Ad Placeholder Image

Kenali penyebab keringat dingin dan cara mengatasinya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Juni 2026

Kenali Penyebab Keringat Dingin dan Cara Mengatasinya

Kenali penyebab keringat dingin dan cara mengatasinyaKenali penyebab keringat dingin dan cara mengatasinya

DAFTAR ISI


Keringat dingin, atau yang dalam istilah medis sering disebut sebagai diaforesis, adalah kondisi di mana tubuh tiba-tiba mengeluarkan keringat berlebih yang disertai dengan sensasi dingin pada kulit. Berbeda dengan keringat biasa yang muncul akibat aktivitas fisik berat, olahraga, atau cuaca panas untuk mendinginkan suhu tubuh, keringat dingin bisa muncul kapan saja, bahkan saat kamu sedang duduk santai atau berada di ruangan ber-AC.

Kondisi ini sering kali datang secara tiba-tiba dan membuat telapak tangan, telapak kaki, ketiak, hingga punggung terasa basah dan lembap. Sayangnya, banyak orang yang menganggap sepele kondisi ini, padahal tubuh sedang berusaha memberikan sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres terjadi di dalam sistem organ atau metabolisme.

Penting untuk dipahami bahwa keringat dingin bukanlah sebuah penyakit yang berdiri sendiri, melainkan sebuah gejala dari kondisi medis tertentu. Mulai dari respons stres yang ringan hingga indikasi kondisi medis gawat darurat seperti serangan jantung atau infeksi berat. Oleh karena itu, mencari tahu keringat dingin penyebab utamanya sangatlah krusial agar penanganan yang tepat bisa segera diberikan sebelum memicu komplikasi yang lebih serius.

Jika kamu atau orang terdekat sering mengalami kondisi ini, penting untuk memperhatikan gejala penyerta lainnya seperti rasa pusing, mual, dada berdebar, atau pandangan yang kabur. Nah, untuk membantumu memahami lebih dalam, berikut adalah ulasan lengkap mengenai penyebab keringat dingin, mekanisme terjadinya, hingga langkah pertolongan pertama yang bisa kamu lakukan!

Memahami Mekanisme Keringat Dingin

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai penyebabnya, ada baiknya kita memahami bagaimana proses keluarnya keringat dingin di dalam tubuh. Tubuh manusia dilengkapi dengan sistem saraf otonom, yaitu sistem saraf yang bekerja secara otomatis tanpa kita sadari, seperti mengatur detak jantung, pernapasan, tekanan darah, dan fungsi kelenjar keringat.

Sistem saraf otonom terbagi menjadi dua, yakni sistem saraf simpatik dan parasimpatik. Ketika tubuh mendeteksi adanya ancaman, bahaya, rasa sakit yang luar biasa, atau penurunan fungsi organ yang drastis, sistem saraf simpatik akan mengambil alih. Sistem ini memicu respons yang disebut fight-or-flight (lawan atau lari).

Dalam fase fight-or-flight, kelenjar adrenal akan melepaskan hormon stres seperti adrenalin (epinefrin) dan kortisol dalam jumlah besar ke dalam aliran darah. Hormon adrenalin inilah yang menyebabkan pembuluh darah di permukaan kulit menyempit (vasokonstriksi) untuk mengalihkan aliran darah ke organ-organ vital seperti otak dan otot. Akibatnya, kulit menjadi pucat dan terasa dingin. Pada saat yang bersamaan, adrenalin juga merangsang kelenjar keringat untuk memproduksi keringat. Kombinasi antara produksi keringat dan kulit yang dingin inilah yang kemudian kita rasakan sebagai keringat dingin.

