Ad Placeholder Image

Kelebihan Berat Badan Disebut: Overweight atau Obesitas?

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 Juni 2026

Kelebihan Berat Badan Disebut? Ini Jawabannya!

Kelebihan Berat Badan Disebut: Overweight atau Obesitas?Kelebihan Berat Badan Disebut: Overweight atau Obesitas?

DAFTAR ISI


Banyak orang sering kali bingung dan bertanya-tanya, sebenarnya kondisi kelebihan berat badan disebut apa dalam istilah medis? Secara umum, kondisi penumpukan lemak yang melebihi batas normal ini dikenal dengan istilah overweight (pra-obesitas) dan obesitas. Keduanya memang sama-sama menunjukkan adanya kelebihan massa lemak tubuh, namun memiliki tingkat keparahan yang berbeda jika diukur menggunakan parameter kesehatan standar.

Mengetahui secara pasti status berat badanmu sangatlah penting. Mengabaikan penumpukan lemak berlebih sama dengan membuka pintu bagi berbagai penyakit kronis yang mengancam jiwa. Mulai dari resistensi insulin yang memicu diabetes tipe 2, peningkatan tekanan darah atau hipertensi, hingga risiko penyakit kardiovaskular dan perlemakan hati. Semakin dini kondisi ini disadari, semakin mudah pula langkah penanganan yang bisa dilakukan sebelum terjadi komplikasi yang bersifat permanen.

Mengingat setiap orang memiliki kondisi metabolisme, genetik, dan riwayat kesehatan yang unik, program penurunan berat badan tidak bisa disamaratakan. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi kamu untuk melakukan konsultasi ke dokter spesialis gizi. Dokter dapat menganalisis komposisi tubuhmu secara menyeluruh, mencari tahu apakah ada penyakit penyerta (komorbid), dan merancang pola diet yang paling aman serta efektif untuk jangka panjang.

Selain mengandalkan modifikasi pola makan harian dan peningkatan aktivitas fisik, terkadang tubuh juga membutuhkan asupan nutrisi ekstra untuk mendukung kelancaran metabolisme dan pencernaan. Untuk menunjang program diet sehatmu, kamu bisa dengan mudah beli vitamin dan suplemen pendukung, seperti suplemen serat larut, omega-3, maupun multivitamin harian melalui aplikasi kesehatan tanpa harus keluar rumah.

Memahami Perbedaan Overweight dan Obesitas

Untuk menjawab secara rinci tentang kelebihan berat badan disebut apa, dunia medis menggunakan perhitungan yang dinamakan Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI). IMT dihitung dengan membagi berat badan (dalam satuan kilogram) dengan kuadrat tinggi badan (dalam satuan meter). Angka yang dihasilkan dari perhitungan inilah yang akan mengkategorikan apakah seseorang memiliki berat badan ideal, overweight, atau sudah masuk ke tahap obesitas.

1. Kategori Overweight (Pra-Obesitas)

Kondisi ini merupakan lampu kuning atau peringatan awal. Bagi populasi umum secara global, seseorang dikatakan overweight jika memiliki angka IMT berkisar antara 25,0 hingga 29,9. Namun, perlu dicatat bahwa Kementerian Kesehatan RI menggunakan standar kriteria Asia-Pasifik, di mana batas angka IMT untuk populasi di Indonesia lebih rendah. Di Indonesia, kamu sudah dikategorikan overweight ringan jika angka IMT berada di rentang 23,0 hingga 24,9. Pada fase ini, risiko penyakit mulai meningkat, tetapi masih relatif mudah dikendalikan dengan penyesuaian kalori harian.

2. Kategori Obesitas

Jika kelebihan berat badan tidak ditangani, seseorang akan masuk ke fase obesitas. Secara global, obesitas ditegakkan apabila angka IMT mencapai 30,0 atau lebih. Sementara untuk standar Indonesia (Asia-Pasifik), angka IMT 25,0 ke atas sudah dikategorikan sebagai obesitas tingkat I. Obesitas sendiri masih dibagi lagi menjadi beberapa kelas tergantung tingkat keparahannya (misalnya obesitas ekstrem atau morbid pada IMT di atas 40). Pada tahap ini, tumpukan lemak tidak hanya berada di bawah kulit (subkutan), tetapi sudah menyelimuti organ dalam (lemak viseral) yang sangat berbahaya bagi kelangsungan fungsi organ tubuh.

