Ad Placeholder Image

Ketahui Bahaya Suntik untuk Membentuk Otot pada Pria

3 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   17 Juni 2026

“Memiliki otot tentunya dapat meningkatkan rasa percaya diri pria. Namun, hindari prosedur suntik otot pria karena ini dapat memicu dampak yang membahayakan kesehatan, seperti penurunan kualitas sperma hingga kerontokan rambut.”

Ketahui Bahaya Suntik untuk Membentuk Otot pada PriaKetahui Bahaya Suntik untuk Membentuk Otot pada Pria

DAFTAR ISI


Peradangan pada sendi, otot, maupun jaringan tubuh lainnya sering kali menimbulkan rasa nyeri yang tidak tertahankan dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Dalam dunia medis, salah satu solusi yang sering direkomendasikan oleh dokter untuk mengatasi peradangan hebat ini adalah pemberian obat golongan kortikosteroid melalui injeksi atau suntikan.

Namun, di tengah masyarakat, istilah ini kerap disalahpahami. Banyak orang mengaitkannya dengan obat anabolik yang digunakan secara ilegal oleh binaragawan untuk memperbesar massa otot secara instan. Padahal, secara farmakologi, kedua jenis obat ini sangatlah berbeda baik dari segi kandungan, cara kerja, maupun indikasi medisnya. Penggunaan yang tidak tepat sasaran justru dapat membawa malapetaka bagi kesehatan organ tubuh bagian dalam.

Sebagai tindakan medis yang tergolong invasif, prosedur ini tidak boleh dilakukan sembarangan. Dokter biasanya akan mempertimbangkan rasio manfaat dan risiko sebelum menyarankan tindakan ini kepada pasien. Prosedur ini umumnya menjadi pilihan ketika pengobatan oral (obat minum) tidak lagi memberikan respon yang memadai atau ketika peradangan terjadi secara lokal di area tertentu, seperti pada satu sendi lutut atau bahu.

Jika kamu memiliki keluhan nyeri sendi kronis dan dokter menyarankan prosedur suntik steroid, ada baiknya kamu memahami secara mendalam mengenai manfaat, prosedur, serta risiko efek samping yang mungkin timbul. Nah, mau tahu penjelasan medis selengkapnya mengenai tindakan ini? Berikut ulasan lengkapnya!

Memahami Apa Itu Suntik Steroid

Kortikosteroid adalah obat sintetis (buatan manusia) yang dirancang sedemikian rupa hingga menyerupai hormon kortisol, yaitu hormon alami yang diproduksi oleh kelenjar adrenal dalam tubuh manusia. Hormon ini memiliki peran vital dalam merespons stres, mengatur metabolisme, dan yang paling utama, menekan sistem kekebalan tubuh untuk mengurangi peradangan.

Tindakan pemberian kortikosteroid melalui jarum suntik langsung ke area tubuh yang meradang disebut dengan injeksi intra-artikular (jika disuntikkan ke dalam sendi), injeksi intra-lesi (ke dalam kulit), atau injeksi intramuskular (ke dalam otot). Berbeda dengan obat minum yang harus melewati sistem pencernaan dan didistribusikan ke seluruh tubuh, metode suntikan memungkinkan obat bekerja langsung di titik pusat rasa sakit dan peradangan. Hal ini membuat obat bekerja jauh lebih cepat dan lebih kuat dengan dosis sistemik yang lebih rendah.

Obat yang paling sering digunakan dalam prosedur ini antara lain hydrocortisone, triamcinolone, methylprednisolone, dan dexamethasone. Sering kali, dokter juga mencampurkan obat bius lokal (seperti lidocaine atau bupivacaine) ke dalam spuit suntikan untuk memberikan pereda nyeri instan selama beberapa jam pertama setelah tindakan dilakukan.

