Ad Placeholder Image

Kenapa Bayi Bisa Sungsang? Yuk, Pahami Penyebabnya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   23 April 2026

Kenapa Bayi Bisa Sungsang? Ini Penjelasan Mudahnya

Kenapa Bayi Bisa Sungsang? Yuk, Pahami PenyebabnyaKenapa Bayi Bisa Sungsang? Yuk, Pahami Penyebabnya

Kenapa Bayi Bisa Sungsang? Memahami Penyebab dan Faktor Risikonya

Posisi bayi sungsang, di mana bokong atau kaki bayi berada di bawah menjelang persalinan, merupakan kondisi yang sering menimbulkan kekhawatiran bagi ibu hamil. Meskipun sebagian besar bayi akan berputar ke posisi kepala di bawah sebelum kelahiran, beberapa tetap dalam posisi sungsang. Memahami kenapa bayi bisa sungsang serta faktor risikonya sangat penting untuk persiapan persalinan yang optimal dan aman.

Penyebab bayi sungsang seringkali tidak pasti, namun beberapa faktor risiko utama meliputi volume cairan ketuban yang tidak normal, kehamilan ganda, persalinan prematur, kondisi plasenta previa, bentuk rahim yang tidak biasa, panggul ibu yang sempit, atau riwayat kehamilan sungsang sebelumnya. Faktor-faktor ini umumnya mengganggu pergerakan atau ruang normal bagi bayi untuk berbalik.

Apa Itu Bayi Sungsang?

Bayi sungsang merujuk pada kondisi di mana presentasi bayi dalam rahim adalah bokong atau kaki di bagian bawah mendekati jalan lahir. Normalnya, menjelang akhir kehamilan, kebanyakan bayi akan berputar sehingga kepalanya berada di posisi paling bawah, siap untuk proses persalinan melalui vagina. Posisi sungsang ini terbagi menjadi beberapa jenis, seperti sungsang sempurna (bokong di bawah dengan kedua kaki ditekuk), sungsang tidak sempurna (salah satu atau kedua kaki duluan), atau sungsang frank (bokong di bawah dengan kedua kaki lurus ke atas).

Penyebab Utama Kenapa Bayi Bisa Sungsang

Meskipun dalam banyak kasus penyebab pasti bayi sungsang tidak dapat ditentukan, terdapat beberapa faktor risiko yang diketahui dapat meningkatkan kemungkinan bayi berada dalam posisi ini. Faktor-faktor ini secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kemampuan bayi untuk mengubah posisi atau ruang gerak di dalam rahim.

Faktor Risiko yang Memicu Posisi Sungsang

Berbagai kondisi, baik yang berkaitan dengan ibu maupun janin, dapat menyebabkan bayi tidak dapat memposisikan diri dengan kepala di bawah. Berikut adalah beberapa faktor risiko utama:

  • Volume Cairan Ketuban Abnormal

    Cairan ketuban adalah bantalan yang melindungi bayi dan memungkinkan pergerakannya di dalam rahim. Jika volume cairan ketuban terlalu banyak (polihidramnion), bayi mungkin memiliki terlalu banyak ruang untuk bergerak dan tidak dapat menetap dalam satu posisi. Sebaliknya, jika volume cairan ketuban terlalu sedikit (oligohidramnion), ruang gerak bayi terbatas sehingga menyulitkan proses berputar ke posisi kepala di bawah.

  • Kehamilan Kembar atau Ganda

    Pada kehamilan dengan dua bayi atau lebih, ruang di dalam rahim menjadi lebih sempit. Keterbatasan ruang ini dapat membuat salah satu atau bahkan kedua bayi tidak memiliki cukup ruang untuk berputar ke posisi yang optimal menjelang persalinan.

  • Persalinan Prematur

    Bayi yang lahir sebelum waktunya, terutama sebelum usia kehamilan 36 minggu, seringkali belum memiliki cukup waktu untuk berputar ke posisi kepala di bawah. Pada awal trimester ketiga, posisi sungsang lebih umum karena bayi masih memiliki banyak ruang dan waktu untuk berubah posisi.

  • Plasenta Previa

    Plasenta previa adalah kondisi di mana plasenta (ari-ari) menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir (serviks). Kehadiran plasenta di bagian bawah rahim ini dapat menghalangi kepala bayi untuk turun dan menetap di posisi yang seharusnya.

  • Bentuk Rahim Tidak Normal

    Beberapa kondisi rahim ibu dapat mempengaruhi kemampuan bayi untuk berputar. Ini termasuk rahim dengan bentuk yang tidak biasa, seperti rahim bikornu (berbentuk hati) atau adanya mioma atau fibroid (tumor jinak pada dinding rahim) yang berukuran besar. Keberadaan mioma atau bentuk rahim yang tidak normal dapat mengurangi ruang yang tersedia untuk bayi.

  • Panggul Ibu Sempit

    Struktur panggul ibu yang sempit dapat menghambat kepala bayi untuk masuk ke jalan lahir dan menetap di posisi yang benar. Ini mungkin mendorong bayi untuk tetap dalam posisi sungsang karena area panggul tidak memungkinkan kepala masuk.

  • Riwayat Kehamilan Sungsang Sebelumnya

    Ibu yang pernah memiliki riwayat kehamilan sungsang pada persalinan sebelumnya memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami kondisi serupa di kehamilan berikutnya. Ini menunjukkan adanya kecenderungan atau faktor bawaan tertentu yang mungkin berkontribusi.

Diagnosis dan Penanganan Bayi Sungsang

Posisi bayi sungsang biasanya didiagnosis melalui pemeriksaan fisik oleh dokter kandungan, di mana dokter dapat merasakan posisi kepala dan bokong bayi. Diagnosis ini seringkali dikonfirmasi dengan ultrasonografi (USG) untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan detail. Setelah terdeteksi, dokter akan membahas opsi penanganan.

Salah satu penanganan yang mungkin dilakukan adalah External Cephalic Version (ECV), yaitu prosedur manual untuk mencoba memutar bayi dari luar perut ibu. Jika ECV tidak berhasil atau tidak direkomendasikan, atau jika ada kontraindikasi lain, persalinan caesar seringkali menjadi pilihan yang lebih aman untuk ibu dan bayi.

Bisakah Posisi Sungsang Dicegah?

Mengingat penyebab bayi sungsang seringkali tidak pasti dan melibatkan berbagai faktor, pencegahan langsung seringkali sulit dilakukan. Namun, pemantauan kehamilan rutin adalah kunci. Dengan pemeriksaan antenatal yang teratur, dokter dapat mendeteksi posisi sungsang lebih awal dan mendiskusikan berbagai opsi penanganan yang tersedia.

Meskipun tidak ada cara pasti untuk mencegah bayi sungsang, menjaga kesehatan kehamilan secara keseluruhan, seperti nutrisi yang baik dan menghindari faktor risiko yang dapat dikendalikan, tetap penting untuk kesejahteraan ibu dan janin.

Jika memiliki kekhawatiran mengenai posisi bayi atau kondisi kehamilan lainnya, sangat penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter kandungan. Dapatkan informasi dan rekomendasi medis yang akurat serta terpercaya dari tenaga profesional kesehatan melalui aplikasi Halodoc.