Ad Placeholder Image

Lada vs Merica: Kenali Bedanya! Pedasnya Bikin Nagih

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Lada vs Merica: Kenali Perbedaan Rasa & Jenisnya!

Lada vs Merica: Kenali Bedanya! Pedasnya Bikin NagihLada vs Merica: Kenali Bedanya! Pedasnya Bikin Nagih

DAFTAR ISI


Lada adalah salah satu rempah-rempah yang paling populer dan banyak digunakan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Dikenal secara ilmiah dengan nama Piper nigrum, tanaman merambat ini menghasilkan buah kecil yang kemudian dikeringkan dan digunakan sebagai bumbu masak atau obat tradisional. Saking berharganya rempah yang satu ini, lada sering dijuluki sebagai “Raja Rempah-Rempah” atau King of Spices pada masa kejayaan perdagangan rempah di masa lampau.

Bagi masyarakat Indonesia, lada atau yang juga kerap disebut merica adalah bumbu wajib yang ada di hampir setiap dapur. Rempah ini memberikan sensasi rasa pedas yang khas, hangat, dan aroma yang kuat pada masakan. Berbeda dengan cabai yang memberikan rasa pedas menyengat di lidah, pedas dari lada cenderung lebih memberikan sensasi hangat yang menjalar di tenggorokan hingga ke perut. Hal ini membuat lada sangat cocok ditambahkan pada hidangan berkuah seperti sup, soto, bakso, maupun masakan tumisan.

Namun, tahukah kamu bahwa lada bukan sekadar penambah cita rasa makanan? Di balik ukurannya yang kecil, lada menyimpan segudang manfaat luar biasa untuk kesehatan tubuh. Sejak ribuan tahun lalu, pengobatan tradisional Ayurveda di India telah menggunakan lada untuk mengatasi berbagai macam penyakit, mulai dari masalah pencernaan, batuk, pilek, hingga nyeri sendi. Khasiat medis ini rupanya bukan sekadar mitos, melainkan telah dibuktikan oleh berbagai penelitian ilmiah modern.

Senyawa aktif utama yang membuat lada begitu istimewa adalah piperine. Senyawa inilah yang bertanggung jawab atas rasa pedas pada lada, sekaligus memberikan efek antioksidan, anti-inflamasi, dan antimikroba. Selain itu, lada juga diketahui mampu meningkatkan penyerapan nutrisi lain di dalam tubuh. Mengingat fungsinya yang sangat luas, penting bagi kita untuk memahami lebih dalam tentang kandungan, manfaat, serta cara aman mengonsumsi lada. Nah, mau tahu ulasan lengkap mengenai apa itu lada dan khasiatnya? Berikut ulasannya!

Apa Itu Lada?

Lada adalah buah dari tanaman merambat Piper nigrum yang berasal dari keluarga Piperaceae. Tanaman ini asli dari wilayah pesisir Malabar di India Selatan, namun kini telah dibudidayakan secara luas di berbagai negara beriklim tropis, termasuk Indonesia, Vietnam, Brasil, dan Malaysia. Di Indonesia sendiri, daerah penghasil lada yang terkenal antara lain adalah Kepulauan Bangka Belitung (terkenal dengan lada putihnya atau Muntok White Pepper) dan Lampung (terkenal dengan lada hitamnya).

Buah lada tumbuh dalam bentuk gugusan (tandan) yang menyerupai buah beri berukuran sangat kecil. Saat masih mentah, buah ini berwarna hijau, kemudian berubah menjadi merah kecokelatan saat matang. Cara pengolahan dan waktu panen buah inilah yang nantinya akan menentukan jenis lada yang dihasilkan, seperti lada hitam, lada putih, lada hijau, maupun lada merah muda (pink peppercorn, meski jenis ini sering kali berasal dari tanaman yang berbeda).

Secara umum, masyarakat Indonesia menggunakan lada dalam bentuk butiran utuh maupun yang sudah digiling menjadi bubuk. Karena aromanya yang mudah menguap, para koki profesional sering menyarankan untuk menggunakan lada utuh yang baru digiling sesaat sebelum dihidangkan untuk mendapatkan aroma dan rasa yang paling optimal.

