Ad Placeholder Image

Kenali GCS Score, Digunakan saat Berikan Pertolongan Medis

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Glasgow coma scale (GCS) digunakan untuk menilai tingkat kesadaran seseorang.

Kenali GCS Score, Digunakan saat Berikan Pertolongan MedisKenali GCS Score, Digunakan saat Berikan Pertolongan Medis

DAFTAR ISI


Ketika seseorang mengalami kecelakaan, cedera kepala berat, atau tiba-tiba pingsan, tenaga medis biasanya akan langsung melakukan pemeriksaan tingkat kesadaran. Salah satu metode standar yang paling sering digunakan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, adalah pengukuran Glasgow Coma Scale (GCS). Namun, bagi orang awam, istilah medis ini mungkin terdengar asing. Pertanyaan yang sering muncul adalah, sebenarnya gcs normal berapa dan bagaimana cara menghitungnya?

Mengetahui tingkat kesadaran seseorang sangat krusial dalam situasi kegawatdaruratan. Angka yang dihasilkan dari penilaian GCS akan sangat menentukan langkah penanganan medis selanjutnya. Jika skor GCS menurun, ini menandakan adanya gangguan pada sistem saraf pusat atau otak yang memerlukan tindakan penyelamatan nyawa sesegera mungkin. Sebaliknya, skor yang optimal menunjukkan bahwa fungsi otak pasien masih berjalan dengan baik meskipun baru saja mengalami trauma.

Sebagai informasi dasar, evaluasi ini melihat tiga respon utama tubuh manusia: membuka mata, respon verbal (ucapan), dan respon motorik (gerakan). Apabila kamu atau kerabat mengalami cedera kepala, kecelakaan, atau penurunan kesadaran yang mencurigakan, penting untuk segera mendapatkan evaluasi dari tenaga profesional. Kamu dapat segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan panduan medis yang akurat.

Nah, ingin tahu lebih detail tentang apa itu GCS, rincian skornya, dan makna di balik setiap angka evaluasi tersebut? Mari simak ulasan lengkapnya di bawah ini!

Mengenal Apa Itu GCS (Glasgow Coma Scale)

Glasgow Coma Scale (GCS) adalah sebuah skala neurologis yang dirancang untuk memberikan metode yang objektif dan dapat diandalkan dalam menilai tingkat kesadaran seseorang. Skala ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1974 oleh dua orang profesor bedah saraf dari Universitas Glasgow, yaitu Graham Teasdale dan Bryan Jennett. Sejak saat itu, GCS menjadi standar emas (gold standard) di berbagai rumah sakit darurat dan unit perawatan intensif (ICU) di seluruh dunia.

Tujuan utama dari penggunaan GCS adalah untuk memantau perubahan tingkat kesadaran pasien dari waktu ke waktu. Hal ini sangat penting, terutama pada pasien yang mengalami cedera otak traumatik (Traumatic Brain Injury), stroke, pendarahan otak, atau infeksi sistem saraf pusat seperti meningitis. Dengan skor GCS, dokter dan perawat dapat berkomunikasi dengan bahasa yang sama tanpa kebingungan. Misalnya, alih-alih mengatakan “pasien tampak agak mengantuk”, tenaga medis akan mengatakan “pasien memiliki GCS 13”, yang memberikan gambaran klinis yang jauh lebih akurat.

Skor GCS Normal Berapa?

Bagi kamu yang bertanya-tanya gcs normal berapa, jawabannya adalah 15. Skor GCS 15 menunjukkan bahwa seseorang berada dalam keadaan sadar sepenuhnya (compos mentis). Pada kondisi ini, orang tersebut dapat membuka mata secara spontan saat ada orang yang datang, mampu berbicara dengan jelas dan masuk akal, serta dapat mematuhi perintah gerakan tubuh tanpa kesulitan.

