Ad Placeholder Image

Kepala Bayi Peyang? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

5 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   22 Juni 2026

Meski bikin khawatir, kasus kepala peyang tidak memengaruhi perkembangan otak bayi.

Kepala Bayi Peyang? Ini Penyebab dan Cara MengatasinyaKepala Bayi Peyang? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

DAFTAR ISI


Anatomi Kepala Bayi dan Kondisi Peyang

Saat menatap bayi yang baru lahir, kamu mungkin menyadari bahwa bentuk kepalanya tidak selalu bulat sempurna. Kondisi ini sangat wajar terjadi. Secara anatomis, tengkorak bayi baru lahir belum menyatu dengan sempurna. Tulang-tulang tengkoraknya masih terpisah oleh celah jaringan lunak yang disebut sutura, serta memiliki area lunak di bagian atas dan belakang kepala yang dikenal sebagai ubun-ubun (fontanel).

Struktur kepala yang fleksibel ini memiliki dua fungsi medis yang sangat vital. Pertama, memungkinkan kepala bayi menyesuaikan bentuknya saat melewati jalan lahir yang sempit (proses pencetakan atau molding). Kedua, memberikan ruang yang cukup bagi otak bayi untuk tumbuh dan berkembang dengan sangat pesat selama tahun pertama kehidupannya. Namun, karena tulang tengkorak bayi masih sangat lunak dan mudah dibentuk (malleable), tekanan konstan pada satu area kepala dapat menyebabkan perubahan bentuk menjadi asimetris atau datar. Kondisi inilah yang sering disebut oleh masyarakat umum sebagai kepala peyang.

Dalam dunia medis, kepala bayi peyang yang disebabkan oleh tekanan eksternal disebut sebagai Positional Plagiocephaly (plagiocefali posisional) atau Deformational Plagiocephaly. Selain itu, ada juga kondisi Brachycephaly, di mana bagian belakang kepala bayi menjadi datar sepenuhnya sehingga kepala tampak lebih lebar dari biasanya. Penting untuk kamu pahami bahwa plagiocefali posisional murni merupakan masalah kosmetik dan bentuk fisik tengkorak, serta sama sekali tidak memengaruhi perkembangan otak, kecerdasan, atau kemampuan kognitif si Kecil di masa depan.

Meskipun tidak berbahaya bagi perkembangan otak, menjaga bentuk kepala bayi tetap proporsional adalah langkah pencegahan yang baik agar struktur wajahnya juga tumbuh secara simetris. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui cara yang tepat agar kepala bayi tidak peyang sejak dini. Lantas, apa saja langkah-langkah yang bisa dilakukan? Mari kita bahas secara mendalam.

Berbagai Penyebab Kepala Bayi Peyang

Sebelum mengetahui cara mengatasinya, kamu perlu memahami faktor-faktor apa saja yang bisa menyebabkan kepala bayi menjadi peyang. Plagiocefali umumnya terjadi akibat kombinasi beberapa faktor berikut ini:

1. Posisi Tidur Terlentang Terus-menerus

Sejak tahun 1990-an, kampanye medis global menyarankan agar bayi selalu ditidurkan dalam posisi terlentang (Back to Sleep) untuk mencegah Sindrom Kematian Bayi Mendadak (SIDS). Hal ini sangat efektif menurunkan angka kematian bayi, namun efek sampingnya adalah peningkatan kasus kepala datar karena bagian belakang kepala bayi terus-menerus mendapat tekanan dari kasur. Terutama pada bayi usia 0-4 bulan yang belum bisa berguling sendiri.

2. Tortikolis (Torticollis)

Tortikolis adalah kondisi di mana otot leher bayi (otot sternokleidomastoid) di satu sisi lebih kaku atau pendek dibandingkan sisi lainnya. Hal ini membuat kepala bayi cenderung miring dan menoleh ke satu arah saja secara konsisten. Akibatnya, saat bayi tidur terlentang, hanya satu sisi kepalanya saja yang menyentuh kasur, sehingga menyebabkan area tersebut menjadi datar.

3. Kondisi Prematuritas

Bayi yang lahir prematur memiliki tulang tengkorak yang jauh lebih lunak dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan. Selain itu, bayi prematur sering kali harus menghabiskan waktu berminggu-minggu di unit perawatan intensif neonatal (NICU), berbaring di inkubator dengan posisi kepala yang jarang diubah karena terpasang alat medis. Ini membuat mereka lebih rentan mengalami kepala peyang.

