Ad Placeholder Image

Kenali 5 Jenis Sel Darah Putih dan Fungsi Lengkapnya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Jenis Sel Darah Putih: Fungsi & Peran Penting!

Kenali 5 Jenis Sel Darah Putih dan Fungsi LengkapnyaKenali 5 Jenis Sel Darah Putih dan Fungsi Lengkapnya

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu bertanya-tanya bagaimana cara tubuh melawan berbagai bakteri, virus, atau kuman penyebab penyakit yang masuk setiap harinya? Jawabannya ada pada sel darah putih atau yang secara medis dikenal dengan istilah leukosit. Berbeda dengan sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen, sel darah putih adalah “tentara” utama dalam sistem kekebalan tubuh manusia.

Keberadaan leukosit di dalam aliran darah dan jaringan limfatik sangat krusial. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak sel darah merah—hanya sekitar 1 persen dari total volume darah—peran sel darah putih sama sekali tidak bisa diremehkan. Ketika tubuh mendeteksi adanya ancaman dari luar, sel-sel ini akan langsung membelah diri, bergerak menuju area yang terinfeksi, dan menghancurkan patogen berbahaya tersebut.

Untuk memahami lebih dalam bagaimana sistem imun kita bekerja, sangat penting untuk mengetahui ciri-ciri sel darah putih. Apalagi, leukosit tidak hanya terdiri dari satu jenis saja. Terdapat beberapa varian sel darah putih yang masing-masing memiliki tugas spesifik layaknya pasukan khusus militer. Memahami karakteristiknya juga bisa membantumu membaca hasil tes darah (hematologi rutin) dengan lebih baik.

Nah, mau tahu apa saja ciri-ciri sel darah putih beserta jenis-jenis dan fungsinya bagi kesehatan tubuh? Mari simak ulasan lengkapnya di bawah ini!

Fungsi Utama Sel Darah Putih

Sebelum membahas ciri-cirinya, kamu perlu tahu terlebih dahulu apa saja peran utama sel darah putih di dalam tubuh. Fungsi paling mendasar dari sel darah putih adalah melindungi tubuh dari infeksi maupun penyakit. Secara lebih rinci, berikut adalah beberapa fungsi spesifiknya:

Pertama, melakukan fagositosis. Ini adalah proses di mana sel darah putih “memakan” atau menelan mikroorganisme asing, seperti bakteri, jamur, dan sel-sel tubuh yang sudah mati atau rusak. Setelah ditelan, enzim di dalam sel darah putih akan menghancurkan kuman tersebut.

Kedua, memproduksi antibodi. Salah satu jenis sel darah putih memiliki tugas krusial untuk mengingat patogen yang pernah masuk ke dalam tubuh dan menciptakan protein khusus (antibodi). Antibodi ini akan mengikat antigen (zat asing) sehingga lebih mudah dihancurkan oleh sistem imun.

Ketiga, mengelola respons alergi dan peradangan. Saat tubuh mengalami luka atau terpapar zat pemicu alergi (alergen), sel darah putih akan melepaskan senyawa kimia seperti histamin. Senyawa ini akan memicu respons peradangan sebagai bentuk perlindungan awal agar infeksi tidak menyebar luas.

Ciri-ciri Sel Darah Putih Secara Umum

Secara morfologi dan fisiologi, sel darah putih memiliki beberapa karakteristik unik yang membedakannya dari komponen darah lainnya (eritrosit dan trombosit). Berikut adalah ciri-ciri sel darah putih secara umum:

1. Tidak Berwarna (Bening)

Berbeda dengan sel darah merah yang mengandung hemoglobin sehingga berwarna merah, sel darah putih tidak memiliki hemoglobin. Akibatnya, sel ini sebenarnya tidak berwarna atau bening (transparan). Nama “putih” diberikan karena ketika sampel darah disentrifugasi di laboratorium, lapisan leukosit akan terlihat seperti pita tipis berwarna keputihan di antara plasma darah dan sel darah merah.

2. Memiliki Inti Sel (Nukleus)

Ini adalah perbedaan utama antara leukosit dan eritrosit. Jika sel darah merah dewasa tidak memiliki inti sel, semua jenis sel darah putih memiliki inti sel (nukleus). Bentuk inti sel ini bervariasi tergantung pada jenis sel darah putihnya, ada yang bulat sempurna, berlobus dua, hingga berlobus ganda yang terlihat kompleks.

3. Bentuk Tidak Tetap (Amoeboid)

Ciri-ciri sel darah putih yang paling menakjubkan adalah bentuknya yang tidak baku dan bisa berubah-ubah, mirip dengan hewan bersel satu amoeba. Kemampuan amoeboid ini sangat penting karena memungkinkan sel darah putih untuk bergerak bebas.