Indikasi Medis Penggunaan

Dalam praktik klinis, prosedur injeksi ini bukan ditujukan untuk menyembuhkan penyakit secara total, melainkan untuk mengendalikan gejala peradangan akut sehingga pasien dapat kembali bergerak bebas dan menjalani fisioterapi. Berikut adalah beberapa kondisi medis yang umum ditangani dengan terapi ini:

1. Osteoarthritis (Pengapuran Sendi)

Osteoarthritis terjadi ketika tulang rawan yang melindungi ujung tulang mulai terkikis akibat penuaan atau cedera. Gesekan antar tulang ini memicu peradangan, pembengkakan, dan nyeri hebat, paling sering terjadi di lutut, pinggul, atau tulang belakang. Suntikan ke dalam sendi lutut dapat mengurangi peradangan pada cairan sinovial dan memberikan pereda nyeri yang dapat bertahan selama beberapa minggu hingga beberapa bulan.

2. Rheumatoid Arthritis (Rematik)

Berbeda dengan pengapuran, rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh justru menyerang lapisan sendinya sendiri (sinovium). Pada kondisi kambuh akut (flare-up) yang mengenai satu atau dua sendi tertentu, injeksi kortikosteroid lokal sangat efektif untuk segera mematikan respon peradangan dan mencegah kerusakan sendi lebih lanjut sebelum obat autoimun sistemik mulai bekerja maksimal.

3. Bursitis dan Tendinitis

Bursitis adalah peradangan pada bursa (kantung berisi cairan pelumas sendi), sedangkan tendinitis adalah peradangan pada tendon (jaringan penghubung otot ke tulang). Kondisi ini sering menyerang bahu (rotator cuff), siku (tennis elbow), atau tumit. Obat yang disuntikkan langsung di sekitar selubung tendon atau bursa akan meredakan pembengkakan dengan cepat, mengembalikan rentang gerak sendi pasien yang sebelumnya kaku.

4. Carpal Tunnel Syndrome dan Trigger Finger

Kondisi di mana saraf medianus di pergelangan tangan terjepit (carpal tunnel syndrome) atau tendon jari tersangkut (trigger finger) dapat membaik secara signifikan dengan injeksi. Kortikosteroid akan menyusutkan pembengkakan jaringan di sekitar saraf atau tendon, sehingga membebaskan jalur saraf dan menghilangkan rasa kesemutan, kebas, dan nyeri pada tangan.

Perhatian Khusus: Beda Steroid Medis dan Anabolik
  1. Kortikosteroid (Medis): Digunakan untuk meredakan inflamasi/peradangan dan menekan imun. Tidak membesarkan otot. Contoh: Dexamethasone.
  2. Anabolik (Sering disalahgunakan): Turunan hormon testosteron sintetik untuk merangsang pertumbuhan otot. Ilegal digunakan tanpa indikasi medis (seperti defisiensi hormon) dan berbahaya bagi jantung dan hati.
  3. Status Hukum: Menggunakan injeksi anabolik di gym untuk tujuan kosmetik adalah penyalahgunaan obat keras yang berisiko fatal.

Efek Samping dan Risiko Bahaya

Meski sangat bermanfaat, injeksi ini dikategorikan sebagai tindakan dengan profil risiko yang harus diawasi ketat. Mengulangi prosedur ini terlalu sering pada satu sendi yang sama dapat membawa efek yang merugikan. Biasanya, dokter membatasi pemberian maksimal 3 hingga 4 kali setahun pada sendi yang sama.

1. Efek Samping Jangka Pendek

Setelah disuntik, beberapa pasien mungkin mengalami steroid flare, yaitu peningkatan rasa sakit sementara di area suntikan karena obat mengkristal sebelum diserap tubuh. Kondisi ini biasanya mereda dalam 48 jam dengan kompres es. Selain itu, obat ini dapat memicu kenaikan kadar gula darah secara drastis, sehingga pasien diabetes wajib memantau gula darahnya dengan ketat selama beberapa hari pasca tindakan. Efek jangka pendek lainnya meliputi wajah memerah (facial flushing) dan insomnia.