Kandungan Nutrisi Lada

Walaupun biasanya dikonsumsi dalam jumlah yang sangat kecil (hanya sejumput atau beberapa gram saja), lada tetap memberikan asupan nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh. Berdasarkan data gizi, dalam 1 sendok teh (sekitar 2,3 gram) lada hitam bubuk, terdapat kandungan nutrisi sebagai berikut:

  • Kalori: 6 kkal
  • Protein: 0,2 gram
  • Karbohidrat: 1,5 gram
  • Serat: 0,6 gram
  • Vitamin K: Membantu proses pembekuan darah dan metabolisme tulang.
  • Mangan: Mineral penting yang mendukung kesehatan tulang, metabolisme asam amino, dan fungsi antioksidan.
  • Zat Besi: Berperan dalam pembentukan sel darah merah dan mencegah anemia.
  • Kalsium: Penting untuk kekuatan tulang dan gigi.

Selain nutrisi makro dan mikro di atas, “bintang utama” dari lada adalah fitonutrien, terutama senyawa alkaloid bernama piperine. Lada juga mengandung minyak atsiri (essential oils) seperti limonene, pinene, dan sabinene yang memberikan aroma khas serta fungsi terapeutik tambahan.

Tips Menyimpan Lada agar Awet dan Wangi
  1. Pilih Lada Utuh: Jika memungkinkan, belilah lada dalam bentuk biji utuh daripada bubuk. Lada utuh dapat mempertahankan aroma dan rasanya lebih lama.
  2. Gunakan Wadah Kedap Udara: Simpan lada dalam toples kaca kedap udara untuk mencegah kelembapan yang bisa memicu pertumbuhan jamur.
  3. Jauhkan dari Panas dan Cahaya: Simpan wadah lada di dalam lemari atau rak rempah yang sejuk, kering, dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung atau panas kompor.

Manfaat Lada untuk Kesehatan

Penggunaan lada dalam pengobatan tradisional kini telah didukung oleh sains. Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai berbagai manfaat lada untuk kesehatan tubuh kamu:

1. Tinggi Antioksidan untuk Melawan Radikal Bebas

Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang dapat merusak sel-sel tubuh dan memicu stres oksidatif. Stres oksidatif ini dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan kronis seperti penuaan dini, penyakit jantung, hingga kanker. Lada, khususnya lada hitam, kaya akan antioksidan, berkat kandungan piperine di dalamnya.

Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak lada dapat membantu mencegah atau menunda kerusakan sel akibat radikal bebas. Untuk memaksimalkan perlindungan tubuh, selain mengonsumsi makanan yang kaya rempah, kamu juga bisa melengkapinya dengan beli vitamin atau suplemen antioksidan melalui platform kesehatan digital yang terpercaya.

2. Memiliki Sifat Anti-inflamasi (Anti-peradangan)

Peradangan kronis merupakan akar dari banyak penyakit serius, termasuk radang sendi (arthritis), penyakit jantung, diabetes, dan kanker. Berbagai studi laboratorium telah membuktikan bahwa piperine dalam lada bertindak sebagai agen anti-inflamasi yang kuat. Piperine bekerja dengan cara menghambat zat-zat dalam tubuh yang memicu proses peradangan, sehingga dapat membantu meredakan nyeri dan pembengkakan, terutama pada kondisi seperti osteoarthritis.

3. Meningkatkan Fungsi Otak

Khasiat lada untuk kesehatan saraf dan otak juga sangat menjanjikan. Senyawa piperine diketahui dapat meningkatkan fungsi otak dengan cara mengurangi pembentukan plak amiloid—yakni gumpalan protein yang merusak dan menjadi tanda utama pada penyakit Alzheimer. Meskipun sebagian besar penelitian ini baru dilakukan pada hewan uji, hasilnya menunjukkan potensi besar bahwa konsumsi lada dapat membantu melindungi memori dan fungsi kognitif seiring bertambahnya usia.

4. Membantu Mengontrol Kadar Gula Darah

Bagi penderita diabetes atau mereka yang memiliki risiko resistensi insulin, menambahkan lada ke dalam makanan mungkin bisa menjadi langkah kecil yang bermanfaat. Ekstrak lada hitam telah terbukti dalam beberapa penelitian dapat meningkatkan metabolisme gula darah. Senyawa dalam lada membantu meningkatkan sensitivitas insulin, yang berarti hormon insulin dapat bekerja lebih efektif dalam memindahkan glukosa dari aliran darah ke dalam sel untuk dijadikan energi.

5. Menurunkan Kadar Kolesterol Darah

Kolesterol darah yang tinggi adalah salah satu faktor risiko utama penyakit jantung, yang merupakan penyebab kematian terbanyak di dunia. Lada telah diteliti karena potensinya dalam menurunkan kadar kolesterol. Konsumsi ekstrak lada terbukti mampu menurunkan kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida. Selain itu, lada juga dipercaya dapat meningkatkan penyerapan suplemen penurun kolesterol alami ke dalam tubuh.

