Ad Placeholder Image

Kepala Bayi Peyang Bisa Normal Kembali Kok, Ini Caranya.

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Kepala Bayi Peyang? Bisa Kembali Normal Kok, Ini Caranya!

Kepala Bayi Peyang Bisa Normal Kembali Kok, Ini Caranya.Kepala Bayi Peyang Bisa Normal Kembali Kok, Ini Caranya.

DAFTAR ISI


Halo, para orang tua! Melihat bentuk kepala bayi yang terlihat tidak rata, datar di satu sisi, atau yang sering kita sebut dengan istilah “kepala peyang”, tentu sering kali memicu rasa cemas dan khawatir. Sebagai orang tua, wajar jika kamu bertanya-tanya apakah kondisi ini berbahaya, apakah bisa kembali bulat sempurna, dan yang paling sering ditanyakan adalah: sampai umur berapa kepala peyang bisa diperbaiki?

Pertama-tama, tarik napas dalam-dalam, karena kamu tidak sendirian. Kepala peyang adalah kondisi yang sangat umum terjadi pada bayi baru lahir hingga usia beberapa bulan. Dalam dunia medis, kondisi ini umumnya dikenal sebagai plagiocephaly posisional. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bayi dilahirkan dengan tulang tengkorak yang masih sangat lunak dan belum menyatu (ubun-ubun masih terbuka). Hal ini merupakan desain alami tubuh manusia agar otak bayi yang berkembang sangat cepat pada tahun pertama kehidupannya memiliki ruang yang cukup untuk bertumbuh, serta untuk mempermudah bayi melewati jalan lahir.

Karena tulang tengkorak bayi masih sangat lunak dan fleksibel, tekanan yang terus-menerus pada satu sisi kepala—misalnya karena bayi selalu tidur terlentang dengan posisi kepala menghadap ke arah yang sama—dapat menyebabkan sisi tersebut menjadi datar. Berita baiknya, kondisi ini sebagian besar bersifat kosmetik. Artinya, kepala peyang tidak memengaruhi perkembangan otak bayi, kecerdasan, maupun fungsi kognitifnya di masa depan.

Meski tidak memengaruhi perkembangan otak, memperbaiki bentuk kepala bayi tetap penting untuk estetika dan simetri wajah saat ia dewasa nanti. Apabila kamu mendapati kepala si kecil tampak peyang, tindakan perbaikan sejak dini adalah kunci utamanya. Mari kita bahas secara mendalam mengenai proses, waktu terbaik, dan berbagai metode yang bisa kamu lakukan untuk mengembalikan bentuk kepala si kecil menjadi bulat dan simetris.

Jenis-Jenis Kepala Peyang pada Bayi

Sebelum membahas kapan dan bagaimana cara memperbaikinya, penting untuk mengetahui bahwa ada dua jenis utama kepala peyang posisional yang sering terjadi pada bayi:

1. Plagiocephaly Posisional

Ini adalah jenis yang paling sering terjadi. Pada kondisi ini, kepala bayi tampak datar di salah satu sisi bagian belakang kepala. Jika dilihat dari atas, kepala bayi akan terlihat asimetris atau berbentuk seperti jajaran genjang. Sering kali, telinga di sisi kepala yang datar akan tampak lebih maju ke depan dibandingkan telinga di sisi sebelahnya. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kebiasaan bayi tidur dengan kepala menoleh ke satu sisi tertentu secara terus-menerus.

2. Brachycephaly Posisional

Berbeda dengan plagiocephaly yang asimetris, brachycephaly terjadi ketika bagian belakang kepala bayi datar secara merata (simetris di tengah). Hal ini membuat kepala bayi tampak lebih lebar dari biasanya bila dilihat dari depan atau belakang, dan terkadang membuat dahi tampak sedikit menonjol ke depan. Kondisi ini paling sering terjadi pada bayi yang menghabiskan sangat banyak waktu dalam posisi terlentang menghadap lurus ke atas.

Penyebab Utama Kepala Bayi Menjadi Peyang

Memahami penyebab kepala peyang akan sangat membantu kamu dalam menentukan langkah pencegahan dan perawatan yang tepat. Berikut adalah beberapa faktor utama pemicunya:

