Ad Placeholder Image

Makanan Berlemak Itu Apa Saja: Sehatkah atau Tidak?

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 17 Juni 2026

Makanan Berlemak Itu Apa Saja? Ada Sehat dan Tidak Sehat.

Makanan Berlemak Itu Apa Saja: Sehatkah atau Tidak?Makanan Berlemak Itu Apa Saja: Sehatkah atau Tidak?

DAFTAR ISI


Ketika mendengar kata “makanan lemak” atau “makanan berlemak”, hal pertama yang mungkin terlintas di pikiran kamu adalah masalah berat badan, perut buncit, atau penyakit kolesterol tinggi. Paradigma ini sudah lama melekat di masyarakat kita, sehingga banyak orang yang sedang menjalani diet berusaha mati-matian menghindari semua asupan lemak.

Namun, tahukah kamu bahwa tubuh manusia sebenarnya sangat membutuhkan lemak untuk bisa berfungsi dengan optimal? Secara biologis, lemak adalah makronutrien esensial yang bertugas sebagai sumber energi cadangan, pelindung organ vital, penjaga suhu tubuh, serta komponen penting dalam pembentukan membran sel dan produksi hormon (seperti testosteron dan estrogen). Selain itu, lemak juga berfungsi sebagai pengangkut vitamin yang larut dalam lemak, yaitu vitamin A, D, E, dan K, agar bisa diserap oleh usus.

Permasalahan utamanya bukanlah pada “apakah kita boleh makan lemak atau tidak”, melainkan pada jenis lemak apa yang kita konsumsi dan seberapa banyak porsinya. Ada makanan berlemak yang justru bisa menyehatkan jantung dan otak, namun ada pula yang bisa memicu berbagai penyakit kronis jika dikonsumsi berlebihan. Jika kamu sering mengonsumsi gorengan dan mulai merasakan keluhan seperti tengkuk terasa berat atau dada sering berdebar, sangat disarankan untuk segera melakukan konsultasi dokter spesialis penyakit dalam guna memastikan kadar kolesterol dan tekanan darahmu tetap aman.

Nah, agar tidak salah kaprah, mari kita bahas secara tuntas mengenai makanan berlemak itu apa saja, mana yang sehat, mana yang jahat, serta dampaknya bagi kesehatan tubuh!

Jenis-Jenis Lemak yang Perlu Diketahui

Sebelum mengkategorikan makanan, kita harus memahami terlebih dahulu klasifikasi lemak secara ilmiah. Dalam dunia medis dan gizi, lemak dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan struktur kimiawinya. Perbedaan struktur inilah yang menentukan bagaimana tubuh mencerna dan merespons lemak tersebut.

1. Lemak Tak Jenuh Tunggal (Monounsaturated Fats)

Ini adalah salah satu jenis lemak baik yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Lemak tak jenuh tunggal berbentuk cair pada suhu ruang tetapi bisa sedikit membeku pada suhu dingin. Fungsinya sangat baik untuk menjaga kesehatan jantung karena dapat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) tanpa menurunkan kadar kolesterol baik (HDL).

2. Lemak Tak Jenuh Ganda (Polyunsaturated Fats)

Sama seperti lemak tak jenuh tunggal, lemak ini juga merupakan lemak baik. Lemak tak jenuh ganda mencakup asam lemak omega-3 dan omega-6 yang merupakan asam lemak esensial. Kata “esensial” berarti tubuh manusia tidak bisa memproduksinya sendiri, sehingga asupannya mutlak harus didapatkan dari makanan atau suplemen. Untuk memenuhi kebutuhan harian yang sulit didapat dari makanan utuh, banyak orang memilih untuk mengonsumsi suplemen minyak ikan berkualitas yang kaya akan EPA dan DHA.

3. Lemak Jenuh (Saturated Fats)

Lemak jenuh memiliki struktur kimia yang padat pada suhu ruang (contohnya lemak pada daging sapi atau mentega). Konsumsi lemak jenuh sebenarnya tidak sepenuhnya dilarang, namun harus dibatasi. Asosiasi Jantung Amerika (AHA) merekomendasikan batas konsumsi lemak jenuh hanya sekitar 5-6% dari total kalori harian. Jika dikonsumsi berlebihan, lemak ini dapat memicu penumpukan plak di pembuluh darah arteri (aterosklerosis).

