Ad Placeholder Image

Kawasaki Disease: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   12 Juni 2026

Kawasaki Disease: Gejala, Penyebab, & Pengobatan Dini

Kawasaki Disease: Gejala, Penyebab, dan PengobatanKawasaki Disease: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

DAFTAR ISI


Ketika anak mengalami demam tinggi yang tak kunjung turun selama berhari-hari, wajar jika orang tua merasa sangat panik. Dari sekian banyak kemungkinan penyakit infeksi pada anak, ada satu kondisi medis yang cukup langka namun memerlukan perhatian dan penanganan sangat serius, yaitu penyakit Kawasaki.

Penyakit ini pertama kali ditemukan di Jepang oleh seorang dokter anak bernama Tomisaku Kawasaki pada tahun 1967. Hingga saat ini, kondisi tersebut masih menjadi salah satu penyebab utama penyakit jantung didapat (acquired heart disease) pada anak-anak di negara maju maupun berkembang. Oleh karena itu, pengenalan gejala sejak dini sangatlah krusial untuk mencegah komplikasi yang berakibat fatal pada jantung anak.

Sebagai orang tua, memahami apa itu penyakit Kawasaki adalah langkah pencegahan terbaik agar anak bisa segera mendapatkan pertolongan medis sebelum pembuluh darah jantungnya mengalami kerusakan. Banyak yang masih belum paham dan bertanya-tanya, sebenarnya kawasaki disease adalah kondisi seperti apa dan bagaimana cara mengatasinya? Mari kita bahas secara tuntas dan mendalam pada ulasan berikut ini!

(Catatan Apoteker: Karena Penyakit Kawasaki adalah kondisi gawat darurat medis yang memerlukan perawatan intensif di rumah sakit seperti pemberian Imunoglobulin Intravena (IVIG) dan pemantauan ketat dokter spesialis anak atau kardiologi anak, artikel ini tidak memuat rekomendasi obat bebas atau suplemen untuk rawat jalan. Pengobatan mandiri sangat tidak disarankan untuk kondisi ini.)

Pengertian Penyakit Kawasaki

Penyakit Kawasaki (Kawasaki disease) atau sindrom kelenjar getah bening mukokutan adalah penyakit yang menyebabkan peradangan (pembengkakan dan kemerahan) pada pembuluh darah di seluruh tubuh. Penyakit ini paling sering menyerang bayi dan anak-anak di bawah usia lima tahun, meskipun anak yang lebih tua dan orang dewasa dalam kasus yang sangat jarang juga bisa mengalaminya.

Peradangan yang terjadi pada penyakit ini paling berbahaya jika menyerang arteri koroner, yaitu pembuluh darah utama yang bertugas menyuplai darah kaya oksigen ke otot jantung. Jika arteri koroner meradang, pembuluh darah ini dapat melebar dan membentuk aneurisma (gelembung pada dinding pembuluh darah). Aneurisma ini sangat rentan menyebabkan pembekuan darah yang dapat menyumbat aliran darah ke jantung, yang pada akhirnya memicu serangan jantung bahkan pada anak usia balita.

Selain menyerang pembuluh darah jantung, penyakit Kawasaki juga menyebabkan peradangan pada kelenjar getah bening, kulit, dan selaput lendir di dalam mulut, hidung, dan tenggorokan. Inilah sebabnya mengapa gejala fisik yang terlihat dari luar sangat khas, seperti bibir merah pecah-pecah dan mata yang sangat merah.

Gejala Penyakit Kawasaki Berdasarkan Fase

Gejala penyakit Kawasaki tidak muncul secara bersamaan, melainkan berkembang secara bertahap dalam tiga fase utama. Penting bagi orang tua untuk mengamati urutan kemunculan gejala ini dan segera membawa anak ke IGD jika menemukannya.

