Ad Placeholder Image

Macam-macam Jenis Bentol pada Anak, Kenali Yuk!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Juni 2026

Pahami Aneka Jenis Bentol pada Anak Agar Tak Panik

Macam-macam Jenis Bentol pada Anak, Kenali Yuk!Macam-macam Jenis Bentol pada Anak, Kenali Yuk!

DAFTAR ISI


Sebagai orang tua, melihat kulit anak yang mulanya mulus tiba-tiba dipenuhi ruam merah tentu bisa memicu kepanikan. Reaksi kulit yang muncul mendadak sering kali menimbulkan rasa tidak nyaman yang luar biasa pada Si Kecil, membuatnya rewel, menangis, dan terus-menerus menggaruk tubuhnya. Kondisi ini sangat umum terjadi pada usia kanak-kanak dan bisa muncul kapan saja tanpa tanda-tanda sebelumnya.

Sistem kekebalan tubuh anak-anak masih dalam tahap perkembangan dan adaptasi terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, tubuh mereka cenderung lebih reaktif atau sensitif terhadap berbagai zat asing yang sebenarnya mungkin tidak berbahaya bagi orang dewasa. Reaksi hipersensitivitas inilah yang sering kali memanifestasikan dirinya dalam bentuk ruam kulit, kemerahan, bengkak ringan, dan rasa gatal yang intens.

Banyak orang tua yang merasa bingung dan bertanya-tanya tentang kenapa anak tiba-tiba gatal-gatal dan bentol padahal sebelumnya ia tampak baik-baik saja. Mengetahui akar penyebab dari keluhan kulit ini adalah langkah pertama yang paling krusial untuk memberikan penanganan yang tepat dan mencegah kondisi berulang di kemudian hari. Terkadang, pemicunya adalah sesuatu yang sangat sepele dan sering kita temui sehari-hari di rumah.

Walaupun sebagian besar kasus gatal dan kemerahan pada kulit anak bersifat ringan dan dapat hilang dengan sendirinya atau dengan perawatan rumahan, ada pula kondisi tertentu yang mengindikasikan reaksi alergi parah yang memerlukan perhatian medis segera. Oleh sebab itu, penting bagi kamu untuk mengenali jenis ruam, durasi kemunculannya, serta gejala penyerta lainnya.

Nah, mau tahu apa saja faktor pemicu di balik kondisi ini dan bagaimana langkah penanganan pertama yang aman untuk Si Kecil? Berikut ulasan medis lengkapnya!

Memahami Mekanisme Terjadinya Gatal dan Bentol

Sebelum membahas pemicunya, ada baiknya kita memahami bagaimana proses biologis ini terjadi di dalam tubuh anak. Kulit kita memiliki sel-sel pelindung yang disebut sel mast (mast cell). Sel mast tersebar luas di jaringan ikat, terutama di bawah kulit, di dekat pembuluh darah, dan kelenjar getah bening.

Ketika tubuh anak terpapar sesuatu yang dianggap sebagai ancaman (alergen atau iritan), sistem imun akan merespons dengan memproduksi antibodi Immunoglobulin E (IgE). Antibodi ini akan menempel pada sel mast. Jika anak kembali terpapar zat yang sama, sel mast akan pecah atau terdegranulasi, melepaskan berbagai zat kimia inflamasi ke dalam aliran darah, salah satu yang paling utama adalah histamin.

Histamin inilah biang keladi dari segala rasa tidak nyaman tersebut. Pelepasan histamin menyebabkan pembuluh darah kapiler di bawah kulit melebar (vasodilatasi) dan menjadi lebih bocor (permeabel). Cairan dari dalam pembuluh darah merembes keluar ke jaringan kulit sekitarnya, menciptakan pembengkakan lokal yang kita kenal sebagai bentol atau urtikaria. Pada saat yang sama, histamin merangsang ujung saraf sensorik di kulit, yang mengirimkan sinyal gatal yang kuat ke otak.

Penyebab Utama Gatal dan Bentol pada Anak

Setelah memahami bagaimana prosesnya terjadi, mari kita urai satu per satu apa saja faktor-faktor eksternal maupun internal yang bisa memicu pelepasan histamin secara tiba-tiba pada tubuh anak.