6. Meningkatkan Penyerapan Nutrisi (Bioavailabilitas)

Ini adalah salah satu kemampuan lada yang paling unik dan luar biasa. Lada dapat bertindak sebagai bio-enhancer, yaitu zat yang meningkatkan penyerapan (bioavailabilitas) nutrisi dan senyawa aktif dari makanan atau suplemen lain. Contoh yang paling terkenal adalah kombinasi lada hitam dengan kunyit. Kurkumin, senyawa aktif dalam kunyit yang punya sifat anti-radang sangat kuat, sayangnya sangat sulit diserap oleh aliran darah. Namun, dengan menambahkan sedikit piperine dari lada hitam, penyerapan kurkumin dapat meningkat hingga 2.000 persen!

7. Mendukung Kesehatan Pencernaan

Konsumsi lada hitam secara moderat dapat merangsang pelepasan asam klorida (HCl) di dalam lambung. Asam lambung yang cukup sangat penting untuk mencerna protein dan komponen makanan lainnya secara optimal. Jika pencernaan berjalan lancar, hal ini akan mencegah masalah perut kembung, begah, dan sembelit. Selain itu, lada juga memiliki sifat karminatif yang dapat membantu mencegah pembentukan gas berlebih di dalam saluran pencernaan.

8. Berpotensi Melawan Sel Kanker

Meskipun bukan sebagai obat utama, sifat antioksidan yang tinggi pada lada hitam membuatnya menjadi bahan makanan penangkal kanker yang potensial. Berbagai studi tabung reaksi menunjukkan bahwa piperine dapat memperlambat reproduksi sel kanker, terutama kanker payudara, prostat, dan usus besar. Piperine juga diamati mampu menginduksi apoptosis, yaitu kematian sel terprogram pada sel-sel yang rusak dan berpotensi menjadi tumor.

Cara Sehat Memasukkan Lada ke Dalam Diet Harian
  1. Campurkan lada hitam giling segar ke dalam salad dressing buatan sendiri.
  2. Taburkan sejumput lada hitam ke atas telur rebus atau telur orak-arik saat sarapan.
  3. Campurkan lada dengan kunyit, madu, dan perasan lemon ke dalam air hangat sebagai minuman detoks di pagi hari.
  4. Gunakan lada hitam utuh saat merebus kaldu ayam atau sapi untuk memberikan rasa hangat alami.

Perbedaan Lada Hitam dan Lada Putih

Di pasar atau supermarket, kamu pasti sering melihat lada hitam dan lada putih. Walaupun berasal dari tanaman yang sama (Piper nigrum), perbedaan warna, rasa, dan aroma keduanya terletak pada proses pengolahannya:

1. Lada Hitam (Black Pepper)

Lada hitam dibuat dari buah lada yang belum sepenuhnya matang (masih berwarna hijau). Buah ini dipetik, kemudian direbus sebentar dalam air panas untuk membersihkan dan mempersiapkan proses pengeringan. Setelah itu, lada dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa hari. Proses penjemuran ini membuat kulit luar buah mengerut, menghitam, dan mengeras. Karena kulit luarnya masih utuh, lada hitam memiliki aroma yang lebih tajam, kompleks, dan rasa pedas yang lebih kuat.

2. Lada Putih (White Pepper)

Sebaliknya, lada putih dihasilkan dari buah lada yang sudah matang sempurna (berwarna merah). Setelah dipetik, buah lada direndam dalam air mengalir selama kurang lebih seminggu. Proses perendaman ini bertujuan untuk melunakkan dan mengelupaskan kulit buah bagian luar (perikarp). Setelah kulitnya terkelupas, biji lada yang berwarna putih keabu-abuan kemudian dikeringkan. Karena kehilangan kulit luarnya, lada putih memiliki aroma yang tidak setajam lada hitam, namun memiliki rasa pedas yang lebih menggigit (tajam) dan profil rasa yang lebih bersahaja (earthy).

Dalam dunia kuliner, lada putih sering digunakan pada masakan yang berwarna terang seperti sup krim, saus putih, atau bubur ayam, agar bintik-bintik hitam tidak merusak tampilan makanan. Sementara lada hitam lebih sering digunakan untuk hidangan daging panggang, pasta, atau marinasi.

