Penyebab Buta Warna Parsial: Genetik hingga Penyakit

DAFTAR ISI
- Apa Itu Buta Warna Parsial?
- Faktor Genetik: Penyebab Utama yang Paling Umum
- Penyebab Akibat Kondisi Medis dan Penyakit
- Pengaruh Obat-obatan dan Paparan Zat Kimia
- Proses Penuaan dan Trauma Fisik pada Mata
- Studi Terkait
- FAQ
Pernahkah kamu merasa kesulitan membedakan antara warna merah dan hijau, atau mungkin warna biru dan kuning dalam kondisi cahaya tertentu? Jika ya, ada kemungkinan kamu mengalami kondisi yang disebut buta warna parsial. Berbeda dengan buta warna total yang membuat seseorang hanya melihat dunia dalam gradasi hitam, putih, dan abu-abu, penderita buta warna parsial masih bisa melihat warna, namun dengan persepsi yang berbeda atau terbatas pada spektrum tertentu.
Kondisi ini bukanlah sebuah penyakit menular, melainkan gangguan pada sel-sel fotoreseptor di retina mata. Memahami penyebab buta warna parsial sangatlah penting, karena hal ini dapat membantu kamu menentukan langkah penanganan yang tepat atau cara beradaptasi dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang baru menyadari kondisi ini saat melakukan tes kesehatan untuk masuk sekolah atau melamar pekerjaan tertentu.
Meskipun sebagian besar kasus bersifat bawaan lahir, ternyata ada berbagai faktor eksternal dan kondisi medis yang bisa memicu munculnya gangguan penglihatan warna ini di kemudian hari. Dengan mengetahui pemicunya secara mendalam, kamu bisa lebih waspada terhadap kesehatan mata secara menyeluruh.
Nah, mau tahu apa saja faktor yang menjadi penyebab buta warna parsial? Berikut ulasannya!
Apa Itu Buta Warna Parsial?
Buta warna parsial adalah gangguan penglihatan di mana seseorang mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi atau membedakan warna-warna tertentu secara akurat. Secara biologis, di dalam retina mata manusia terdapat dua jenis sel fotoreseptor utama: sel batang (rods) yang berfungsi untuk penglihatan di cahaya rendah, dan sel kerucut (cones) yang bertanggung jawab atas penglihatan warna dan detail di tempat terang.
Sel kerucut ini terbagi menjadi tiga tipe, yaitu tipe yang sensitif terhadap cahaya merah, hijau, dan biru. Pada penglihatan normal (trikromasi), ketiga sel kerucut ini bekerja sama secara harmonis untuk menghasilkan jutaan variasi warna. Namun, pada penyandang buta warna parsial, salah satu atau lebih dari sel kerucut tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya (anomali) atau bahkan hilang sama sekali (dikromasi).
Ada dua jenis buta warna parsial yang paling umum ditemukan:
- Buta warna merah-hijau: Jenis yang paling sering terjadi. Penderitanya kesulitan membedakan antara nuansa merah, kuning, jingga, cokelat, dan hijau.
- Buta warna biru-kuning: Jenis yang lebih jarang terjadi. Penderita kesulitan membedakan warna biru dengan hijau, serta kuning dengan ungu atau merah muda.
Faktor Genetik: Penyebab Utama yang Paling Umum
Faktor genetik atau keturunan merupakan penyebab buta warna parsial yang paling dominan di seluruh dunia. Kondisi ini biasanya diturunkan melalui kromosom X. Karena pria hanya memiliki satu kromosom X (XY) dan wanita memiliki dua kromosom X (XX), maka pria memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami buta warna bawaan.
Jika seorang pria mewarisi gen buta warna pada kromosom X-nya, ia pasti akan mengalami buta warna. Sementara itu, seorang wanita baru akan menjadi penderita jika kedua kromosom X-nya membawa gen tersebut. Jika hanya satu kromosom X yang membawa gen buta warna, wanita tersebut hanya akan menjadi pembawa (carrier) tanpa menunjukkan gejala, namun ia tetap berpotensi menurunkan gen tersebut kepada anak-anaknya.
