Ad Placeholder Image

Kejang Absans: Ini Lho Gejala Bengong Bukan Cuma Melamun

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   12 Juni 2026

Pahami Kejang Absans: Si Bengong yang Tak Bikin Jatuh

Kejang Absans: Ini Lho Gejala Bengong Bukan Cuma MelamunKejang Absans: Ini Lho Gejala Bengong Bukan Cuma Melamun

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu melihat seseorang tiba-tiba diam mematung, pandangannya kosong, dan tidak merespons ketika dipanggil? Di Indonesia, kondisi ini sering kali hanya dianggap sebagai kebiasaan “bengong” atau melamun biasa. Banyak orang tua atau guru yang mengira anak yang sering terlihat menatap kosong sekadar kehilangan fokus, kurang tidur, atau sedang memikirkan hal lain. Namun, tahukah kamu bahwa bengong yang terjadi secara tiba-tiba dan berulang bisa jadi merupakan tanda dari kondisi medis serius pada sistem saraf?

Dalam dunia medis, gejala menatap kosong tanpa respons selama beberapa detik, yang tidak bisa diinterupsi, sering kali merupakan manifestasi dari kejang absans (absence seizure). Kondisi yang dulu dikenal dengan istilah petit mal ini adalah salah satu jenis kejang epilepsi yang paling sering menyerang anak-anak, meskipun orang dewasa juga bisa mengalaminya. Kesalahan dalam mengenali gejala ini sering kali membuat penderitanya terlambat mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Sangat penting bagi kita untuk memahami perbedaan antara melamun biasa karena kelelahan dan kejang absans. Jika melamun biasa bisa dihentikan dengan tepukan di bahu atau panggilan suara, kejang absans sama sekali memutus kesadaran penderitanya dari dunia luar untuk sesaat. Setelah episode kejang berakhir, mereka tidak akan mengingat apa pun yang baru saja terjadi dan langsung melanjutkan aktivitas seolah-olah tidak ada yang aneh.

Menyadari gejala ini sedini mungkin dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih berbahaya, seperti kecelakaan fisik saat sedang beraktivitas atau penurunan prestasi akademik pada anak akibat seringnya kehilangan “potongan” informasi saat belajar. Mari kita bahas lebih dalam mengenai kejang absans, penyebab, gejala, serta langkah medis apa yang harus segera diambil.

Apa Itu Kejang Absans?

Kejang absans adalah jenis kejang umum yang terjadi karena adanya gangguan singkat dan tiba-tiba pada aktivitas listrik di seluruh permukaan otak. Berbeda dengan gambaran kejang pada umumnya (kejang tonik-klonik) yang melibatkan kelojotan, mulut berbusa, atau tubuh yang kaku, kejang absans memiliki presentasi klinis yang jauh lebih “halus” dan tenang.

Saat seseorang mengalami kondisi ini, mereka akan terlihat seperti sedang menatap kosong atau bengong. Episode ini biasanya berlangsung sangat singkat, rata-rata hanya 10 hingga 20 detik. Meskipun sangat singkat, kejang ini bisa terjadi puluhan bahkan hingga ratusan kali dalam satu hari jika tidak ditangani dengan obat anti-epilepsi yang diresepkan oleh dokter saraf.

Kondisi ini paling umum didiagnosis pada anak-anak usia 4 hingga 14 tahun. Banyak anak-anak yang pada akhirnya sembuh dari kejang absans saat mereka menginjak usia remaja, namun sebagian lainnya mungkin terus membawa kondisi ini hingga dewasa atau bahkan berkembang menjadi jenis kejang epilepsi lainnya. Karena gejalanya sangat halus, sering kali guru di sekolahlah yang pertama kali mencurigai kondisi ini karena anak terlihat tidak memperhatikan pelajaran.

Penyebab Sering Bengong dan Kejang Absans

Penyebab pasti mengapa seseorang mengalami kejang absans sering kali berkaitan erat dengan genetika. Banyak kasus menunjukkan bahwa anak yang mengalami kondisi ini memiliki riwayat kejang atau epilepsi di dalam keluarganya. Otak manusia berkomunikasi menggunakan impuls listrik. Pada penderita kejang absans, sinyal listrik di otak ini menembak secara berulang dan tidak normal, kira-kira dengan pola tiga siklus per detik.

