Ad Placeholder Image

Macam-Macam Jenis Infus: Kenali Fungsi dan Manfaatnya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 Juni 2026

Pahami Jenis Infus: Kristaloid, Koloid, dan Tonisitas

Macam-Macam Jenis Infus: Kenali Fungsi dan ManfaatnyaMacam-Macam Jenis Infus: Kenali Fungsi dan Manfaatnya

DAFTAR ISI


Cairan infus atau terapi intravena (IV) merupakan salah satu tindakan medis yang paling umum dilakukan di rumah sakit maupun klinik kesehatan. Terapi ini melibatkan pemberian cairan langsung ke dalam pembuluh darah vena menggunakan jarum dan selang khusus. Tujuan utamanya adalah untuk mengembalikan keseimbangan cairan tubuh, memberikan nutrisi, atau menyalurkan obat-obatan secara cepat dan efektif.

Secara medis, kondisi pasien sangat menentukan jenis cairan infus apa yang akan diberikan oleh dokter. Seseorang yang mengalami dehidrasi berat akibat diare tentu membutuhkan cairan yang berbeda dengan pasien yang baru saja kehilangan banyak darah akibat kecelakaan atau operasi pembedahan. Cairan infus dirancang dengan komposisi elektrolit, gula, dan zat terlarut lainnya yang sangat spesifik.

Jika kamu mengalami keluhan seperti diare parah, muntah terus-menerus, atau demam tinggi yang berisiko memicu dehidrasi berat, jangan menunda untuk mencari pertolongan medis. Kamu bisa segera konsultasi ke dokter di Halodoc guna mendapatkan arahan dan penanganan awal yang tepat sebelum kondisi semakin memburuk.

Secara umum, cairan infus terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu kristaloid dan koloid. Nah, mau tahu apa saja pilihan 15 jenis cairan infus dan fungsinya secara lebih detail? Berikut ulasan lengkapnya!

Mengenal Cairan Infus Kristaloid

Cairan kristaloid adalah cairan infus yang mengandung partikel molekul kecil yang mudah melewati membran kapiler sel. Cairan ini paling sering digunakan sebagai resusitasi cairan awal (pengganti cairan tubuh yang hilang). Berdasarkan konsentrasinya (tonisitas), kristaloid dibagi menjadi isotonik, hipotonik, dan hipertonik.

1. Normal Saline (NaCl 0.9%)

Normal Saline adalah salah satu cairan infus yang paling sering digunakan di fasilitas kesehatan. Cairan ini bersifat isotonik, yang artinya memiliki konsentrasi osmotik yang sama dengan cairan tubuh manusia (plasma darah). Normal Saline mengandung natrium klorida (garam) yang dilarutkan dalam air.

Fungsi utama NaCl 0.9% adalah untuk mengganti cairan ekstraseluler yang hilang, misalnya pada kasus dehidrasi, syok, pendarahan, atau diare parah. Selain itu, cairan ini juga sering digunakan sebagai pelarut untuk pemberian obat suntik atau membersihkan luka.

2. Ringer Laktat (RL)

Ringer Laktat juga merupakan cairan isotonik. Bedanya dengan Normal Saline, RL mengandung elektrolit yang lebih lengkap menyerupai komposisi plasma darah, yaitu natrium, klorida, kalium, kalsium, dan laktat.

Cairan ini menjadi pilihan utama untuk resusitasi cairan pada pasien trauma, luka bakar serius, dan kehilangan darah akibat operasi bedah. Laktat di dalam cairan ini akan dimetabolisme oleh organ hati menjadi bikarbonat, sehingga sangat bermanfaat untuk mengoreksi asidosis metabolik (kondisi terlalu banyak asam dalam tubuh).

3. Dextrose 5% in Water (D5W)

D5W adalah cairan yang mengandung gula (dekstrosa) 5% di dalam air. Secara unik, cairan ini bersifat isotonik saat berada di dalam kantong infus, namun akan berubah menjadi hipotonik setelah masuk ke dalam tubuh karena sel-sel tubuh dengan cepat menyerap gula tersebut, dan menyisakan “air bebas” (free water).

