Jangan Panik! Atasi Kejang Pada Anak dengan Cara Ini

DAFTAR ISI
- Apa Itu Kejang pada Anak?
- Jenis dan Penyebab Kejang pada Anak
- Langkah Pertolongan Pertama Saat Anak Kejang
- Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?
- Studi Mengenai Kejang Demam pada Anak
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- Referensi
- FAQ
Melihat anak mengalami kejang tentu menjadi salah satu momen yang paling menakutkan bagi setiap orang tua. Saat kejang terjadi, tubuh anak bisa menjadi kaku, kelojotan, mata mendelik ke atas, hingga kehilangan kesadaran. Kondisi ini sering kali memicu kepanikan luar biasa di rumah. Namun, sebagai orang tua, penting untuk tetap tenang karena kepanikan justru bisa menghambat pemberian pertolongan pertama yang krusial.
Secara medis, kejang terjadi akibat adanya gangguan aktivitas listrik di otak. Pada anak-anak, terutama balita berusia 6 bulan hingga 5 tahun, penyebab paling umum dari kondisi ini adalah lonjakan suhu tubuh yang drastis, yang dikenal dengan istilah kejang demam (step). Meskipun terlihat sangat mengerikan, kejang demam umumnya tidak berbahaya, tidak merusak otak, dan anak biasanya akan pulih sepenuhnya setelah kejang mereda.
Meski begitu, tidak semua kejang disebabkan oleh demam. Ada pula kejang yang terjadi tanpa adanya demam, yang bisa menjadi tanda kondisi medis lain seperti epilepsi, infeksi otak (meningitis), atau gangguan metabolisme. Oleh karena itu, mengenali gejala, mengetahui cara penanganan yang tepat, dan memahami kapan waktu yang tepat untuk mencari bantuan medis adalah kunci keselamatan anak. Jika kamu merasa ragu dengan kondisi si Kecil, jangan ragu untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan panduan medis yang tepat.
Sebagai informasi tambahan, penanganan kejang pada anak mutlak memerlukan diagnosis dokter. Obat-obatan antikejang termasuk dalam golongan obat keras yang dosisnya harus disesuaikan dengan berat badan dan kondisi spesifik anak. Oleh karena itu, artikel ini tidak merekomendasikan obat bebas untuk menghentikan kejang, melainkan fokus pada edukasi, pertolongan pertama, dan perawatan pendukung yang aman dilakukan di rumah.
Apa Itu Kejang pada Anak?
Kejang adalah perubahan tiba-tiba pada perilaku yang ditandai dengan perubahan aktivitas sensorik, motorik, otonom, maupun kesadaran yang disebabkan oleh cetusan listrik abnormal di otak. Otak manusia terdiri dari jutaan sel saraf (neuron) yang berkomunikasi satu sama lain melalui sinyal listrik. Ketika terjadi lonjakan sinyal listrik yang tidak terkendali, komunikasi antar sel ini menjadi kacau, dan hasilnya adalah kejang.
Pada anak, manifestasi kejang bisa sangat beragam. Ada anak yang mengalami kelojotan seluruh tubuh (kejang tonik-klonik), ada yang hanya kaku di satu sisi tubuh, dan ada pula kejang absans di mana anak hanya tampak bengong atau menatap kosong selama beberapa detik tanpa kehilangan postur tubuh.
Jenis dan Penyebab Kejang pada Anak
1. Kejang Demam (Febrile Seizure)
Ini adalah jenis kejang yang paling sering terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. Kejang ini dipicu oleh kenaikan suhu tubuh (demam) yang biasanya di atas 38 derajat Celsius, akibat infeksi di luar sistem saraf pusat (seperti radang tenggorokan, flu, infeksi telinga, atau infeksi saluran kemih). Kejang demam dibagi menjadi dua:
- Kejang Demam Sederhana: Berlangsung kurang dari 15 menit, terjadi di seluruh tubuh, dan tidak berulang dalam 24 jam. Ini adalah jenis yang paling umum dan tidak berbahaya.
