indonesia meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sistem kesehatan, tetapi juga oleh keluarga, tempat kerja, dan ekonomi nasional.

1. Potensi penularan lebih tinggi

TBC adalah penyakit infeksi yang menyebar melalui udara. Satu orang tanpa pengobatan bisa menularkan hingga 10–15 orang dalam setahun. Dengan semakin banyak kasus yang tidak terdeteksi, rantai penularan semakin sulit diputus.

2. Biaya pengobatan yang semakin meningkat

Laporan WHO mencatat bahwa Indonesia termasuk negara berpenghasilan menengah yang mengalami peningkatan signifikan dalam biaya kesehatan terkait TBC. Biaya untuk MDR-TB bahkan bisa mencapai 20 kali lipat pengobatan TBC biasa.

Jika mengalami gejala infeksi pernapasan, Catat, Ini Dokter Spesialis Paru yang Bisa Dihubungi untuk kamu tanyakan perawatannya.

3. Risiko kematian yang meningkat

Tanpa penanganan yang cepat dan tepat, TBC masih menjadi salah satu penyakit infeksi paling mematikan di dunia. Indonesia memiliki salah satu angka kematian TBC tertinggi di Asia Tenggara.

4. Dampak sosio-ekonomi

Banyak pasien TBC berada di usia produktif. Ketika mereka harus absen bekerja dalam waktu lama, ekonomi keluarga berpotensi terganggu.

Apa yang Perlu Dilakukan untuk Mengurangi Risiko TBC?

Meningkatnya kasus TBC di Indonesia berarti kamu perlu lebih waspada, terutama bila tinggal di lingkungan padat. Langkah berikut bisa membantu:

  • Hindari kontak dekat dengan orang yang sedang batuk lama atau punya gejala TBC seperti batuk lebih dari 2 minggu, demam, dan penurunan berat badan.
  • Gunakan masker di ruang tertutup dan padat, terutama bila ventilasinya buruk.
  • Periksa kesehatan bila punya gejala mencurigakan. Pemeriksaan dahak, rontgen, atau tes cepat molekuler bisa memastikan diagnosis.
  • Jaga daya tahan tubuh, termasuk tidur cukup, makan bernutrisi, dan kelola stres.
  • Pastikan vaksinasi BCG, terutama untuk bayi, karena dapat menurunkan risiko TBC berat seperti meningitis TB.

Pahami lebih dalam mengenai Tuberkulosis (TBC) – Penyebab, Gejala, Pengobatan & Pencegahannya berikut ini.

Kesimpulan

Kasus TBC di Indonesia meningkat dan laporan WHO menegaskan bahwa tren ini tidak boleh dianggap sepele. Kesenjangan diagnosis, tingginya kasus MDR-TB, dan cakupan layanan yang belum merata membuat Indonesia berada dalam situasi yang berisiko.

Upaya pemerintah memang sudah berjalan, tetapi penanganan TBC membutuhkan dukungan seluruh masyarakat agar rantai penularannya bisa diputus.

Semakin cepat kamu mengenali risiko TBC, semakin besar peluang untuk mencegah atau mendeteksinya sejak dini. TBC mungkin penyakit lama, tetapi ancamannya tetap nyata hingga hari ini.

Itulah penjelasan seputar kasus tuberkulosis di Indonesia yang perlu kamu ketahui. Jika mengalami gejala pernapasan yang mencurigakan, hubungi dokter spesialis paru di Halodoc saja!

Mereka bisa memberikan informasi dan saran perawatan yang tepat sekaligus meresepkan obat.

Jangan khawatir, dokter di Halodoc tersedia 24 jam sehingga kamu bisa menghubunginya kapan pun dan dimana pun. Tunggu apa lagi? Klik banner di bawah ini untuk menghubungi dokter terpercaya:

Referensi:
World Health Organization. Diakses pada 2025. Global Tuberculosis Report 2025.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2025. Tuberculosis Data.
European Respiratory Journal. Diakses pada 2025. Update in tuberculosis treatment: a scoping review of current practices.