D5W digunakan untuk mengobati hipernatremia (kadar natrium terlalu tinggi dalam darah), memberikan asupan kalori dasar, dan mengganti kehilangan air murni tanpa elektrolit. Cairan ini tidak boleh digunakan untuk resusitasi syok atau pada pasien dengan pembengkakan otak (edema serebral).

4. Ringer Asetat (RA)

Sama halnya dengan Ringer Laktat, Ringer Asetat adalah cairan isotonik yang ditujukan untuk mengganti kehilangan volume cairan tubuh. Perbedaan utamanya ada pada kandungan asetat sebagai pengganti laktat.

Asetat dapat dimetabolisme oleh otot, bukan oleh organ hati. Oleh karena itu, cairan Ringer Asetat lebih aman dan direkomendasikan bagi pasien yang mengalami gangguan fungsi hati kronis atau pasien dengan syok berat di mana fungsi hatinya sedang menurun.

5. Half Normal Saline (NaCl 0.45%)

Cairan ini adalah versi hipotonik dari Normal Saline, karena hanya mengandung setengah jumlah natrium klorida (0.45%). Karena bersifat hipotonik, cairan akan berpindah dari pembuluh darah masuk ke dalam sel-sel tubuh, sehingga membantu menghidrasi sel.

Half Normal Saline biasanya diberikan kepada pasien yang mengalami dehidrasi seluler kronis, hipernatremia, atau kondisi Ketoasidosis Diabetik (KAD) tahap lanjutan di mana kadar natrium darah perlu diseimbangkan secara perlahan.

6. Dextrose 5% dalam Half Normal Saline (D5 1/2 NS)

Ini adalah cairan hipertonik yang memadukan gula (dekstrosa 5%) dan garam (NaCl 0.45%). Cairan hipertonik menarik air keluar dari dalam sel menuju ke aliran darah.

Fungsi utamanya adalah sebagai cairan pemeliharaan (maintenance fluid) bagi pasien yang sedang dipuasakan sebelum operasi atau tidak dapat makan/minum secara normal. Cairan ini memberikan cadangan air, natrium, klorida, serta asupan kalori ringan untuk mencegah pemecahan protein tubuh.

7. Dextrose 5% dalam Normal Saline (D5NS)

Kombinasi antara dekstrosa 5% dan NaCl 0.9% menghasilkan cairan yang bersifat hipertonik yang kuat. D5NS digunakan dalam situasi medis di mana pasien membutuhkan pemenuhan kalori, elektrolit natrium, sekaligus ekspansi volume cairan dalam pembuluh darah.

Biasanya cairan ini digunakan sementara pada kondisi syok dini untuk mempertahankan tekanan darah, atau pada penanganan pasien dengan penyakit Addison yang sedang krisis.

8. Dextrose 10% dalam Air (D10W)

D10W adalah cairan hipertonik yang mengandung 10 gram dekstrosa dalam setiap 100 mL air. Konsentrasi gulanya yang cukup tinggi menjadikannya tidak disarankan untuk diberikan sembarangan.

Cairan infus ini secara spesifik diberikan untuk menangani hipoglikemia berat (kadar gula darah yang sangat rendah secara berbahaya) atau sebagai sumber kalori bagi pasien yang nutrisi parenteralnya sedang disiapkan.

9. Dextrose 5% dalam Ringer Laktat (D5RL)

D5RL memadukan Ringer Laktat dengan dekstrosa 5%. Cairan hipertonik ini sangat lengkap karena mengandung air, kalori dasar, natrium, klorida, kalsium, kalium, dan agen penetral asam (laktat).

Fungsi D5RL sangat krusial untuk pemulihan cairan pasca trauma, pasien dengan luka bakar parah yang juga butuh energi tambahan, atau masa pemulihan setelah operasi-operasi besar.