4. Lemak Trans (Trans Fats)

Inilah jenis lemak yang paling berbahaya bagi kesehatan. Lemak trans terbagi menjadi dua: alami (terdapat dalam jumlah sangat kecil pada susu dan daging hewan ruminansia) dan buatan (terbentuk melalui proses hidrogenasi industrial). Lemak trans buatan dibuat dengan menambahkan hidrogen pada minyak cair agar menjadi padat dan lebih awet. Lemak ini sangat merusak sistem kardiovaskular karena ia secara ganda meningkatkan kolesterol jahat (LDL) sekaligus menurunkan kolesterol baik (HDL).

Mitos vs Fakta Lemak
  1. Mitos: Semua makanan berlemak bikin gemuk. Fakta: Mengonsumsi lemak sehat dalam porsi wajar justru membuat perut kenyang lebih lama dan mendukung penurunan berat badan.
  2. Mitos: Diet bebas lemak adalah yang paling sehat. Fakta: Tubuh tanpa asupan lemak akan kekurangan vitamin A, D, E, dan K, serta mengalami gangguan hormon dan fungsi otak.
  3. Mitos: Margarin selalu lebih baik dari mentega. Fakta: Banyak margarin murah yang mengandung lemak trans tinggi, yang justru lebih berbahaya daripada lemak jenuh pada mentega alami.

Makanan Berlemak yang Sehat dan Dianjurkan

Setelah mengetahui jenis-jenisnya, kini saatnya mengenali sumber makanan yang mengandung lemak sehat (lemak tak jenuh tunggal dan ganda). Makanan-makanan ini tidak hanya aman dikonsumsi, tetapi juga memberikan efek protektif bagi organ tubuh.

1. Alpukat

Berbeda dengan sebagian besar buah yang kaya karbohidrat, alpukat justru didominasi oleh lemak sehat, khususnya asam oleat (lemak tak jenuh tunggal) yang juga ditemukan dalam minyak zaitun. Asam oleat telah terbukti secara klinis mampu mengurangi peradangan dalam tubuh dan memiliki efek perlindungan terhadap penyakit jantung. Alpukat juga kaya akan serat dan kalium yang sangat baik untuk pencernaan dan tekanan darah.

2. Ikan Berlemak (Fatty Fish)

Ikan seperti salmon, sarden, makarel, haring, dan tuna adalah sumber terbaik asam lemak omega-3. Omega-3 sangat krusial untuk menjaga fungsi kognitif otak, mengurangi risiko depresi, serta mencegah terjadinya aritmia (gangguan irama jantung). Disarankan untuk mengonsumsi ikan berlemak setidaknya dua kali seminggu dengan cara dipanggang, direbus, atau dikukus, bukan digoreng kering.

3. Kacang-kacangan dan Biji-bijian

Kacang almond, kenari (walnut), kacang tanah, chia seeds, dan flaxseeds adalah camilan super sehat yang padat nutrisi. Selain mengandung lemak sehat, makanan ini juga merupakan sumber protein nabati, serat, magnesium, dan vitamin E. Sebuah studi observasional yang panjang menunjukkan bahwa orang yang rutin makan kacang-kacangan memiliki risiko lebih rendah terkena obesitas, penyakit jantung, dan diabetes tipe 2.

4. Minyak Zaitun Extra Virgin (EVOO)

Minyak zaitun adalah komponen utama dalam Diet Mediterania yang diakui sebagai salah satu pola makan tersehat di dunia. Extra Virgin Olive Oil mengandung antioksidan kuat bernama oleocanthal yang bekerja mirip dengan obat antiinflamasi ibuprofen. Minyak zaitun sangat cocok digunakan sebagai dressing salad atau ditambahkan pada makanan yang sudah matang.

5. Telur Utuh

Dulu bagian kuning telur sering dijauhi karena dianggap tinggi kolesterol. Namun, penelitian terbaru membuktikan bahwa kolesterol dari makanan (dietary cholesterol) pada mayoritas orang tidak memengaruhi kadar kolesterol dalam darah secara signifikan. Telur utuh justru kaya akan lemak sehat, protein berkualitas tinggi, serta kolin yang sangat penting untuk kesehatan saraf dan otak.