4. Dapat Menembus Dinding Pembuluh Darah (Diapedesis)

Berkat sifat amoeboidnya, sel darah putih mampu melakukan diapedesis, yaitu kemampuan untuk menyelinap keluar melalui pori-pori kecil pada dinding pembuluh darah kapiler. Tujuannya adalah untuk segera mencapai jaringan tubuh yang mengalami luka, peradangan, atau infeksi.

5. Usia Sel yang Relatif Singkat

Sebagian besar sel darah putih memiliki masa hidup yang cukup pendek. Ada yang hanya hidup selama beberapa jam hingga beberapa hari saja, terutama jika mereka sedang aktif melawan infeksi. Namun, ada satu pengecualian, yaitu sel memori (bagian dari limfosit) yang bisa hidup berbulan-bulan hingga bertahun-tahun di dalam tubuh untuk menjaga kekebalan jangka panjang. Untuk membantu tubuh memproduksi leukosit yang sehat secara berkesinambungan, menjaga pola makan bergizi sangat penting. Jika asupan dari makanan dirasa kurang, mengonsumsi vitamin dan suplemen daya tahan tubuh bisa menjadi solusi praktis untuk menjaga performa sistem imun.

6. Diproduksi di Sumsum Tulang

Hampir semua sel darah putih diproduksi di dalam sumsum tulang (bone marrow) melalui proses yang disebut hematopoiesis. Setelah diproduksi, sebagian akan langsung dilepaskan ke aliran darah, sementara sebagian lainnya (seperti sel limfosit T) akan berpindah ke kelenjar timus atau jaringan limfatik lainnya untuk melalui proses pematangan.

5 Jenis Sel Darah Putih dan Ciri Khasnya

Para ilmuwan membagi sel darah putih menjadi dua kelompok besar berdasarkan ada atau tidaknya granula (bintik-bintik kecil berisi enzim) di dalam sitoplasmanya. Kelompok tersebut adalah granulosit (memiliki granula) dan agranulosit (tidak memiliki granula). Dari dua kelompok tersebut, muncullah lima jenis sel darah putih, yaitu:

1. Neutrofil

Neutrofil adalah jenis sel darah putih yang jumlahnya paling melimpah di dalam tubuh, mencakup sekitar 55-70% dari total leukosit. Ciri-ciri sel darah putih jenis ini adalah inti selnya terdiri dari 2 hingga 5 lobus. Neutrofil adalah “pasukan garda terdepan” yang akan tiba pertama kali di lokasi infeksi (terutama infeksi bakteri atau jamur). Mereka membunuh bakteri dengan cara memakannya (fagositosis) dan melepaskan enzim penghancur. Usia neutrofil sangat pendek, yakni kurang dari satu hari.

2. Limfosit

Limfosit menyumbang sekitar 20-40% dari total sel darah putih. Ciri khasnya adalah memiliki inti sel berbentuk bulat yang sangat besar hingga memenuhi hampir seluruh ruang sel (agranulosit). Limfosit terdiri dari sel B (memproduksi antibodi) dan sel T (menghancurkan sel tubuh yang terinfeksi virus atau sel kanker). Sel ini beroperasi di sistem limfatik dan bertugas mengatur kekebalan adaptif.

3. Monosit

Secara ukuran, monosit adalah sel darah putih yang paling besar. Jumlahnya sekitar 2-8% dari total leukosit. Ciri utamanya adalah inti sel yang berbentuk menyerupai huruf U atau seperti ginjal. Monosit memiliki fungsi ganda: membersihkan sisa-sisa sel yang mati (seperti “tukang bersih-bersih”) dan mendukung kinerja limfosit. Ketika monosit keluar dari aliran darah dan masuk ke jaringan tubuh, ia akan berubah menjadi makrofag yang sangat rakus dalam memakan patogen berukuran besar.

4. Eosinofil

Eosinofil menyumbang sekitar 1-4% dari total sel darah putih. Ciri-ciri sel darah putih ini adalah inti selnya berbentuk seperti kacamata (terdiri dari dua lobus) dan memiliki granula yang akan berwarna merah atau oranye kemerahan jika diwarnai di laboratorium. Eosinofil sangat aktif ketika tubuh diserang oleh parasit (seperti cacing) dan juga berperan besar dalam merespons reaksi alergi, seperti asma.

5. Basofil

Basofil adalah jenis leukosit yang paling langka, jumlahnya kurang dari 1% di dalam darah. Ciri khas sel ini adalah granulanya yang tebal dan berwarna kebiruan, seringkali menutupi inti selnya. Granula pada basofil mengandung histamin dan heparin. Basofil akan bekerja ekstra keras saat tubuh mengalami reaksi alergi akut (seperti anafilaksis) dengan cara melepaskan histamin untuk melebarkan pembuluh darah.

