Ad Placeholder Image

Kucing Bisa Terkena Rabies! Ya, Waspadai Gejalanya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   08 Mei 2026

Ya, Kucing Bisa Terkena Rabies: Waspada Penularannya

Kucing Bisa Terkena Rabies! Ya, Waspadai GejalanyaKucing Bisa Terkena Rabies! Ya, Waspadai Gejalanya

Apakah Kucing Bisa Terkena Rabies? Kenali Bahaya dan Pencegahannya

Kucing, seperti mamalia lainnya, dapat terinfeksi rabies dan berpotensi menularkannya ke manusia atau hewan lain. Rabies adalah penyakit virus mematikan yang menyerang sistem saraf pusat, menyebabkan gejala neurologis parah dan berujung pada kematian jika tidak ditangani dengan tepat setelah pajanan.

Meskipun anjing lebih sering menjadi sumber penularan rabies, kasus pada kucing tetap menjadi ancaman serius. Penting untuk memahami bagaimana kucing dapat terinfeksi, gejala yang ditunjukkannya, serta langkah-langkah pencegahan yang efektif demi keselamatan bersama.

Definisi Rabies pada Kucing

Rabies merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus dari genus Lyssavirus. Virus ini terutama menyerang otak dan sumsum tulang belakang. Kucing dapat terinfeksi rabies melalui gigitan atau cakaran dari hewan lain yang sudah terinfeksi, seperti kelelawar, rakun, rubah, atau hewan liar lainnya.

Setelah virus masuk ke tubuh kucing, ia akan bergerak melalui saraf menuju otak. Masa inkubasi, yaitu waktu dari pajanan hingga munculnya gejala, dapat bervariasi dari beberapa hari hingga beberapa bulan, tergantung pada lokasi gigitan dan jumlah virus yang masuk.

Gejala Rabies pada Kucing yang Perlu Diwaspadai

Gejala rabies pada kucing sering kali tidak spesifik pada awalnya, namun akan berkembang menjadi lebih parah seiring dengan progresi penyakit. Pemilik kucing perlu mengenali tanda-tanda berikut:

  • Perubahan Perilaku Mendadak: Kucing yang biasanya jinak bisa menjadi agresif dan mudah terkejut, atau sebaliknya, kucing yang biasanya aktif menjadi penyendiri dan lesu.
  • Peningkatan Agresivitas: Menyerang tanpa provokasi, menggigit atau mencakar benda mati, atau menunjukkan rasa takut yang tidak wajar.
  • Peningkatan Air Liur: Produksi air liur berlebihan yang sering disebut mulut berbusa atau hipersalivasi. Kucing mungkin kesulitan menelan.
  • Perubahan Suara: Meong atau suara khas kucing bisa berubah menjadi serak atau tidak normal.
  • Kesulitan Menelan: Karena kelumpuhan otot tenggorokan, kucing mungkin tidak bisa makan atau minum.
  • Kejang dan Tremor: Gerakan tak terkendali atau gemetar pada tubuh.
  • Kelumpuhan Progresif: Dimulai dari kaki belakang dan menyebar ke seluruh tubuh, menyebabkan koordinasi buruk dan kesulitan berjalan.
  • Fotofobia dan Hidrofobia: Ketakutan terhadap cahaya dan air, meskipun hidrofobia lebih jarang terlihat jelas pada kucing dibandingkan anjing.
  • Kematian: Tanpa pengobatan, rabies selalu berakibat fatal dalam beberapa hari setelah munculnya gejala klinis.

Bagaimana Kucing Terkena Rabies?

Penularan rabies pada kucing terjadi ketika virus masuk ke dalam tubuhnya, paling sering melalui air liur hewan terinfeksi yang masuk ke luka terbuka. Gigitan atau cakaran dari hewan penderita rabies adalah rute penularan utama. Virus tidak dapat menembus kulit yang utuh.

Kucing yang berkeliaran di luar rumah memiliki risiko lebih tinggi terpapar hewan liar yang berpotensi membawa virus rabies. Interaksi dengan kelelawar, rubah, atau hewan pengerat liar yang terinfeksi juga merupakan jalur penularan yang signifikan.

Risiko Penularan Rabies dari Kucing ke Manusia

Rabies adalah penyakit zoonosis, artinya dapat menular dari hewan ke manusia. Jika kucing peliharaan terinfeksi rabies, ada risiko tinggi penularan kepada pemilik atau orang lain yang berinteraksi dengannya. Penularan ke manusia juga terjadi melalui gigitan atau cakaran yang menggores kulit.

Apabila seseorang digigit atau dicakar oleh kucing yang diduga rabies, penanganan medis segera sangat penting. Pencucian luka yang menyeluruh dan pemberian vaksin anti-rabies serta serum imunoglobulin dapat mencegah perkembangan penyakit pada manusia.

Langkah Pencegahan Rabies pada Kucing

Pencegahan adalah kunci utama untuk melindungi kucing dan lingkungan dari rabies. Berikut adalah beberapa langkah penting yang dapat dilakukan:

  • Vaksinasi Rutin: Vaksinasi anti-rabies adalah cara paling efektif untuk melindungi kucing. Kucing harus divaksinasi sesuai jadwal yang direkomendasikan dokter hewan dan mendapatkan dosis booster secara berkala.
  • Batasi Kontak dengan Hewan Liar: Jaga kucing tetap di dalam rumah atau awasi saat berada di luar untuk mencegah kontak dengan hewan liar yang berpotensi membawa rabies.
  • Sterilisasi atau Kastrasi: Mengurangi populasi kucing liar atau kucing peliharaan yang tidak terkontrol dapat membantu mengendalikan penyebaran penyakit.
  • Laporkan Hewan Mencurigakan: Segera laporkan kepada pihak berwenang jika melihat hewan liar atau peliharaan yang menunjukkan gejala rabies.

Penanganan Jika Kucing Diduga Terinfeksi Rabies

Jika kucing menunjukkan gejala yang dicurigai rabies, sangat penting untuk segera menghubungi dokter hewan tanpa mencoba menangani kucing secara langsung. Dokter hewan akan memberikan saran mengenai isolasi kucing dan tindakan lebih lanjut yang perlu dilakukan sesuai protokol kesehatan hewan.

Karena rabies adalah penyakit mematikan tanpa pengobatan efektif setelah gejala muncul, diagnosis dini dan penanganan preventif setelah pajanan sangat krusial.

Kewaspadaan dan langkah pencegahan proaktif sangat penting untuk melindungi kucing dari rabies. Jika memiliki kekhawatiran mengenai kesehatan kucing atau paparan rabies, segera konsultasikan dengan dokter hewan melalui aplikasi Halodoc untuk mendapatkan saran dan penanganan medis yang tepat.