  • Posisi Tidur: Kampanye “Back to Sleep” yang menganjurkan bayi tidur terlentang telah sangat sukses menurunkan angka kejadian Sindrom Kematian Bayi Mendadak (SIDS). Namun, efek samping dari bayi yang selalu tidur terlentang adalah meningkatnya kasus kepala peyang. Bayi cenderung memutar kepalanya ke sisi yang sama saat tidur, sehingga memberikan tekanan konstan pada area tulang tengkorak tersebut.
  • Torticollis: Ini adalah kondisi medis di mana otot leher bayi (otot sternocleidomastoid) di satu sisi lebih pendek atau tegang. Akibatnya, kepala bayi cenderung miring dan berputar ke satu arah tertentu. Bayi dengan torticollis sangat rentan mengalami plagiocephaly karena mereka kesulitan atau merasa tidak nyaman untuk memutar kepala ke sisi yang berlawanan.
  • Kehamilan Kembar: Ruang di dalam rahim ibu sangat terbatas, terutama jika ada lebih dari satu bayi (bayi kembar). Tekanan dari bayi lain atau dari dinding panggul ibu dapat menyebabkan tengkorak bayi sudah peyang sejak sebelum dilahirkan.
  • Kelahiran Prematur: Tulang tengkorak bayi prematur jauh lebih lunak dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan. Selain itu, bayi prematur sering kali harus menghabiskan waktu berminggu-minggu di unit perawatan intensif neonatal (NICU), berbaring dengan posisi yang sama sambil dipasangi berbagai alat medis, sehingga risiko kepala datar menjadi lebih tinggi.

Sampai Umur Berapa Kepala Peyang Bisa Diperbaiki?

Ini adalah pertanyaan paling penting yang sering ditanyakan oleh orang tua. Jawabannya sangat bergantung pada tingkat keparahan dan usia bayi saat intervensi dimulai. Secara medis, batas waktu di mana kepala peyang masih bisa diperbaiki sejalan dengan pertumbuhan otak bayi dan penutupan sutura (celah antar tulang tengkorak).

Usia 0 hingga 6 Bulan: Masa Keemasan (Golden Period)

Ini adalah waktu yang paling optimal untuk memperbaiki kepala peyang secara alami. Pada rentang usia ini, tulang tengkorak bayi masih sangat lunak dan otak berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Cukup dengan mengubah posisi (repositioning), memperbanyak tummy time (tengkurap), dan mengurangi waktu bayi berada di car seat atau bouncy seat, bentuk kepala bayi sering kali dapat membulat dengan sendirinya. Tingkat keberhasilan perbaikan di usia ini sangat tinggi dan sering kali tidak memerlukan alat bantu medis apa pun.

Usia 6 hingga 12 Bulan: Masih Bisa Diperbaiki, Namun Lebih Lambat

Memasuki usia 6 bulan, bayi biasanya sudah mulai bisa berguling dan duduk secara mandiri. Meskipun pertumbuhan otak masih berlangsung pesat, tulang tengkorak mulai mengeras sedikit demi sedikit. Di usia ini, perbaikan melalui perubahan posisi masih bisa terjadi, namun hasilnya mungkin tidak secepat saat bayi berusia di bawah 6 bulan. Jika pada usia 5-6 bulan kondisi peyang cukup parah dan tidak ada perbaikan dengan perubahan posisi, dokter biasanya akan mulai merekomendasikan terapi helm khusus (cranial orthosis).

Usia 12 hingga 18 Bulan: Batas Akhir Intervensi Efektif

Di usia ini, tulang tengkorak bayi sudah semakin keras, dan ubun-ubun mulai menutup dengan rapat. Terapi helm masih bisa dilakukan antara usia 12 hingga 18 bulan, namun koreksi yang didapatkan mungkin tidak sesignifikan jika dibandingkan saat bayi lebih muda. Otak bayi tidak lagi tumbuh secepat tahun pertama, sehingga dorongan alami dari dalam untuk membulatkan tengkorak sudah berkurang.

Di Atas Usia 18 Bulan hingga 2 Tahun: Sangat Sulit Diperbaiki

Setelah bayi menginjak usia 18 bulan hingga 2 tahun, sutura tengkorak telah menyatu dengan kuat dan ubun-ubun telah menutup sempurna. Pada tahap ini, bentuk kepala anak sudah menjadi permanen. Intervensi non-bedah seperti perubahan posisi atau terapi helm sudah tidak lagi efektif. Jika kondisi peyang asimetris sangat parah di usia ini, satu-satunya jalan untuk mengubah bentuk tengkorak adalah melalui operasi bedah rekonstruksi, yang mana sangat jarang dilakukan jika kasusnya hanya murni karena posisi (bukan penyakit kelainan tengkorak).

Kesimpulannya: Jika kamu melihat kepala bayi peyang, segera lakukan tindakan korektif alami sebelum bayi berusia 6 bulan. Jangan menunda dengan harapan “akan bulat sendiri nanti saat sudah besar,” karena semakin bertambah usia, tulang akan semakin keras dan lebih sulit untuk dikoreksi.