Efek Samping dan Risiko Konsumsi Lada Berlebihan

Walaupun lada adalah rempah yang sangat bermanfaat, mengonsumsinya secara berlebihan tetap dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Lada diklasifikasikan sebagai makanan yang aman bagi sebagian besar orang jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar sebagai bumbu masak. Beberapa efek samping yang mungkin timbul akibat konsumsi berlebih antara lain:

  • Iritasi Lambung (Heartburn): Bagi individu yang memiliki perut sensitif, memiliki riwayat penyakit maag, atau GERD (penyakit asam lambung), makan makanan yang terlalu banyak lada dapat memicu sensasi terbakar di dada dan perut.
  • Tersedak dan Bersin: Menghirup bubuk lada secara tidak sengaja dapat menyebabkan iritasi parah pada mukosa hidung, memicu bersin-bersin, hingga asma atau batuk-batuk.
  • Interaksi Obat: Karena kemampuannya meningkatkan penyerapan (bioavailabilitas), piperine dapat membuat tubuh menyerap obat-obatan tertentu lebih cepat atau lebih banyak dari yang seharusnya. Hal ini bisa berisiko overdosis atau mengubah efektivitas obat alergi (antihistamin), obat penurun gula darah, atau obat pengencer darah.

Jika kamu mengalami gejala nyeri lambung hebat, asam lambung naik, atau reaksi alergi parah setelah mengonsumsi makanan pedas yang mengandung banyak lada, segera lakukan konsultasi ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan medis yang tepat.

Studi Mengenai Khasiat Lada

Foods menerbitkan studi di tahun 2017 yang menjelaskan bahwa piperine, senyawa aktif utama dalam lada hitam, memiliki peran penting sebagai bio-enhancer yang terbukti secara klinis.

Dalam studi tersebut, ditekankan bahwa penambahan ekstrak piperine mampu memengaruhi enzim-enzim metabolisme di hati, yang membuat nutrisi seperti kurkumin, vitamin C, dan beta-karoten bertahan lebih lama di dalam tubuh. Hal ini membuktikan bahwa lada bukan sekadar bumbu masakan penyedap rasa, melainkan komponen penting yang secara sinergis meningkatkan kualitas gizi dari makanan lain yang kita konsumsi sehari-hari.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Jika keluhan berlanjut dan tidak kunjung membaik meski telah beristirahat, sangat disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan medis. Kamu juga bisa berkonsultasi lebih lanjut dengan tenaga medis profesional terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui aplikasi kesehatan digital yang praktis digunakan di mana saja.

Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2024. 11 Science-Backed Health Benefits of Black Pepper.
WebMD. Diakses pada 2024. Health Benefits of Black Pepper.
Medical News Today. Diakses pada 2024. What to know about black pepper.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Are There Health Benefits to Black Pepper?
NCBI (National Center for Biotechnology Information). Diakses pada 2024. Black pepper and health claims: a comprehensive treatise.

FAQ

1. Apa bedanya lada dan merica?

Secara esensial, lada dan merica adalah hal yang sama dan berasal dari tumbuhan yang sama (Piper nigrum). Perbedaan penyebutan ini hanya soal preferensi bahasa di berbagai daerah di Indonesia. Namun, sebagian orang di dunia kuliner terbiasa menyebut rempah ini “merica” ketika masih dalam bentuk biji utuh, dan menyebutnya “lada” ketika sudah digiling menjadi bubuk halus.

2. Apakah lada aman dikonsumsi oleh ibu hamil?

Secara umum, lada aman dikonsumsi oleh ibu hamil jika digunakan dalam jumlah normal sebagai bumbu masakan. Namun, ibu hamil sebaiknya menghindari konsumsi lada dalam dosis tinggi (seperti dalam bentuk suplemen pekat) karena bisa menyebabkan masalah pencernaan seperti heartburn (panas di dada) yang memang sudah sering dialami selama kehamilan.

3. Apakah makan lada bisa menyebabkan usus buntu?

Tidak ada bukti medis yang menunjukkan bahwa lada utuh maupun bubuk dapat menyebabkan radang usus buntu (apendisitis). Radang usus buntu biasanya disebabkan oleh penyumbatan pada saluran usus buntu oleh feses yang mengeras (fekalit), pembesaran kelenjar getah bening, atau infeksi, bukan karena konsumsi biji lada.

4. Bagaimana cara terbaik menyimpan lada agar tidak cepat hilang aromanya?

Cara terbaik adalah menyimpan biji lada utuh di dalam wadah kaca yang kedap udara, lalu meletakkannya di tempat yang sejuk, kering, dan gelap (jauh dari sinar matahari dan panas kompor). Hindari menggiling lada dalam jumlah banyak sekaligus; lebih baik gunakan alat penggiling lada (pepper mill) dan giling lada secukupnya langsung ke atas makanan saat akan dihidangkan.