Berbagai Keringat Dingin Penyebab yang Perlu Diwaspadai

Karena diaforesis adalah respons tubuh terhadap suatu stresor (pemicu), maka ada sangat banyak kondisi medis yang bisa memicu terjadinya keringat dingin. Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai berbagai penyebab keringat dingin yang paling umum terjadi:

1. Hipoglikemia (Gula Darah Rendah)

Hipoglikemia terjadi ketika kadar glukosa (gula) dalam darah turun di bawah batas normal, biasanya di bawah 70 mg/dL. Glukosa adalah sumber energi utama bagi tubuh, terutama otak. Ketika otak kekurangan energi, ia akan menganggapnya sebagai kondisi darurat yang mengancam nyawa, sehingga tubuh segera melepaskan hormon adrenalin secara massal.

Pelepasan adrenalin inilah yang menyebabkan penderita hipoglikemia tiba-tiba mengeluarkan keringat dingin yang sangat banyak, gemetar (tremor), jantung berdebar kencang (takikardia), pucat, dan merasa sangat lapar. Kondisi ini paling sering dialami oleh penderita diabetes yang mengonsumsi obat penurun gula darah atau menyuntikkan insulin, tetapi melewatkan waktu makan atau berolahraga terlalu berat. Jika tidak segera diatasi dengan mengonsumsi makanan manis, hipoglikemia bisa menyebabkan kejang hingga koma.

2. Serangan Jantung (Infark Miokard)

Salah satu penyebab keringat dingin yang paling mematikan dan membutuhkan pertolongan medis segera adalah serangan jantung. Ketika aliran darah ke otot jantung tersumbat, otot jantung mulai mengalami kerusakan akibat kekurangan oksigen. Rasa sakit yang luar biasa pada dada akibat kerusakan jaringan ini akan memicu respons stres sistemik yang ekstrem.

Keringat dingin akibat serangan jantung biasanya muncul secara tiba-tiba dan sangat deras. Kondisi ini umumnya disertai dengan gejala khas lainnya, seperti nyeri dada yang terasa seperti ditekan atau ditindih benda berat, nyeri yang menjalar ke lengan kiri, leher, atau rahang, sesak napas yang parah, mual, dan perasaan cemas yang luar biasa seperti akan menghadapi kematian (doom anxiety). Jika kamu mendapati seseorang dengan gejala ini, segera hubungi ambulans atau bawa ke unit gawat darurat terdekat.

3. Gangguan Kecemasan dan Serangan Panik (Panic Attack)

Keringat dingin tidak selalu berakar dari masalah fisik atau penyakit organik. Masalah psikologis seperti gangguan kecemasan (anxiety disorder) dan serangan panik juga merupakan penyebab utama yang sangat umum. Ketika seseorang mengalami kepanikan ekstrem atau ketakutan yang tidak rasional, otak akan mengaktifkan respons fight-or-flight meskipun sebenarnya tidak ada bahaya fisik yang nyata di sekitarnya.

Peningkatan hormon stres secara tiba-tiba membuat jantung berdetak sangat cepat, otot menegang, napas menjadi pendek dan cepat (hiperventilasi), serta keringat dingin bercucuran. Seringkali, penderita serangan panik merasa seolah-olah mereka akan pingsan, kehilangan kendali, atau bahkan terkena serangan jantung karena gejalanya yang sangat mirip secara fisik.

4. Infeksi dan Demam

Saat tubuh terinfeksi oleh bakteri atau virus (seperti flu, demam berdarah, tipes, atau COVID-19), sistem imun akan melawan patogen tersebut dengan cara menaikkan suhu tubuh. Ini adalah mekanisme pertahanan alami tubuh yang kita kenal sebagai demam. Namun, ketika infeksi mulai teratasi atau ketika efek obat penurun panas (seperti paracetamol) mulai bekerja, suhu tubuh yang tinggi akan turun secara perlahan menuju suhu normal.

Proses penurunan suhu inilah yang sering kali diwarnai dengan keluarnya keringat dingin yang melimpah (fase defervesensi). Keringat diproduksi untuk melepaskan panas dari dalam tubuh melalui proses penguapan di kulit. Pada fase ini, meskipun tubuh berkeringat, kulit sering kali terasa dingin, dan penderita mungkin akan merasa menggigil.