2. Risiko Komplikasi Jangka Panjang

Penggunaan berulang dapat menekan produksi kolagen dan sel-sel tulang rawan. Efek jangka panjang yang ditakutkan meliputi atrofi (penipisan) kulit di sekitar area suntikan, hilangnya pigmen kulit (hipopigmentasi), robeknya tendon (ruptur tendon) jika disuntikkan langsung ke dalam tendon, hingga osteonekrosis (kematian jaringan tulang akibat hilangnya suplai darah). Selain itu, sistem imun lokal yang ditekan meningkatkan risiko infeksi sendi (septic arthritis).

Perawatan Setelah Tindakan

Keberhasilan terapi tidak hanya bergantung pada obat, tetapi juga kepatuhan pasien setelah tindakan. Agar hasilnya optimal dan terhindar dari komplikasi, kamu disarankan untuk mengistirahatkan sendi yang disuntik selama 24 hingga 48 jam pertama. Hindari mengangkat beban berat atau berolahraga intens. Jika timbul rasa nyeri ringan, kompres menggunakan es batu yang dibalut handuk selama 15 menit sangat direkomendasikan, jangan gunakan kompres panas pada area tersebut.

Studi Mengenai Suntik Steroid

Journal of the American Medical Association (JAMA) menerbitkan studi klinis pada tahun 2017 yang menjelaskan bahwa pasien osteoarthritis lutut yang menerima injeksi kortikosteroid intra-artikular setiap 3 bulan selama dua tahun justru mengalami kehilangan volume tulang rawan yang lebih signifikan dibandingkan pasien yang menerima injeksi cairan saline (plasebo).

Studi ini menekankan kembali pentingnya pembatasan frekuensi injeksi. Meskipun obat ini sangat baik untuk mengatasi rasa nyeri akut secara temporer, penggunaan jangka panjang secara berulang tanpa diimbangi dengan penurunan berat badan dan fisioterapi justru dapat mempercepat kerusakan struktural pada sendi lutut pasien.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Cortisone shots.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Corticosteroid Injections.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Musculoskeletal Health and Treatments.
National Institutes of Health (NIH) – PubMed. Diakses pada 2026. Effect of Intra-articular Triamcinolone vs Saline on Knee Cartilage Volume and Pain in Patients With Knee Osteoarthritis: A Randomized Clinical Trial.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Penatalaksanaan Medis pada Pasien Osteoarthritis.

FAQ

1. Berapa lama efek suntik steroid dapat bertahan?

Durasi efektivitas sangat bervariasi antar individu dan bergantung pada keparahan peradangan. Umumnya, efek pereda nyeri dari suntikan ini dapat bertahan mulai dari beberapa minggu hingga enam bulan. Fisioterapi setelah peradangan mereda akan membantu memperpanjang durasi efek bebas nyeri ini.

2. Apakah tindakan ini terasa sakit?

Pasien akan merasakan sedikit rasa seperti cubitan atau tekanan saat jarum masuk, namun sebagian besar dokter mencampurkan obat bius lokal (lidocaine) bersama dengan kortikosteroid. Hal ini membuat area suntikan akan terasa mati rasa segera setelah obat disuntikkan, sehingga meminimalisir rasa sakit selama proses berlangsung.

3. Apakah aman bagi ibu hamil atau menyusui?

Meskipun diberikan secara lokal (tidak disuntikkan ke pembuluh darah), sebagian kecil obat dapat masuk ke aliran darah dan berpotensi melewati plasenta atau masuk ke dalam ASI. Oleh karena itu, penggunaannya pada ibu hamil dan menyusui harus sangat dibatasi dan hanya dilakukan jika manfaat medisnya jauh melebihi risiko potensial pada janin. Selalu konsultasikan dengan dokter kandungan terlebih dahulu.

4. Apa yang harus dihindari setelah menerima suntikan?

Pasien diwajibkan untuk tidak membebani sendi yang baru disuntik (misalnya, menghindari lari, melompat, atau mengangkat beban) setidaknya selama 48 jam. Selain itu, pasien tidak dianjurkan menggunakan kompres panas pada area suntikan, karena panas dapat memperlebar pembuluh darah dan mempercepat penyerapan obat ke sistemik tubuh, sehingga mengurangi efek lokal pada sendi.