10. Hypertonic Saline (NaCl 3%)

Ini adalah larutan garam konsentrasi tinggi (hipertonik ekstrim) yang harus diberikan dengan sangat hati-hati dan diawasi ketat di ruang ICU. Garam berkonsentrasi 3% akan dengan cepat menarik cairan dari dalam jaringan tubuh masuk kembali ke pembuluh darah.

Hypertonic Saline hanya digunakan pada kasus kritis seperti hiponatremia simtomatik akut (kadar natrium darah merosot drastis yang memicu kejang), atau untuk mengurangi tekanan intrakranial akibat edema serebral (pembengkakan otak akibat trauma kepala).

Pentingnya Memantau Infus dan Perawatan Ekstra
  1. Pengawasan Tetesan: Kecepatan tetesan infus tidak boleh diubah sendiri tanpa pengawasan perawat atau dokter. Terlalu cepat bisa menyebabkan beban berlebih pada jantung paru (edema paru).
  2. Pantau Gejala Phlebitis: Waspadai kemerahan, bengkak, atau rasa hangat di area tusukan jarum infus. Itu bisa menjadi tanda infeksi atau iritasi vena (phlebitis).
  3. Asupan Suplemen Pasca-Rawat: Masa pemulihan setelah rawat inap sangat penting. Kamu bisa beli suplemen atau vitamin di Halodoc untuk membantu mempercepat pemulihan tubuh.

Mengenal Cairan Infus Koloid dan Nutrisi

Berbeda dengan kristaloid, cairan koloid mengandung molekul protein atau zat pati berukuran besar yang tidak bisa melewati dinding pembuluh darah. Koloid berfungsi sebagai “plasma expander” atau penarik cairan ke dalam pembuluh darah, dan efeknya bertahan lebih lama daripada kristaloid.

11. Albumin

Albumin adalah protein alami yang ditemukan dalam plasma darah manusia. Sebagai cairan infus, albumin tersedia dalam konsentrasi 5% dan 25%. Cairan ini bekerja dengan sangat efektif untuk mempertahankan dan menarik volume cairan di dalam sirkulasi darah.

Albumin digunakan pada pasien yang kehilangan banyak darah, luka bakar parah, syok hipovolemik, atau pasien yang menderita hipoalbuminemia (kadar albumin sangat rendah) yang sering dialami oleh penderita sirosis hati stadium lanjut.

12. Dextran

Dextran merupakan cairan koloid buatan yang terbuat dari polimer glukosa (Dextran 40 dan Dextran 70). Dextran dapat menarik air ke dalam sirkulasi kapiler sehingga volume darah meningkat dengan cepat.

Cairan infus ini sering digunakan untuk mengobati syok akibat pendarahan hebat atau luka bakar, sekaligus membantu mengurangi kekentalan darah sehingga dapat mencegah trombosis (penggumpalan darah) pasca operasi.

13. Gelatin

Cairan koloid berbasis gelatin (seperti Gelofusine atau Haemaccel) terbuat dari kolagen sapi. Cairan ini tidak mengganggu golongan darah dan dapat mempertahankan volume darah dalam jangka waktu beberapa jam.

Infus gelatin sering diberikan di ruang instalasi gawat darurat atau kamar operasi untuk menstabilkan tekanan darah yang drop secara tiba-tiba sebelum transfusi darah atau tindakan bedah lebih lanjut dilakukan.

14. Hydroxyethyl Starch (HES)

HES adalah cairan koloid sintetis berbahan dasar pati (biasanya dari kentang atau jagung). Cairan ini pernah sangat populer digunakan untuk ekspansi volume darah yang cepat pada pasien trauma dan syok hipovolemik kritis.

Namun, saat ini penggunaannya semakin dibatasi dan diawasi ketat. Hal ini dikarenakan berbagai studi medis terbaru menemukan bahwa HES dapat meningkatkan risiko cedera ginjal akut dan gangguan pembekuan darah jika digunakan secara sembarangan.