5. Sinkop Vasovagal (Kondisi Mau Pingsan)

Sinkop vasovagal adalah istilah medis untuk kondisi pingsan yang dipicu oleh stimulasi berlebihan pada saraf vagus. Saraf vagus berperan dalam mengatur detak jantung dan pelebaran pembuluh darah. Ketika saraf ini terstimulasi secara berlebihan—misalnya karena melihat darah, berdiri terlalu lama di tempat yang panas, mengejan terlalu keras, atau mengalami stres emosional yang mendadak—detak jantung akan melambat drastis dan pembuluh darah di kaki melebar.

Akibatnya, tekanan darah akan anjlok secara tiba-tiba (hipotensi) dan aliran darah ke otak berkurang. Sesaat sebelum seseorang kehilangan kesadaran atau pingsan, tubuh akan mencoba memberikan kompensasi dengan melepaskan adrenalin yang memicu gejala awal berupa keringat dingin, mual, pandangan menggelap (tunnel vision), telinga berdenging, dan wajah yang sangat pucat.

6. Syok dan Perdarahan Internal

Syok adalah kondisi medis kritis di mana aliran darah di dalam tubuh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan oksigen organ-organ penting. Syok bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti perdarahan hebat (syok hipovolemik), dehidrasi parah, reaksi alergi berat (syok anafilaktik), atau infeksi aliran darah (sepsis).

Karena organ vital tidak mendapatkan cukup oksigen, tubuh akan melakukan sentralisasi sirkulasi—menarik darah dari kulit dan ekstremitas (tangan dan kaki) menuju organ inti seperti otak, jantung, dan ginjal. Inilah yang menyebabkan kulit menjadi dingin, basah oleh keringat, dan tampak kebiruan (sianosis). Syok adalah kondisi gawat darurat yang membutuhkan intervensi medis seketika.

7. Hipoksia (Kekurangan Oksigen)

Hipoksia terjadi ketika jaringan tubuh tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup. Kondisi ini sering kali berkaitan dengan gangguan pernapasan, seperti asma yang kambuh parah, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), pneumonia berat, atau karena berada di ketinggian dengan kadar oksigen rendah. Ketika otak mendeteksi penurunan kadar oksigen dalam darah, ia akan memicu pelepasan adrenalin untuk mempercepat laju pernapasan dan detak jantung sebagai upaya kompensasi. Respons panik dari tubuh inilah yang menghasilkan keringat dingin, disertai dengan napas yang megap-megap dan bibir kebiruan.

8. Mabuk Perjalanan (Motion Sickness) dan Vertigo

Keringat dingin juga sangat umum dialami saat seseorang mabuk perjalanan, baik di darat, laut, maupun udara. Hal ini terjadi karena adanya ketidakcocokan informasi antara mata, telinga bagian dalam (sistem vestibular), dan sensor otot yang dikirimkan ke otak. Misalnya, saat berada di dalam kabin kapal, matamu melihat ruangan yang diam, tetapi telinga bagian dalam merasakan guncangan ombak.

Kebingungan otak dalam memproses sinyal yang berlawanan ini memicu pelepasan neurotransmiter yang merangsang pusat mual di otak, serta mengaktifkan respons sistem saraf otonom yang memicu sekresi keringat dingin, perut terasa tidak nyaman, produksi air liur berlebih, dan akhirnya muntah. Vertigo yang parah juga sering kali memunculkan gejala penyerta berupa keringat dingin dengan mekanisme yang mirip.