Pola listrik abnormal inilah yang menyebabkan terjadinya jeda atau hilangnya kesadaran sesaat. Selain faktor genetik, ada beberapa pemicu yang diketahui dapat memicu terjadinya episode kejang absans pada mereka yang sudah memiliki kecenderungan kondisi ini, di antaranya:

  • Hiperventilasi: Bernapas terlalu cepat dan dalam. Dokter sering kali meminta pasien anak untuk meniup kincir angin atau kertas secara terus-menerus di ruang praktik untuk memicu dan mendiagnosis kejang ini.
  • Cahaya yang berkedip (Fotosensitifitas): Kilatan cahaya dari strobe light, layar televisi, atau video game dapat memicu kejang pada beberapa penderita.
  • Kelelahan ekstrem dan kurang tidur: Kurang istirahat sangat memengaruhi stabilitas aktivitas listrik di otak.

Perlu diingat bahwa tidak semua kebiasaan bengong disebabkan oleh epilepsi. Pada beberapa kasus, kebiasaan menatap kosong juga bisa disebabkan oleh Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), kelelahan kronis, stres psikologis berat, atau trauma. Oleh karena itu, pemeriksaan medis sangat mutlak diperlukan untuk memastikan akar masalahnya.

Perbedaan Melamun Biasa dan Kejang Absans
  1. Melamun biasa bisa dihentikan. Jika kamu memanggil namanya dengan keras atau menyentuhnya, orang yang melamun akan langsung “sadar”. Pada kejang absans, penderita tidak akan merespons sama sekali.
  2. Kejang absans dapat terjadi di tengah-tengah aktivitas, seperti saat sedang makan, berbicara, atau berjalan, membuat aktivitas tersebut tiba-tiba terhenti.
  3. Orang yang mengalami kejang absans tidak memiliki memori tentang episode bengong tersebut dan tidak merasa bahwa mereka baru saja melamun.

Gejala yang Harus Diwaspadai

Indikasi utama dari kejang absans adalah tatapan mata yang kosong ke satu arah tertentu, sering kali disalahartikan sebagai lamunan. Namun, jika kamu jeli, ada beberapa tanda fisik penyerta (otomatisme) yang sering muncul bersamaan dengan episode hilangnya kesadaran tersebut. Gejala penyerta ini bervariasi pada setiap individu, antara lain:

  • Kelopak mata yang berkedip-kedip atau bergetar dengan cepat.
  • Gerakan mengecap-ngecap bibir (lip smacking) atau mengunyah tanpa ada makanan di mulut.
  • Menggosok-gosokkan jari atau gerakan tangan yang repetitif dan tidak bertujuan.
  • Benda yang sedang dipegang tiba-tiba terjatuh dari tangan.
  • Berhenti mendadak saat sedang berbicara di pertengahan kalimat, lalu melanjutkannya lagi dari kata terakhir tanpa menyadari adanya jeda.
  • Tubuh sedikit mencondong ke depan atau ke belakang.

Karena tidak ada fase kebingungan (post-ictal state) yang panjang setelah kejang selesai, sering kali orang di sekitarnya menganggap hal tersebut bukan masalah besar. Padahal, jika terjadi saat anak sedang menyeberang jalan, berenang, atau mengendarai sepeda, hilangnya kesadaran selama 10 detik bisa berakibat sangat fatal.

Diagnosis dan Pemeriksaan Medis

Jika kamu atau anggota keluarga menunjukkan gejala sering bengong yang mencurigakan, langkah pertama yang paling penting adalah mencari bantuan medis profesional. Jangan pernah mencoba mendiagnosis sendiri atau memberikan ramuan herbal yang belum teruji klinis untuk mengatasi masalah neurologis.

Kamu bisa melakukan konsultasi ke dokter Halodoc untuk menceritakan gejala awal yang dialami. Nantinya, dokter umum atau dokter spesialis saraf akan merujuk untuk dilakukan pemeriksaan penunjang guna memastikan apakah bengong tersebut merupakan kejang absans. Beberapa tes yang umumnya dilakukan meliputi:

  • Elektroensefalogram (EEG): Ini adalah prosedur standar emas (gold standard) untuk mendiagnosis epilepsi. Sensor-sensor kecil (elektroda) akan ditempelkan di kulit kepala untuk merekam aktivitas listrik otak. Pada pasien kejang absans, EEG akan menunjukkan pola gelombang kejut spesifik (biasanya 3 Hertz spike-and-wave).
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI): Walaupun kejang absans biasanya tidak disebabkan oleh lesi fisik, MRI terkadang dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya masalah struktural pada otak, seperti tumor atau kista, yang mungkin memicu kejang.
  • Pemeriksaan Darah: Untuk memastikan tidak ada infeksi atau ketidakseimbangan elektrolit dan zat kimia lain dalam darah yang menyebabkan gejala kejang.

