Penyebab Kanker Usus Besar: Faktor & Cara Mencegahnya

DAFTAR ISI
- Apa Itu Kanker Usus Besar?
- Faktor Risiko dan Penyebab Kanker Usus Besar
- Gejala yang Perlu Diwaspadai
- Langkah Pencegahan Kanker Usus Besar
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Kanker usus besar atau yang dalam dunia medis sering disebut sebagai kanker kolorektal, merupakan salah satu jenis kanker yang paling mematikan dan umum terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit ini bermula dari usus besar (kolon) atau rektum, yang merupakan bagian paling ujung dari sistem pencernaan manusia sebelum mencapai anus. Pada tahap awal, kanker ini sering kali tidak menunjukkan gejala yang spesifik, sehingga banyak penderita baru menyadari kondisinya ketika sel kanker sudah berkembang dan menyebar ke organ lain.
Penting bagi kita untuk memahami bahwa kanker usus besar biasanya berawal dari pertumbuhan sel yang tidak normal berupa benjolan kecil jinak yang disebut polip. Seiring berjalannya waktu, dan dipengaruhi oleh berbagai faktor pemicu, polip jinak ini dapat bermutasi secara genetik dan berubah menjadi tumor ganas. Proses perubahan dari polip menjadi kanker ini tidak terjadi dalam waktu semalam, melainkan memakan waktu bertahun-tahun. Inilah mengapa deteksi dini melalui skrining sangatlah krusial.
Lantas, apa sebenarnya yang memicu perubahan sel-sel normal menjadi sel kanker yang ganas? Pemahaman mendalam mengenai penyebab kanker usus besar dan faktor risikonya adalah senjata utama kita dalam melakukan pencegahan awal. Memodifikasi gaya hidup, mengenali riwayat kesehatan keluarga, serta tanggap terhadap perubahan tubuh adalah langkah preventif yang tidak boleh diabaikan.
Nah, mau tahu apa saja faktor utama yang menjadi penyebab kanker usus besar serta bagaimana cara mewaspadainya? Berikut ulasan lengkap secara medis!
Apa Itu Kanker Usus Besar?
Sebelum membahas lebih jauh mengenai penyebabnya, penting untuk memahami anatomi dan bagaimana kanker ini terbentuk. Usus besar adalah organ berbentuk tabung panjang yang berfungsi menyerap air dan garam dari sisa makanan yang telah dicerna, lalu mengubahnya menjadi feses (tinja). Bagian terakhir dari usus besar adalah rektum, tempat di mana feses disimpan sebelum dikeluarkan dari tubuh melalui anus.
Kanker usus besar terjadi ketika sel-sel yang melapisi bagian dalam usus besar atau rektum mengalami mutasi pada DNA mereka. DNA adalah cetak biru yang memberikan instruksi kepada sel-sel tubuh tentang apa yang harus dilakukan. Sel-sel yang sehat tumbuh, membelah diri dengan teratur, dan mati pada waktunya untuk menjaga agar tubuh tetap berfungsi normal. Namun, ketika DNA sel bermutasi, sel terus membelah diri tanpa henti meskipun tubuh tidak membutuhkannya. Penumpukan sel berlebih ini pada akhirnya membentuk massa jaringan yang disebut tumor.
Jika tidak ditangani, tumor ganas ini dapat tumbuh menembus dinding usus besar, menyusup ke pembuluh darah atau kelenjar getah bening, dan akhirnya menyebar (bermetastasis) ke organ tubuh lainnya seperti hati atau paru-paru.
Faktor Risiko dan Penyebab Kanker Usus Besar
Secara medis, penyebab pasti mutasi genetik yang mengawali kanker usus besar belum sepenuhnya dipahami. Akan tetapi, para ahli kesehatan dan peneliti telah mengidentifikasi berbagai faktor risiko yang dapat meningkatkan peluang seseorang mengembangkan penyakit ini. Faktor-faktor ini dibagi menjadi dua kategori utama: faktor yang tidak dapat diubah (seperti genetika dan usia) dan faktor gaya hidup yang dapat dikontrol.
1. Faktor Usia
Kanker usus besar dapat menyerang siapa saja pada usia berapa pun. Namun, data statistik secara konsisten menunjukkan bahwa mayoritas pasien yang didiagnosis menderita penyakit ini berusia di atas 50 tahun. Proses penuaan alami tubuh disertai dengan paparan kumulatif terhadap zat karsinogenik (pemicu kanker) dari makanan dan lingkungan selama puluhan tahun berkontribusi pada mutasi sel di usus. Meski demikian, tren terbaru menunjukkan peningkatan kasus kanker usus besar pada kelompok usia dewasa muda (di bawah 50 tahun), yang mengindikasikan bahwa gaya hidup modern memiliki dampak yang signifikan.
