Ad Placeholder Image

Keputihan Laki Laki: Kapan Harus ke Dokter? Ini Jawabnya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Keputihan Laki Laki: Normal atau Perlu Waspada?

Keputihan Laki Laki: Kapan Harus ke Dokter? Ini JawabnyaKeputihan Laki Laki: Kapan Harus ke Dokter? Ini Jawabnya

DAFTAR ISI


Istilah “keputihan” selama ini sangat identik dengan kondisi kesehatan reproduksi wanita. Namun, tahukah kamu bahwa laki-laki juga bisa mengalami kondisi serupa? Secara medis, keluarnya cairan abnormal dari penis pada pria disebut sebagai urethral discharge. Berbeda dengan wanita yang memiliki keputihan normal (fisiologis), keluarnya cairan dari saluran kencing pria hampir selalu menandakan adanya masalah kesehatan atau infeksi tertentu.

Kondisi ini sering kali menimbulkan rasa panik dan tidak nyaman. Cairan yang keluar bisa bervariasi warnanya, mulai dari bening, putih susu, kekuningan, hingga kehijauan. Munculnya cairan ini biasanya dibarengi dengan rasa perih saat buang air kecil atau gatal di area lubang penis. Memahami penyebabnya adalah langkah awal yang sangat krusial untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

Penting bagi setiap pria untuk tidak mengabaikan gejala ini atau mencoba mengobatinya sendiri dengan antibiotik sembarangan. Karena sebagian besar kasus keputihan pada pria berkaitan dengan Infeksi Menular Seksual (IMS), penanganan medis yang profesional sangat diperlukan untuk memutus rantai penularan dan memastikan kesembuhan total.

Nah, jika kamu mengalami keluhan ini, sangat disarankan untuk segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan diagnosis yang akurat. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai kondisi keputihan pada laki-laki.

Apa Itu Keputihan pada Laki-Laki?

Keputihan pada laki-laki bukanlah kondisi yang umum dan normal. Cairan yang keluar dari uretra (saluran kencing) di luar cairan urine atau air mani (ejakulasi) disebut sebagai duh tubuh uretra. Secara anatomis, uretra pria berfungsi sebagai saluran untuk urine dan sperma. Ketika terjadi peradangan pada lapisan uretra (uretritis), tubuh akan memproduksi cairan sebagai respon terhadap infeksi atau iritasi tersebut.

Karakteristik cairan ini bisa menjadi petunjuk awal mengenai penyebabnya. Cairan yang kental dan berwarna kuning kehijauan sering dikaitkan dengan infeksi bakteri tertentu, sementara cairan yang lebih encer dan bening mungkin disebabkan oleh jenis infeksi lain atau iritasi non-infeksi. Terlepas dari warnanya, kemunculan cairan ini harus selalu dianggap sebagai sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada sistem urogenital kamu.

Penyebab Utama Keluarnya Cairan dari Penis

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seorang pria mengalami keluar cairan abnormal dari alat kelaminnya. Berikut adalah penyebab yang paling umum ditemukan dalam praktik medis:

1. Gonore (Kencing Nanah)

Gonore adalah salah satu penyebab paling sering dari keputihan pria. Infeksi ini disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae yang menular melalui hubungan seksual. Gejala khasnya adalah keluarnya cairan kental berwarna kuning atau hijau dari ujung penis, yang sering disertai rasa nyeri yang hebat seperti terbakar saat buang air kecil.

2. Klamidia (Uretritis Non-Gonokokal)

Infeksi klamidia disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Berbeda dengan gonore, cairan yang keluar akibat klamidia biasanya cenderung lebih encer, berwarna putih bening atau sedikit keruh. Seringkali gejalanya lebih ringan sehingga banyak pria yang tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi, namun tetap bisa menularkannya ke pasangan.

3. Trikomoniasis

Penyakit ini disebabkan oleh parasit mikroskopis bernama Trichomonas vaginalis. Meskipun lebih sering menyerang wanita, pria juga bisa terinfeksi. Gejalanya pada pria meliputi iritasi di dalam penis, keluar cairan tipis, dan rasa sakit setelah ejakulasi atau buang air kecil.

4. Uretritis Non-Spesifik

Kondisi ini terjadi ketika uretra mengalami peradangan tetapi bukan disebabkan oleh gonore atau klamidia. Faktor pemicunya bisa berupa iritasi kimia dari sabun, penggunaan kateter, atau infeksi bakteri lain yang masuk ke saluran kencing.

Faktor Risiko Keputihan pada Pria
  1. Melakukan hubungan seksual tanpa pengaman (kondom).
  2. Memiliki lebih dari satu pasangan seksual.
  3. Riwayat pernah terkena infeksi menular seksual sebelumnya.
  4. Kurangnya menjaga kebersihan area genital.

Gejala yang Menyertai Keputihan Pria

Selain keluarnya cairan, pria yang mengalami masalah ini biasanya akan merasakan beberapa gejala pendukung lainnya, seperti:

  • Disuria: Rasa nyeri, perih, atau panas seperti terbakar saat sedang buang air kecil.
  • Gatal di Ujung Penis: Sensasi gatal atau geli yang terus-menerus di area lubang kencing (meatus).
  • Kemerahan dan Bengkak: Ujung penis atau lubang uretra tampak memerah dan sedikit membengkak.
  • Nyeri pada Testis: Dalam beberapa kasus, infeksi dapat menyebar ke testis atau epididimis, menyebabkan rasa nyeri dan pembengkakan di area skrotum.
  • Frekuensi Kencing Meningkat: Merasa ingin buang air kecil lebih sering dari biasanya.