Skor total GCS dihitung dengan menjumlahkan nilai dari tiga kategori pengujian: Eye (Mata), Verbal (Suara), dan Motor (Gerakan). Skor tertinggi yang bisa dicapai adalah 15 (E4 + V5 + M6), sedangkan skor terendah adalah 3 (E1 + V1 + M1). Ingat, dalam sistem GCS, tidak ada skor 0. Meskipun seseorang dalam keadaan koma yang sangat dalam atau tidak memberikan respon sama sekali, skor minimal yang diberikan adalah 3.

3 Komponen Utama Penilaian GCS

Untuk memahami bagaimana skor 15 didapatkan, kita perlu membedah tiga komponen utama dalam penilaian Glasgow Coma Scale. Setiap komponen memiliki rentang nilai tersendiri. Berikut adalah rinciannya:

1. Respon Membuka Mata (Eye Opening / E)

Komponen ini menilai fungsi gairah dan kewaspadaan otak. Skor maksimal adalah 4 dan minimal adalah 1.

  • Skor 4: Pasien membuka mata secara spontan tanpa perlu dipanggil atau disentuh.
  • Skor 3: Pasien membuka mata hanya ketika diajak bicara atau dipanggil namanya dengan suara keras.
  • Skor 2: Pasien baru membuka mata ketika diberikan rangsangan nyeri (misalnya, cubitan ringan di area dada atau tekanan pada ujung kuku).
  • Skor 1: Pasien sama sekali tidak membuka mata meskipun telah diberikan rangsangan suara yang keras maupun rangsangan nyeri yang kuat.

2. Respon Verbal (Verbal Response / V)

Komponen ini mengevaluasi fungsi kognitif, pemahaman bahasa, dan orientasi pasien terhadap diri sendiri, tempat, dan waktu. Skor maksimal adalah 5 dan minimal adalah 1.

  • Skor 5: Pasien sadar penuh dan berorientasi dengan baik. Mampu menjawab pertanyaan dasar dengan benar (siapa namanya, sedang berada di mana, dan hari apa sekarang).
  • Skor 4: Pasien bingung atau disorientasi. Mampu berbicara dalam kalimat, tetapi jawabannya tidak relevan dengan pertanyaan atau tampak kebingungan dengan lingkungannya.
  • Skor 3: Pasien hanya mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas atau acak, tanpa membentuk kalimat yang bermakna (misalnya memaki atau bergumam kata-kata tunggal).
  • Skor 2: Pasien hanya mengeluarkan suara mengerang (menggumam atau merintih) tanpa kata-kata yang bisa dipahami.
  • Skor 1: Tidak ada respon suara sama sekali meskipun telah diberikan rangsangan rasa sakit.

3. Respon Motorik (Motor Response / M)

Komponen ini merupakan indikator terbaik untuk menilai sejauh mana sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) masih berfungsi dengan baik. Skor maksimal adalah 6 dan minimal adalah 1.

  • Skor 6: Pasien mampu mengikuti perintah fisik sederhana (misalnya, “coba angkat tangan kanan”, “genggam jari saya”, atau “julurkan lidah”).
  • Skor 5: Pasien dapat melokalisasi nyeri. Jika diberikan rangsangan nyeri, pasien akan menggerakkan tangannya ke arah sumber nyeri tersebut seolah berusaha menyingkirkannya.
  • Skor 4: Menarik diri dari rasa nyeri (fleksi normal). Pasien menarik tubuhnya menjauhi sumber rasa sakit tanpa bisa melokalisasi dengan tepat di mana letak nyerinya.
  • Skor 3: Fleksi abnormal (Postur Dekortikasi). Saat diberi nyeri, pasien menekuk lengannya ke arah dada dengan tangan mengepal kaku, dan kaki direntangkan lurus. Ini tanda kerusakan otak yang serius (biasanya di atas batang otak).
  • Skor 2: Ekstensi abnormal (Postur Deserebrasi). Saat diberi nyeri, lengan dan kaki pasien meregang kaku ke bawah dengan telapak tangan memutar ke luar. Ini adalah tanda kerusakan batang otak yang sangat fatal.
  • Skor 1: Tidak ada respon gerakan tubuh sama sekali terhadap rangsangan nyeri.
Faktor yang Memengaruhi dan Dapat Mengganggu Penilaian GCS
  1. Pengaruh Obat-obatan dan Alkohol: Pasien yang sedang mabuk atau di bawah pengaruh obat penenang (sedatif) akan memiliki skor GCS rendah yang belum tentu disebabkan oleh cedera otak.
  2. Intubasi Pipa Napas: Pasien yang dipasangi ventilator tidak bisa berbicara. Penilaian GCS ditulis dengan tambahan huruf ‘T’ (misal: E4 V(T) M6).
  3. Kendala Bahasa dan Pendengaran: Pasien tunarungu atau tidak mengerti bahasa pemeriksa mungkin mendapat skor verbal yang salah jika tidak diidentifikasi dengan benar.
  4. Cedera Fisik Lain: Pembengkakan mata parah akibat trauma wajah dapat membuat pasien tidak bisa membuka mata (dicatat sebagai ‘C’ atau Closed), padahal sarafnya normal.