2. Riwayat Medis Pribadi (Polip atau Kanker)
Jika kamu pernah didiagnosis memiliki polip adenomatosa (jenis polip yang berisiko tinggi menjadi kanker) pada saat melakukan kolonoskopi sebelumnya, maka risiko kamu untuk mengembangkan kanker usus besar di masa depan akan meningkat secara signifikan. Selain itu, seseorang yang telah berhasil disembuhkan dari kanker usus besar juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kekambuhan atau mengembangkan tumor baru di area usus yang lain.
3. Penyakit Peradangan Usus Kronis (Inflammatory Bowel Disease)
Kondisi peradangan kronis pada saluran pencernaan, seperti kolitis ulserativa (ulcerative colitis) dan penyakit Crohn (Crohn’s disease), merupakan salah satu penyebab kanker usus besar dari faktor medis yang sangat patut diwaspadai. Peradangan jangka panjang menyebabkan pergantian sel yang sangat cepat pada dinding usus (displasia) untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Proses pembaruan sel yang terus-menerus ini meningkatkan kemungkinan terjadinya “kesalahan” atau mutasi pada DNA sel, yang pada akhirnya memicu pertumbuhan kanker.
4. Faktor Keturunan dan Genetik
Genetika memainkan peran yang sangat kuat. Sekitar 5 hingga 10 persen kasus kanker usus besar berkaitan langsung dengan sindrom genetik bawaan dari orang tua. Dua sindrom keturunan yang paling umum adalah:
- Familial Adenomatous Polyposis (FAP): Kondisi langka yang menyebabkan seseorang mengembangkan ribuan polip di usus besarnya sejak usia remaja. Jika tidak ditangani (biasanya dengan pengangkatan usus besar), risiko polip berubah menjadi kanker sebelum usia 40 tahun hampir mencapai 100 persen.
- Sindrom Lynch (Hereditary Non-Polyposis Colorectal Cancer/HNPCC): Orang dengan sindrom ini memiliki kecenderungan bawaan yang sangat tinggi untuk mengembangkan kanker usus besar, dan sering kali terjadi pada usia yang relatif lebih muda. Mereka juga berisiko tinggi terkena jenis kanker lain, seperti kanker ovarium dan rahim.
5. Pola Makan Tidak Sehat (Diet Rendah Serat dan Tinggi Lemak)
Penyebab kanker usus besar yang sangat terkait dengan era modern adalah pola makan (diet). Studi medis menunjukkan hubungan yang erat antara konsumsi tinggi daging merah (seperti sapi, kambing, babi) dan daging olahan (seperti sosis, bacon, ham, kornet) dengan peningkatan risiko kanker usus. Proses pengolahan daging menggunakan suhu sangat tinggi (seperti memanggang atau membakar hingga gosong) menghasilkan senyawa kimia karsinogenik seperti amina heterosiklik (HCA) dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH). Selain itu, diet yang rendah serat (kurang sayur dan buah) membuat feses bergerak lebih lambat di dalam usus, sehingga memperpanjang waktu paparan dinding usus terhadap zat racun dan karsinogenik dari sisa makanan.
6. Gaya Hidup Sedentari (Kurang Bergerak) dan Obesitas
Orang yang kurang aktif secara fisik atau menjalani gaya hidup sedentari memiliki risiko lebih besar terkena kanker usus besar. Aktivitas fisik yang teratur membantu melancarkan sistem pencernaan, mengurangi resistensi insulin, dan menekan tingkat peradangan dalam tubuh. Sebaliknya, obesitas (kelebihan berat badan) sangat erat kaitannya dengan risiko yang jauh lebih tinggi. Obesitas memicu peningkatan kadar hormon insulin dan faktor pertumbuhan mirip insulin (IGF-1) dalam darah, yang secara medis diketahui dapat merangsang pertumbuhan sel-sel tumor di dinding usus.
7. Kebiasaan Merokok dan Konsumsi Alkohol Berlebih
Merokok bukan hanya penyebab kanker paru-paru, melainkan juga berhubungan dengan kanker organ lain, termasuk usus besar. Tembakau mengandung ribuan bahan kimia beracun yang dapat masuk ke aliran darah dan merusak DNA sel di berbagai organ. Selain itu, konsumsi alkohol secara berlebihan atau terus-menerus dapat mengiritasi jaringan usus dan mengganggu penyerapan vitamin B (termasuk folat) yang penting untuk sintesis dan perbaikan DNA sel yang sehat.
