Ad Placeholder Image

Kwashiorkor dan Marasmus: Beda Penyebab, Sama Bahaya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   07 Mei 2026

Kwashiorkor dan Marasmus: Yuk Kenali Beda Gejalanya

Kwashiorkor dan Marasmus: Beda Penyebab, Sama BahayaKwashiorkor dan Marasmus: Beda Penyebab, Sama Bahaya

Mengenal Kwashiorkor dan Marasmus: Perbedaan, Gejala, serta Penanganannya

Kekurangan gizi protein-energi (KGE) merupakan masalah kesehatan global yang serius, terutama pada anak-anak. Dua bentuk paling parah dari KGE adalah Kwashiorkor dan Marasmus. Keduanya sering disebut sebagai busung lapar, tetapi memiliki penyebab dan gejala yang berbeda secara signifikan. Memahami perbedaan antara Marasmus dan Kwashiorkor sangat penting untuk diagnosis, penanganan, dan pencegahan yang tepat.

Apa Itu Kwashiorkor dan Marasmus?

Kwashiorkor dan Marasmus adalah bentuk malnutrisi berat yang diakibatkan oleh asupan nutrisi yang tidak memadai, khususnya protein dan energi. Kondisi ini paling sering terjadi pada anak-anak di daerah dengan tingkat kemiskinan dan ketahanan pangan yang rendah.

Kwashiorkor terjadi akibat defisiensi protein yang sangat parah, meskipun asupan kalori secara keseluruhan mungkin masih mencukupi. Kekurangan protein menyebabkan gangguan pada berbagai fungsi tubuh, termasuk keseimbangan cairan dan produksi albumin.

Sementara itu, Marasmus disebabkan oleh kekurangan kalori total yang ekstrem, meliputi protein, karbohidrat, dan lemak. Tubuh anak yang mengalami Marasmus akan menguras cadangan energi dan proteinnya sendiri untuk mempertahankan fungsi vital.

Perbedaan Utama Kwashiorkor dan Marasmus

Meskipun sama-sama merupakan malnutrisi protein-energi, Kwashiorkor dan Marasmus memiliki karakteristik yang membedakan. Pemahaman akan perbedaan ini krusial untuk diagnosis yang akurat.

  • Penyebab Utama: Kwashiorkor dominan karena kekurangan protein berat, sementara Marasmus karena kekurangan kalori total (protein, karbohidrat, lemak).
  • Gejala Fisik: Kwashiorkor ditandai dengan edema atau pembengkakan, terutama di perut dan kaki, serta wajah yang sembab. Perut anak bisa terlihat buncit. Marasmus menyebabkan tubuh sangat kurus kering, kulit berkeriput, dan tulang-tulang yang menonjol.
  • Berat Badan: Pada Marasmus, penurunan berat badan sangat drastis, menyebabkan anak terlihat sangat lemah dan lesu. Pada Kwashiorkor, edema bisa menyamarkan tingkat penurunan berat badan yang sebenarnya.
  • Perubahan Kulit dan Rambut: Kwashiorkor seringkali menyebabkan perubahan warna dan tekstur rambut menjadi kemerahan atau rapuh, serta lesi pada kulit. Gejala ini umumnya tidak dominan pada Marasmus.
  • Tampilan Wajah: Wajah anak dengan Kwashiorkor seringkali terlihat sembab, sedangkan pada Marasmus, wajah terlihat seperti orang tua atau “old man look” karena hilangnya lemak subkutan.

Gejala Marasmus dan Kwashiorkor

Setiap kondisi memiliki manifestasi klinis yang spesifik.

Gejala Marasmus:

  • Kurus kering ekstrem: Anak tampak seperti tulang terbungkus kulit.
  • Penurunan berat badan yang signifikan.
  • Otot menyusut dan lemak tubuh hilang.
  • Kulit berkerut, longgar, dan terlihat tua.
  • Wajah terlihat cekung atau seperti orang tua.
  • Lesu dan tidak bertenaga.
  • Seringkali mengalami diare kronis.
  • Suhu tubuh rendah.

