Ad Placeholder Image

Kuning pada Mata Bayi: Kapan Normal & Kapan Bahaya?

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   13 Mei 2026

Kuning pada Mata Bayi: Kapan Normal dan Kapan ke Dokter

Kuning pada Mata Bayi: Kapan Normal & Kapan Bahaya?Kuning pada Mata Bayi: Kapan Normal & Kapan Bahaya?

Mata Bayi Kuning: Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

Kuning pada mata bayi, atau yang dikenal dengan istilah medis ikterus neonatorum atau jaundice, adalah kondisi umum yang sering terjadi pada bayi baru lahir. Kondisi ini muncul karena penumpukan bilirubin, yaitu pigmen kuning yang dihasilkan dari pemecahan sel darah merah. Hati bayi yang baru lahir belum sepenuhnya matang untuk memproses bilirubin dengan cepat, sehingga pigmen ini menumpuk di dalam tubuh dan menyebabkan kulit serta mata bayi terlihat kuning.

Sebagian besar kasus mata bayi kuning bersifat normal dan akan menghilang dengan sendirinya dalam waktu 1-2 minggu. Namun, penting untuk tetap waspada dan mengenali tanda-tanda kuning yang parah, karena bisa jadi ini merupakan gejala dari kondisi medis lain yang memerlukan penanganan dokter. Pemahaman yang tepat tentang kondisi ini dapat membantu orang tua mengambil langkah yang benar untuk kesehatan si kecil.

Apa itu Kuning pada Mata Bayi (Jaundice Neonatal)?

Kuning pada mata bayi merupakan manifestasi dari peningkatan kadar bilirubin dalam darah. Bilirubin adalah zat berwarna kuning yang terbentuk ketika sel darah merah lama dipecah.

Pada bayi baru lahir, hati masih dalam tahap perkembangan dan belum efisien dalam memproses serta membuang bilirubin dari tubuh. Akibatnya, bilirubin menumpuk dan menyebabkan perubahan warna kulit serta bagian putih mata menjadi kuning.

Kondisi ini sering disebut sebagai ikterus fisiologis, yang umumnya tidak berbahaya dan akan membaik seiring dengan kematangan fungsi hati bayi.

Gejala Kuning pada Mata Bayi yang Perlu Diwaspadai

Meskipun seringkali normal, ada beberapa gejala kuning pada bayi yang memerlukan perhatian medis segera. Orang tua perlu waspada jika menemukan tanda-tanda berikut pada bayinya:

  • Warna kuning menyebar hingga ke telapak tangan dan telapak kaki bayi.
  • Bayi tampak sangat lesu atau sulit dibangunkan.
  • Bayi tidak mau menyusu atau mengalami kesulitan makan.
  • Kuning berlangsung lebih dari 2 minggu.
  • Urine bayi berwarna gelap atau fesesnya berwarna pucat.
  • Bayi mengalami demam atau rewel yang tidak biasa.

Gejala-gejala ini bisa mengindikasikan adanya infeksi, gangguan hati, atau masalah kesehatan lain yang membutuhkan evaluasi dan penanganan dokter.

Penyebab Kuning pada Mata Bayi

Kuning pada mata bayi dapat disebabkan oleh beberapa faktor, baik yang bersifat fisiologis (normal) maupun patologis (membutuhkan penanganan medis).

Penyebab Fisiologis (Normal)

Kuning fisiologis adalah jenis yang paling umum dan terjadi pada sebagian besar bayi baru lahir. Ini disebabkan oleh hati bayi yang belum matang sepenuhnya untuk mengolah bilirubin dengan cepat. Selain itu, bayi baru lahir memiliki lebih banyak sel darah merah yang diproduksi dan dipecah lebih cepat dibandingkan orang dewasa, sehingga menghasilkan lebih banyak bilirubin.

Penyebab Patologis (Membutuhkan Penanganan Medis)

Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan kuning yang lebih parah atau persisten, di antaranya:

  • Ketidakcocokan Golongan Darah. Jika golongan darah ibu dan bayi tidak cocok (misalnya, ibu Rh negatif dan bayi Rh positif), tubuh ibu dapat menghasilkan antibodi yang menyerang sel darah merah bayi.
  • ASI (Air Susu Ibu). Pada beberapa bayi, komponen dalam ASI dapat memengaruhi cara hati memecah bilirubin, menyebabkan kuning yang bertahan lebih lama.
  • Kelahiran Prematur. Bayi yang lahir prematur memiliki hati yang bahkan lebih belum matang, sehingga lebih rentan mengalami kuning.
  • Infeksi. Infeksi tertentu, seperti sepsis atau infeksi saluran kemih, dapat meningkatkan kadar bilirubin.
  • Masalah Hati atau Saluran Empedu. Kondisi seperti atresia bilier (saluran empedu tersumbat) dapat menghambat pembuangan bilirubin.
  • Defisiensi Enzim. Kondisi genetik tertentu, seperti defisiensi G6PD, dapat menyebabkan sel darah merah pecah lebih cepat.

Penanganan Kuning pada Mata Bayi

Penanganan kuning pada mata bayi bervariasi tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Untuk kasus kuning fisiologis, beberapa langkah sederhana dapat membantu:

  • Sering Menyusui. Memberikan ASI atau susu formula lebih sering (8-12 kali sehari) akan membantu bayi buang air besar lebih sering. Proses buang air besar ini penting untuk mengeluarkan bilirubin dari tubuh.
  • Memastikan Bayi Cukup Cairan. Asupan cairan yang memadai membantu metabolisme dan ekskresi bilirubin.

Jika kadar bilirubin sangat tinggi atau kuning disebabkan oleh kondisi patologis, penanganan medis mungkin diperlukan:

  • Fototerapi. Ini adalah metode umum yang melibatkan paparan cahaya biru khusus pada kulit bayi. Cahaya ini membantu mengubah bilirubin menjadi bentuk yang lebih mudah dibuang oleh tubuh melalui urine dan feses.
  • Transfusi Tukar. Dalam kasus yang sangat jarang dan parah, ketika fototerapi tidak efektif, transfusi tukar darah mungkin diperlukan untuk mengganti darah bayi dengan darah baru, sehingga mengurangi kadar bilirubin secara cepat.

Pencegahan Kuning pada Mata Bayi

Beberapa langkah dapat membantu mengurangi risiko kuning parah pada bayi:

  • Menyusui Sejak Dini dan Teratur. Memulai menyusui segera setelah lahir dan melanjutkannya secara teratur memastikan bayi mendapatkan nutrisi dan cairan yang cukup, serta membantu mengeluarkan mekonium (feses pertama bayi) yang mengandung bilirubin.
  • Pemeriksaan Kehamilan Rutin. Melakukan pemeriksaan prenatal secara teratur dapat membantu mendeteksi potensi masalah yang dapat menyebabkan kuning parah, seperti ketidakcocokan golongan darah.

Kapan Harus ke Dokter?

Penting bagi orang tua untuk selalu berkonsultasi dengan dokter atau fasilitas kesehatan jika ada kekhawatiran mengenai kuning pada bayi. Segera cari pertolongan medis jika kuning menyebar, bayi tampak sakit, tidak mau menyusu, atau kuning berlangsung lebih dari 2 minggu.

Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik, tes darah untuk mengukur kadar bilirubin, dan menentukan penyebab serta penanganan yang tepat. Penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius yang mungkin timbul akibat kadar bilirubin tinggi yang tidak tertangani.