4. Keterbatasan Ruang di Dalam Rahim

Kepala peyang bahkan bisa terjadi sebelum bayi dilahirkan. Jika ruang di dalam rahim ibu sempit—misalnya karena kehamilan kembar (gemelli), bayi berukuran besar (makrosomia), ibu memiliki panggul kecil, atau cairan ketuban yang terlalu sedikit (oligohidramnion)—tengkorak bayi bisa tertekan oleh dinding rahim atau tulang panggul ibu, sehingga ia terlahir dengan bentuk kepala yang asimetris.

Tanda dan Gejala Kepala Peyang

Sebagai orang tua, kamu bisa melakukan observasi mandiri di rumah untuk mendeteksi tanda-tanda plagiocefali. Waktu terbaik untuk memeriksanya adalah saat bayi selesai mandi atau saat rambutnya dalam keadaan basah, karena bentuk tengkorak akan terlihat lebih jelas.

Berikut adalah beberapa tanda khas kepala bayi peyang:

  • Dilihat dari atas (Bird’s-eye view): Kepala bayi mungkin terlihat berbentuk seperti jajaran genjang (paralelogram) bukan bulat oval. Satu sisi belakang kepala tampak datar, sementara sisi depannya (dahi) pada sisi yang sama tampak sedikit lebih menonjol (bossing).
  • Posisi Telinga: Telinga pada sisi kepala yang datar mungkin tampak terdorong lebih ke depan dibandingkan telinga di sisi sebelahnya. Jika kamu melihat dari atas, posisi telinga terlihat tidak sejajar.
  • Area Botak: Terdapat area rambut yang rontok atau botak (bald spot) di salah satu sisi belakang kepala karena area tersebut yang paling sering bergesekan dengan kasur.
  • Asimetri Wajah: Pada kasus yang lebih parah, mata atau pipi pada sisi kepala yang datar mungkin terlihat sedikit lebih besar atau menonjol.
Penting untuk Diingat: Deteksi Dini
  1. Selalu periksa bentuk kepala bayi dari berbagai sudut, terutama dari atas kepalanya.
  2. Perhatikan apakah bayi memiliki preferensi kuat menoleh ke kanan atau ke kiri saja saat tidur maupun saat digendong.
  3. Plagiocefali posisional murni memengaruhi tengkorak bagian luar dan tidak menekan jaringan otak di dalamnya.

Cara Agar Kepala Bayi Tidak Peyang

Kabar baiknya, tengkorak bayi sangat responsif terhadap perubahan tekanan, terutama pada 6 bulan pertama kehidupannya. Berikut adalah langkah-langkah medis dan praktis yang bisa kamu terapkan sebagai cara agar kepala bayi tidak peyang:

1. Lakukan Tummy Time secara Rutin

Tummy time atau waktu tengkurap adalah kunci utama untuk mencegah dan mengatasi kepala peyang. Saat tengkurap, bagian belakang kepala bayi terbebas dari tekanan. Selain itu, tummy time sangat penting untuk melatih kekuatan otot leher, bahu, dan punggung bayi, yang nantinya dibutuhkan untuk berguling, duduk, dan merangkak.

Kamu bisa memulai tummy time sejak bayi baru lahir (setelah tali pusar puput). Mulailah dengan menengkurapkan bayi di atas dadamu. Setelah ia agak besar, lakukan di atas karpet bersih atau matras main. Lakukan selama 3-5 menit, beberapa kali sehari, dan perlahan tingkatkan durasinya menjadi 30-60 menit total dalam sehari. Pastikan tummy time selalu dilakukan saat bayi bangun dan dalam pengawasan penuh.

2. Ubah Posisi Tidur (Repositioning)

Meskipun bayi wajib ditidurkan terlentang demi mencegah SIDS, kamu tetap bisa mengatur posisi kepalanya. Setiap kali menidurkan si Kecil, ubahlah arah kepalanya. Jika hari ini kepalanya menoleh ke kanan, besok putar kepalanya dengan lembut ke arah kiri. Bayi cenderung suka melihat ke arah luar boks bayi atau ke arah datangnya cahaya di kamar. Kamu juga bisa mengubah posisi menaruh bayi di tempat tidur (kepala di atas, kaki di bawah, lalu dibalik pada hari berikutnya) agar ia terstimulasi menoleh ke arah yang berbeda tanpa menyadarinya.