Makanan Berlemak yang Harus Dihindari atau Dibatasi

Di sisi lain, kebiasaan masyarakat kita yang sering mengonsumsi makanan yang digoreng atau diolah dengan suhu tinggi merupakan penyumbang terbesar masuknya lemak jahat ke dalam tubuh. Berikut adalah makanan yang sebaiknya mulai kamu kurangi atau hindari sepenuhnya.

1. Gorengan dan Fast Food

Ayam goreng tepung, kentang goreng, bakwan, pisang goreng, dan makanan cepat saji lainnya umumnya digoreng menggunakan minyak sayur (seperti minyak kelapa sawit) secara berulang-ulang dengan suhu yang sangat tinggi. Proses ini mengubah struktur minyak menjadi lemak trans yang bersifat karsinogenik (pemicu kanker) dan memicu penyumbatan pembuluh darah.

2. Daging Olahan (Processed Meat)

Sosis, nugget, bacon, kornet, dan daging asap tidak hanya tinggi akan lemak jenuh, tetapi juga penuh dengan pengawet seperti natrium dan nitrat. Konsumsi daging olahan secara rutin telah dikaitkan oleh WHO dengan peningkatan risiko kanker usus besar (kolorektal), hipertensi, dan penyakit jantung koroner.

3. Kue, Biskuit, dan Pastry Komersial

Makanan manis yang diproduksi secara massal di pabrik sering kali menggunakan shortening atau margarin industri yang mengandung lemak trans buatan agar teksturnya renyah dan tahan lama di rak toko. Perpaduan antara gula rafinasi yang tinggi dan lemak trans adalah “bom waktu” bagi risiko diabetes tipe 2 dan obesitas sentral (lemak perut).

4. Potongan Daging Merah Berlemak Tinggi

Daging sapi, kambing, atau domba yang memiliki banyak gajih (lemak putih) mengandung lemak jenuh dalam jumlah tinggi. Jika ingin makan daging merah, pilihlah potongan yang tanpa lemak (lean meat) seperti sirloin atau tenderloin, dan buang lapisan lemak kasat mata sebelum memasaknya.

Dampak Kesehatan Jika Salah Memilih Lemak

Apa yang terjadi jika tubuh terus-menerus disuplai dengan lemak jenuh dan lemak trans selama bertahun-tahun? Tubuh akan merespons melalui kondisi yang disebut inflamasi kronis tingkat rendah (low-grade chronic inflammation).

Kondisi ini perlahan-lahan merusak endotelium (lapisan dalam pembuluh darah). Kolesterol LDL yang tinggi akibat lemak trans akan teroksidasi dan menempel pada dinding pembuluh darah yang rusak, membentuk plak. Seiring waktu, plak ini mengeras dan mempersempit aliran darah. Jika plak ini pecah dan menyumbat pembuluh darah di jantung, akan terjadi serangan jantung (Myocardial Infarction). Jika penyumbatan terjadi di otak, akan menyebabkan stroke iskemik.

Selain masalah kardiovaskular, konsumsi lemak jahat berlebihan juga mengganggu sensitivitas hormon insulin. Sel-sel tubuh menjadi kebal terhadap insulin (resistensi insulin), sehingga gula darah menumpuk di aliran darah dan berujung pada penyakit Diabetes Melitus Tipe 2. Selain itu, organ hati yang dipaksa bekerja keras memetabolisme lemak jahat juga dapat mengalami kondisi perlemakan hati non-alkoholik (Non-Alcoholic Fatty Liver Disease/NAFLD).

Tips Sehat Mengonsumsi Makanan Berlemak

Menerapkan gaya hidup sehat bukan berarti makan hambar setiap hari. Kamu tetap bisa menikmati makanan berlemak asalkan menggunakan strategi yang tepat. Berikut adalah panduan praktisnya:

1. Ubah Metode Memasak

Kurangi teknik deep-frying (menggoreng dengan minyak banyak). Beralihlah ke metode memanggang (roasting/baking), merebus (boiling), mengukus (steaming), atau menumis (sautéing) dengan sedikit minyak zaitun atau minyak kanola. Kamu juga bisa memanfaatkan teknologi air fryer untuk mendapatkan tekstur renyah dengan sedikit atau tanpa minyak sama sekali.