Tips Menjaga Kesehatan Saluran Pencernaan
- Konsumsi minimal 30 gram serat per hari dari sayuran hijau, buah-buahan, dan biji-bijian utuh (oatmeal, beras merah).
- Penuhi asupan cairan dengan minum air putih minimal 8 gelas (2 liter) per hari agar tinja tidak keras.
- Batasi konsumsi daging merah maksimal 500 gram per minggu, dan hindari daging olahan sebisa mungkin.
- Lakukan aktivitas fisik ringan hingga sedang, seperti jalan cepat atau bersepeda, minimal 30 menit setiap hari.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Seperti yang telah disebutkan, kanker usus besar jarang menimbulkan keluhan pada stadium awal. Hal ini dikarenakan ukuran tumor masih sangat kecil dan usus besar memiliki rongga yang cukup lebar, sehingga tumor belum menyumbat jalur keluarnya feses. Namun, seiring membesarnya ukuran tumor, beberapa gejala mulai muncul. Sayangnya, gejala-gejala ini sering kali disalahartikan sebagai masalah pencernaan biasa seperti wasir (ambeien) atau infeksi lambung.
Berikut adalah gejala-gejala yang harus sangat diwaspadai:
- Perubahan Pola Buang Air Besar (BAB): Termasuk diare berkepanjangan, sembelit (konstipasi), atau perubahan konsistensi feses menjadi sangat tipis seperti pensil (menandakan adanya penyumbatan di dalam usus).
- BAB Berdarah (Hematochezia/Melena): Darah pada feses bisa berwarna merah segar, merah marun, atau bahkan membuat feses berwarna sangat gelap/hitam dan berbau menyengat akibat darah yang sudah tercerna.
- Perasaan Tuntas yang Tidak Sempurna (Tenesmus): Rasa ingin BAB yang terus-menerus muncul, padahal perut atau usus sudah kosong. Ini terjadi karena tumor di area rektum memberikan tekanan yang mensimulasikan sensasi feses.
- Kram dan Nyeri Perut Bawah: Rasa sakit, kram, atau perut kembung yang terus-menerus tidak kunjung reda.
- Kelelahan Ekstrem dan Anemia Tanpa Sebab: Pendarahan kecil yang terjadi terus-menerus dari tumor di dalam usus (sering kali tidak kasat mata pada feses) dapat menyebabkan penurunan jumlah sel darah merah secara perlahan. Pasien akan mengalami anemia defisiensi besi yang ditandai dengan rasa lelah kronis, pucat, dan sesak napas.
- Penurunan Berat Badan yang Drastis: Berat badan turun secara signifikan tanpa adanya program diet. Sel kanker mengonsumsi banyak energi tubuh, dan sistem kekebalan tubuh juga membakar kalori ekstra untuk mencoba melawan penyakit ini.
Jika kamu mengalami BAB berdarah atau perubahan pola buang air besar yang mencurigakan berlangsung lebih dari dua minggu, segera lakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan arahan dan diagnosis awal secara profesional.
Langkah Pencegahan Kanker Usus Besar
Meskipun beberapa faktor risiko seperti genetika dan usia tidak dapat diubah, sebagian besar kasus kanker usus besar sangat terkait dengan gaya hidup. Oleh karena itu, modifikasi gaya hidup dan deteksi dini adalah kunci pencegahan yang paling efektif.
1. Deteksi Dini dengan Skrining Rutin
Langkah paling ampuh untuk mencegah kanker usus besar adalah dengan menjalani tes skrining secara rutin. *American Cancer Society* merekomendasikan agar pria dan wanita yang memiliki risiko rata-rata untuk mulai melakukan skrining kanker usus besar pada usia 45 tahun. Tes skrining dapat berupa tes darah samar pada feses (Fecal Immunochemical Test/FIT) setiap tahun, atau kolonoskopi setiap 10 tahun. Kolonoskopi tidak hanya berfungsi untuk mendeteksi kanker, tetapi juga sebagai tindakan pencegahan karena dokter dapat langsung memotong dan mengangkat polip prakanker sebelum berubah menjadi ganas.