Buta warna yang disebabkan oleh faktor genetik biasanya menyerang kedua mata dengan tingkat keparahan yang sama dan bersifat permanen sepanjang hidup. Kondisi ini tidak akan memburuk seiring berjalannya waktu, namun hingga saat ini belum ditemukan prosedur medis atau obat-obatan yang dapat menyembuhkannya secara total.
Fakta Menarik tentang Genetika Buta Warna
- Sekitar 8% pria di dunia mengalami buta warna merah-hijau, dibandingkan hanya 0,5% pada wanita.
- Ibu yang merupakan carrier memiliki peluang 50% untuk memiliki anak laki-laki dengan buta warna.
- Buta warna biru-kuning seringkali tidak terkait dengan kromosom seks dan bisa diturunkan secara merata pada pria maupun wanita melalui kromosom autosom.
Penyebab Akibat Kondisi Medis dan Penyakit
Berbeda dengan faktor genetik yang sudah ada sejak lahir, buta warna juga bisa terjadi sebagai kondisi yang didapat (acquired color blindness) akibat adanya penyakit tertentu. Pada kasus ini, gangguan penglihatan warna seringkali hanya menyerang satu mata atau memiliki tingkat keparahan yang berbeda antara mata kanan dan kiri.
Beberapa penyakit kronis yang diketahui dapat menjadi penyebab buta warna parsial antara lain:
1. Diabetes Melitus
Kadar gula darah yang tinggi secara kronis dapat merusak pembuluh darah kecil di retina (retinopati diabetik). Kerusakan ini tidak hanya menurunkan ketajaman penglihatan, tetapi juga bisa merusak sel kerucut sehingga penderitanya kesulitan membedakan warna.
2. Glaukoma
Tekanan bola mata yang terlalu tinggi pada penderita glaukoma dapat menekan saraf optik. Kerusakan pada saraf optik ini seringkali dimulai dengan hilangnya kemampuan untuk membedakan warna biru dan kuning sebelum akhirnya mempengaruhi penglihatan tepi.
3. Degenerasi Makula
Makula adalah bagian dari retina yang bertanggung jawab untuk penglihatan sentral yang tajam. Seiring bertambahnya usia, makula bisa mengalami kerusakan, yang mengakibatkan penurunan kemampuan melihat detail dan warna secara akurat.
4. Penyakit Saraf (Alzheimer dan Parkinson)
Penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson tidak hanya menyerang fungsi kognitif, tetapi juga dapat mempengaruhi bagian otak yang memproses informasi visual serta sel-sel saraf di retina.
Pengaruh Obat-obatan dan Paparan Zat Kimia
Beberapa jenis obat-obatan yang digunakan untuk mengobati penyakit tertentu ternyata memiliki efek samping yang dapat mempengaruhi penglihatan warna. Hal ini terjadi karena zat aktif dalam obat tersebut mungkin memiliki sifat toksik terhadap sel kerucut atau saraf optik.
Beberapa obat yang sering dikaitkan dengan risiko ini adalah:
- Ethambutol: Obat yang digunakan dalam pengobatan tuberkulosis (TBC). Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan neuritis optik yang mempengaruhi persepsi warna merah dan hijau.
- Hydroxychloroquine: Digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis atau lupus. Obat ini dapat menumpuk di retina dan menyebabkan kerusakan permanen pada penglihatan warna jika tidak dipantau secara ketat.
- Obat-obatan Psikiatri: Beberapa jenis obat antipsikotik seperti chlorpromazine dan thioridazine juga memiliki potensi efek samping pada penglihatan.
Selain obat-obatan, paparan zat kimia industri di lingkungan kerja juga bisa menjadi pemicu. Paparan kronis terhadap pelarut organik seperti stirena, karbon disulfida, dan pupuk tertentu telah terbukti secara ilmiah dapat menurunkan sensitivitas warna pada pekerja pabrik.
Proses Penuaan dan Trauma Fisik pada Mata
Seiring bertambahnya usia, secara alami fungsi organ tubuh akan mengalami penurunan, tidak terkecuali mata. Lensa mata manusia cenderung menguning dan menjadi lebih keruh seiring bertambahnya usia (katarak). Lensa yang menguning ini bertindak seperti filter yang menyerap cahaya biru, sehingga lansia seringkali kesulitan membedakan antara nuansa biru, ungu, dan hijau.