Kadar Normal Sel Darah Putih (Leukosit) Berdasarkan Usia
  1. Pria & Wanita Dewasa: 4.500 – 11.000 sel per mikroliter darah.
  2. Anak-anak (1-15 tahun): 5.000 – 10.000 sel per mikroliter darah.
  3. Bayi Balita: 6.000 – 17.000 sel per mikroliter darah.
  4. Bayi Baru Lahir: 9.000 – 30.000 sel per mikroliter darah.

Kondisi Terkait Jumlah Sel Darah Putih Abnormal

Kondisi sel darah putih di dalam tubuh bisa menjadi indikator utama kesehatan seseorang. Melalui tes darah lengkap (Complete Blood Count), dokter bisa mengetahui apakah produksi leukosit normal, terlalu rendah, atau terlalu tinggi.

1. Leukositosis (Sel Darah Putih Tinggi)

Leukositosis terjadi ketika jumlah sel darah putih lebih dari 11.000 sel/mikroliter darah. Kondisi ini umumnya menandakan bahwa tubuh sedang berjuang keras melawan infeksi (terutama bakteri). Namun, sel darah putih yang terlalu tinggi juga bisa dipicu oleh stres fisik atau emosional yang berat, peradangan kronis (seperti rheumatoid arthritis), kerusakan jaringan (misalnya luka bakar), atau dalam kasus yang parah, menandakan adanya kanker darah seperti leukemia.

2. Leukopenia (Sel Darah Putih Rendah)

Sebaliknya, leukopenia adalah kondisi di mana kadar leukosit berada di bawah batas normal (kurang dari 4.000 sel/mikroliter darah). Kondisi ini sangat berbahaya karena membuat tubuh kesulitan melawan infeksi sekecil apa pun. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari infeksi virus berat (seperti HIV/AIDS atau demam berdarah), gangguan sumsum tulang (anemia aplastik), efek samping dari pengobatan kemoterapi dan radioterapi, hingga penyakit autoimun seperti lupus.

Jika hasil tes darah menunjukkan angka leukosit yang tidak wajar dan kamu mengalami gejala penyerta seperti demam persisten, mudah memar, kelelahan ekstrem, atau keringat malam, jangan menunda tindakan. Sangat disarankan untuk segera melakukan konsultasi dokter spesialis guna mendapatkan diagnosis yang tepat melalui serangkaian tes lanjutan yang komprehensif.

Studi Terkait Fungsi Sel Darah Putih

Penelitian medis terus berkembang untuk memahami lebih dalam mengenai karakteristik sel darah putih dan potensi terapinya. Jurnal bergengsi Blood menerbitkan studi komprehensif mengenai peran makrofag (hasil diferensiasi dari monosit) dalam proses regenerasi jaringan. Studi tersebut menyoroti bahwa selain membunuh bakteri, sel darah putih jenis ini juga bertindak sebagai “mandor” yang mengoordinasikan sel-sel lain untuk memperbaiki jaringan yang rusak akibat luka atau operasi.

Temuan ini semakin menguatkan fakta bahwa leukosit bukan sekadar pembunuh patogen, melainkan penjaga homeostasis (keseimbangan) tubuh yang bekerja 24 jam penuh. Manipulasi terhadap respons leukosit kini menjadi dasar pengembangan imunoterapi untuk mengobati berbagai jenis kanker dan penyakit autoimun.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. White Blood Cells.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Low white blood cell count.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Physiology, White Blood Cell.
World Health Organization. Diakses pada 2024. Immune System and White Blood Cells Functions.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2024. Pentingnya Mengetahui Kadar Normal Darah Manusia.

FAQ

1. Apa fungsi paling utama dari sel darah putih?

Fungsi utama sel darah putih adalah sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh yang bertugas melindungi manusia dari berbagai infeksi virus, bakteri, jamur, parasit, dan penyakit berbahaya lainnya.

2. Berapa umur sel darah putih di dalam tubuh?

Masa hidup sel darah putih sangat bervariasi. Sebagian besar, seperti neutrofil, hanya hidup selama beberapa jam hingga beberapa hari. Namun, limfosit (sel memori) dapat bertahan hidup selama bertahun-tahun untuk memberikan kekebalan jangka panjang.

3. Apa ciri-ciri sel darah putih yang membedakannya dari sel darah merah?

Ciri utamanya adalah sel darah putih memiliki inti sel (nukleus), tidak berwarna (tidak mengandung hemoglobin), bentuknya bisa berubah-ubah (amoeboid), dan mampu menembus dinding pembuluh darah (diapedesis) untuk menuju lokasi infeksi.

4. Di mana sel darah putih diproduksi?

Mayoritas sel darah putih diproduksi dan dimatangkan di dalam sumsum tulang melalui jaringan hematopoietik. Setelah itu, sel-sel ini akan diedarkan melalui aliran darah dan sistem limfatik (seperti kelenjar getah bening dan limpa).