Kategori Tingkat Kesadaran Berdasarkan Skor GCS

Setelah menjumlahkan komponen E, V, dan M, total skor GCS digunakan untuk mengkategorikan tingkat kesadaran klinis pasien. Hal ini sangat berguna dalam menentukan prognosis (kemungkinan penyembuhan) dan urgensi tindakan operasi atau medis lainnya.

1. Compos Mentis (Skor 14 – 15)

Ini adalah kondisi sadar sepenuhnya. Pasien sadar akan dirinya dan lingkungannya. Pada skor 14, mungkin terdapat kebingungan ringan (misalnya karena syok pasca kecelakaan), namun secara keseluruhan fungsi kognitif dan saraf motoriknya bekerja dengan baik.

2. Apatis (Skor 12 – 13)

Tingkat kesadaran pasien mulai menurun. Pasien tampak segan, tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya, acuh tak acuh, dan membutuhkan rangsangan (suara atau sentuhan) yang sedikit lebih kuat untuk bisa berinteraksi. Respon yang diberikan cenderung lambat.

3. Delirium / Somnolen (Skor 10 – 11)

Somnolen (letargi) adalah kondisi di mana pasien terlihat sangat mengantuk. Pasien mudah tertidur kembali jika tidak terus-menerus dirangsang. Di sisi lain, delirium menunjukkan kondisi gelisah, disorientasi parah, memberontak, dan berhalusinasi. Kondisi ini sering ditemukan pada pasien dengan infeksi otak parah atau keracunan zat.

4. Sopor / Stupor (Skor 7 – 9)

Pada tingkat ini, pasien berada dalam kondisi tidur lelap yang tidak normal. Pasien hanya bisa dibangunkan dengan rangsangan nyeri yang sangat kuat dan berulang-ulang (seperti tekanan keras di tulang dada). Saat dirangsang, respon yang muncul sangat minim, tidak bisa berbicara dengan jelas, dan langsung tertidur kembali setelah rangsangan dihentikan.

5. Semi-Koma (Skor 4 – 6)

Penurunan kesadaran yang sangat dalam. Pasien tidak bisa dibangunkan sama sekali. Tidak ada respon verbal (bahkan mengerang pun mungkin tidak ada), dan respon motoriknya hanya berupa gerakan refleks abnormal (dekortikasi atau deserebrasi) saat diberikan nyeri hebat.

6. Koma (Skor 3)

Tingkat kesadaran terendah. Sama sekali tidak ada respon mata terbuka, tidak ada suara, dan tidak ada gerakan otot sedikitpun terhadap rangsangan sekuat apapun. Kondisi ini menunjukkan kegagalan fungsi otak yang sangat kritis dan seringkali membutuhkan alat bantu napas permanen (ventilator) untuk mempertahankan detak jantung dan pernapasan.