1. Fase Akut (Minggu ke-1 hingga ke-2)

Ini adalah fase paling kritis. Gejala utama dan pertama yang muncul adalah demam tinggi yang biasanya melebihi 39 derajat Celcius dan berlangsung setidaknya selama 5 hari berturut-turut. Demam ini sangat khas karena biasanya tidak mereda meskipun anak sudah diberikan obat penurun panas standar (seperti paracetamol atau ibuprofen). Bersamaan dengan demam, gejala lain yang muncul meliputi:

  • Konjungtivitis bilateral: Kedua mata menjadi sangat merah, namun tanpa disertai keluarnya kotoran mata atau belek (non-eksudatif).
  • Perubahan pada bibir dan rongga mulut: Bibir menjadi sangat merah, kering, dan pecah-pecah hingga berdarah. Lidah membengkak, memerah, dengan bintik-bintik menonjol yang sering disebut sebagai strawberry tongue (lidah stroberi).
  • Ruam kulit: Ruam merah menyebar di sebagian besar tubuh, terutama di area dada, perut, dan area genital (selangkangan). Ruam ini bisa bervariasi bentuknya, kadang menyerupai campak.
  • Pembengkakan ekstremitas: Telapak tangan dan telapak kaki menjadi sangat merah (eritema) dan bengkak (edema). Terasa hangat saat disentuh.
  • Pembesaran kelenjar getah bening: Terjadi benjolan di leher (limfadenopati servikal), biasanya hanya pada satu sisi, dengan ukuran lebih dari 1,5 cm.
  • Anak biasanya terlihat sangat rewel, gelisah, dan tampak sangat sakit.

2. Fase Subakut (Minggu ke-2 hingga ke-4)

Pada fase ini, demam biasanya mulai mereda, namun ini bukan berarti anak sudah sembuh atau keluar dari masa bahaya. Justru, risiko komplikasi jantung paling tinggi terjadi pada fase subakut ini. Gejala fisik yang menonjol meliputi:

  • Pengelupasan kulit (Deskuamasi): Kulit pada ujung jari tangan dan jari kaki mulai mengelupas dalam lembaran besar. Terkadang pengelupasan juga meluas ke area telapak tangan dan kaki.
  • Nyeri sendi (artritis) yang sering menyerang lutut, pinggul, dan pergelangan kaki.
  • Diare, muntah, dan nyeri perut persisten.
  • Penyakit kuning (jaundice) ringan pada beberapa kasus.

3. Fase Pemulihan (Bulan ke-1 hingga ke-2)

Pada fase ini, gejala klinis sebagian besar sudah menghilang, namun anak masih mudah lelah. Tubuh anak mulai pulih secara perlahan. Namun, pemantauan jantung melalui ekokardiogram (USG Jantung) harus tetap dilakukan secara berkala untuk memastikan tidak ada kerusakan permanen pada arteri koroner yang baru terlihat pada fase ini.

Pentingnya Deteksi Dini: Jangan Tunggu Demam Turun!
  1. Jika anak demam tinggi lebih dari 3-4 hari tanpa gejala batuk pilek yang jelas, segera konsultasikan ke dokter anak.
  2. Perhatikan area mata, bibir, dan lidah. Ini adalah indikator visual paling kuat untuk membedakan Kawasaki dengan demam berdarah atau tipes.
  3. Semakin cepat penyakit ini didiagnosis (idealnya sebelum hari ke-10 demam), semakin besar peluang mencegah kerusakan jantung permanen melalui terapi medis.

Penyebab dan Faktor Risiko

Hingga saat ini, penyebab pasti dari penyakit Kawasaki masih menjadi misteri di dunia medis. Penyakit ini tidak menular; anak tidak bisa tertular dari anak lain yang sedang sakit Kawasaki. Para ilmuwan dan peneliti kesehatan menduga bahwa penyakit ini terjadi akibat kombinasi beberapa faktor, di antaranya:

1. Reaksi Sistem Imun yang Berlebihan

Penyakit ini diduga merupakan reaksi autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh anak bereaksi secara berlebihan terhadap suatu pemicu dan akhirnya menyerang pembuluh darah yang sehat di dalam tubuhnya sendiri.

