Ad Placeholder Image

Makan Ikan Hiu: Lezat Tapi Tinggi Merkuri? Wajib Tahu!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   05 Mei 2026

Makan Ikan Hiu: Enak atau Bahaya? Kenali Risikonya

Makan Ikan Hiu: Lezat Tapi Tinggi Merkuri? Wajib Tahu!Makan Ikan Hiu: Lezat Tapi Tinggi Merkuri? Wajib Tahu!

Risiko Makan Ikan Hiu: Mengapa Perlu Waspada?

Makan ikan hiu merupakan praktik yang masih dilakukan di beberapa wilayah Indonesia, seperti hidangan Bagar Hiu di Bengkulu atau ikan hiu goreng di Kalimantan Barat. Meskipun demikian, konsumsi daging ikan hiu secara umum tidak dianjurkan. Hal ini disebabkan oleh potensi risiko kesehatan yang tinggi serta masalah kelestarian lingkungan. Pemahaman mendalam tentang bahaya yang mungkin timbul penting untuk menjaga kesehatan tubuh dan ekosistem laut.

Praktik Konsumsi Ikan Hiu di Indonesia

Di beberapa daerah di Indonesia, ikan hiu telah menjadi bagian dari kuliner lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Sebagai contoh, Bagar Hiu adalah hidangan khas Bengkulu yang populer, menggunakan daging hiu sebagai bahan utama. Di Kalimantan Barat, ikan hiu juga diolah menjadi hidangan goreng yang digemari masyarakat setempat.

Namun, penting untuk diingat bahwa praktik ini berisiko. Meskipun upaya pengolahan khusus seperti perendaman dalam air asam atau jeruk nipis dapat dilakukan untuk mengurangi bau amonia yang kuat dan sebagian racun, hal ini tidak sepenuhnya menghilangkan semua zat berbahaya yang terkandung di dalam daging hiu.

Bahaya Tersembunyi: Kandungan Merkuri dan Logam Berat pada Ikan Hiu

Ikan hiu menduduki posisi sebagai predator puncak dalam rantai makanan laut. Karakteristik ini menyebabkan mereka mengakumulasi konsentrasi tinggi berbagai zat berbahaya, terutama merkuri. Selain merkuri, daging hiu juga dapat mengandung arsenik, kadmium, dan PCB (polychlorinated biphenyls) dalam jumlah signifikan.

Zat-zat ini tidak hilang atau berkurang secara drastis meskipun daging ikan hiu dimasak dengan suhu tinggi. Merkuri, khususnya dalam bentuk metilmerkuri, memiliki kemampuan untuk terikat kuat pada protein dalam daging, sehingga sulit dihilangkan melalui proses memasak biasa.

Dampak Kesehatan Serius Akibat Paparan Merkuri Tinggi

Konsumsi ikan hiu yang mengandung merkuri tinggi dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada kesehatan. Paparan merkuri yang berlebihan secara kronis bisa merusak sistem saraf pusat, ginjal, dan hati. Dampak pada sistem saraf seringkali paling menonjol.

  • Gangguan Saraf: Gejala awal dapat berupa kesemutan pada tangan dan kaki, kelemahan otot, hingga gangguan koordinasi. Pada kasus yang lebih parah, dapat terjadi kejang, gangguan bicara, kesulitan mendengar, dan bahkan kehilangan penglihatan.
  • Kerusakan Organ Vital: Merkuri dapat merusak fungsi ginjal dan hati, dua organ penting dalam proses detoksifikasi tubuh. Kerusakan jangka panjang pada organ ini bisa berujung pada gagal fungsi.
  • Risiko Koma: Paparan merkuri yang sangat tinggi dan berkelanjutan dapat menyebabkan kondisi serius hingga koma, yang mengancam jiwa.
  • Kelompok Rentan: Anak-anak dan ibu hamil sangat rentan terhadap dampak merkuri. Pada ibu hamil, merkuri dapat menembus plasenta dan memengaruhi perkembangan otak serta sistem saraf janin, menyebabkan cacat lahir atau gangguan perkembangan saraf. Pada anak-anak, paparan merkuri dapat menghambat perkembangan kognitif dan motorik.

Isu Lingkungan: Ancaman terhadap Kelestarian Ikan Hiu

Selain risiko kesehatan, konsumsi ikan hiu juga menimbulkan masalah serius terkait kelestarian lingkungan. Sebagai predator puncak, ikan hiu memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Penangkapan hiu secara berlebihan untuk dikonsumsi dapat mengganggu rantai makanan laut, yang pada akhirnya berdampak negatif pada kesehatan seluruh ekosistem.

Banyak spesies hiu saat ini tergolong rentan hingga terancam punah. Oleh karena itu, mengurangi permintaan dan konsumsi daging hiu adalah langkah penting untuk mendukung upaya konservasi spesies ini.

Panduan Konsumsi Ikan Hiu: Jika Tetap Memilihnya

Apabila seseorang tetap memilih untuk mengonsumsi ikan hiu, beberapa hal perlu diperhatikan untuk meminimalkan risiko. Pemilihan jenis hiu dan frekuensi konsumsi menjadi sangat penting.

  • Pilih Jenis Hiu Kecil: Hiu kecil, seperti hiu lanjaman, cenderung memiliki akumulasi merkuri yang lebih rendah dibandingkan hiu besar atau berumur panjang.
  • Pengolahan Khusus: Lakukan perendaman daging hiu dalam air asam atau perasan jeruk nipis selama beberapa waktu sebelum dimasak. Langkah ini dapat membantu mengurangi bau amonia dan beberapa toksin, meski tidak sepenuhnya menghilangkan merkuri.
  • Konsumsi Tidak Rutin: Batasi frekuensi konsumsi daging hiu. Hindari menjadikannya bagian dari menu makanan harian atau mingguan.
  • Waspada pada Kelompok Rentan: Anak-anak dan ibu hamil sebaiknya sepenuhnya menghindari konsumsi daging hiu karena risiko serius terhadap perkembangan saraf.

Kesimpulan dan Rekomendasi Kesehatan

Meskipun konsumsi ikan hiu memiliki nilai budaya di beberapa daerah, risiko kesehatan yang terkait dengan kandungan merkuri dan logam berat lainnya jauh lebih besar dibandingkan manfaatnya. Dampak serius terhadap sistem saraf, ginjal, dan hati, serta ancaman terhadap kelestarian lingkungan, menjadikan konsumsi ikan hiu sebagai pilihan yang tidak disarankan.

Untuk menjaga kesehatan optimal, disarankan untuk memilih sumber protein laut lain yang lebih aman dan berkelanjutan, seperti ikan salmon, sarden, atau makarel yang kaya akan omega-3 dan rendah merkuri. Jika memiliki kekhawatiran terkait pola makan atau gejala kesehatan tertentu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter melalui Halodoc untuk mendapatkan saran medis yang akurat dan personal.