Tanda Bahaya Keringat Dingin (Red Flags)

Segera cari bantuan medis darurat jika keringat dingin disertai dengan salah satu atau beberapa gejala berikut:

  1. Nyeri dada yang terasa seperti ditindih, diremas, atau dada terasa penuh.
  2. Nyeri yang menjalar ke lengan sebelah kiri, rahang, leher, atau punggung.
  3. Sesak napas hebat hingga sulit berbicara atau megap-megap.
  4. Bibir, kuku, atau kulit wajah yang berubah warna menjadi kebiruan (sianosis).
  5. Kebingungan mental, bicara meracau, atau penurunan kesadaran yang cepat.
  6. Muntah darah atau buang air besar berwarna hitam pekat.

Cara Tepat Mengatasi Keringat Dingin di Rumah

Penanganan keringat dingin sangat bergantung pada penyebab dasarnya. Namun, jika kamu mengalami keringat dingin akibat faktor yang ringan atau sudah diketahui pemicunya (seperti kelelahan, telat makan, atau cemas), ada beberapa langkah pertolongan pertama yang bisa dilakukan di rumah:

1. Konsumsi Makanan atau Minuman Manis (Jika Curiga Gula Darah Rendah)

Jika kamu belum makan dalam waktu yang lama, menjalani diet ketat, atau memiliki riwayat diabetes dan mengalami keringat dingin disertai gemetar, segera konsumsi sesuatu yang manis. Minumlah teh manis hangat, jus buah, atau makan permen. Glukosa sederhana akan cepat diserap oleh tubuh dan menaikkan kadar gula darah dalam waktu 15 menit, sehingga gejala keringat dingin akan mereda dengan sendirinya.

2. Longgarkan Pakaian dan Cari Udara Segar

Jika kamu merasa akan pingsan atau sedang mengalami mabuk perjalanan, segera longgarkan pakaian yang ketat, terutama di area leher dan pinggang (seperti membuka kancing kerah atau melonggarkan ikat pinggang). Pindahlah ke tempat yang memiliki sirkulasi udara lebih baik, kipas diri perlahan, atau nyalakan AC. Udara segar dapat membantu sistem saraf menjadi lebih rileks dan menstabilkan pernapasan.

3. Terapkan Teknik Pernapasan Dalam (Deep Breathing)

Untuk keringat dingin yang disebabkan oleh stres, cemas, atau serangan panik, cobalah melakukan latihan pernapasan perut (diaphragmatic breathing). Tarik napas perlahan melalui hidung selama 4 detik, tahan selama 4 detik, lalu embuskan perlahan melalui mulut selama 6 detik. Teknik pernapasan ini berfungsi mengaktifkan sistem saraf parasimpatik (sistem relaksasi tubuh), yang akan melawan efek adrenalin, sehingga detak jantung melambat dan keringat dingin berhenti.

4. Berbaring dengan Posisi Kaki Lebih Tinggi

Jika keringat dingin disertai dengan rasa pusing, pandangan gelap, dan lemas (gejala pra-sinkop atau tekanan darah rendah), segeralah berbaring di tempat yang datar. Angkat kedua kaki sedikit lebih tinggi dari posisi jantung (misalnya dengan menyangganya menggunakan bantal). Posisi ini memanfaatkan gravitasi untuk mengembalikan aliran darah dari kaki menuju jantung dan otak, sehingga suplai oksigen ke otak kembali normal dan mencegah pingsan.

5. Penuhi Asupan Cairan dan Elektrolit

Dehidrasi dan kelelahan fisik yang ekstrem juga bisa memicu keringat dingin. Pastikan kamu minum air putih yang cukup. Jika kamu baru saja mengalami diare atau muntah-muntah hebat, minumlah cairan oralit atau air kelapa untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit di dalam tubuh. Setelah kondisi membaik, kamu mungkin membutuhkan suplemen atau vitamin untuk memulihkan stamina dan daya tahan tubuh agar tidak mudah kembali tumbang.

Kapan Keringat Dingin Menjadi Keadaan Darurat?