3. Kurangi Waktu di Bouncer dan Car Seat

Terlalu lama membiarkan bayi tertidur atau duduk di dalam kursi ayun (bouncer), stroller, atau car seat akan memberikan tekanan konstan pada bagian belakang kepalanya karena permukaan alat-alat tersebut cenderung keras dan tidak memberikan ruang gerak bagi kepala bayi. Pindahkan segera bayi ke kasur yang permukaannya datar jika ia tertidur. Alternatif yang lebih baik adalah dengan menggendong bayi (babywearing) menggunakan wrap atau gendongan ergonomis, karena membebaskan kepalanya dari tekanan benda padat.

4. Variasikan Posisi Saat Menyusui

Bagi ibu yang menyusui secara langsung (Direct Breastfeeding/DBF), posisi kepala bayi secara alami akan bergantian saat berpindah dari payudara kanan ke kiri. Namun, jika kamu memberikan susu botol, pastikan kamu juga memindahkan bayi ke lengan kiri dan kanan secara bergantian pada setiap jadwal menyusu. Hal ini memastikan tidak hanya satu sisi kepala yang terus-menerus bertumpu pada lenganmu.

5. Stimulasi dengan Mainan Berwarna Kontras

Jika bayi memiliki sisi kepala datar di sebelah kanan karena ia selalu menoleh ke kanan, letakkan mainan visual yang menarik (warna kontras atau mainan berbunyi) di sebelah kirinya saat ia sedang berbaring atau bermain. Ini akan memancingnya untuk secara aktif memutar kepala ke sisi kiri, meregangkan otot lehernya yang mungkin kaku, dan membebaskan area kanan dari tekanan.

Selain memperhatikan cara di atas, menjaga nutrisi harian ibu dan bayi juga tidak kalah penting untuk mengoptimalkan pertumbuhan tulang bayi. Kamu dapat beli produk kesehatan ibu dan anak seperti suplemen kalsium dan vitamin D sesuai petunjuk dokter dengan mudah dan praktis kapan saja.

Terapi Medis untuk Kepala Peyang

Pada sebagian besar kasus, reposisi dan tummy time cukup untuk mengembalikan bentuk kepala bayi menjadi normal. Namun, jika kondisi peyang cukup parah atau tidak membaik hingga usia 6 bulan, dokter mungkin akan menyarankan terapi medis lanjutan:

1. Fisioterapi untuk Tortikolis

Jika penyebab utama kepala peyang adalah tortikolis (otot leher kaku), dokter akan merujuk bayi ke fisioterapis anak. Terapis akan mengajarkan teknik peregangan otot leher yang aman dan efektif untuk dilakukan di rumah. Tujuannya adalah untuk melenturkan otot yang memendek sehingga bayi bisa menoleh ke kedua sisi dengan rentang gerak (range of motion) yang maksimal.

2. Terapi Helm (Cranial Remolding Orthosis)

Jika bentuk kepala asimetris tergolong sedang hingga berat, dokter spesialis mungkin akan meresepkan terapi helm atau pita kepala (doc band). Helm khusus ini dibuat secara khusus (custom-made) sesuai cetakan kepala bayi. Helm ini tidak menekan kepala secara kuat, melainkan memberikan sedikit tekanan di area yang menonjol dan membiarkan area yang datar kosong, sehingga saat otak dan tulang tengkorak bayi tumbuh, ia akan mengisi ruang kosong tersebut dan menjadi bulat.

Terapi helm paling efektif dilakukan saat tulang tengkorak bayi masih sangat aktif tumbuh dan belum menyatu kuat, yaitu antara usia 4 hingga 8 bulan. Pemakaian helm ini sangat intens, biasanya 23 jam sehari selama beberapa bulan.

Mitos dan Bahaya Bantal Anti Peyang

Banyak orang tua yang tergiur membeli “bantal anti peyang” berbentuk donat dengan lubang di tengahnya. Namun, dari segi medis, penggunaan bantal jenis apa pun untuk bayi di bawah usia 1 tahun sangat tidak dianjurkan. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah mengeluarkan peringatan keras agar orang tua tidak menggunakan bantal pencegah bentuk kepala datar.

Bantal pada tempat tidur bayi meningkatkan risiko asfiksia (kekurangan oksigen) dan SIDS karena bantal bisa secara tidak sengaja menutupi hidung dan mulut bayi saat kepalanya berguling atau bergerak. Bayi tidur paling aman hanya beralaskan seprai pas yang ketat di atas kasur bayi yang padat dan rata, tanpa bantal, selimut tebal, atau boneka di sekitarnya.

Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun plagiocefali posisional tidak berbahaya bagi otak, ada kondisi medis langka yang gejalanya mirip dengan kepala peyang, yaitu Kraniosinostosis. Kraniosinostosis adalah cacat lahir di mana satu atau lebih sutura (celah tulang tengkorak) bayi menutup secara prematur sebelum otak selesai berkembang. Karena otak terus tumbuh, hal ini memaksa tengkorak tumbuh di area yang belum menutup, menciptakan bentuk kepala yang sangat tidak normal, dan dapat menekan jaringan otak.

Berbeda dengan plagiocefali yang bisa diatasi dengan posisi, kraniosinostosis sering kali membutuhkan pembedahan untuk membuka jahitan tulang tengkorak demi memberikan ruang pada otak. Jika kepala bayi tidak menunjukkan perbaikan setelah kamu rutin melakukan reposisi, atau jika kamu merasa ubun-ubun bayi tampak keras dan tidak ada cekungan normal, sebaiknya segera konsultasi dengan dokter spesialis anak untuk mendapatkan pemeriksaan fisik dan diagnosis pencitraan (seperti X-ray atau CT Scan) yang akurat.

Studi Terkait

Jurnal Pediatrics yang dirilis oleh American Academy of Pediatrics menerbitkan studi klinis yang membandingkan keefektifan terapi helm dan reposisi aktif (seperti tummy time dan fisioterapi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk kasus plagiocefali posisional ringan hingga sedang, intervensi fisik berupa reposisi dan fisioterapi sudah sangat efektif mengembalikan bentuk kepala dalam rentang usia 0-6 bulan.

Namun, untuk kasus deformitas yang parah, terapi helm menunjukkan tingkat perbaikan yang jauh lebih signifikan dan lebih cepat bila diinisiasi pada “jendela emas” yakni sebelum bayi berusia 6 bulan. Studi ini menegaskan betapa pentingnya deteksi dini oleh orang tua agar dapat mengambil langkah konservatif seawal mungkin sebelum tulang mulai mengeras.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


Referensi:
American Academy of Pediatrics (AAP). Diakses pada 2024. Positional Plagiocephaly.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Baby’s head shape: What’s normal?
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Plagiocephaly (Flat Head Syndrome).
U.S. Food and Drug Administration (FDA). Diakses pada 2024. Do Not Use Infant Head Shaping Pillows to Prevent or Treat Flat Head Syndrome.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Cranial Remolding Orthoses for the Treatment of Positional Plagiocephaly.

FAQ

1. Apakah kepala bayi peyang bisa bulat kembali secara otomatis seiring bertambahnya usia?

Pada sebagian besar kasus ringan, bentuk kepala bayi akan mengalami perbaikan signifikan dengan sendirinya ketika bayi mulai bisa berguling, duduk, dan menghabiskan lebih sedikit waktu berbaring terlentang (biasanya setelah usia 6 bulan). Namun, perubahan ini tidak selalu “otomatis”, orang tua tetap harus memberikan stimulasi seperti tummy time untuk mempercepat perbaikannya.

2. Apakah mengelus atau memijat kepala bayi secara rutin bisa memperbaiki kepala peyang?

Tidak. Memijat, mengelus, atau “mencetak” kepala bayi dengan tangan tidak memiliki bukti medis dapat mengubah struktur tulang tengkorak bayi yang peyang. Perubahan bentuk tengkorak hanya bisa dicapai melalui penghilangan tekanan pada area yang datar (reposisi) atau menggunakan terapi helm ortosis.

3. Mengapa dokter melarang penggunaan bantal anti peyang untuk bayi?

Bantal anti peyang dilarang digunakan di tempat tidur bayi yang berusia di bawah 1 tahun karena meningkatkan risiko tercekik dan mati mendadak (SIDS). Bayi belum memiliki kontrol leher yang kuat. Jika ia berguling dan wajahnya terbenam ke bantal, ia tidak akan bisa mengangkat kepalanya dan bisa mengalami kekurangan oksigen fatal.

4. Sampai umur berapa terapi untuk memperbaiki kepala bayi peyang masih efektif dilakukan?

Langkah intervensi fisik dan terapi helm paling efektif dilakukan sebelum bayi berusia 6-8 bulan karena tulang tengkorak masih tumbuh dengan cepat dan terpisah. Setelah usia 12 hingga 14 bulan, sutura (celah tengkorak) mulai saling mengunci dan tengkorak menjadi keras, sehingga modifikasi bentuk melalui helm akan sangat sulit atau tidak lagi memberikan perubahan yang berarti.