Kapan Harus ke Dokter?

Karena keputihan pada pria bukan hal yang normal, kamu sebaiknya segera menemui tenaga medis begitu melihat adanya cairan asing yang keluar dari penis. Jangan menunggu sampai gejala bertambah parah atau muncul rasa nyeri yang hebat. Diagnosis dini sangat penting untuk mencegah komplikasi seperti prostatitis (peradangan kelenjar prostat) atau bahkan kemandulan di masa depan.

Jika kamu merasa ragu atau malu untuk memeriksakan diri secara langsung, kamu bisa memulai dengan konsultasi ke dokter Halodoc. Dokter akan menanyakan riwayat gejala dan memberikan arahan mengenai tes laboratorium apa yang perlu kamu jalani untuk memastikan penyebab infeksinya.

Cara Mendiagnosis dan Menangani

Dokter biasanya akan melakukan beberapa prosedur diagnosis untuk menentukan penyebab pasti dari keputihan tersebut:

1. Pemeriksaan Fisik

Dokter akan memeriksa area genital untuk melihat adanya luka, ruam, atau pembengkakan, serta melihat karakteristik cairan yang keluar.

2. Tes Swab Uretra

Mengambil sampel cairan dari ujung penis menggunakan alat usap kecil (swab) untuk diperiksa di bawah mikroskop atau melalui tes PCR guna mendeteksi bakteri gonore, klamidia, atau parasit.

3. Tes Urin

Sampel urin juga bisa digunakan untuk mendeteksi adanya leukosit (sel darah putih) yang menandakan infeksi, serta mendeteksi DNA bakteri penyebab IMS.

Setelah diagnosis tegak, dokter akan meresepkan pengobatan yang sesuai. Jika penyebabnya adalah bakteri, dokter akan memberikan antibiotik dosis tertentu. Penting untuk diingat bahwa pasangan seksual kamu juga harus diperiksa dan diobati meskipun mereka tidak memiliki gejala, guna mencegah fenomena “ping-pong” atau infeksi berulang.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan seperti keluarnya cairan asing atau rasa nyeri saat kencing, tapi bingung harus melakukan apa? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Studi Mengenai Kesehatan Urogenital Pria

Journal of Clinical Medicine menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa uretritis pada pria, baik yang disebabkan oleh gonore maupun non-gonokokal, jika tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang seperti striktur uretra (penyempitan saluran kencing).

Penelitian tersebut menekankan pentingnya penggunaan metode diagnosis yang sensitif seperti NAAT (Nucleic Acid Amplification Test) untuk mendeteksi patogen penyebab keputihan pria secara akurat. Hal ini dikarenakan pengobatan yang tidak tepat sasaran akibat diagnosis yang salah dapat memicu resistensi antibiotik yang saat ini menjadi tantangan global dalam dunia medis.

Jika kamu memerlukan produk kesehatan pendukung seperti vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh selama masa pemulihan, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan diantar langsung ke rumah kamu tanpa perlu keluar rumah.

Ingat, kesehatan reproduksi adalah investasi jangka panjang. Jangan ragu untuk mencari bantuan medis profesional demi masa depan yang lebih sehat.

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2026. Urethritis in Men.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Gonorrhea – Symptoms and Causes.
NHS UK. Diakses pada 2026. Non-specific urethritis.
Healthline. Diakses pada 2026. Everything You Need to Know About Urethritis.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Chlamydia in Men.

FAQ

1. Apakah keputihan pada pria bisa sembuh sendiri?

Sangat jarang keputihan pria (uretritis) sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan, terutama jika penyebabnya adalah infeksi bakteri atau parasit. Tanpa antibiotik yang tepat, infeksi bisa menyebar ke organ reproduksi lainnya dan menyebabkan komplikasi serius.

2. Apakah cairan pra-ejakulasi termasuk keputihan?

Tidak. Cairan pra-ejakulasi (precum) adalah cairan bening dan licin yang keluar saat pria terangsang secara seksual. Ini adalah kondisi normal. Keputihan yang tidak normal biasanya keluar tanpa rangsangan seksual dan sering disertai gejala lain seperti nyeri.

3. Bisakah pria menularkan keputihan ke pasangannya?

Ya, sangat bisa. Jika penyebabnya adalah infeksi menular seksual (seperti gonore atau klamidia), bakteri tersebut akan berpindah ke pasangan saat melakukan hubungan seksual tanpa pelindung. Oleh karena itu, kedua pasangan harus diobati secara bersamaan.

4. Berapa lama proses penyembuhan keputihan pada pria?

Dengan pengobatan antibiotik yang tepat, gejala biasanya akan membaik dalam waktu 2-3 hari. Namun, kamu harus menyelesaikan seluruh dosis obat yang diberikan dokter dan tidak berhubungan seks sampai pengobatan dinyatakan selesai sepenuhnya.