• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kesalahan dalam Mendidik Anak yang Bisa Sebabkan Trauma
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kesalahan dalam Mendidik Anak yang Bisa Sebabkan Trauma

Kesalahan dalam Mendidik Anak yang Bisa Sebabkan Trauma

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 03 November 2022

“Kesalahan mendidik anak seperti memukul dan memaki bisa memicu trauma pada anak. Sebab, tindakan tersebut bisa membekas di otaknya sampai dewasa.”

Kesalahan dalam Mendidik Anak yang Bisa Sebabkan TraumaKesalahan dalam Mendidik Anak yang Bisa Sebabkan Trauma

Halodoc, Jakarta – Setiap orang tua punya caranya masing-masing dalam mendidik anak. Namun, ada beberapa tindakan yang tanpa disadari bisa menimbulkan trauma. Anak kemudian bisa mengingat kenangan-kenangan negatif tersebut hingga dewasa bahkan memengaruhi perilakunya di masa mendatang. 

Penelitian yang dipublikasikan pada National Child Traumatic Stress Network, menunjukkan kalau sebagian besar orang dewasa yang mengidap PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) memiliki pengalaman traumatis saat kecil.

Pasalnya, selama masa kanak-kanak, otak sedang membangun pondasinya untuk menopang neuron-neuron baru. Ketika masa-masa keemasan ini diisi oleh banyak memori negatif, rasa takut dan perasaan diabaikan, hal tersebut akan terus membekas di otaknya hingga memengaruhi kondisi mentalnya.

Kesalahan Mendidik Anak yang Memicu Trauma

Nah, berikut contoh kesalahan mendidik anak yang bisa menimbulkan trauma:

1. Memukul dan memaki anak

Seringkali, orang tua sampai tersulut emosi karena sulit mendisiplinkan anak. Akibat amarah yang tak terbendung, tanpa sadar orang tua melayangkan tamparan dan pukulan pada anak. 

Selain fisik, umpatan dan makian juga bisa terlontar saat emosi tidak terkendali. Tak hanya menimbulkan rasa takut, tindakan tersebut tentu saja bisa menimbulkan trauma fisik dan psikis pada anak. 

2. Memarahi anak di depan banyak orang

Sering memarahi atau membentak anak di depan umum nyatanya bisa menimbulkan trauma dan berdampak pada perkembangan emosionalnya. Sebab, tindakan ini membuatnya merasa dipermalukan dan direndahkan. Akibatnya, dia menjadi kurang percaya diri dan enggan pergi keluar karena takut dimarahi. Hal ini tentu bisa memengaruhi kemampuan bersosialisasinya di masa mendatang.

3. Membanding-bandingkan anak

Sebagian besar orang tua suka membanding-bandingkan anak dengan dalih memberi contoh yang baik atau memotivasi anak. Namun, anak yang masih terlalu kecil belum bisa memahami arti dari ucapan orang tua.

Justru, perilaku membanding-bandingkan membuatnya tidak pernah dihargai. Apabila terjadi secara terus menerus, Si Kecil bisa stres, penurunan harga diri, sampai mengalami social anxiety

4. Gengsi untuk meminta maaf

Orang tua seringkali menganggap dirinya selalu benar dan anak harus menuruti setiap kemauan mereka. Padahal, orang tua juga manusia yang tak luput dari kesalahan. Sayangnya, tidak semua orang tua bersedia meminta maaf kepada anak. 

Alih-alih meminta maaf, anak justru dimarahi ketika mencoba mengoreksi kesalahan orang tua. Hal ini bisa membuat anak takut mengutarakan pendapat maupun perasaannya di kemudian hari. Akibatnya, anak menjadi tertutup, kurang percaya diri atau bahkan mengikuti jejak orang tua, yaitu gengsi untuk meminta maaf. 

5. Tidak memberi contoh yang baik

Pepatah mengatakan anak adalah cerminan orangtua. Sudah sepatutnya orang tua berisaha memberikan contok yang baik dan menjadi teladan bagi Si Kecil. Misalnya, jika ayah dan ibu ingin dipatuhi dan didengar oleh anak, beri perhatian sepenuh hati pada Si Kecil.

Sebaliknya, jika perilaku orang tua kasar, tidak peduli dan kurang perhatian, tidak menutup kemungkinan anak akan mencontohnya. Trauma yang membekas pada dirinya akan membentuk pribadi yang berperilaku negatif. 

Punya keluhan kesehatan? Segera periksakan diri ke dokter untuk mendapat diagnosis yang tepat. Kalau kamu berencana mengunjungi rumah sakit, buat janji rumah sakit melalui aplikasi Halodoc supaya lebih mudah dan praktis. Jangan tunda untuk memeriksakan diri sebelum kondisinya semakin memburuk. Download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
National Library of Medicine. Diakses pada 2022. The Relationship between Post-Traumatic Symptoms, Parenting Style, and Resilience among Adolescents in Liaoning, China: A Cross-Sectional Study.
International Society for Traumatic Stress Studies. Diakses pada 2022. Childhood Trauma.