2. Faktor Genetik

Genetika memegang peranan penting. Anak-anak keturunan Asia, khususnya Jepang, Korea, dan wilayah Asia Timur lainnya, memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk terkena penyakit ini dibandingkan dengan ras Kaukasia atau Afrika. Adanya anggota keluarga (seperti kakak atau adik) yang pernah menderita penyakit Kawasaki juga meningkatkan risiko anak terkena kondisi serupa.

3. Paparan Infeksi (Bakteri atau Virus)

Meskipun tidak ada satu jenis virus atau bakteri spesifik yang diidentifikasi sebagai penyebab tunggal, para ahli percaya bahwa penyakit Kawasaki dapat dipicu oleh paparan virus atau bakteri umum di lingkungan. Paparan ini memicu respons imun abnormal pada anak-anak yang secara genetik memang sudah rentan.

Faktor risiko utama meliputi:

  • Usia: Anak-anak di bawah usia 5 tahun paling berisiko. Risiko tertinggi ada pada rentang usia 6 bulan hingga 2 tahun.
  • Jenis Kelamin: Anak laki-laki sekitar 1,5 kali lebih mungkin didiagnosis dengan penyakit Kawasaki dibandingkan anak perempuan.
  • Etnis: Seperti yang disebutkan, keturunan Asia memiliki prevalensi tertinggi.

Diagnosis dan Penanganan Medis di Rumah Sakit

Tidak ada tes darah tunggal yang bisa langsung mendiagnosis penyakit Kawasaki secara pasti. Dokter mendiagnosis kondisi ini dengan menyingkirkan penyakit lain yang gejalanya mirip (seperti campak, infeksi streptococcus, demam berdarah, atau Juvenile Rheumatoid Arthritis) dan melihat kriteria gejala klinis yang muncul.

Pemeriksaan medis yang biasanya dilakukan meliputi:

  • Ekokardiogram (USG Jantung): Ini adalah tes paling penting. Tes ini menggunakan gelombang suara untuk melihat seberapa baik jantung berdetak dan memompa darah, serta memeriksa apakah ada pembengkakan (aneurisma) pada arteri koroner.
  • Elektrokardiogram (EKG): Untuk mengukur aktivitas listrik jantung dan mencari tahu apakah ada gangguan irama jantung akibat peradangan.
  • Tes Darah Lengkap: Untuk melihat jumlah sel darah putih yang tinggi (tanda peradangan), anemia, dan trombosit yang sangat tinggi (biasanya muncul pada minggu kedua). Laju Endap Darah (LED) dan CRP biasanya akan menunjukkan angka yang sangat tinggi.
  • Tes Urine: Untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi saluran kemih dan mencari sel darah putih dalam urine.

Protokol Pengobatan Penyakit Kawasaki

Penyakit Kawasaki adalah kondisi rawat inap. Anak harus dirawat di rumah sakit di bawah pengawasan ketat dokter spesialis anak atau ahli jantung anak (kardiolog anak). Tujuan utama pengobatan adalah untuk meredakan demam, mengurangi peradangan secepat mungkin, dan mencegah kerusakan pembuluh darah koroner.

1. Imunoglobulin Intravena (IVIG)

Ini adalah terapi standar emas untuk penyakit Kawasaki. IVIG adalah protein kekebalan tubuh (antibodi) yang disuntikkan secara perlahan melalui infus (intravena) selama 8 hingga 12 jam. Pemberian IVIG sangat efektif dalam menurunkan risiko kelainan arteri koroner secara drastis, terutama jika diberikan dalam 10 hari pertama sejak demam dimulai.

2. Aspirin Dosis Tinggi

Dalam kondisi normal, aspirin SANGAT DILARANG diberikan kepada anak-anak karena dapat memicu Sindrom Reye (kondisi langka yang merusak otak dan hati). Namun, pada kasus penyakit Kawasaki, aspirin adalah pengecualian yang diawasi ketat secara medis. Dokter akan memberikan aspirin dosis tinggi pada awalnya untuk mengurangi rasa sakit, peradangan persendian, dan menurunkan demam tinggi. Setelah demam turun, dosis aspirin akan diturunkan menjadi dosis rendah sebagai pengencer darah untuk mencegah pembentukan gumpalan darah di arteri jantung.