Meskipun beberapa kasus keringat dingin dapat membaik dengan penanganan di rumah, kamu tidak boleh lengah. Keringat dingin adalah “alarm” tubuh. Jika kamu sering terbangun di malam hari karena tubuh basah kuyup oleh keringat dingin (night sweats) tanpa alasan yang jelas, ini bisa menjadi pertanda adanya infeksi kronis seperti tuberkulosis (TBC), gangguan tiroid (hipertiroidisme), atau bahkan gejala awal dari limfoma (kanker kelenjar getah bening).

Selain itu, jika keringat dingin muncul secara konsisten setelah mengonsumsi obat-obatan tertentu, segera konsultasikan dengan dokter untuk mengevaluasi kembali dosis atau jenis obat yang diberikan, karena bisa jadi itu adalah efek samping obat yang berbahaya atau tanda reaksi anafilaksis lambat.

Studi Terkait Keringat Dingin

American Journal of Medicine pernah menerbitkan studi klinis yang menjelaskan bahwa diaforesis (keringat dingin yang berlebih) pada pasien yang mengeluhkan nyeri dada memiliki nilai diagnostik yang sangat tinggi untuk mendeteksi Infark Miokard Akut (serangan jantung). Studi tersebut menyimpulkan bahwa pasien dengan nyeri dada yang disertai keringat dingin memiliki probabilitas jauh lebih tinggi mengalami penyumbatan pembuluh darah koroner yang masif dibandingkan pasien nyeri dada tanpa keringat dingin.

Temuan ini menegaskan betapa pentingnya menganggap serius gejala keringat dingin, terutama jika muncul secara mendadak pada kelompok usia lanjut atau pada individu yang memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, kolesterol tinggi, dan riwayat merokok.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Sweating and body odor – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Diaphoresis (Excessive Sweating): Causes & Treatment.
American Diabetes Association (ADA). Diakses pada 2024. Hypoglycemia (Low Blood Glucose).
American Heart Association. Diakses pada 2024. Warning Signs of a Heart Attack.
National Institutes of Health (NIH). Diakses pada 2024. The Physiology of Sweat and Diaphoresis.

FAQ

1. Apakah masuk angin bisa menyebabkan keringat dingin?

Masuk angin sebenarnya adalah istilah awam untuk kumpulan gejala ringan seperti perut kembung, mual, pegal-pegal, dan demam ringan akibat kelelahan atau infeksi virus ringan. Ya, “masuk angin” bisa memicu keringat dingin, terutama jika disertai dengan rasa mual yang menstimulasi saraf vagus, atau saat tubuh sedang berupaya menurunkan suhu tubuh yang sedikit meningkat (demam ringan).

2. Mengapa saya terbangun dengan keringat dingin di malam hari?

Keringat malam (night sweats) bisa disebabkan oleh suhu kamar yang terlalu panas, mimpi buruk (anxiety), atau perubahan hormonal seperti menopause pada wanita. Namun, jika terjadi secara rutin hingga seprai basah kuyup, itu bisa mengindikasikan kondisi medis serius seperti infeksi tuberkulosis (TBC), gangguan tiroid, atau efek samping obat-obatan antidepresan.

3. Apakah asam lambung (GERD) bisa menyebabkan keringat dingin?

GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) yang parah dapat menyebabkan nyeri dada yang tajam (heartburn) yang terkadang menyerupai rasa sakit akibat serangan jantung. Rasa sakit hebat dan kepanikan yang menyertai naiknya asam lambung ini bisa memicu sistem saraf simpatik untuk melepaskan adrenalin, yang pada akhirnya memicu keringat dingin.

4. Makanan apa yang bisa memicu keringat dingin?

Keringat dingin dapat dipicu oleh makanan yang sangat pedas (mengandung capsaicin yang merangsang saraf pengatur suhu tubuh), konsumsi kafein berlebihan (memicu detak jantung cepat dan kecemasan), atau alkohol dalam jumlah besar. Selain itu, penderita intoleransi makanan atau alergi makanan berat juga bisa mengalami keringat dingin sebagai bagian dari reaksi anafilaksis.