Selain penuaan, trauma fisik secara langsung pada area mata atau cedera otak yang mengenai bagian lobus oksipital (pusat pemrosesan visual) juga dapat mengakibatkan buta warna secara mendadak. Jika terjadi benturan keras yang merusak struktur retina atau saraf optik, pengiriman sinyal warna ke otak akan terhambat.
Jika kamu merasa mengalami gejala perubahan persepsi warna yang tidak biasa, sebaiknya segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan diagnosis yang akurat. Deteksi dini sangat penting, terutama jika buta warna tersebut disebabkan oleh kondisi medis yang bisa diobati.
Studi Mengenai Penyebab Buta Warna Parsial
National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa defisiensi penglihatan warna yang didapat (bukan bawaan) sering kali merupakan indikator awal dari adanya penyakit sistemik atau toksisitas obat yang belum terdeteksi.
Studi tersebut menekankan bahwa sementara buta warna genetik bersifat statis, buta warna yang disebabkan oleh penyakit seperti glaukoma atau efek samping obat-obatan bersifat progresif. Pemantauan rutin terhadap kemampuan penglihatan warna pada pasien yang mengonsumsi obat-obatan berisiko tinggi sangat direkomendasikan untuk mencegah kerusakan permanen pada saraf optik.
FAQ
1. Apakah penyebab buta warna parsial bisa karena kelelahan mata?
Kelelahan mata akibat terlalu lama melihat layar (digital eye strain) biasanya menyebabkan pandangan kabur atau mata kering, namun tidak secara langsung menjadi penyebab buta warna parsial yang permanen.
2. Bisakah buta warna parsial disembuhkan dengan operasi?
Hingga saat ini, belum ada prosedur operasi yang bisa memperbaiki sel kerucut yang rusak secara genetik. Namun, jika buta warna disebabkan oleh katarak, operasi pengangkatan katarak dapat mengembalikan kejernihan warna bagi penderitanya.
3. Apakah penggunaan kacamata khusus bisa menyembuhkan buta warna?
Kacamata khusus buta warna bekerja dengan cara meningkatkan kontras antar warna agar penderita lebih mudah membedakannya, namun alat ini tidak menyembuhkan gangguan saraf yang mendasarinya.
4. Apakah anak kecil bisa dideteksi buta warna sejak dini?
Bisa, biasanya melalui tes pengenalan warna sederhana atau tes Ishihara yang disesuaikan untuk anak-anak setelah mereka mulai mengenal konsep warna dasar, umumnya pada usia 3 hingga 5 tahun.
Memahami penyebab buta warna parsial adalah langkah awal yang bijak dalam menjaga kualitas hidup. Meskipun sebagian besar kasus disebabkan oleh faktor keturunan yang tidak dapat dihindari, menjaga kesehatan mata dari risiko penyakit kronis dan paparan zat berbahaya tetaplah penting dilakukan sejak dini.
Meskipun buta warna genetik tidak bisa disembuhkan dengan obat, menjaga kesehatan sel saraf mata tetap penting agar kondisi tidak diperparah oleh faktor eksternal lainnya. Kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk kebutuhan suplemen vitamin mata atau produk kesehatan lainnya, dengan jaminan produk 100% asli dan praktis diantar langsung ke rumah.
Jika kamu atau anggota keluarga menunjukkan gejala kesulitan membedakan warna yang muncul secara tiba-tiba, jangan menunda untuk memeriksakan diri. Kamu bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis mata melalui Halodoc untuk mendapatkan arahan medis yang tepat.
Referensi:
American Academy of Ophthalmology. Diakses pada 2026. What Is Color Blindness?.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Poor Color Vision.
National Eye Institute (NEI). Diakses pada 2026. At a glance: Color Blindness.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Color Blindness: Causes, Symptoms & Diagnosis.
Healthline. Diakses pada 2026. Everything You Need to Know About Color Blindness.
Punya Keluhan Penglihatan atau Khawatir Gejala Buta Warna? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu merasa ada yang aneh dengan cara kamu melihat warna, tapi bingung harus mulai bertanya ke mana? Tidak perlu khawatir! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.