1. Reaksi Alergi Makanan dan Minuman

Alergi makanan adalah salah satu pemicu paling umum dari urtikaria akut (biduran yang muncul mendadak). Reaksi ini biasanya terjadi beberapa menit hingga maksimal dua jam setelah anak mengonsumsi makanan pemicu. Beberapa jenis makanan yang paling sering memicu alergi pada anak-anak antara lain susu sapi, telur, kacang tanah, kedelai, gandum, ikan, dan kerang-kerangan (seafood). Terkadang, bahan tambahan pangan seperti pewarna buatan atau pengawet juga bisa menjadi tersangka utamanya.

2. Gigitan dan Sengatan Serangga

Anak-anak sangat gemar bermain di luar ruangan, yang membuat mereka rentan terhadap gigitan nyamuk, semut, kutu, atau sengatan lebah. Air liur nyamuk atau racun serangga mengandung protein yang dianggap asing oleh tubuh. Beberapa anak memiliki kondisi yang disebut “Skeeter syndrome”, di mana reaksi alergi terhadap air liur nyamuk sangat berlebihan, menyebabkan bentol yang sangat besar, kemerahan, panas, dan kadang disertai bengkak yang mengkhawatirkan.

3. Infeksi Virus dan Bakteri

Fakta yang jarang diketahui oleh banyak orang tua adalah bahwa lebih dari 80 persen kasus biduran akut pada anak-anak sebenarnya disebabkan oleh infeksi virus, bukan alergi makanan. Virus penyebab flu biasa (rhinovirus), virus pernapasan (RSV), adenovirus, hingga virus pencernaan sering kali memicu sistem imun bereaksi berlebihan dan menimbulkan ruam di kulit. Ruam akibat virus ini bisa muncul saat anak sedang demam atau justru muncul saat demamnya mulai turun (seperti pada Roseola infantum).

4. Faktor Lingkungan dan Suhu (Urtikaria Fisik)

Kulit anak-anak sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Urtikaria fisik adalah bentol yang dipicu oleh stimulus fisik langsung. Contohnya termasuk paparan suhu dingin (udara malam, AC yang terlalu dingin, air es), paparan cuaca panas dan keringat berlebih (miliaria atau biang keringat), hingga tekanan pada kulit akibat pakaian yang terlalu ketat atau tali tas sekolah.

5. Alergi Obat-obatan

Beberapa jenis obat juga bisa memicu reaksi alergi. Antibiotik golongan penisilin dan amoksisilin, serta obat pereda nyeri golongan NSAID (seperti ibuprofen), adalah obat yang paling sering dilaporkan memicu gatal dan ruam pada anak. Jika ruam muncul setelah anak minum obat tertentu, segera hentikan penggunaannya dan hubungi dokter.

6. Dermatitis Kontak

Ini adalah peradangan kulit yang terjadi ketika kulit anak bersentuhan langsung dengan zat iritan atau alergen. Bahan kimia dalam deterjen pakaian, sabun mandi yang terlalu keras, losion berbahan dasar pewangi buatan, tanaman beracun di taman, atau bahkan bulu hewan peliharaan (kucing atau anjing) bisa memicu reaksi lokal berupa kemerahan dan gatal di area yang bersentuhan saja.

Faktor Risiko yang Memperparah Gatal
  1. Kondisi Kulit Kering: Kulit yang kekurangan kelembapan memiliki skin barrier yang lemah, membuatnya lebih mudah iritasi.
  2. Keringat Berlebih: Keringat yang terjebak di pori-pori dapat memperparah rasa gatal dan memicu penyebaran area bentol.
  3. Stres atau Kelelahan: Fisik yang lelah atau anak yang sedang stres bisa membuat sistem imun menjadi tidak stabil dan lebih reaktif.

Mitos dan Fakta Seputar Gatal pada Anak

Terdapat banyak informasi simpang siur mengenai penanganan kulit gatal pada anak yang beredar di masyarakat. Mengetahui fakta medis yang benar sangat penting agar kamu tidak mengambil tindakan yang justru memperburuk kondisi anak.

1. Mitos: Anak Gatal Tidak Boleh Mandi

Faktanya, ini adalah anjuran yang salah. Membiarkan anak tidak mandi justru membuat keringat, kotoran, dan bakteri menumpuk di kulit, yang bisa memperparah gatal dan meningkatkan risiko infeksi jika digaruk. Mandi sangat dianjurkan, asalkan menggunakan air bersuhu suam-suam kuku (tidak terlalu panas atau dingin) dan sabun yang lembut tanpa pewangi.

