Ad Placeholder Image

Kisah Afifarma: Dari Obat Umum ke Kasus Gagal Ginjal

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   30 April 2026

Afifarma: Memahami Perusahaan Farmasi dan Kasusnya

Kisah Afifarma: Dari Obat Umum ke Kasus Gagal GinjalKisah Afifarma: Dari Obat Umum ke Kasus Gagal Ginjal

Apa Itu Afifarma dan Kasus Gagal Ginjal Akut?

PT Afi Farma Pharmaceutical Industries, atau dikenal sebagai Afifarma, adalah perusahaan farmasi asal Indonesia yang didirikan pada tahun 1985 di Kediri. Selama bertahun-tahun, Afifarma dikenal sebagai produsen obat-obatan umum yang banyak digunakan masyarakat, termasuk Paracetamol dalam bentuk tablet dan sirup, serta berbagai jenis vitamin seperti Vitamin C dan B Complex. Fokus perusahaan adalah menyediakan produk farmasi umum, produk konsumen, dan obat herbal yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan.

Namun, nama Afifarma menjadi sorotan publik pada tahun 2022 akibat kasus gagal ginjal akut pada anak-anak. Produk sirup yang diproduksi oleh Afifarma terbukti mengandung cemaran Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) melebihi batas aman. Insiden ini memiliki dampak serius terhadap kesehatan masyarakat dan menimbulkan konsekuensi hukum yang signifikan bagi perusahaan.

Profil dan Produk Unggulan Afifarma Sebelum Kasus

Sebelum kontroversi besar tahun 2022, Afifarma berperan dalam industri farmasi nasional dengan lini produk yang beragam. Perusahaan ini memproduksi obat-obatan esensial yang mudah diakses oleh konsumen.

  • Paracetamol: Tersedia dalam bentuk tablet dan sirup, Paracetamol adalah obat pereda demam dan nyeri yang sangat umum.
  • Vitamin: Afifarma juga memproduksi berbagai suplemen vitamin, seperti Vitamin C dan B Complex, yang penting untuk menjaga daya tahan tubuh dan fungsi organ.
  • Fokus Produk: Perusahaan menargetkan pasar obat-obatan umum dan konsumen, termasuk beberapa produk herbal, untuk memenuhi kebutuhan kesehatan harian masyarakat.

Dengan rekam jejak yang cukup panjang sejak tahun 1985, Afifarma telah membangun kehadirannya di pasar obat-obatan Indonesia.

Kronologi Kasus Gagal Ginjal Akut dan Dampak Terhadap Afifarma

Kasus gagal ginjal akut pada tahun 2022 menjadi titik balik krusial bagi Afifarma. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan bahwa beberapa produk sirup parasetamol dari Afifarma mengandung Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) dalam kadar yang sangat tinggi, jauh melebihi ambang batas aman yang diizinkan.

Menanggapi temuan tersebut, BPOM segera mengambil tindakan tegas. Perusahaan diperintahkan untuk menghentikan seluruh proses produksi produk terkait dan melakukan pemusnahan stok yang terkontaminasi. Bersamaan dengan itu, Bareskrim Polri menetapkan Afifarma sebagai tersangka dalam kasus ini, menyusul serangkaian penyelidikan mendalam dan penggeledahan gudang.

Dampak langsung dari kasus ini sangat parah. Afifarma menghentikan operasi di fasilitas produksinya di Kediri dan menghadapi berbagai tuntutan hukum. Sebagai pembelaan, pihak perusahaan menyatakan telah mengandalkan Sertifikat Analisis (CoA) dari pemasok bahan baku dan mengklaim bahwa saat itu tidak ada perusahaan farmasi lain yang secara spesifik menguji cemaran EG/DEG.

Pengadilan kemudian menjatuhkan vonis kepada beberapa petinggi perusahaan yang terlibat dalam kasus ini. Akibatnya, Afifarma mengalami kerugian signifikan dan produk-produknya yang tercemar dimusnahkan. Nama perusahaan kini erat dikaitkan dengan skandal gagal ginjal akut dan pencemaran obat.

Memahami Pentingnya Keamanan Obat Pasca Kasus Afifarma

Kasus Afifarma menjadi pengingat penting akan urgensi keamanan obat dan kehati-hatian dalam memilih produk kesehatan. Cemaran seperti Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) adalah zat kimia beracun yang tidak boleh ada dalam formulasi obat, terutama obat sirup, karena dapat menyebabkan kerusakan organ vital, termasuk ginjal, hingga berakibat fatal.

Masyarakat perlu memahami bahwa setiap obat yang beredar harus melalui pengawasan ketat dari otoritas seperti BPOM. Proses registrasi dan peredaran obat memastikan bahwa produk tersebut aman, bermutu, dan bermanfaat sesuai standar yang ditetapkan.

Untuk memastikan keamanan obat yang dikonsumsi, beberapa langkah praktis dapat dilakukan:

  • Periksa Izin Edar BPOM: Selalu pastikan produk obat memiliki nomor izin edar dari BPOM yang valid. Informasi ini biasanya tertera pada kemasan produk.
  • Beli Obat dari Sumber Terpercaya: Dapatkan obat hanya dari apotek, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan yang memiliki izin resmi.
  • Perhatikan Tanggal Kedaluwarsa: Jangan mengonsumsi obat yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa.
  • Baca Label dengan Seksama: Pahami informasi dosis, cara penggunaan, dan peringatan yang tertera pada kemasan atau brosur obat.
  • Laporkan Jika Ada Kecurigaan: Apabila menemukan produk obat yang mencurigakan atau mengalami efek samping tidak biasa, segera laporkan kepada tenaga kesehatan atau BPOM.

Kesimpulan: Rekomendasi Medis Praktis untuk Memastikan Keamanan Obat

Kasus Afifarma menyoroti betapa krusialnya kepatuhan terhadap standar keamanan dalam produksi obat-obatan. Sebagai konsumen, sangat penting untuk selalu waspada dan proaktif dalam memilih produk kesehatan.

Rekomendasi medis praktis yang dapat diterapkan untuk memastikan keamanan obat meliputi pemeriksaan detail terhadap kemasan obat, termasuk keberadaan nomor izin edar BPOM dan tanggal kedaluwarsa. Prioritaskan pembelian obat dari distributor resmi atau apotek yang terpercaya untuk menghindari produk palsu atau tidak standar. Apabila terdapat keraguan tentang keamanan suatu produk obat atau mengalami efek samping, segera konsultasikan dengan dokter atau apoteker. Informasi akurat mengenai obat dan kesehatan dapat diakses melalui platform kesehatan terpercaya.