Jangan Panik! Kenapa Bayi Newborn Sering BAB Itu Normal

Frekuensi buang air besar (BAB) pada bayi baru lahir seringkali menjadi perhatian orang tua. Kondisi ini umumnya normal dan merupakan bagian dari adaptasi sistem pencernaan bayi terhadap dunia luar. Bayi newborn bisa BAB hingga 6-10 kali sehari atau setiap selesai menyusu.
Hal ini disebabkan oleh sistem pencernaan yang masih imatur dan refleks gastrokolik yang kuat. Artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai penyebab, frekuensi normal, dan tanda-tanda yang perlu diwaspadai.
Apa Itu Frekuensi BAB Bayi Newborn yang Normal?
Bayi baru lahir atau newborn (usia 0-28 hari) memiliki pola buang air besar yang berbeda dengan anak-anak atau orang dewasa. Sering BAB adalah hal yang umum terjadi pada periode ini.
Ini adalah indikasi bahwa sistem pencernaannya sedang bekerja dan ia mendapatkan nutrisi yang cukup dari ASI atau susu formula.
Penyebab Kenapa Bayi Newborn Sering BAB
Ada beberapa faktor utama yang menjelaskan mengapa bayi newborn sering buang air besar:
- Sistem Pencernaan yang Imatur: Sistem pencernaan bayi baru lahir belum berkembang sempurna. Usus mereka masih belajar bagaimana memproses makanan secara efisien, sehingga proses pencernaan berlangsung lebih cepat.
- Refleks Gastrokolik yang Kuat: Ini adalah refleks alami yang memicu usus besar untuk berkontraksi dan menggerakkan feses setiap kali lambung terisi makanan. Artinya, setiap kali bayi menyusu, ususnya akan aktif bekerja dan membuang isi perut sebelumnya.
- Pencernaan ASI yang Cepat: Air Susu Ibu (ASI) sangat mudah dicerna oleh tubuh bayi. Kandungan nutrisi dalam ASI dirancang untuk diserap dengan cepat dan efisien, membuat sisa pencernaan bergerak lebih cepat melalui saluran cerna.
- Asupan Cairan Tinggi: Bayi baru lahir hanya mengonsumsi ASI atau susu formula yang sebagian besar berupa cairan. Ini juga berkontribusi pada frekuensi dan konsistensi feses yang lebih encer.
Berapa Frekuensi BAB Normal pada Bayi Newborn?
Frekuensi buang air besar pada bayi newborn dapat bervariasi. Umumnya, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif bisa BAB sebanyak 6 hingga 10 kali dalam sehari.
Bahkan, tidak jarang bayi akan buang air besar setiap kali selesai menyusu. Pola ini seringkali menjadi salah satu indikator bahwa bayi menerima cukup ASI.
Karakteristik feses bayi yang diberi ASI biasanya lunak, encer, dengan warna kuning mustard, kadang disertai butiran seperti biji.
Kapan Frekuensi BAB Bayi Newborn Menjadi Tidak Normal?
Meskipun sering BAB adalah hal yang wajar, ada beberapa kondisi yang memerlukan perhatian khusus dan indikasi bayi mungkin mengalami masalah kesehatan. Orang tua perlu waspada jika:
- Feses Mengandung Darah atau Lendir: Kehadiran darah merah cerah atau lendir dalam feses bisa menjadi tanda infeksi, alergi, atau masalah pencernaan lainnya.
- Demam Tinggi: Jika frekuensi BAB yang sering disertai dengan demam tinggi (suhu tubuh di atas 38°C), ini bisa menandakan adanya infeksi.
- Bayi Tampak Lesu atau Sakit: Perubahan perilaku seperti bayi menjadi sangat lesu, rewel berlebihan, tidak mau menyusu, atau menunjukkan tanda-tanda dehidrasi (misalnya mata cekung, kulit kering, ubun-ubun cekung) adalah tanda bahaya.
- Berat Badan Tidak Naik atau Turun: Dalam kondisi normal, bayi harus menunjukkan kenaikan berat badan yang stabil. Jika berat badan tidak naik atau bahkan turun, ini bisa menjadi indikasi asupan nutrisi tidak cukup meskipun sering BAB.
- Perubahan Warna Feses yang Drastis: Feses yang sangat pucat atau putih keabuan bisa menandakan masalah pada hati atau saluran empedu, sementara feses hitam pekat setelah beberapa hari pertama bisa mengindikasikan perdarahan di saluran pencernaan bagian atas (kecuali mekonium).
Kesimpulan dan Rekomendasi Medis dari Halodoc
Sering buang air besar pada bayi newborn adalah kondisi yang normal dan seringkali merupakan tanda bayi mendapatkan cukup nutrisi. Penting bagi orang tua untuk memahami pola BAB normal bayi.
Apabila terdapat tanda-tanda bahaya seperti feses berdarah, demam tinggi, perubahan perilaku, atau berat badan tidak naik, segera konsultasikan dengan dokter anak. Melalui aplikasi Halodoc, dapat berkonsultasi dengan dokter anak terpercaya untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.