Cara Alami Mengatasi Kepala Peyang pada Bayi

Untuk bayi berusia di bawah 6 bulan, tindakan perbaikan posisi (repositioning) adalah langkah penanganan pertama yang direkomendasikan secara medis. Berikut adalah cara-cara yang bisa kamu terapkan setiap hari:

1. Tingkatkan Waktu Tummy Time (Tengkurap)

Tummy time sangat krusial. Ketika bayi tengkurap, tidak ada tekanan sama sekali di bagian belakang kepalanya. Selain itu, posisi tengkurap juga memperkuat otot leher, bahu, dan lengan, yang akan mempersiapkan bayi untuk merangkak dan duduk. Lakukan tummy time hanya saat bayi dalam keadaan bangun dan selalu di bawah pengawasan penuh.

Tips Tummy Time yang Efektif dan Menyenangkan
  1. Mulailah secara perlahan: Lakukan 2-3 kali sehari selama 3-5 menit setiap sesinya, lalu tingkatkan durasinya seiring dengan kenyamanan bayi.
  2. Gunakan cermin atau mainan: Letakkan mainan berwarna cerah atau cermin khusus bayi di depannya untuk menarik perhatian agar ia mau mengangkat kepalanya.
  3. Ikut berbaring bersamanya: Bayi sangat suka melihat wajah orang tuanya. Berbaringlah berhadapan dengannya agar ia merasa aman dan terhibur.
  4. Lakukan di dada kamu: Jika bayi tidak suka tengkurap di lantai, cobalah membaringkannya di dada atau perutmu sambil bersandar.

2. Ubah Arah Tidur dan Posisi Kepala

Bayi tetap harus ditidurkan dalam posisi terlentang untuk mencegah SIDS. Namun, kamu bisa mengubah posisi kepalanya saat ia sedang tidur. Jika bayi terbiasa tidur menghadap ke kanan (di mana sisi kanan kepalanya yang datar), putarlah kepalanya secara perlahan ke arah kiri setelah ia tertidur pulas. Selain itu, ubahlah posisi bayi di boks tidurnya setiap hari (misalnya, kepala di ujung utara hari ini, besok kepala di ujung selatan). Karena bayi secara naluriah akan menoleh ke arah sumber cahaya atau pintu kamar, mengubah posisinya di boks tidur akan memaksanya memutar kepala ke arah yang berbeda.

3. Minimalkan Penggunaan Car Seat, Bouncer, dan Stroller

Terlalu lama membiarkan bayi berbaring di car seat, bouncer, atau stroller (kereta dorong) dapat memperburuk kondisi kepala peyang karena alat-alat ini memiliki permukaan yang keras dan membatasi pergerakan kepala bayi. Gunakan car seat hanya untuk perjalanan di dalam mobil. Saat di rumah, lebih baik gendong bayi atau biarkan ia bermain di atas matras datar.

4. Ganti Sisi Saat Menyusui dan Menggendong

Apakah kamu selalu menyusui dari payudara kiri lebih lama, atau selalu memegang botol susu dengan tangan kanan? Hal ini membuat kepala bayi selalu bersandar pada posisi yang sama. Biasakanlah untuk menyusui atau memberikan botol susu dari kedua sisi secara bergantian. Begitu juga saat kamu menggendong si kecil, gantilah posisi lengan penopang (antara kiri dan kanan) secara rutin.

Penggunaan Terapi Helm (Cranial Orthosis)

Apabila usia bayi sudah mencapai 5-6 bulan dan metode perbaikan posisi tidak membuahkan hasil yang memuaskan, dokter spesialis anak atau dokter bedah saraf anak biasanya akan merekomendasikan terapi helm. Terapi ini menggunakan helm cetak khusus (cranial orthosis) yang dibuat pas dengan ukuran dan bentuk tengkorak bayi.

Helm ini bekerja dengan cara memberikan sedikit tekanan pada area tengkorak yang menonjol, dan memberikan ruang kosong (ongga) di area tengkorak yang datar. Seiring dengan pertumbuhan otak bayi, otak akan mendorong tulang tengkorak mengisi ruang kosong di dalam helm tersebut, sehingga kepala kembali menjadi bulat. Helm ini ringan, terbuat dari bahan khusus agar bayi tidak kepanasan, dan dirancang agar tidak menyakiti bayi.