15. Cairan Nutrisi Parenteral Total (TPN)

Cairan TPN (Total Parenteral Nutrition) agak berbeda dari cairan resusitasi. Ini adalah campuran kompleks yang sangat pekat, terdiri dari asam amino (protein), lipid (lemak), dekstrosa tinggi, elektrolit, vitamin, dan mineral penyokong hidup.

TPN diberikan kepada pasien yang sistem pencernaannya tidak berfungsi sama sekali. Contohnya adalah pasien dengan obstruksi usus, radang usus parah (Penyakit Crohn), kelainan bawaan usus pendek, atau setelah operasi pengangkatan saluran cerna besar. Cairan ini memberikan nutrisi total secara intravena untuk mencegah malnutrisi parah.

Tujuan dan Risiko Pemberian Infus

1. Mencegah Kegagalan Organ Akibat Dehidrasi

Tanpa cairan yang cukup, organ vital seperti ginjal, hati, dan jantung tidak bisa memompa darah dengan baik. Infus kristaloid digunakan sebagai intervensi pertama untuk menyelamatkan organ-organ tersebut.

2. Risiko Ekstravasasi dan Flebitis

Meskipun menolong nyawa, infus bisa bermasalah jika jarum keluar dari vena dan cairan masuk ke jaringan sekitar (ekstravasasi) atau memicu radang pembuluh darah (flebitis). Oleh karena itu, pengawasan tenaga medis sangat krusial.

Studi Terkait

The New England Journal of Medicine (NEJM) menerbitkan studi berjudul “Fluid Resuscitation in Sepsis” yang menjelaskan bahwa pemilihan jenis cairan kristaloid vs koloid sangat memengaruhi angka kelangsungan hidup pasien krisis.

Studi tersebut mengindikasikan bahwa penggunaan cairan kristaloid isotonik (seperti NaCl 0.9% dan Ringer Laktat) harus menjadi garis pertahanan pertama bagi pasien syok septik, karena koloid tertentu (seperti HES) justru membawa risiko tambahan pada fungsi ginjal. Penelitian ini menjadi pedoman rumah sakit seluruh dunia dalam memilih jenis infus harian.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Dehydration: Diagnosis & Treatment.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Intravenous (IV) Therapy.
PubMed/NCBI. Diakses pada 2024. Intravenous Fluid Therapy in Adults in Hospital.
WHO. Diakses pada 2024. Fluid Resuscitation Guidelines.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Tata Laksana Dehidrasi dan Cairan Infus.

FAQ

1. Apakah cairan infus bisa dibeli dan dipasang sendiri di rumah?

Tidak. Pemasangan infus adalah tindakan medis invasif yang harus dilakukan oleh perawat atau dokter ahli. Penggunaan dosis dan jenis cairannya pun wajib menggunakan resep dokter sesuai indikasi keluhan pasien.

2. Apa tanda kalau cairan infus yang digunakan tidak cocok atau berlebihan?

Tanda kelebihan cairan infus (fluid overload) meliputi pembengkakan pada kaki, tangan, wajah, kesulitan bernapas, batuk-batuk, dan detak jantung berdebar cepat. Kondisi ini harus segera dilaporkan ke perawat jaga.

3. Mengapa tangan saya bengkak saat diinfus?

Tangan bengkak saat diinfus (infiltrasi) terjadi karena ujung jarum bergeser keluar dari pembuluh darah vena, sehingga cairan infus merembes ke jaringan sekitarnya. Jika ini terjadi, infus harus dicabut dan dipindahkan lokasinya.

4. Apakah cairan infus RL (Ringer Laktat) lebih baik dari NaCl?

Tidak ada yang lebih baik secara mutlak, karena keduanya digunakan untuk kondisi yang berbeda. RL lebih mirip komposisi darah sehingga sangat baik untuk pasien pendarahan pasca-trauma, sedangkan NaCl lebih sering digunakan untuk perawatan dehidrasi umum dan pencampuran obat.