2. Cermat Membaca Label Nutrisi

Saat membeli produk kemasan, perhatikan informasi nilai gizi di belakang kemasan. Jauhi produk yang mencantumkan kata “partially hydrogenated oils” (minyak terhidrogenasi parsial) pada komposisinya, karena itu adalah nama lain dari lemak trans. Pilih produk dengan kandungan lemak jenuh kurang dari 2 gram per sajian.

3. Praktekkan Substitusi Makanan

Gantilah sumber lemak jahat dengan lemak baik dalam menu harian. Misalnya, ganti mentega olesan roti dengan selai kacang murni (tanpa gula tambahan) atau tumbukan alpukat. Ganti camilan keripik kentang goreng dengan kacang almond panggang atau edamame rebus. Ganti konsumsi daging sapi berlemak dengan tahu, tempe, atau ikan laut.

Studi Mengenai Asupan Lemak dan Kesehatan Jantung

American Heart Association (AHA) menerbitkan pedoman klinis yang konsisten menjelaskan bahwa mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh dalam pola makan sehari-hari dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 30%.

Studi ini menemukan bahwa efek perlindungan ini setara dengan manfaat yang didapatkan dari mengonsumsi obat penurun kolesterol golongan statin. Penelitian ini menegaskan pentingnya kualitas lemak yang dikonsumsi (fokus pada minyak nabati cair, kacang-kacangan, dan ikan) daripada sekadar membatasi kuantitas lemak secara keseluruhan.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Kesehatan adalah investasi jangka panjang. Pilihlah sumber makananmu dengan bijak, dan jadikan makanan sebagai asupan nutrisi yang menyehatkan, bukan racun yang merusak organ. Kamu bisa mendapatkan berbagai kebutuhan suplemen pendukung kesehatan jantung dan alat cek kesehatan mandiri dengan praktis dan cepat melalui fitur toko kesehatan di aplikasi Halodoc.

Referensi:
American Heart Association (AHA). Diakses pada 2024. Saturated Fat vs. Unsaturated Fat.
Harvard T.H. Chan School of Public Health. Diakses pada 2024. Types of Fat.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Dietary fats: Know which types to choose.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Healthy diet fact sheet.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Fat: What You Need to Know.

FAQ

1. Apakah makanan berlemak selalu menyebabkan kolesterol tinggi?

Tidak selalu. Lemak jahat (lemak trans dan lemak jenuh) memang dapat meningkatkan kolesterol LDL (jahat). Namun, makanan yang mengandung lemak tak jenuh (seperti alpukat dan ikan salmon) justru membantu meningkatkan kolesterol HDL (baik) dan menjaga kesehatan pembuluh darah.

2. Berapa gram batas konsumsi lemak jenuh per hari?

Menurut panduan medis umum, asupan lemak jenuh sebaiknya tidak melebihi 10% dari total kalori harian. Untuk orang dengan riwayat penyakit jantung, batasnya lebih ketat, yaitu sekitar 5-6% (sekitar 11-13 gram jika asupan kalori harian adalah 2000 kalori).

3. Apakah minyak kelapa termasuk lemak sehat?

Minyak kelapa merupakan salah satu sumber lemak jenuh nabati. Meskipun beberapa studi menyebutkan asam lemak rantai sedang (MCT) di dalamnya memiliki manfaat, American Heart Association tetap menyarankan agar penggunaannya dibatasi dan lebih mengutamakan minyak zaitun atau kanola untuk kesehatan jantung.

4. Kenapa gorengan sangat tidak sehat padahal terbuat dari sayuran dan tempe?

Masalahnya bukan pada bahan dasarnya (sayur/tempe), melainkan pada proses penggorengannya. Menggunakan minyak goreng secara berulang pada suhu tinggi mengubah struktur kimia minyak menjadi lemak trans buatan, yang sangat memicu peradangan dan pembentukan plak pada arteri.