Ad Placeholder Image

Leiomioma: Pahami Gejala, Obati Tanpa Rasa Khawatir

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   06 Mei 2026

Leiomioma: Bukan Kanker, Yuk Atasi Gejalanya!

Leiomioma: Pahami Gejala, Obati Tanpa Rasa KhawatirLeiomioma: Pahami Gejala, Obati Tanpa Rasa Khawatir

Leiomioma, atau yang sering dikenal sebagai mioma uteri atau fibroid rahim, adalah pertumbuhan tumor jinak yang sangat umum terjadi pada wanita. Tumor ini berasal dari sel-sel otot polos yang membentuk dinding rahim, yaitu miometrium. Leiomioma bersifat non-kanker, yang berarti tidak berisiko menyebar ke bagian tubuh lain.

Ukuran dan lokasi leiomioma dapat bervariasi, mulai dari sekecil biji apel hingga sebesar jeruk bali. Beberapa wanita mungkin hanya memiliki satu, sementara yang lain bisa memiliki banyak fibroid. Meskipun sering kali tidak menimbulkan gejala, leiomioma dapat menyebabkan berbagai keluhan yang memengaruhi kualitas hidup.

Apa Itu Leiomioma?

Leiomioma adalah tumor jinak yang terbentuk dari pertumbuhan sel otot polos abnormal pada dinding rahim. Kondisi ini juga dikenal sebagai fibroid atau mioma uteri. Pertumbuhan ini bisa terjadi di berbagai lokasi di dalam atau di luar rahim.

Jenis-jenis leiomioma berdasarkan lokasinya meliputi:

  • Fibroid intramural: Tumbuh di dalam dinding otot rahim. Ini adalah jenis yang paling umum.
  • Fibroid subserosal: Tumbuh di permukaan luar rahim.
  • Fibroid submukosa: Tumbuh di bawah lapisan terdalam rahim (endometrium) dan dapat menonjol ke dalam rongga rahim. Jenis ini sering kali menjadi penyebab perdarahan hebat.
  • Fibroid pedunkulata: Tumbuh dengan tangkai atau batang yang menopangnya, baik di luar rahim maupun di dalam rongga rahim.

Gejala Umum Leiomioma

Banyak wanita dengan leiomioma tidak mengalami gejala apa pun. Namun, jika gejala muncul, tingkat keparahan dan jenisnya dapat bergantung pada ukuran, jumlah, dan lokasi fibroid. Gejala yang paling umum meliputi:

  • Perdarahan menstruasi hebat: Menstruasi yang lebih banyak atau lebih lama dari biasanya.
  • Nyeri panggul: Rasa nyeri atau tekanan di area panggul.
  • Nyeri saat haid (dismenore): Kram menstruasi yang lebih intens.
  • Nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia).
  • Sering buang air kecil: Karena penekanan pada kandung kemih.
  • Sembelit: Jika fibroid menekan rektum.
  • Pembesaran perut: Terlihat seperti kehamilan.
  • Gangguan kesuburan atau masalah kehamilan.

Penting untuk memeriksakan diri jika mengalami gejala-gejala tersebut, terutama perdarahan hebat yang dapat menyebabkan anemia.

Penyebab Leiomioma

Penyebab pasti leiomioma belum sepenuhnya dipahami, namun ada beberapa faktor yang diyakini berperan dalam perkembangannya. Faktor-faktor ini mencakup:

  • Hormon: Estrogen dan progesteron, dua hormon wanita yang mengatur siklus menstruasi, tampak mendorong pertumbuhan fibroid. Fibroid cenderung menyusut setelah menopause saat kadar hormon ini menurun.
  • Genetik: Adanya riwayat keluarga dengan fibroid meningkatkan risiko seseorang untuk mengalaminya.
  • Faktor pertumbuhan lainnya: Zat yang membantu tubuh mempertahankan jaringan seperti insulin-like growth factor (IGF) juga dapat memengaruhi pertumbuhan fibroid.
  • Ras atau etnis: Wanita dengan ras Afrika-Amerika memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami fibroid dan cenderung mengalaminya pada usia lebih muda.

Diagnosis Leiomioma

Diagnosis leiomioma biasanya dimulai dengan pemeriksaan panggul fisik oleh dokter. Untuk konfirmasi dan evaluasi lebih lanjut, beberapa metode pencitraan mungkin dilakukan, antara lain:

  • USG panggul: Menggunakan gelombang suara untuk menciptakan gambaran rahim dan organ panggul lainnya, membantu mengidentifikasi keberadaan, ukuran, dan lokasi fibroid.
  • MRI panggul: Memberikan gambaran lebih detail mengenai fibroid, terutama jika akan dilakukan operasi.
  • Histeroskopi: Prosedur di mana alat tipis dan bercahaya dimasukkan melalui vagina dan leher rahim untuk melihat bagian dalam rahim, berguna untuk fibroid submukosa.

Pilihan Penanganan Leiomioma

Penanganan leiomioma bergantung pada berbagai faktor, seperti usia, keinginan memiliki anak, ukuran dan lokasi fibroid, serta keparahan gejala. Pilihan penanganan dapat meliputi:

  • Obat-obatan:
    • Anti-nyeri: Untuk meredakan kram dan nyeri.
    • Hormonal: Seperti pil KB atau obat yang menurunkan kadar estrogen dan progesteron (misalnya, agonis GnRH) untuk mengecilkan fibroid sementara dan mengurangi perdarahan.
  • Prosedur non-invasif:
    • Embolisasi arteri uteri (UAE): Prosedur di mana partikel kecil disuntikkan ke dalam arteri yang memasok darah ke fibroid, memotong suplai darah dan menyebabkan fibroid menyusut.
  • Prosedur bedah:
    • Miomektomi: Pengangkatan fibroid tanpa mengangkat rahim, cocok bagi wanita yang masih ingin memiliki anak.
    • Histerektomi: Pengangkatan seluruh rahim. Ini adalah pilihan definitif untuk wanita yang tidak lagi ingin hamil atau memiliki fibroid yang sangat besar/simptomatik dan tidak merespons pengobatan lain.

Keputusan mengenai penanganan terbaik harus didiskusikan secara mendalam dengan dokter spesialis.

Pencegahan Leiomioma

Karena penyebab pasti leiomioma belum diketahui, tidak ada cara pencegahan yang spesifik dan terbukti 100% efektif. Namun, menjaga gaya hidup sehat dapat membantu menjaga keseimbangan hormon dan kesehatan rahim secara keseluruhan:

  • Menjaga berat badan ideal: Obesitas dikaitkan dengan peningkatan risiko fibroid.
  • Menerapkan pola makan sehat: Konsumsi buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian, serta batasi daging merah dan makanan olahan.
  • Mengelola stres dengan baik.
  • Rutin berolahraga.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami gejala perdarahan menstruasi yang tidak biasa, nyeri panggul kronis, atau merasakan adanya benjolan di perut bagian bawah, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Diagnosis dini dan penanganan yang tepat dapat membantu mengelola kondisi ini dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai leiomioma atau keluhan kesehatan lainnya, platform Halodoc menyediakan akses mudah ke dokter-dokter terpercaya. Halodoc juga menawarkan layanan pembelian obat dan vitamin, serta janji temu di rumah sakit yang membantu mendapatkan penanganan medis yang dibutuhkan.