2. Mitos: Bentol Gatal Itu Menular

Faktanya, sebagian besar bentol akibat alergi, biduran (urtikaria), atau gigitan serangga sama sekali tidak menular. Kamu tidak perlu menjauhkan anak dari saudara-saudaranya. Namun, jika ruam disebabkan oleh infeksi jamur (kurap) atau kudis (scabies), barulah kondisi tersebut bisa menular melalui kontak fisik langsung.

Cara Alami Mengatasi Gatal dan Bentol di Rumah

Ketika anak terbangun di tengah malam sambil menangis karena gatal, ada beberapa langkah Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) rumahan yang bisa kamu lakukan untuk meredakan gejalanya sebelum berkonsultasi ke dokter.

1. Lakukan Kompres Dingin

Suhu dingin memiliki efek vasokonstriksi (menyempitkan pembuluh darah), yang dapat memperlambat penyebaran histamin dan mengurangi pembengkakan serta kemerahan. Bungkus es batu dengan handuk bersih atau gunakan gel pack dingin, lalu tempelkan pada area kulit yang gatal selama 10 hingga 15 menit. Hindari menempelkan es batu secara langsung ke kulit telanjang karena bisa merusak jaringan kulit.

2. Mandi Air Oatmeal (Havermut)

Oatmeal, khususnya colloidal oatmeal, memiliki sifat anti-inflamasi alami yang sangat baik untuk menenangkan kulit yang meradang. Haluskan oatmeal tanpa perasa di blender hingga menjadi bubuk halus, lalu campurkan ke dalam bak mandi berisi air suam-suam kuku. Biarkan anak berendam selama 15-20 menit. Zat aktif dalam oatmeal akan membentuk lapisan pelindung di atas kulit dan mengunci kelembapan.

3. Oleskan Gel Lidah Buaya atau Calamine

Lidah buaya murni memiliki efek mendinginkan dan mengandung enzim yang mengurangi peradangan. Jika kamu menggunakan produk losion, carilah yang mengandung calamine atau menthol ringan yang memberikan sensasi dingin di kulit sehingga mengalihkan otak dari rasa gatal. Jika kondisi anak cukup mengganggu, kamu juga bisa menyediakan obat untuk meredakan reaksi alergi seperti antihistamin yang tersedia di apotek, namun pastikan berkonsultasi dengan apoteker terkait dosis anak.

4. Pilih Pakaian yang Longgar dan Menyerap Keringat

Gesekan kain pada kulit yang sedang meradang akan memperparah rasa gatal. Pakaikan anak baju yang longgar, terbuat dari 100% bahan katun yang lembut dan dapat menyerap keringat dengan baik. Hindari bahan sintetis seperti polyester, nilon, atau pakaian berbahan wol yang teksturnya kasar.

5. Cegah Anak Menggaruk Secara Berlebihan

Menggaruk memang memberikan kelegaan instan, tetapi ini adalah siklus setan. Semakin digaruk, kulit akan semakin meradang, histamin akan semakin banyak dilepaskan, dan gatal akan semakin menjadi-jadi (itch-scratch cycle). Selain itu, kuku yang kotor bisa memasukkan bakteri ke dalam luka garukan dan memicu infeksi sekunder seperti impetigo. Gunting kuku anak agar selalu pendek dan bersih, atau pakaikan sarung tangan katun yang tipis saat ia tidur.

Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?

Meskipun sebagian besar keluhan gatal dan bentol tidak berbahaya, ada kalanya gejala kulit ini merupakan tanda peringatan dari reaksi alergi sistemik yang parah, yang dikenal sebagai anafilaksis. Anafilaksis adalah kondisi gawat darurat medis yang dapat mengancam jiwa dan membutuhkan suntikan epinefrin dengan segera.

Segera bawa anak ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) terdekat jika ruam atau bentol disertai dengan salah satu atau lebih gejala berikut ini:

  • Pembengkakan drastis pada bibir, kelopak mata, lidah, atau tenggorokan (angioedema).
  • Kesulitan bernapas, napas berbunyi (mengi), atau anak mengeluh dadanya terasa sesak.
  • Suara berubah menjadi serak, atau anak kesulitan menelan ludahnya sendiri.
  • Mual, muntah yang hebat, atau kram perut yang menyakitkan.
  • Anak tampak sangat pucat, berkeringat dingin, pusing, hingga kehilangan kesadaran (pingsan).