Perhatian Sangat Penting: Terapi aspirin ini murni merupakan keputusan medis. Orang tua tidak boleh memberikan aspirin kepada anak yang demam di rumah tanpa resep dan pengawasan dokter yang mendiagnosis Kawasaki.

Vaksinasi Pasca Penyakit Kawasaki
  1. Anak yang baru saja menerima pengobatan IVIG biasanya harus menunda pemberian vaksin hidup (seperti vaksin campak, gondongan, rubella/MMR, atau cacar air) selama kurang lebih 11 bulan.
  2. Hal ini dikarenakan antibodi dalam IVIG dapat mencegah tubuh merespons vaksin-vaksin tersebut dengan baik.
  3. Namun, vaksin flu tahunan sangat direkomendasikan secara rutin, karena infeksi flu saat anak sedang dalam terapi aspirin dosis rendah dapat memicu komplikasi serius.

Studi Terkait Penyakit Kawasaki

American Heart Association (AHA) menerbitkan panduan dan studi ekstensif mengenai manajemen penyakit Kawasaki. Studi ini menegaskan bahwa pemberian Imunoglobulin Intravena (IVIG) dalam 10 hari pertama setelah onset demam mampu menurunkan tingkat kelainan arteri koroner dari 25% menjadi kurang dari 5%.

Studi ini menyoroti betapa kritisnya jendela waktu penanganan (golden time). Keterlambatan diagnosis karena menganggap gejala anak sebagai “demam biasa” adalah penyebab utama tingginya komplikasi jantung pada penderita. Oleh karena itu, edukasi publik mengenai kriteria demam dan ruam spesifik pada penyakit ini harus terus digencarkan untuk menekan angka kecacatan jantung pada anak-anak.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
American Heart Association. Diakses pada 2024. Kawasaki Disease.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Kawasaki disease – Symptoms and causes.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. About Kawasaki Disease.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Penyakit Kawasaki.
National Health Service (NHS) UK. Diakses pada 2024. Kawasaki disease.

FAQ

1. Apakah penyakit Kawasaki bisa menular ke anak lain?

Tidak, penyakit Kawasaki bukan merupakan penyakit menular. Seorang anak tidak akan tertular kondisi ini hanya karena bermain atau berada di dekat anak yang sedang menderita penyakit Kawasaki.

2. Apakah penyakit Kawasaki bisa sembuh total?

Ya, sebagian besar anak yang didiagnosis secara dini dan langsung menerima pengobatan IVIG dalam kurun waktu 10 hari sejak gejala demam muncul dapat sembuh total tanpa mengalami masalah jantung di kemudian hari. Namun, pemeriksaan USG jantung secara rutin tetap wajib dilakukan sesuai jadwal dokter.

3. Mengapa penyakit ini disebut “Kawasaki”? Apakah ada hubungannya dengan pabrik motor?

Sama sekali tidak ada hubungannya dengan pabrik kendaraan. Penyakit ini dinamakan “Kawasaki” untuk menghormati Dr. Tomisaku Kawasaki, seorang dokter anak asal Jepang yang pertama kali mendokumentasikan dan mempublikasikan kumpulan gejala medis penyakit ini pada tahun 1967.

4. Apa bedanya demam pada penyakit Kawasaki dengan demam biasa?

Demam pada penyakit Kawasaki sangat khas karena suhunya sangat tinggi (seringkali di atas 39°C), tidak turun meski sudah diberikan obat penurun panas secara maksimal, dan bertahan minimal selama 5 hari berturut-turut. Selain itu, demam ini diikuti oleh gejala spesifik seperti mata merah tanpa belek, bibir pecah-pecah berdarah, dan ruam tubuh yang tidak biasa ditemukan pada demam flu biasa.