Kenapa Bayi Rewel? Ini 9 Penyebab Umumnya!

DAFTAR ISI
- Penyebab Umum Kenapa Bayi Menangis dan Rewel
- Cara Tepat Menenangkan Bayi yang Sedang Rewel
- Tanda Bahaya dan Kapan Harus ke Dokter
- Studi Terkait Tangisan Bayi
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Mendengar si Kecil menangis tanpa henti tentu bisa membuat orang tua merasa panik dan terserang rasa cemas. Sebagai orang tua baru, wajar jika kamu sering bertanya-tanya kenapa bayi sering menangis tanpa alasan yang jelas, terutama di malam hari atau saat kebutuhan dasarnya seolah sudah terpenuhi semua.
Tangisan pada dasarnya adalah satu-satunya cara komunikasi dan bahasa utama bayi untuk menyampaikan berbagai perasaannya. Melalui tangisan, mereka mengomunikasikan rasa tidak nyaman, rasa lapar, kelelahan, hingga rasa sakit. Mengetahui makna di balik tangisan tersebut adalah langkah krusial untuk memberikan respons dan penanganan yang tepat agar si Kecil bisa kembali tenang dan tertidur lelap.
Meskipun sebagian besar tangisan bayi adalah proses fisiologis yang sangat normal, ada kalanya durasi atau intensitas tangisan tersebut menandakan adanya masalah kesehatan tertentu yang memerlukan perhatian khusus. Oleh karena itu, mengenali berbagai pemicu tangisan secara mendalam sangat penting bagi orang tua untuk membedakan mana tangisan biasa dan mana tangisan akibat rasa sakit.
Nah, mau tahu apa saja faktor utama penyebab si Kecil menangis dan bagaimana cara tepat mengatasinya? Berikut ulasan lengkapnya!
Penyebab Umum Kenapa Bayi Menangis dan Rewel
Bayi menangis karena mereka membutuhkan sesuatu atau merasa tidak nyaman. Berikut adalah beberapa penyebab utama yang sering menjadi alasan di balik tangisan bayi:
1. Rasa Lapar yang Kuat
Lapar adalah alasan paling logis dan paling umum mengapa bayi menangis, terutama pada 3 bulan pertama kehidupannya. Karena kapasitas lambung bayi masih sangat kecil, mereka membutuhkan asupan ASI atau susu formula secara berkala dalam interval waktu yang singkat, biasanya setiap dua hingga tiga jam sekali.
2. Popok Basah atau Kotor
Beberapa bayi memiliki kulit yang sangat sensitif sehingga mereka akan langsung menangis keras begitu popoknya basah oleh urine atau feses. Kontak yang terlalu lama dengan popok kotor juga dapat menyebabkan ruam popok yang perih. Jika keluhan disebabkan oleh iritasi atau ruam popok, kamu bisa menemukan dan beli krim ruam popok serta produk kesehatan bayi yang aman digunakan melalui aplikasi secara online.
3. Kelelahan dan Mengantuk (Overtired)
Berbeda dengan orang dewasa yang bisa langsung terlelap saat lelah, bayi sering kali justru menjadi sangat rewel dan kesulitan untuk tertidur jika mereka terlalu lelah (overtired). Stimulasi yang berlebihan dari lingkungan sekitar bisa membuat otak bayi kesulitan untuk bersantai dan beralih ke fase tidur.
4. Kolik dan Masalah Pencernaan
Jika bayi menangis terus-menerus selama lebih dari tiga jam sehari, setidaknya tiga hari dalam seminggu, tanpa alasan medis yang jelas, kemungkinan besar ia mengalami kolik. Selain kolik, masalah pencernaan lain seperti penumpukan gas (kembung), sembelit, atau refluks asam lambung juga sering membuat bayi melengkungkan punggungnya sambil menangis kesakitan.
5. Fase Tumbuh Gigi (Teething)
Tumbuh gigi adalah proses yang bisa sangat menyakitkan bagi bayi. Gusi yang membengkak dan meradang akan membuat bayi merasa tidak nyaman. Biasanya, fase ini disertai dengan produksi air liur yang berlebihan, kebiasaan menggigit benda di sekitarnya, serta sedikit peningkatan suhu tubuh.
6. Suhu Lingkungan yang Tidak Nyaman
Bayi belum memiliki kemampuan untuk meregulasi suhu tubuhnya secara sempurna. Jika ruangan terlalu panas, pakaian terlalu tebal, atau sebaliknya lingkungan terlalu dingin, bayi akan mengekspresikan ketidaknyamanannya melalui tangisan.
7. Stimulasi Berlebihan (Overstimulation)
Cahaya lampu yang terlalu terang, suara bising, atau dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain saat banyak tamu yang berkunjung bisa membuat sistem saraf bayi kewalahan. Tangisan adalah cara bayi memblokir rangsangan berlebih tersebut dan meminta untuk dipindahkan ke tempat yang lebih tenang.
8. Growth Spurt (Lonjakan Pertumbuhan)
Pada periode tertentu (biasanya di usia 2-3 minggu, 6 minggu, dan 3 bulan), bayi mengalami lonjakan pertumbuhan yang sangat pesat. Selama fase ini, bayi akan menjadi lebih rewel dari biasanya, pola tidurnya berantakan, dan mereka akan meminta menyusu jauh lebih sering (cluster feeding).
9. Merasa Kesepian dan Butuh Afeksi
Bayi sangat bergantung pada kedekatan fisik dengan orang tuanya untuk merasa aman. Terkadang, mereka menangis hanya karena ingin melihat wajah orang tuanya, mendengar suaranya, mencium aromanya, atau merasakan detak jantung ibunya. Pelukan adalah kebutuhan emosional yang tak kalah penting dari kebutuhan fisik.