- Kejang Demam Kompleks: Berlangsung lebih dari 15 menit, fokal (hanya pada satu bagian tubuh tertentu), atau berulang lebih dari 1 kali dalam 24 jam. Kondisi ini memerlukan evaluasi medis lebih lanjut.
2. Epilepsi
Jika anak mengalami kejang berulang (dua kali atau lebih) tanpa dipicu oleh demam atau kondisi akut lainnya, dokter mungkin akan mencurigai epilepsi. Epilepsi bisa disebabkan oleh faktor genetik, cedera kepala berat saat lahir atau masa kanak-kanak, kelainan bawaan pada struktur otak, atau sindrom genetik tertentu.
3. Infeksi Sistem Saraf Pusat
Kejang yang disertai demam tinggi, penurunan kesadaran, leher kaku, atau muntah menyemprot bisa menjadi tanda adanya infeksi pada otak (ensefalitis) atau selaput otak (meningitis). Kondisi ini adalah kegawatdaruratan medis yang membutuhkan penanganan di rumah sakit secepatnya.
4. Gangguan Elektrolit dan Metabolisme
Kekurangan kadar gula darah (hipoglikemia), gangguan kadar kalsium, atau ketidakseimbangan natrium dalam tubuh akibat diare berat dan dehidrasi juga dapat memicu kejang pada anak.
Langkah Pertolongan Pertama Saat Anak Kejang
Mengetahui apa yang harus dilakukan (dan apa yang TIDAK boleh dilakukan) saat anak kejang sangat penting untuk mencegah cedera.
Do’s & Don’ts Saat Anak Mengalami Kejang
- Pindahkan anak ke tempat aman: Jauhkan dari benda keras, tajam, atau perabotan. Letakkan anak di lantai yang datar dan berikan alas empuk di bawah kepalanya.
- Miringkan posisi tubuh: Miringkan tubuh anak ke satu sisi (posisi recovery) agar air liur atau muntahan bisa keluar, sehingga mencegah anak tersedak dan menjaga jalan napas tetap terbuka.
- Longgarkan pakaian: Buka kancing baju yang ketat, terutama di area leher, agar anak bisa bernapas dengan lebih lega.
- Hitung durasi kejang: Perhatikan jam saat kejang dimulai dan berakhir. Informasi ini sangat penting bagi dokter nantinya.
- JANGAN memasukkan benda apa pun ke mulut: Jangan masukkan sendok, jari, kopi, atau alat apa pun ke dalam mulut anak untuk mencegah lidah tergigit. Ini adalah mitos kuno yang berbahaya karena bisa merusak gigi, melukai gusi, atau menyumbat jalan napas.
- JANGAN menahan gerakan tubuh anak: Biarkan kejang berlangsung, menahan tubuh anak secara paksa bisa menyebabkan patah tulang atau cedera otot.
Setelah kejang berhenti, anak biasanya akan tampak lemas, bingung, atau tertidur nyenyak. Ini disebut fase post-ictal, yang merupakan respons normal otak setelah kelelahan akibat kejang. Biarkan anak beristirahat. Jika pemicunya adalah demam, kamu bisa memberikan obat penurun panas seperti paracetamol atau ibuprofen (sesuai dosis anjuran) setelah anak benar-benar sadar untuk membuat anak lebih nyaman. Untuk kebutuhan medis rumah, kamu bisa beli obat, vitamin, alat kesehatan anak seperti termometer secara online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah dengan praktis.
Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?
Meskipun sebagian besar kejang demam sederhana berhenti dengan sendirinya tanpa sisa gejala, kamu wajib segera membawa anak ke IGD jika menemukan tanda-tanda bahaya (red flags) berikut:
- Kejang berlangsung lebih dari 5 menit tanpa tanda-tanda berhenti.
- Anak mengalami kesulitan bernapas atau bibir dan wajahnya membiru.
- Kejang hanya terjadi pada satu sisi tubuh.