Dalam konteks Cedera Otak Traumatik (TBI), skor GCS juga digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat keparahan cedera:

  • Cedera Kepala Ringan (GCS 13 – 15): Biasanya gegar otak ringan. Pasien mungkin merasa pusing, mual, atau muntah sesaat. Sebagian besar dapat sembuh total dengan observasi dan istirahat.
  • Cedera Kepala Sedang (GCS 9 – 12): Menunjukkan adanya kerusakan otak yang signifikan, mungkin terdapat memar otak atau pembengkakan ringan. Membutuhkan perawatan inap ketat dan seringkali CT Scan.
  • Cedera Kepala Berat (GCS 3 – 8): Kondisi kritis. Cedera fatal yang seringkali disertai pendarahan otak masif. Pasien dalam kondisi koma dan memiliki risiko kematian atau kecacatan permanen yang sangat tinggi. Perlu penanganan di ruang ICU.

Penilaian GCS pada Anak dan Bayi (Pediatric GCS)

Banyak orang tidak menyadari bahwa sistem skor GCS untuk orang dewasa tidak bisa begitu saja diterapkan pada bayi atau anak balita. Hal ini karena bayi belum memiliki kemampuan berbahasa yang mumpuni dan respon motorik mereka masih didominasi oleh refleks primitif. Oleh karena itu, tenaga medis menggunakan Pediatric Glasgow Coma Scale (PGCS).

Meskipun skor maksimal dan minimalnya sama (15 hingga 3), indikator komponen Verbal (V) dan Motorik (M) dimodifikasi menyesuaikan usia perkembangannya.

  • Komponen Mata (Eye): Hampir sama dengan orang dewasa. Bayi mendapat skor 4 jika mata terbuka spontan, dan skor 1 jika tidak ada respon.
  • Komponen Suara (Verbal): Skor 5 diberikan jika bayi mengoceh normal (cooing/babbling) atau tersenyum dan berinteraksi. Skor 4 jika bayi menangis terus-menerus tapi bisa ditenangkan. Skor 3 jika bayi menangis merintih kesakitan dan sulit ditenangkan. Skor 2 jika hanya mengerang gelisah, dan skor 1 jika diam tak bersuara.
  • Komponen Gerakan (Motorik): Skor 6 diberikan jika bayi bergerak normal sesuai usianya. Skor 5 menarik diri dari sentuhan (bukan sekadar nyeri). Skor selebihnya serupa dengan postur abnormal pada orang dewasa.

Kondisi Medis yang Memerlukan Evaluasi GCS

Pemeriksaan GCS tidak hanya dilakukan pada korban kecelakaan lalu lintas. Ada berbagai kondisi darurat medis lainnya di mana perawat atau dokter secara rutin (bisa setiap 1 jam sekali) melakukan pengecekan skor GCS untuk memantau kemunduran atau perbaikan kondisi pasien.

1. Stroke Perdarahan maupun Iskemik

Stroke berat dapat mengganggu sirkulasi darah dan oksigen ke otak, menyebabkan sel-sel otak mati. Pembengkakan otak (edema serebri) yang terjadi akibat stroke dapat menekan batang otak, sehingga tingkat kesadaran pasien akan merosot tajam. Penilaian GCS sangat vital untuk menentukan apakah pasien stroke membutuhkan pembedahan dekompresi darurat.

2. Infeksi Saraf Pusat (Meningitis dan Ensefalitis)

Infeksi bakteri atau virus pada selaput otak (meningitis) atau pada jaringan otaknya sendiri (ensefalitis) menyebabkan peradangan yang sangat hebat. Pasien biasanya datang dengan keluhan demam tinggi, kejang, dan kebingungan, yang jika tidak segera diobati dapat berujung pada penurunan GCS hingga koma.

3. Keracunan Zat dan Overdosis

Overdosis obat-obatan terlarang, konsumsi alkohol berlebih, atau keracunan gas karbon monoksida (CO) dapat menekan sistem saraf pusat. Skor GCS pada kasus ini berfungsi sebagai panduan apakah zat beracun tersebut sudah mulai keluar dari tubuh (ditandai dengan naiknya GCS) atau justru makin menekan pernapasan.

4. Ketoasidosis Diabetik (KAD)

Ini adalah komplikasi diabetes yang mengancam nyawa, di mana gula darah sangat tinggi dan tubuh memproduksi asam darah (keton) dalam jumlah besar. Keasaman darah yang ekstrem dapat meracuni otak, menyebabkan pasien lemas, delirium, hingga akhirnya jatuh dalam koma diabetikum.

