Ad Placeholder Image

Kenapa Keputihan Berbau Setelah Haid? Ini Jawabannya!

Ditinjau oleh  dr. Fadhli Rizal Makarim   10 April 2026

Kenapa Keputihan Bau Setelah Haid? Ini Penyebabnya!

Kenapa Keputihan Berbau Setelah Haid? Ini Jawabannya!Kenapa Keputihan Berbau Setelah Haid? Ini Jawabannya!

Kenapa Keputihan Setelah Haid Berbau? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Keputihan adalah kondisi alami yang dialami setiap wanita sebagai bagian dari siklus reproduksi. Normalnya, keputihan tidak berbau menyengat, berwarna bening atau sedikit keputihan, dan teksturnya encer hingga kental. Namun, jika keputihan berbau tidak sedap setelah menstruasi, hal ini seringkali menjadi tanda adanya gangguan pada area kewanitaan yang memerlukan perhatian lebih. Bau tidak sedap ini bisa bervariasi, mulai dari bau amis seperti ikan hingga bau busuk, yang dapat disertai perubahan warna dan tekstur keputihan.

Perubahan hormonal setelah menstruasi memang dapat memengaruhi pH vagina, tetapi keputihan yang berbau menyengat biasanya mengindikasikan adanya masalah kesehatan. Memahami penyebabnya sangat penting untuk penanganan yang tepat dan menjaga kesehatan organ intim secara menyeluruh.

Penyebab Keputihan Setelah Haid Berbau

Keputihan yang berbau tidak sedap setelah menstruasi dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Gangguan keseimbangan bakteri di vagina adalah salah satu penyebab paling umum. Selain itu, infeksi atau kebersihan yang kurang terjaga juga bisa memicu kondisi ini.

Berikut adalah penyebab keputihan berbau setelah haid yang perlu diketahui:

  • Bacterial Vaginosis (BV)
    BV terjadi ketika keseimbangan bakteri baik (Lactobacillus) dan bakteri jahat di vagina terganggu. Kondisi ini menyebabkan keputihan berwarna abu-abu atau putih susu dengan bau amis yang khas seperti ikan, terutama setelah berhubungan seksual. Infeksi ini cukup sering terjadi dan bukan termasuk infeksi menular seksual, meskipun aktivitas seksual dapat memicu gejalanya.
  • Infeksi Jamur (Yeast Infection)
    Infeksi jamur, atau kandidiasis vagina, disebabkan oleh pertumbuhan berlebih jamur Candida di vagina. Gejalanya meliputi keputihan putih kental seperti keju cottage, disertai rasa gatal yang parah, kemerahan, dan terkadang nyeri. Meskipun bau bukan gejala utama, dalam beberapa kasus infeksi jamur bisa menimbulkan bau yang sedikit asam atau seperti roti.
  • Infeksi Menular Seksual (IMS)
    Beberapa infeksi menular seksual (IMS) dapat menyebabkan keputihan berbau.

    • Trikomoniasis: Disebabkan oleh parasit, trikomoniasis menghasilkan keputihan berwarna kuning kehijauan, berbusa, dan berbau busuk atau amis yang sangat menyengat. Gejala lain bisa termasuk gatal, nyeri saat buang air kecil, dan ketidaknyamanan saat berhubungan seksual.
    • Gonore dan Klamidia: Meskipun lebih sering tidak bergejala, kedua IMS ini kadang-kadang dapat menyebabkan keputihan yang tidak biasa, termasuk perubahan bau atau warna.
  • Kebersihan Organ Intim yang Kurang Terjaga
    Kebiasaan kebersihan yang tidak tepat dapat mengganggu keseimbangan pH alami vagina. Contohnya, jarang mengganti pakaian dalam, membersihkan vagina dari arah belakang ke depan (yang dapat membawa bakteri dari anus ke vagina), atau penggunaan sabun kewanitaan berparfum kuat dapat memicu pertumbuhan bakteri penyebab bau.
  • Sisa Menstruasi
    Darah menstruasi yang tersisa di vagina, terutama jika bercampur dengan keringat dan bakteri, dapat menimbulkan bau tidak sedap. Hal ini sering terjadi jika pembalut tidak diganti secara teratur atau jika aliran darah menstruasi tergolong ringan di akhir periode. Bau yang muncul biasanya lebih menyerupai bau darah yang stagnan.
  • Perubahan Hormonal
    Fluktuasi hormon setelah menstruasi memang dapat memengaruhi lingkungan vagina. Namun, jika keputihan berbau sangat menyengat dan disertai gejala lain, kemungkinan besar ada faktor lain selain hanya perubahan hormonal biasa.