Faktor Penyebab Kelebihan Berat Badan

Peningkatan berat badan jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal. Kondisi ini umumnya merupakan akumulasi dari berbagai interaksi antara gaya hidup, lingkungan, genetik, hingga kondisi psikologis. Berikut adalah beberapa penyebab utamanya:

1. Surplus Kalori Harian

Penyebab paling fundamental dari kelebihan berat badan adalah ketidakseimbangan antara kalori yang masuk (dari makanan dan minuman) dengan kalori yang keluar (melalui metabolisme basal dan aktivitas fisik). Kebiasaan mengonsumsi makanan ultra-proses, makanan tinggi gula tambahan, camilan berlemak jenuh, dan minuman manis sangat berkontribusi pada surplus kalori yang masif setiap harinya. Lemak dan gula ekstra ini kemudian akan disimpan oleh tubuh sebagai cadangan energi dalam bentuk jaringan adiposa.

2. Gaya Hidup Sedentari

Di era modern saat ini, banyak orang menghabiskan waktunya dengan duduk menatap layar komputer atau gawai selama berjam-jam (sedentary lifestyle). Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan tubuh tidak membakar banyak kalori. Jika dikombinasikan dengan asupan makan yang normal atau bahkan berlebih, energi yang tidak terbakar tersebut akan langsung menumpuk menjadi lemak tubuh.

3. Faktor Genetik dan Hormonal

Faktor keturunan (genetik) sangat memengaruhi bagaimana tubuh mendistribusikan dan menyimpan lemak, serta memengaruhi seberapa efisien tubuh mengubah makanan menjadi energi. Selain itu, kondisi medis dan hormonal seperti Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) pada wanita, hipotiroidisme (tiroid kurang aktif), resistensi insulin, hingga sindrom Cushing dapat secara langsung menyebabkan kenaikan berat badan yang drastis, meskipun penderitanya sudah makan dalam porsi yang sedikit.

4. Stres Kronis dan Kurang Tidur

Kesehatan mental dan kualitas tidur sangat erat kaitannya dengan berat badan. Saat kamu kurang tidur atau mengalami stres kronis, tubuh memproduksi hormon kortisol dalam jumlah tinggi. Kortisol dapat meningkatkan nafsu makan, terutama keinginan (craving) terhadap makanan manis dan tinggi karbohidrat. Kurang tidur juga mengganggu hormon pengatur lapar (ghrelin) dan hormon penanda kenyang (leptin), sehingga membuatmu makan lebih banyak dari yang seharusnya.

Tips Pencegahan Kelebihan Berat Badan Sejak Dini
  1. Lakukan aktivitas fisik moderat minimal 150 menit per minggu, seperti jalan cepat, bersepeda, atau berenang.
  2. Penuhi piring makanmu dengan setengah bagian sayuran berserat tinggi untuk memberikan rasa kenyang lebih lama.
  3. Hindari minuman kemasan yang mengandung tinggi fruktosa dan gula tambahan. Perbanyak konsumsi air putih.
  4. Tidur cukup dan berkualitas sekitar 7 hingga 8 jam setiap malam untuk menjaga keseimbangan hormon pengatur rasa lapar.

Dampak Kesehatan Jangka Panjang

Mengetahui kelebihan berat badan disebut apa barulah langkah awal. Yang jauh lebih penting adalah menyadari dampak destruktifnya terhadap seluruh sistem tubuh jika tidak segera diatasi secara medis:

1. Sindrom Metabolik dan Diabetes Tipe 2

Penumpukan lemak berlebih, khususnya di area perut, sangat memengaruhi cara kerja hormon insulin. Lemak viseral mengeluarkan bahan kimia peradangan yang membuat sel tubuh menjadi kebal terhadap insulin (resistensi insulin). Akibatnya, pankreas harus bekerja ekstra keras memproduksi lebih banyak insulin. Seiring berjalannya waktu, pankreas bisa kelelahan, dan kadar gula darah akan melonjak tak terkendali, berujung pada diabetes tipe 2.

2. Beban Sistem Kardiovaskular

Setiap tambahan kilogram berat badan akan menuntut jantung bekerja lebih berat untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Obesitas juga erat kaitannya dengan kadar kolesterol jahat (LDL) yang tinggi dan trigliserida yang meningkat. Plak kolesterol ini dapat menyumbat pembuluh darah arteri (aterosklerosis), meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, serangan jantung, hingga stroke yang mematikan.

3. Gangguan Muskuloskeletal

Tulang dan sendi, terutama di area lutut, pinggul, dan punggung bawah, memiliki batas kapasitas dalam menopang beban tubuh. Obesitas memberikan tekanan mekanis yang ekstrem pada persendian ini. Dampaknya, tulang rawan pelindung sendi akan lebih cepat menipis dan rusak, menyebabkan rasa nyeri kronis yang dikenal sebagai osteoarthritis.