Kapan Harus ke Dokter?

Kamu harus segera mengunjungi dokter saraf jika menyadari bahwa kebiasaan “bengong” yang dialami anak atau anggota keluarga terjadi setiap hari, tidak bisa diinterupsi, memengaruhi nilai sekolahnya, atau jika ia sering menjatuhkan barang tanpa alasan yang jelas.

Selain penanganan menggunakan obat-obatan dari resep dokter spesialis (seperti Ethosuximide atau asam valproat—yang hanya boleh dibeli dengan resep ketat), menjaga kesehatan sistem saraf secara umum juga sangat dianjurkan. Gaya hidup sehat, tidur cukup minimal 8 jam sehari, dan asupan nutrisi yang mendukung fungsi otak sangat penting. Jika kamu membutuhkan asupan multivitamin tambahan seperti vitamin B kompleks atau omega-3 untuk mendukung kesehatan saraf sehari-hari, kamu bisa beli suplemen kesehatan secara online di Halodoc yang dijamin keasliannya dan langsung diantar ke rumah.

Perlu ditegaskan, suplemen kesehatan atau vitamin saraf bukan merupakan obat untuk menyembuhkan kejang absans. Kejang absans mutlak membutuhkan pengobatan anti-epilepsi dari dokter saraf. Multivitamin hanya berfungsi sebagai terapi pendukung untuk memelihara kesehatan sel-sel saraf agar tubuh tidak mudah kelelahan, yang mana kelelahan merupakan salah satu pemicu kambuhnya kejang.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Saraf via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Saraf terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Studi Mengenai Kejang Absans

The New England Journal of Medicine menerbitkan studi komprehensif di tahun 2010 yang menjelaskan bahwa pengobatan medis sangat efektif dalam menangani kejang absans pada masa kanak-kanak. Studi tersebut membandingkan efektivitas beberapa obat anti-epilepsi dan menemukan bahwa tingkat kebebasan dari kejang (seizure freedom) bisa dicapai pada persentase pasien yang sangat tinggi bila didiagnosis lebih awal.

Temuan ini menegaskan betapa pentingnya kesadaran orang tua dan guru dalam membedakan lamunan biasa dengan episode neurologis. Deteksi dini diikuti dengan kepatuhan minum obat harian adalah kunci utama agar anak dengan kejang absans dapat beraktivitas, bermain, dan belajar dengan normal layaknya anak-anak lain tanpa ada gangguan perkembangan kognitif.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Absence Seizure.
Epilepsy Foundation. Diakses pada 2024. Absence Seizures.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Absence Seizures (Petit Mal Seizures).
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Kenali Gejala Epilepsi pada Anak.
The New England Journal of Medicine. Diakses pada 2024. Ethosuximide, Valproic Acid, and Lamotrigine in Childhood Absence Epilepsy.

FAQ

1. Apakah kejang absans atau sering bengong bisa disembuhkan?

Banyak anak yang mengalami kejang absans akan sembuh dengan sendirinya seiring pertumbuhan mereka, terutama saat menginjak usia remaja. Dengan bantuan obat anti-epilepsi yang diresepkan dokter saraf, lebih dari 70% penderita dapat terbebas dari serangan kejang tersebut.

2. Apakah penderita kejang absans boleh berenang atau mengemudi?

Saat kondisi belum terkontrol dengan obat, penderita sangat tidak disarankan untuk berenang, mandi berendam, atau mengemudi (bagi orang dewasa) tanpa pengawasan ketat. Hilangnya kesadaran meskipun hanya 10 detik bisa memicu risiko tenggelam atau kecelakaan lalu lintas.

3. Bagaimana cara membedakan anak yang bengong karena ADHD atau karena kejang absans?

Anak dengan ADHD melamun karena kesulitan mempertahankan fokus, dan mereka akan langsung merespons jika dipanggil atau disentuh. Sementara itu, anak yang mengalami kejang absans tidak akan merespons rangsangan suara atau sentuhan sama sekali selama episode tersebut berlangsung, dan sering kali disertai dengan kelopak mata yang bergetar.

4. Apakah kejang absans memengaruhi kecerdasan anak?

Secara medis, kejang absans itu sendiri jarang menyebabkan kerusakan otak struktural. Namun, karena anak sering kehilangan kesadaran selama beberapa detik berulang kali saat guru sedang menerangkan di kelas, mereka bisa tertinggal pelajaran. Itulah sebabnya intervensi medis yang cepat sangat diperlukan agar performa akademisnya tidak menurun.