Studi Terkait

The Lancet Neurology menerbitkan studi komprehensif pada tahun 2014 yang memperingati 40 tahun penggunaan GCS. Studi ini menjelaskan bahwa GCS tetap menjadi alat ukur kesadaran klinis yang paling tangguh, reliabel, dan valid untuk diaplikasikan di ruang gawat darurat di seluruh dunia.

Penelitian tersebut menyoroti bahwa meskipun teknologi pemindaian otak seperti MRI dan CT-Scan telah berkembang pesat, evaluasi klinis menggunakan GCS tidak tergantikan. GCS terbukti memiliki nilai prediktif yang sangat akurat terhadap risiko kematian (mortalitas) pasien di ICU dalam 48 jam pertama pasca cedera kepala traumatik. Peneliti menyarankan agar seluruh personel medis, mulai dari paramedis di ambulans hingga dokter bedah, wajib dikalibrasi secara rutin dalam melakukan penilaian GCS agar tidak terjadi kesalahan interpretasi skor.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Saraf via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Saraf terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Apabila seseorang di sekitarmu baru saja mengalami benturan keras di kepala atau jatuh dan menunjukkan gejala pusing, kebingungan, bicara meracau, atau bahkan pingsan walau hanya beberapa detik, jangan anggap remeh. Gejala tersebut bisa jadi merupakan indikasi turunnya skor GCS akibat trauma otak tersembunyi yang berisiko fatal jika terlambat ditangani.

Untuk mendukung pemulihan pasca trauma atau menjaga kesehatan saraf harianmu, kamu juga bisa beli obat, beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah dengan sangat praktis. Selain itu, kamu selalu bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis di Halodoc kapan saja dan dari mana saja, memastikan kamu mendapatkan penanganan pertama yang cepat, aman, dan tepat sasaran.

Referensi:
Teasdale G, Jennett B. Diakses pada 2024. Assessment of coma and impaired consciousness. A practical scale. The Lancet.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. Glasgow Coma Scale (GCS).
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Traumatic brain injury – Diagnosis and treatment.
National Center for Biotechnology Information (NCBI) – StatPearls. Diakses pada 2024. Glasgow Coma Scale.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Neurological Evaluation and Trauma.

FAQ

1. Sebenarnya gcs normal berapa untuk anak-anak dan orang dewasa?

Baik untuk orang dewasa maupun anak-anak, skor GCS yang normal adalah 15. Angka ini menandakan bahwa pasien sepenuhnya sadar, dapat membuka mata tanpa disuruh, bisa berkomunikasi dengan jelas dan rasional, serta mampu menggerakkan anggota tubuh sesuai dengan perintah.

2. Apakah skor GCS bisa berubah-ubah dari waktu ke waktu?

Ya, skor GCS bersifat dinamis dan bisa berubah dengan sangat cepat. Pasien yang tiba di rumah sakit dengan GCS 15 bisa saja tiba-tiba menurun menjadi GCS 9 dalam hitungan jam jika terjadi perdarahan di dalam otak yang terus bertambah. Itulah sebabnya pemantauan berkala sangat penting.

3. Mengapa tidak ada skor 0 dalam penilaian GCS?

Sistem skoring Glasgow Coma Scale dirancang di mana nilai minimum untuk setiap komponen (Mata, Suara, Gerakan) adalah 1. Jadi, meskipun pasien meninggal dunia, secara teknis skor GCS-nya tetap dihitung minimal 3 (E1, V1, M1). Hal ini sudah menjadi standar mutlak pencatatan medis di seluruh dunia.

4. Bisakah kita melakukan penilaian GCS sendiri di rumah tanpa tenaga medis?

Orang awam bisa melakukan penilaian kesadaran dasar seperti memanggil nama atau melihat respon pasien, namun untuk menilai GCS secara formal dan akurat membutuhkan pelatihan medis. Kesalahan dalam memberikan rangsangan nyeri atau misinterpretasi gerakan motorik dapat menghasilkan skor yang salah dan membahayakan keselamatan pasien.