Ad Placeholder Image

Kenapa Bisa Mabuk Perjalanan? Otakmu Bingung, Nih!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   24 April 2026

Kenapa Bisa Mabuk Perjalanan? Otakmu Bingung, Ini Sebabnya.

Kenapa Bisa Mabuk Perjalanan? Otakmu Bingung, Nih!Kenapa Bisa Mabuk Perjalanan? Otakmu Bingung, Nih!

Mabuk perjalanan adalah kondisi umum yang bisa mengganggu kenyamanan saat bepergian. Banyak orang mengalami gejala seperti mual dan pusing ketika berada di dalam kendaraan seperti mobil, kapal, atau pesawat. Memahami kenapa bisa mabuk perjalanan menjadi kunci untuk mengelola dan mencegah sensasi tidak nyaman ini. Fenomena ini sebenarnya disebabkan oleh konflik sinyal sensorik yang diterima otak, memicu respons fisik yang tidak diinginkan.

Apa Itu Mabuk Perjalanan (Kinetosis)?

Mabuk perjalanan, secara medis dikenal sebagai kinetosis, adalah respons tubuh terhadap gerakan yang tidak biasa atau bertentangan. Kondisi ini terjadi ketika sistem sensorik tubuh mengirimkan informasi yang tidak sinkron ke otak. Meskipun umumnya tidak berbahaya, gejala yang ditimbulkan bisa sangat mengganggu aktivitas perjalanan.

Gejala Mabuk Perjalanan yang Umum

Gejala mabuk perjalanan bisa bervariasi dari ringan hingga berat. Biasanya, gejala muncul secara bertahap dan memburuk seiring waktu jika pemicunya tidak dihilangkan. Mengenali gejala ini penting untuk mengambil tindakan pencegahan atau penanganan awal.

  • Mual, seringkali menjadi gejala pertama yang dirasakan.
  • Pusing atau sakit kepala ringan.
  • Muntah, terutama jika mual tidak tertangani.
  • Keringat dingin dan pucat.
  • Peningkatan produksi air liur.
  • Rasa tidak enak badan atau kelelahan.
  • Perasaan tidak nyaman di perut.

Kenapa Bisa Mabuk Perjalanan? Konflik Sensorik di Otak

Penyebab utama kenapa bisa mabuk perjalanan adalah konflik sinyal sensorik yang sampai ke otak. Otak menerima informasi mengenai gerakan dan posisi tubuh dari tiga sistem utama: mata (penglihatan), telinga dalam (sistem vestibular), dan otot serta sendi (propriosepsi). Ketika informasi dari ketiga sumber ini tidak selaras, otak menjadi bingung dan memicu respons yang mengarah pada gejala mabuk perjalanan.

Sebagai contoh, saat seseorang berada di dalam mobil yang sedang bergerak, mata mungkin melihat interior mobil yang statis. Namun, telinga dalam, yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan dan merasakan percepatan atau pengereman, mendeteksi adanya gerakan. Otot dan sendi juga merasakan getaran serta perubahan posisi. Ketidakcocokan antara “tidak bergerak” (dari mata) dan “bergerak” (dari telinga dalam dan otot) inilah yang membuat otak salah menafsirkan situasi. Otak mungkin menganggap sinyal yang bertentangan ini sebagai tanda keracunan atau disorientasi, sehingga memicu respons mual dan pusing sebagai mekanisme pertahanan tubuh.

Faktor Risiko yang Mempengaruhi Mabuk Perjalanan

Selain konflik sensorik, beberapa faktor risiko dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami mabuk perjalanan. Faktor-faktor ini bisa bersifat situasional maupun individual.

  • Membaca atau Bermain HP di Kendaraan: Fokus pada objek dekat di dalam kendaraan dapat memperparah konflik sinyal, karena mata tetap terfokus pada objek statis sementara tubuh merasakan gerakan.
  • Perubahan Hormonal: Fluktuasi hormon, seperti yang terjadi selama kehamilan atau menstruasi, dapat membuat tubuh lebih sensitif terhadap gerakan dan memicu mabuk perjalanan.
  • Kurang Tidur atau Kelelahan: Tubuh yang lelah cenderung lebih rentan terhadap gangguan sensorik, termasuk mabuk perjalanan.
  • Riwayat Migrain atau Vertigo: Individu dengan riwayat migrain atau vertigo memiliki sistem vestibular yang lebih sensitif, sehingga lebih mudah mengalami mabuk perjalanan.
  • Faktor Genetik: Kecenderungan untuk mengalami mabuk perjalanan dapat diwariskan dalam keluarga.
  • Kecemasan atau Stres: Kondisi emosional seperti kecemasan dapat memperburuk gejala mabuk perjalanan.

Cara Mengatasi dan Mencegah Mabuk Perjalanan

Mengatasi dan mencegah mabuk perjalanan memerlukan kombinasi strategi yang melibatkan perubahan kebiasaan dan, jika perlu, bantuan medis.

  • Fokus pada Titik Stabil: Selama perjalanan, usahakan untuk melihat ke luar jendela dan fokus pada cakrawala atau objek jauh yang stabil.
  • Pilih Posisi Duduk yang Tepat: Di mobil, duduklah di kursi depan. Di kapal, pilih bagian tengah. Di pesawat, duduklah di dekat sayap.
  • Hindari Membaca atau Bermain HP: Batasi aktivitas yang membuat mata fokus pada objek di dalam kendaraan.
  • Cukup Istirahat: Pastikan tidur yang cukup sebelum melakukan perjalanan.
  • Ventilasi Udara yang Baik: Buka jendela mobil atau arahkan ventilasi udara untuk mendapatkan sirkulasi udara segar.
  • Makan Ringan: Hindari makanan berat, pedas, atau berbau menyengat sebelum dan selama perjalanan. Konsumsi makanan ringan seperti biskuit atau buah.
  • Obat Anti-Mabuk: Beberapa obat bebas atau resep dapat membantu mencegah mabuk perjalanan. Konsultasikan dengan dokter atau apoteker sebelum mengonsumsinya.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Meskipun mabuk perjalanan umumnya dapat dikelola sendiri, konsultasi dengan dokter disarankan jika gejala sangat parah, sering terjadi, atau mengganggu kualitas hidup dan rencana perjalanan. Dokter dapat membantu mengevaluasi penyebab mendasar dan merekomendasikan penanganan yang lebih spesifik, termasuk obat-obatan atau terapi tertentu.

Memahami kenapa bisa mabuk perjalanan dari sudut pandang konflik sensorik dan faktor risikonya memberikan wawasan penting untuk mengelola kondisi ini. Dengan strategi pencegahan yang tepat dan, jika diperlukan, bantuan medis, pengalaman perjalanan dapat menjadi lebih nyaman. Jika mengalami gejala mabuk perjalanan yang persisten atau sangat mengganggu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter melalui aplikasi Halodoc untuk mendapatkan saran medis yang akurat dan personal.