Gejala Lain yang Menyertai Keputihan Berbau

Selain bau yang tidak sedap, keputihan setelah haid yang tidak normal seringkali disertai gejala lain yang penting untuk diperhatikan:

  • Perubahan warna keputihan (kuning, hijau, abu-abu).
  • Perubahan tekstur keputihan (menggumpal seperti keju, berbusa, atau sangat encer).
  • Rasa gatal atau terbakar di area vagina.
  • Nyeri atau perih saat buang air kecil.
  • Nyeri panggul atau perut bagian bawah.
  • Kemerahan atau bengkak pada labia atau area sekitar vagina.
  • Nyeri atau ketidaknyamanan saat berhubungan seksual.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Penting untuk tidak mengabaikan keputihan berbau tidak sedap, terutama jika disertai gejala lain. Konsultasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan direkomendasikan jika:

  • Bau tidak sedap sangat menyengat, terutama bau amis seperti ikan atau bau busuk.
  • Keputihan berubah warna menjadi kuning, hijau, atau abu-abu.
  • Keputihan memiliki tekstur yang tidak biasa, seperti menggumpal, berbusa, atau sangat encer.
  • Disertai gatal yang parah, perih saat buang air kecil, nyeri panggul, atau bengkak di area intim.
  • Gejala tidak membaik setelah beberapa hari, meskipun sudah menjaga kebersihan.

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan panggul, dan mungkin mengambil sampel cairan vagina untuk dianalisis di laboratorium. Tes ini penting untuk menentukan penyebab pasti keputihan berbau dan memberikan penanganan yang tepat sesuai diagnosis.

Penanganan Mandiri dan Pencegahan Keputihan Berbau

Menjaga kebersihan dan melakukan beberapa langkah pencegahan dapat membantu mengurangi risiko keputihan berbau tidak sedap. Namun, penanganan mandiri tidak akan menyembuhkan infeksi yang mendasari, sehingga konsultasi medis tetap krusial jika gejala menetap atau memburuk.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan:

  • Jaga Kebersihan Organ Intim: Basuh vagina dari arah depan ke belakang setelah buang air kecil dan buang air besar untuk mencegah bakteri dari anus masuk ke vagina. Keringkan area intim dengan handuk bersih atau tisu setelah dicuci.
  • Pilih Pakaian Dalam yang Tepat: Gunakan pakaian dalam berbahan katun yang longgar dan menyerap keringat. Hindari pakaian dalam berbahan sintetis atau terlalu ketat yang dapat memerangkap kelembapan dan panas.
  • Hindari Produk Iritan: Jangan menggunakan sabun kewanitaan berparfum, pantyliner beraroma, atau pembalut beraroma terlalu sering, karena dapat mengganggu keseimbangan pH alami vagina. Hindari juga kebiasaan douching (membilas vagina dengan cairan khusus) karena dapat menghilangkan bakteri baik.
  • Ganti Pembalut Secara Teratur: Selama menstruasi, ganti pembalut atau tampon setiap 4-6 jam sekali untuk mencegah penumpukan bakteri dan darah.
  • Praktikkan Seks yang Aman: Gunakan kondom untuk mencegah penularan IMS. Hindari berhubungan seksual hingga kondisi keputihan membaik atau sampai mendapat persetujuan dari dokter, terutama jika didiagnosis IMS.
  • Cukupi Cairan dan Nutrisi: Minum air putih yang cukup dan konsumsi makanan sehat, termasuk yogurt yang mengandung probiotik, dapat membantu menjaga keseimbangan bakteri dalam tubuh.

Rekomendasi Medis dari Halodoc

Keputihan berbau setelah haid adalah kondisi yang memerlukan perhatian serius. Meskipun beberapa tindakan pencegahan dapat membantu, diagnosis yang tepat dari profesional medis sangat penting, terutama jika gejala memburuk atau tidak kunjung membaik. Jangan menunda untuk mencari bantuan medis untuk menghindari komplikasi yang lebih serius.

Untuk diagnosis dan pengobatan yang akurat, konsultasikan masalah keputihan berbau kepada dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Melalui aplikasi Halodoc, dapat membuat janji dengan dokter ahli, melakukan konsultasi kesehatan, atau mendapatkan resep obat jika diperlukan, semua dari kenyamanan rumah. Halodoc siap menjadi mitra kesehatan yang tepercaya dalam membantu menjaga kesehatan reproduksi.