Terapi helm biasanya harus dipakai oleh bayi selama 23 jam sehari (hanya dilepas saat mandi) selama beberapa bulan (rata-rata 3 hingga 6 bulan), tergantung pada tingkat keparahan plagiocephaly dan usia dimulainya terapi. Biaya untuk terapi ini terbilang cukup mahal dan memerlukan kontrol rutin yang disiplin ke dokter orthosis untuk menyesuaikan ukuran helm setiap beberapa minggu.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Walaupun kepala peyang posisional tidak berbahaya, penting untuk memastikan bahwa bentuk kepala asimetris bayi bukanlah tanda dari kondisi medis yang lebih serius yang disebut Craniosynostosis.

Craniosynostosis adalah kelainan bawaan di mana satu atau lebih sutura (celah sambungan tulang tengkorak bayi) menutup terlalu dini. Karena tulang tengkorak tidak bisa memuai secara merata, otak yang tumbuh akan memaksa bagian tengkorak lain untuk menonjol, sehingga bentuk kepala menjadi sangat aneh dan tidak proporsional. Berbeda dengan plagiocephaly yang hanya masalah kosmetik, craniosynostosis dapat menekan otak, membatasi pertumbuhannya, dan berisiko menyebabkan gangguan perkembangan jika tidak ditangani dengan pembedahan.

Jika kamu melihat bentuk kepala bayi semakin tidak simetris, terasa ada tonjolan keras di sepanjang tulang tengkoraknya, atau bayi kesulitan memutar lehernya, segera jadwalkan konsultasi ke dokter spesialis anak di Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang akurat. Selain itu, jika kamu membutuhkan vitamin, suplemen, perlengkapan higienitas, atau perawatan bayi lainnya, kamu bisa beli produk kesehatan bayi secara online di Halodoc tanpa harus repot keluar rumah.

Studi Terkait Kepala Peyang pada Bayi

Pediatrics (Jurnal Akademi Dokter Anak Amerika) menerbitkan studi komprehensif mengenai efektivitas terapi konservatif versus terapi helm. Studi tersebut mengkonfirmasi bahwa edukasi posisi (repositioning) dan fisioterapi merupakan langkah lini pertama yang paling efektif untuk bayi di bawah usia 6 bulan dengan deformitas tengkorak ringan hingga sedang.

Studi ini menyoroti bahwa terapi helm (cranial orthosis) lebih superior dalam memperbaiki asimetri tengkorak secara signifikan untuk kasus plagiocephaly derajat berat, terutama jika terapi dimulai pada rentang usia 5 hingga 6 bulan. Intervensi yang terlambat, terutama di atas 12 bulan, menunjukkan tingkat keberhasilan perbaikan yang menurun drastis karena sutura kranial sudah mulai berfusi.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
American Academy of Pediatrics (AAP). Diakses pada 2024. Positional Skull Deformities.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Positional plagiocephaly.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Flat Head Syndrome (Plagiocephaly).
National Health Service (NHS UK). Diakses pada 2024. Plagiocephaly and brachycephaly (flat head syndrome).
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2024. Positional Plagiocephaly.

FAQ

1. Sampai umur berapa kepala peyang bisa diperbaiki secara optimal?

Masa paling optimal untuk memperbaiki kepala peyang adalah sebelum bayi berusia 6 bulan melalui perubahan posisi alami. Perbaikan dengan terapi helm masih bisa dilakukan antara usia 6 hingga 18 bulan. Setelah usia 18 bulan hingga 2 tahun, tulang tengkorak bayi sudah mengeras dan menyatu sehingga bentuk kepala akan menjadi permanen dan sangat sulit untuk diubah.

2. Apakah posisi tidur menyamping atau tengkurap disarankan agar kepala tidak peyang?

Untuk tidur malam atau tidur siang, bayi HARUS tetap ditidurkan dengan posisi terlentang untuk menghindari risiko Kematian Bayi Mendadak (SIDS), meskipun kepala peyang. Posisi tengkurap (tummy time) atau menyamping hanya boleh dilakukan saat bayi sedang bangun, aktif bermain, dan dalam pengawasan penuh orang dewasa.

3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam terapi helm bayi?

Durasi terapi helm bervariasi tergantung pada usia bayi dan tingkat keparahan kepala peyang, namun rata-rata memakan waktu sekitar 3 hingga 6 bulan. Selama masa terapi tersebut, helm khusus harus dipakai oleh bayi selama 23 jam dalam sehari dan hanya dilepas saat memandikan bayi.

4. Apakah kondisi kepala peyang pada bayi akan memengaruhi kecerdasan atau otaknya?

Tidak. Plagiocephaly atau kepala peyang karena posisi tidur murni merupakan masalah kosmetik eksternal yang memengaruhi bentuk luar tengkorak. Kondisi ini tidak memberikan tekanan pada jaringan otak dan sama sekali tidak berdampak negatif pada pertumbuhan otak, kecerdasan, maupun fungsi kognitif anak di masa depan.