- Anak tidak kunjung sadar setelah kejang berhenti (lebih dari 10-15 menit).
- Kejang terjadi lebih dari satu kali dalam waktu 24 jam.
- Kejang disertai leher kaku, muntah hebat, atau ubun-ubun yang menonjol pada bayi.
- Ini adalah kejang pertama yang dialami oleh anak.
Di rumah sakit, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh. Pada kasus tertentu, dokter spesialis anak atau saraf anak mungkin merekomendasikan pemeriksaan penunjang seperti elektroensefalogram (EEG) untuk melihat gelombang otak, CT-Scan atau MRI kepala, pemeriksaan darah lengkap, atau pungsi lumbal (mengambil cairan tulang belakang) untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis.
Studi Mengenai Kejang Demam pada Anak
American Academy of Pediatrics (AAP) menerbitkan panduan klinis yang menjelaskan bahwa kejang demam sederhana pada anak sehat usia 6 bulan hingga 5 tahun memiliki prognosis (harapan kesembuhan) yang sangat baik. Studi tersebut menegaskan bahwa kejang demam sederhana tidak menyebabkan kerusakan otak, disabilitas intelektual, atau penurunan IQ di kemudian hari.
Selain itu, studi klinis juga menyoroti fakta penting secara farmakologis: pemberian obat penurun panas (seperti paracetamol atau ibuprofen) pada saat anak demam efektif untuk menurunkan suhu tubuh dan membuat anak nyaman, tetapi tidak terbukti dapat mencegah terjadinya kejang demam berulang. Artinya, kejang demam terjadi lebih dikarenakan seberapa cepat suhu tubuh naik (lonjakan tiba-tiba), bukan seberapa tinggi suhu maksimalnya. Penanganan medis untuk pencegahan kejang (profilaksis) dengan obat antikonvulsan hanya diberikan pada indikasi yang sangat ketat dan harus di bawah pengawasan ketat dokter spesialis anak.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Febrile seizure – Symptoms and causes.
American Academy of Pediatrics (AAP). Diakses pada 2024. Febrile Seizures: Clinical Practice Guideline for the Long-term Management of the Child With Simple Febrile Seizures.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Seizures in Children.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Rekomendasi Penatalaksanaan Kejang Demam.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Epilepsy in Children and Guidelines for Care.
FAQ
1. Apakah kejang demam bisa merusak otak anak?
Tidak. Menurut berbagai studi medis dan IDAI, kejang demam sederhana (berlangsung kurang dari 15 menit dan tidak berulang dalam 24 jam) tidak menyebabkan kerusakan struktur otak, tidak menurunkan IQ, dan tidak menyebabkan kelumpuhan pada anak.
2. Apakah memasukkan sendok ke mulut anak saat kejang aman?
Sangat tidak aman. Memasukkan sendok, jari, atau benda keras lainnya ke dalam mulut anak saat kejang justru berbahaya. Hal ini bisa mematahkan gigi anak, melukai gusi, dan benda tersebut berisiko tertelan sehingga menyumbat jalan napas.
3. Apakah anak yang pernah kejang demam akan mengidap epilepsi?
Risiko anak dengan riwayat kejang demam sederhana untuk menjadi epilepsi sangat kecil (hanya sedikit lebih tinggi sekitar 1-2% dibandingkan populasi anak normal). Risiko lebih tinggi jika anak mengalami kejang demam kompleks, ada riwayat epilepsi di keluarga, atau memiliki kelainan saraf sebelumnya.
4. Kapan obat antikejang resep dokter perlu diberikan?
Obat antikejang tidak diberikan secara rutin untuk setiap anak yang demam. Obat ini biasanya diresepkan secara khusus oleh dokter spesialis anak (seperti diazepam kerja cepat dari dubur) sebagai pertolongan mandiri di rumah *hanya* untuk anak yang memiliki riwayat kejang durasi lama (lebih dari 15 menit) sebelumnya. Penggunaannya wajib mengikuti instruksi medis yang ketat.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.