Langkah Tepat Mengatasi Kelebihan Berat Badan

Penurunan berat badan bukanlah proses yang instan. Dibutuhkan komitmen kuat dan pendekatan multidisiplin. Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan secara aman:

1. Penerapan Defisit Kalori yang Sehat

Kunci utama penurunan berat badan adalah menciptakan defisit kalori, yaitu mengonsumsi kalori lebih sedikit daripada yang dibakar tubuh. Namun, memangkas kalori terlalu ekstrem (seperti diet menahan lapar berhari-hari) justru akan memperlambat laju metabolisme dan merusak massa otot. Sangat disarankan untuk mengurangi sekitar 500 kalori per hari dari kebutuhan pemeliharaan untuk mendapatkan penurunan berat badan yang stabil, yakni sekitar 0,5 hingga 1 kilogram per minggu.

2. Kombinasi Latihan Kardio dan Angkat Beban

Latihan kardiovaskular (aerobik) sangat baik untuk membakar kalori dan lemak selama sesi olahraga berlangsung. Sementara itu, latihan beban (resistensi) berfungsi untuk membangun dan mempertahankan massa otot. Otot adalah jaringan yang aktif secara metabolik. Artinya, semakin banyak massa otot yang kamu miliki, semakin banyak pula kalori yang dibakar oleh tubuhmu bahkan saat kamu sedang beristirahat atau tertidur.

3. Bantuan Medis Jika Diperlukan

Pada kasus obesitas tingkat lanjut di mana perubahan pola makan dan olahraga tidak lagi memberikan hasil signifikan, intervensi medis mungkin diperlukan. Terapi farmakologis berupa obat-obatan penurun berat badan yang diresepkan dokter spesialis dapat membantu menghambat penyerapan lemak atau menekan nafsu makan di otak. Untuk kasus ekstrem (obesitas morbid dengan komplikasi), prosedur bedah bariatrik (pengecilan lambung) sering menjadi opsi terbaik untuk menyelamatkan nyawa pasien.

Studi Terkait Mengenai Obesitas dan Risiko Penyakit

National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi komprehensif yang menjelaskan bahwa obesitas tidak lagi dilihat sekadar masalah kosmetik, melainkan sebuah penyakit inflamasi tingkat rendah yang kronis. Lemak berlebih terbukti melepaskan sitokin pro-inflamasi yang secara aktif merusak jaringan tubuh sehat.

Studi ini menegaskan kembali bahwa penurunan berat badan sekecil 5% hingga 10% dari total berat badan awal sudah terbukti secara klinis mampu menurunkan risiko penyakit jantung, memperbaiki tekanan darah, dan meningkatkan sensitivitas insulin pada pasien secara drastis. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan diet bukan semata-mata menjadi kurus, melainkan mencapai kesehatan fungsional yang lebih baik.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Obesity and overweight.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Obesitas dan Pengukurannya.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Obesity – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Overweight vs Obesity: What’s the Difference?
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Obesity: Pathophysiology and Management.

FAQ

1. Dalam istilah medis, kondisi kelebihan berat badan disebut apa?

Kondisi kelebihan berat badan disebut dengan overweight (pra-obesitas) untuk tingkat ringan hingga sedang, dan disebut obesitas jika penumpukan lemak sudah mencapai level yang sangat tinggi. Perbedaan ini diukur menggunakan parameter Indeks Massa Tubuh (IMT) atau BMI.

2. Bagaimana cara menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT)?

Kamu dapat menghitung IMT secara mandiri dengan rumus membagi berat badan dalam ukuran kilogram (kg) dengan tinggi badan dalam satuan meter kuadrat (m²). Jika hasilnya menunjukkan angka 25,0 atau lebih (berdasarkan standar Kemenkes RI/Asia-Pasifik), maka kamu sudah tergolong obesitas tingkat pertama.

3. Apakah faktor genetik benar-benar membuat seseorang sulit kurus?

Ya, genetika memang memiliki peran dalam menentukan seberapa cepat laju metabolisme seseorang dan di mana lemak cenderung disimpan. Namun, genetik bukanlah vonis mati. Kombinasi gaya hidup sehat, asupan nutrisi yang terkontrol, dan aktivitas fisik yang disiplin tetap mampu mengatasi faktor bawaan tersebut.

4. Apakah aman mengonsumsi obat atau teh penurun berat badan yang dijual bebas?

Kamu harus sangat berhati-hati. Sebagian besar teh pelangsing hanya membuang cairan tubuh melalui efek diuretik atau pencahar sementara, bukan membakar lemak. Penggunaan obat-obatan yang diklaim ampuh menurunkan berat badan sebaiknya wajib melalui konsultasi dengan dokter agar terhindar dari efek samping berbahaya pada ginjal dan jantung.