Tips Pencegahan agar Bayi Tidak Mudah Rewel
- Kenali tanda-tanda awal bayi lapar, seperti mengecap bibir atau memasukkan tangan ke mulut, sebelum mereka terlanjur menangis keras.
- Tetapkan rutinitas tidur yang konsisten untuk mencegah bayi kelelahan (overtired).
- Rutin periksa dan ganti popok setidaknya setiap 3-4 jam sekali.
- Pastikan suhu ruangan kamar tidur bayi nyaman, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.
Cara Tepat Menenangkan Bayi yang Sedang Rewel
1. Lakukan Skin-to-Skin Contact
Kontak kulit ke kulit (skin-to-skin) antara bayi dan ibu atau ayah adalah salah satu cara paling efektif untuk menenangkan saraf bayi. Suhu tubuh orang tua, ritme napas, dan detak jantung yang familiar akan memberikan sensasi rasa aman layaknya saat bayi masih berada di dalam rahim.
2. Gunakan Teknik Swaddling (Membedong)
Membedong bayi dengan selimut yang tipis dan lembut dapat memberikan tekanan ringan yang nyaman di sekujur tubuhnya. Hal ini membantu mengurangi refleks Moro (refleks terkejut pada bayi) yang sering kali membangunkan mereka dari tidur dan memicu tangisan.
3. Berikan Bunyi-bunyian Konstan (White Noise)
Di dalam rahim, bayi terbiasa mendengarkan suara detak jantung dan aliran darah ibu yang cukup kencang. Menyalakan mesin white noise, suara kipas angin, atau suara desiran ombak dapat menciptakan lingkungan audio yang familiar dan menenangkan bagi otak bayi.
4. Ayun dengan Gerakan Ritmik
Menggendong sambil berjalan-jalan, mengayun bayi secara perlahan di kursi goyang, atau menggunakan bouncer bayi dapat menstimulasi sistem vestibular (keseimbangan) bayi yang memberikan efek menenangkan secara instan.
Tanda Bahaya dan Kapan Harus ke Dokter
Meski menangis adalah hal wajar, orang tua harus peka terhadap perubahan pola tangisan bayi. Segera bawa bayi ke dokter spesialis anak jika tangisan disertai dengan gejala-gejala berikut:
- Demam Tinggi: Suhu tubuh mencapai 38 derajat Celsius atau lebih, terutama jika bayi masih berusia di bawah 3 bulan.
- Tangisan Terlihat Berbeda: Tangisan terdengar seperti jeritan melengking (sangat bernada tinggi) atau sebaliknya, tangisan terdengar sangat lemah seperti rintihan.
- Muntah Menyemprot: Bayi muntah secara proyektil atau muntah berwarna hijau/kuning.
- Perubahan Pola Napas: Bayi tampak kesulitan bernapas, napasnya sangat cepat, atau dada tampak cekung saat menarik napas.
- Penurunan Nafsu Makan: Menolak menyusu sama sekali selama beberapa jadwal makan berturut-turut.
- Lemas dan Kurang Responsif: Bayi tampak sangat lemas (letargi) dan sulit dibangunkan dari tidurnya.
Studi Terkait Tangisan Bayi
The Journal of Pediatrics menerbitkan studi komprehensif yang menjelaskan bahwa durasi bayi menangis akan mencapai puncaknya pada usia 6 minggu kehidupan, dan secara bertahap akan menurun seiring bertambahnya usia hingga usia 12 minggu.
Studi tersebut juga menyoroti bahwa pola tangisan bayi sangat dipengaruhi oleh kematangan sistem saraf pusat. Penanganan yang responsif dan penuh kasih sayang dari orang tua di bulan-bulan awal kehidupan terbukti tidak akan membuat bayi menjadi “manja”, melainkan akan membangun pondasi rasa aman yang menurunkan frekuensi tangisan secara signifikan di bulan-bulan berikutnya.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
FAQ
1. Kenapa bayi sering terbangun dan rewel di tengah malam?
Bayi sering rewel di malam hari biasanya karena mereka merasa lapar, popoknya basah, atau merasa kedinginan/kepanasan. Selain itu, siklus tidur bayi yang belum matang membuat mereka sering terbangun di fase tidur ringan dan butuh bantuan untuk kembali terlelap.
2. Apakah wajar jika bayi menangis saat sedang buang air besar?
Sangat wajar jika bayi mengejan, wajahnya memerah, atau sedikit rewel saat buang air besar, karena otot perut mereka masih belajar cara mendorong feses. Namun, jika ia menangis histeris dan fesesnya keras atau berdarah, itu bisa menjadi tanda sembelit.
3. Berapa lama maksimal bayi boleh dibiarkan menangis?
Untuk bayi baru lahir hingga usia 6 bulan, disarankan untuk tidak membiarkan mereka menangis terlalu lama tanpa direspons. Segera cari tahu penyebabnya dan tenangkan bayi, karena respons cepat membangun rasa percaya bayi terhadap orang tuanya.
4. Apakah kolik pada bayi berbahaya?
Kolik sendiri sebenarnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang pada pertumbuhan bayi. Namun, kolik bisa sangat melelahkan dan memicu stres berat bagi orang tua, sehingga penting untuk bergantian menjaga bayi dan meminta bantuan jika diperlukan.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Crying baby: What to do when your newborn cries.
Healthy Children (American Academy of Pediatrics). Diakses pada 2024. Responding to Your Baby’s Cries.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Colic in Babies.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Cara Menenangkan Bayi yang Sedang Menangis.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.