Gejala Kwashiorkor:

  • Edema (pembengkakan) pada perut, wajah, lengan, dan kaki.
  • Perut buncit akibat penumpukan cairan.
  • Rambut menjadi tipis, rapuh, mudah rontok, dan bisa berubah warna menjadi kemerahan.
  • Perubahan kulit: Kering, bersisik, pecah-pecah, kadang dengan bercak gelap.
  • Kelelahan, apatis, dan mudah marah.
  • Pembesaran hati.
  • Diare kronis.
  • Gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

Penyebab Marasmus dan Kwashiorkor

Penyebab utama kedua kondisi ini adalah pola makan yang tidak seimbang dan tidak mencukupi.

  • Asupan Makanan Tidak Cukup: Ketersediaan makanan yang terbatas atau diet yang tidak menyediakan nutrisi esensial dalam jumlah yang memadai.
  • Kemiskinan: Keterbatasan akses terhadap makanan bergizi dan bersih karena kondisi ekonomi yang sulit.
  • Pendidikan Kesehatan yang Rendah: Kurangnya pemahaman tentang gizi seimbang dan praktik pemberian makan yang benar pada bayi dan anak-anak.
  • Sanitasi Buruk dan Infeksi Berulang: Penyakit infeksi, terutama diare, dapat memperburuk malnutrisi karena mengganggu penyerapan nutrisi dan meningkatkan kebutuhan kalori.
  • Ketidakstabilan Politik dan Konflik: Situasi darurat seringkali mengganggu rantai pasokan makanan dan layanan kesehatan.
  • Penyapihan Dini atau Tidak Tepat: Pemberian makanan pendamping ASI yang tidak bergizi atau terlalu dini.

Pengobatan Marasmus dan Kwashiorkor

Penanganan kedua kondisi ini memerlukan pendekatan medis yang hati-hati dan bertahap.

  • Stabilisasi Awal: Mengatasi dehidrasi, infeksi, dan ketidakseimbangan elektrolit yang sering menyertai malnutrisi.
  • Pemberian Nutrisi Bertahap: Dimulai dengan diet rendah laktosa, tinggi kalori, dan tinggi protein dalam porsi kecil namun sering, kemudian secara bertahap ditingkatkan.
  • Suplementasi Mikronutrien: Pemberian vitamin dan mineral penting seperti vitamin A, seng, dan folat.
  • Penanganan Komplikasi: Mengobati infeksi yang mendasari, diare, atau kondisi medis lainnya.
  • Edukasi Gizi: Memberikan konseling kepada keluarga tentang praktik pemberian makan yang benar dan gizi seimbang.

Pencegahan Marasmus dan Kwashiorkor

Pencegahan adalah kunci untuk mengurangi angka kejadian malnutrisi protein-energi.

  • Pemberian ASI Eksklusif: Mendorong pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan.
  • Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang Tepat: Memastikan MPASI yang bergizi lengkap, bervariasi, dan sesuai usia.
  • Akses ke Makanan Bergizi: Program pemerintah dan komunitas untuk memastikan ketersediaan makanan sehat bagi semua lapisan masyarakat.
  • Edukasi Gizi: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang.
  • Sanitasi dan Kebersihan: Memperbaiki akses air bersih dan sanitasi untuk mencegah infeksi.
  • Imunisasi Lengkap: Melindungi anak-anak dari penyakit infeksi yang dapat memperburuk gizi.

Marasmus dan Kwashiorkor adalah kondisi serius yang memerlukan perhatian medis segera. Jika terdapat kekhawatiran mengenai gejala malnutrisi pada anak, penting untuk segera mencari bantuan profesional kesehatan. Konsultasikan dengan dokter untuk diagnosis dan rencana penanganan yang tepat, serta dapatkan informasi gizi yang akurat melalui aplikasi Halodoc untuk mendukung kesehatan keluarga.