• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Lesi di Jari Kaki Jadi Gejala Baru COVID-19

Lesi di Jari Kaki Jadi Gejala Baru COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Kasus pertama penularan virus corona di Indonesia terjadi pada 2 maret lalu. Sejak hari itu, jumlah kasus positif yang terinfeksi COVID-19 semakin bertambah dari hari ke hari. Hingga hari ini (22/4), ada 7.135 kasus terkonfirmasi, dengan angka kesembuhan mencapai 842 orang, serta korban meninggal sebanyak 616 orang. 

Virus corona muncul dengan gejala seperti penyakit flu pada umumnya. Namun, baru-baru ini kemunculan lesi di jari kaki juga bisa menjadi gejala COVID-19. Benarkah demikian? Berikut ulasan selengkapnya!

Baca juga: Tengkurap jadi Cara Sederhana Selamatkan Pasien Corona

Lesi di Jari Kaki Jadi Tanda COVID-19

Lesi di jari kaki yang diduga adalah gejala baru infeksi COVID-19, dan kebanyakan dialami oleh anak-anak atau remaja. Pada beberapa pengidap yang didominasi oleh anak-anak dan remaja tersebut melaporkan adanya lesi dermatologis kecil yang tumbuh di kaki mereka. Lesi di jari kaki yang menjadi tanda COVID-19 tersebut muncul sebelum diikuti dengan gejala lain.

Lesi kulit sendiri merupakan jaringan pada kulit yang tumbuh secara tidak terkendali, baik di bawah permukaan, atau di atas permukaan kulit. Menurut laporan berbagai media, lesi di jari kaki ditemukan di beberapa negara, termasuk Italia, Perancis, dan Spanyol. Begitu pun yang dikatakan oleh Dewan Umum Perguruan Tinggi Podiatrist, Spanyol.

Lesi yang muncul berwarna keunguan, mirip dengan cacar air atau chilblains, yaitu peradangan yang terjadi di pembuluh darah kecil di sekitar jempol kaki. Kondisi tersebut dapat sembuh dengan sendirinya tanpa meninggalkan bekas di kulit. Lesi sendiri bersifat jinak, berdiameter 5-15 milimeter, yang disusul dengan sensasi rasa terbakar pada kaki selama lebih dari seminggu.

Baca juga: Suhu Tepat saat Memasak Ampuh Hilangkan Virus Corona

Selain Lesi di Jari Kaki, Ini Gejala Lainnya  

Virus corona bisa menimbulkan beragam gejala yang berbeda pada masing-masing pengidapnya. Gejala yang muncul akan tergantung pada daya tahan tubuh pengidap, serta seberapa serius infeksi yang terjadi. Jika infeksi termasuk dalam intensitas yang ringan, gejala meliputi pilek, sakit kepala, sakit tenggorokan, batuk, demam, serta tidak enak badan.

Dalam kondisi yang parah, infeksi dapat berubah menjadi penyakit bronkitis, yaitu infeksi virus pada saluran pernapasan utama, serta pneumonia, yang dikenal dengan paru-paru basah. Saat keduanya terjadi, gejala dapat meliputi:

Gejala yang muncul, serta infeksi yang dialami akan semakin parah pada kelompok orang dengan penyakit jantung, penyakit paru-paru, serta seseorang dengan sistem imunitas tubuh yang lemah, seperti anak-anak, bayi, dan lansia. 

Baca juga: Alasan Pria Dinilai Lebih Rentan Mengidap Corona

Untuk mencegah penyebarannya, segera lakukan isolasi mandiri di rumah saat mengalami serangkaian gejalanya, terutama jika dalam dua minggu terakhir kamu mengunjungi daerah zona merah, atau memiliki kontak dengan pengidap virus corona. 

Jika kamu memiliki kemungkinan telah terpapar tapi tidak mengalami gejala yang telah disebutkan, kamu tidak perlu memeriksakan diri ke rumah sakit. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kamu hanya perlu melakukan isolasi mandiri di rumah dalam waktu 14 hari.

Jika kondisi kamu memerlukan pemeriksaan langsung dengan dokter, kamu dapat langsung membuat jadwal konsultasi dengan aplikasi Halodoc di rumah sakit rumah sakit terdekat! Jangan lupa untuk menggunakan masker dan sarung tangan saat bepergian ke luar rumah.

Referensi:

Metro. Diakses pada 2020. Bruises on feet ‘could be sign of coronavirus’, Spanish doctors claim.

Coronavirus symptoms: Unusual mark on patients' feet could be a sign of COVID-19.

Today. Diakses 2020. What are 'COVID toes'? Dermatologists, podiatrists share strange findings.