Ad Placeholder Image

Mastositosis: Saat Sel Mast Bikin Tubuh Reaktif

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   12 Mei 2026

Mastositosis: Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Mastositosis: Saat Sel Mast Bikin Tubuh ReaktifMastositosis: Saat Sel Mast Bikin Tubuh Reaktif

Mengenal Mastositosis: Penumpukan Sel Imun Langka dan Penanganannya

Mastositosis merupakan sebuah kondisi medis langka yang disebabkan oleh penumpukan sel mast secara tidak normal dalam tubuh. Sel mast adalah jenis sel imun yang berperan dalam respons alergi dan peradangan. Penumpukan ini dapat terjadi di kulit, organ dalam seperti sumsum tulang, hati, dan limpa. Akibatnya, penderita dapat mengalami gejala alergi parah atau masalah pada organ yang terkena.

Kondisi ini terbagi menjadi dua jenis utama, yakni mastositosis kulit dan mastositosis sistemik. Penanganannya seringkali berfokus pada gejala, terutama reaksi alergi. Meskipun sering bersifat kronis, pemahaman mendalam tentang mastositosis penting untuk pengelolaan yang efektif.

Apa Itu Mastositosis?

Mastositosis adalah gangguan yang dicirikan oleh pertumbuhan dan akumulasi berlebihan dari sel mast. Sel mast adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh yang melepaskan zat kimia seperti histamin sebagai respons terhadap alergen atau iritasi. Pada penderita mastositosis, sel mast yang terlalu banyak ini dapat melepaskan zat kimia tersebut secara spontan atau berlebihan.

Pelepasan zat kimia ini menyebabkan berbagai gejala. Kondisi ini dapat bermanifestasi ringan hanya di kulit, atau lebih serius dengan melibatkan berbagai organ internal.

Jenis-Jenis Mastositosis

Ada dua jenis utama mastositosis yang perlu diketahui, masing-masing dengan karakteristik dan tingkat keparahan yang berbeda.

  • Mastositosis Kulit (Kutan): Ini adalah bentuk paling umum, terutama pada anak-anak. Penumpukan sel mast hanya terjadi di kulit, seringkali menyebabkan ruam, gatal, atau lesi kulit. Kondisi ini cenderung membaik atau hilang seiring bertambahnya usia anak.
  • Mastositosis Sistemik: Jenis ini lebih serius karena melibatkan organ di luar kulit. Sel mast abnormal dapat menumpuk di sumsum tulang, hati, limpa, saluran pencernaan, dan organ lainnya. Mastositosis sistemik bersifat kronis dan umumnya tidak dapat disembuhkan total, membutuhkan pengelolaan jangka panjang.

Gejala Mastositosis

Gejala mastositosis bervariasi tergantung pada lokasi dan jumlah sel mast yang menumpuk. Pada mastositosis kulit, gejala utamanya adalah manifestasi pada kulit.

  • Gatal-gatal hebat
  • Ruam kemerahan atau kecoklatan (urtikaria pigmentosa)
  • Pembengkakan kulit (dermatografisme)
  • Lesi yang mengembang dan gatal saat digaruk (tanda Darier)

Untuk mastositosis sistemik, gejala dapat jauh lebih luas dan memengaruhi berbagai sistem organ. Ini karena pelepasan histamin dan zat kimia lainnya secara sistemik.

  • Reaksi alergi parah, termasuk anafilaksis (syok anafilaktik)
  • Gangguan pencernaan seperti mual, muntah, diare, nyeri perut
  • Sakit kepala dan pusing
  • Kelelahan
  • Nyeri tulang atau sendi
  • Pembesaran hati atau limpa
  • Perubahan tekanan darah

Penyebab Mastositosis

Penyebab utama mastositosis seringkali berkaitan dengan mutasi genetik pada gen KIT. Gen KIT berperan penting dalam pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel mast. Mutasi ini menyebabkan sel mast menjadi terlalu aktif dan berkembang biak secara tidak terkendali.

Pada banyak kasus mastositosis, mutasi gen KIT ini terjadi secara sporadis, artinya tidak diwariskan dari orang tua. Faktor pemicu lain seperti infeksi, stres, alkohol, atau paparan suhu ekstrem juga dapat memicu pelepasan sel mast yang berlebihan pada penderita.

Diagnosis Mastositosis

Diagnosis mastositosis dimulai dengan evaluasi riwayat medis dan pemeriksaan fisik. Dokter akan mencari tanda-tanda khas seperti lesi kulit atau pembesaran organ. Beberapa tes tambahan seringkali diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis dan menentukan jenis mastositosis.

  • Biopsi kulit atau sumsum tulang: Untuk mendeteksi penumpukan sel mast abnormal.
  • Tes darah dan urin: Mengukur kadar triptase, sebuah enzim yang dilepaskan oleh sel mast.
  • Pemindaian pencitraan: Seperti USG, CT scan, atau MRI untuk mengevaluasi organ dalam.
  • Tes genetik: Untuk mengidentifikasi mutasi gen KIT.

Pengobatan Mastositosis

Pengobatan mastositosis berfokus pada pengelolaan gejala dan mencegah komplikasi. Karena mastositosis seringkali kronis, terutama bentuk sistemik, tujuan pengobatan adalah meningkatkan kualitas hidup pasien. Pilihan terapi akan disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahan kondisi.

  • Antihistamin: Obat ini efektif untuk mengurangi gatal, ruam, dan gejala alergi lainnya.
  • Epinefrin: Penderita dengan risiko anafilaksis tinggi mungkin perlu membawa suntikan epinefrin otomatis (auto-injector) sebagai pertolongan pertama.
  • Obat penstabil sel mast: Seperti kromolin natrium, dapat membantu mencegah pelepasan zat kimia dari sel mast.
  • Obat-obatan lain: Termasuk kortikosteroid, interferon, atau terapi target khusus untuk kasus mastositosis sistemik yang lebih parah atau agresif.
  • Menghindari pemicu: Mengidentifikasi dan menghindari pemicu seperti makanan tertentu, obat-obatan, atau suhu ekstrem.

Komplikasi Mastositosis

Komplikasi mastositosis dapat bervariasi dari ringan hingga mengancam jiwa. Pada mastositosis kulit, komplikasi umumnya terbatas pada masalah kulit. Namun, pada mastositosis sistemik, potensi komplikasi jauh lebih luas dan serius.

  • Reaksi anafilaksis: Ini adalah reaksi alergi parah yang dapat menyebabkan penurunan tekanan darah, kesulitan bernapas, dan bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani.
  • Osteoporosis: Penumpukan sel mast di tulang dapat menyebabkan kerapuhan tulang.
  • Malabsorpsi: Gangguan penyerapan nutrisi akibat keterlibatan saluran pencernaan.
  • Anemia: Terutama pada kasus dengan keterlibatan sumsum tulang.
  • Transformasi menjadi keganasan: Pada kasus yang sangat jarang dan parah dari mastositosis sistemik, kondisi ini dapat berkembang menjadi leukemia sel mast.

Kapan Harus ke Dokter?

Seseorang disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gejala yang dicurigai sebagai mastositosis. Terutama jika muncul ruam kulit yang tidak biasa, gatal-gatal hebat, atau gejala alergi parah tanpa pemicu yang jelas. Diagnosis dini dan pengelolaan yang tepat sangat penting untuk mengendalikan kondisi ini dan mencegah komplikasi serius.

Akses informasi medis yang akurat dan konsultasi dengan dokter spesialis dapat dilakukan melalui Halodoc. Tim medis Halodoc siap memberikan panduan dan rekomendasi perawatan sesuai kebutuhan medis.