2. Perbaiki Pola Makan dan Asupan Nutrisi
Diet Mediterania yang kaya akan minyak zaitun, ikan, sayuran, dan kacang-kacangan sangat disarankan. Kandungan antioksidan dan serat tinggi membantu membersihkan dinding usus dari sisa-sisa metabolik beracun. Pastikan asupan kalsium dan vitamin D harian juga tercukupi, karena beberapa penelitian medis menunjukkan bahwa keduanya bersifat protektif terhadap dinding usus besar. Untuk mendukung kesehatan pencernaan, pastikan asupan serat tercukupi. Jika butuh tambahan nutrisi dengan praktis, kamu bisa beli vitamin pencernaan secara online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah secara efisien.
3. Berhenti Merokok dan Kelola Berat Badan
Mulailah untuk secara perlahan meninggalkan kebiasaan merokok. Jika kesulitan, konsultasikan dengan dokter mengenai program berhenti merokok. Selain itu, pertahankan Indeks Massa Tubuh (IMT) pada rentang normal (18,5 – 24,9) melalui kombinasi defisit kalori sehat dan olahraga rutin.
Studi Terkait Kanker Usus Besar dan Gaya Hidup
World Health Organization (WHO) melalui The International Agency for Research on Cancer (IARC) menerbitkan laporan komprehensif yang mengklasifikasikan daging olahan sebagai Karsinogen Grup 1 (diketahui menyebabkan kanker pada manusia) dan daging merah sebagai Karsinogen Grup 2A (kemungkinan besar menyebabkan kanker pada manusia).
Penelitian luas yang melibatkan ratusan studi epidemiologi tersebut mengonfirmasi bahwa makan 50 gram daging olahan setiap hari (setara dengan sekitar dua potong bacon atau satu sosis kecil) meningkatkan risiko kanker kolorektal sebesar 18%. Temuan medis ini menjadi landasan kuat bagi pedoman nutrisi global yang menganjurkan masyarakat untuk lebih memperbanyak konsumsi protein nabati, ikan, dan unggas tanpa kulit demi menjaga kesehatan kolon jangka panjang.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
American Cancer Society. Diakses pada 2024. Colorectal Cancer Risk Factors.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Colon cancer – Symptoms and causes.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Cancer: Carcinogenicity of the consumption of red meat and processed meat.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Colorectal (Colon) Cancer: Causes, Symptoms, and Treatment.
National Cancer Institute (NIH). Diakses pada 2024. Genetics of Colorectal Cancer.
FAQ
1. Apa saja penyebab kanker usus besar yang paling utama?
Secara genetik, mutasi DNA adalah penyebab utamanya. Namun, faktor risiko yang memicu mutasi tersebut antara lain usia di atas 50 tahun, riwayat keluarga dengan polip/kanker usus, menderita penyakit radang usus kronis (IBD), pola makan tinggi daging merah/olahan, obesitas, merokok, dan kurangnya aktivitas fisik. Faktor-faktor gaya hidup ini berkontribusi besar dalam memicu pertumbuhan sel kanker di kolon.
2. Apakah penyakit wasir atau ambeien bisa berubah menjadi kanker usus besar?
Tidak. Wasir atau ambeien adalah pembengkakan pembuluh darah vena di area anus dan rektum bagian bawah, dan bukan merupakan pertumbuhan sel abnormal. Wasir sama sekali tidak bisa berubah menjadi sel kanker. Namun, gejala wasir (seperti BAB berdarah) sangat mirip dengan gejala awal kanker usus besar, sehingga sering kali pasien mengabaikannya. Pemeriksaan medis wajib dilakukan untuk membedakan keduanya.
3. Kapan saya harus mulai melakukan skrining kolonoskopi?
Bagi orang dengan risiko rata-rata dan tidak memiliki keluhan medis, skrining awal direkomendasikan dimulai pada usia 45 tahun. Namun, jika kamu memiliki riwayat keluarga dekat (orang tua, saudara kandung) yang menderita kanker usus besar atau kondisi genetik tertentu, dokter mungkin akan menyarankan skrining lebih awal, biasanya pada usia 10 tahun lebih muda dari usia anggota keluarga saat pertama kali terdiagnosis.
4. Apakah stres pikiran dapat menyebabkan kanker usus besar?
Stres secara langsung tidak terbukti menyebabkan mutasi genetik yang memicu kanker usus besar. Akan tetapi, stres kronis yang berkepanjangan dapat melemahkan sistem imun tubuh dan memicu perilaku gaya hidup tidak sehat—seperti makan berlebihan (stress eating), merokok, dan mengonsumsi alkohol berlebih. Gaya hidup sekunder inilah yang pada akhirnya meningkatkan risiko pembentukan sel kanker pada pencernaan.