Jika gejalanya tidak gawat darurat tetapi gatal tidak kunjung membaik setelah berhari-hari, ruam semakin menyebar ke seluruh tubuh, ruam terasa nyeri dan bernanah, atau disertai demam tinggi yang tidak turun-turun, kamu juga disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak.

Studi Mengenai Urtikaria pada Anak

American Academy of Pediatrics (AAP) menerbitkan berbagai laporan pedoman klinis yang menjelaskan bahwa sebagian besar kasus urtikaria akut pada bayi dan balita sangat berkaitan erat dengan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) akibat virus.

Studi observasional menunjukkan bahwa ketika anak terinfeksi rhinovirus atau adenovirus, sistem imun mereka berada dalam fase hiper-reaktif. Pelepasan sitokin dan antibodi yang bertujuan untuk melawan virus tersebut sering kali ‘salah sasaran’ dan memicu pelepasan histamin di jaringan kulit. Temuan ini penting agar orang tua tidak terburu-buru melakukan pantang makan besar-besaran (eliminasi diet) tanpa instruksi dokter, karena penyebab utamanya mungkin bukan makanan, melainkan sisa-sisa infeksi virus yang sedang dilawan oleh tubuh anak.

Kunci utama menghadapi kulit anak yang bermasalah adalah tetap tenang. Panik hanya akan membuat anak ikut merasa cemas, yang mana stres emosional justru bisa memperparah rasa gatalnya. Catat apa saja yang anak konsumsi atau lakukan sebelum bentol muncul (food and activity diary), karena catatan ini akan sangat membantu dokter dalam mendiagnosis pemicu pastinya.

Selain penanganan rumahan, kamu bisa mendapatkan produk perawatan kulit, sabun khusus kulit sensitif, atau obat-obatan P3K dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc.

Selain itu, jika kondisi tidak berangsur pulih, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui aplikasi Halodoc kapan saja dan di mana saja.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
American Academy of Pediatrics. Diakses pada 2024. Hives (Urticaria) in Children.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Hives and angioedema.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Allergic diseases and immunology.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Hives (Urticaria) in Children: Causes, Symptoms & Treatment.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Acute Urticaria in Children: Viral Infections vs. Allergies.

FAQ

1. Apakah bentol gatal pada anak akibat cuaca bisa dicegah?

Bisa. Jika anak memiliki alergi dingin, pastikan ia memakai pakaian hangat, jaket, dan syal sebelum keluar di udara malam, serta hindari kipas angin atau AC yang menyorot langsung ke arahnya. Jika dipicu panas, pakaikan baju berbahan sejuk dan pastikan sirkulasi udara di kamarnya baik.

2. Berapa lama biduran pada anak biasanya akan hilang?

Biduran atau urtikaria akut biasanya bersifat sementara. Bentol bisa muncul dan hilang di satu area dalam waktu beberapa jam, lalu muncul lagi di area tubuh yang lain. Secara keseluruhan, episode biduran akut biasanya mereda dalam waktu 24 hingga 48 jam, meski pada beberapa kasus bisa hilang timbul hingga 1-2 minggu.

3. Bolehkah memberikan bedak tabur pada kulit anak yang sedang bentol?

Sebaiknya hindari menaburkan bedak biasa secara langsung pada kulit yang sedang bentol dan digaruk hingga lecet. Bedak bisa menggumpal saat bercampur dengan keringat, menutup pori-pori, dan memicu iritasi tambahan. Lebih disarankan menggunakan losion khusus gatal seperti calamine yang bentuknya cair karena lebih mudah menyerap dan tidak menyumbat pori kulit.

4. Apa makanan yang harus dihindari saat anak gatal-gatal?

Jika belum diketahui pasti alergennya, untuk sementara waktu hindari makanan yang tinggi histamin atau memicu pelepasan histamin, seperti makanan laut kerang-kerangan, kacang-kacangan, telur setengah matang, tomat, dan makanan berpengawet buatan. Berikan anak banyak air putih dan makanan bernutrisi tinggi seperti sayur berkuah bening untuk membantu proses detoksifikasi tubuh.