Ad Placeholder Image

Mata Merah Seperti Berdarah: Normal atau Bahaya?

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   03 Juni 2026

Mata Merah Seperti Berdarah, Waspadai Bahayanya

Mata Merah Seperti Berdarah: Normal atau Bahaya?Mata Merah Seperti Berdarah: Normal atau Bahaya?

Ringkasan: Mata berdarah adalah kondisi pecahnya pembuluh darah kecil di bawah lapisan bening mata (konjungtiva) atau adanya penumpukan darah di bilik depan mata. Gejala ini sering disebabkan oleh trauma, tekanan darah tinggi, atau komplikasi medis tertentu yang memerlukan penanganan sesuai jenis perdarahannya.

Apa Itu Mata Berdarah?

Mata berdarah adalah istilah medis yang merujuk pada beberapa kondisi perdarahan pada area mata, mulai dari yang ringan hingga serius. Kondisi paling umum adalah perdarahan subkonjungtiva (subconjunctival hemorrhage), yaitu pecahnya pembuluh darah halus di bawah selaput bening yang melapisi bagian putih mata.

Selain perdarahan subkonjungtiva, terdapat kondisi yang lebih serius seperti hifema, yakni penumpukan darah di antara kornea dan iris. Darah juga dapat muncul di bagian belakang mata yang dikenal sebagai perdarahan vitreous. Setiap jenis perdarahan memiliki tingkat urgensi medis yang berbeda-beda tergantung pada lokasi dan penyebabnya.

Meskipun perdarahan subkonjungtiva seringkali tampak menakutkan karena warna merah terang pada mata, kondisi ini biasanya tidak menyebabkan gangguan penglihatan. Sebaliknya, hifema dapat mengancam penglihatan secara permanen dan membutuhkan perhatian medis segera. Pemahaman mengenai perbedaan jenis perdarahan sangat penting untuk langkah penanganan selanjutnya.

Gejala Mata Berdarah

Gejala mata berdarah bervariasi tergantung pada bagian mata yang mengalami kerusakan pembuluh darah. Pada perdarahan subkonjungtiva, gejala utama adalah bercak merah terang pada bagian putih mata (sklera) yang dapat meluas dalam waktu 24 jam. Kondisi ini biasanya tidak disertai rasa nyeri, gatal, atau perubahan ketajaman penglihatan.

Berbeda dengan itu, gejala hifema meliputi adanya genangan darah yang terlihat di depan iris atau pupil. Penderita hifema sering merasakan nyeri hebat pada mata, sensitivitas terhadap cahaya (fotofobia), serta pandangan yang kabur atau terhalang. Tekanan di dalam bola mata juga cenderung meningkat pada kasus hifema yang berat.

Gejala tambahan yang mungkin muncul meliputi perasaan mengganjal pada mata atau pembengkakan ringan pada jaringan sekitar. Jika perdarahan terjadi akibat trauma, gejala dapat disertai dengan memar di area kelopak mata. Pengamatan terhadap gejala penyerta sangat membantu dalam menentukan tingkat keparahan kondisi medis tersebut.

Apa Penyebab Mata Berdarah?

Penyebab mata berdarah dapat dikategorikan menjadi faktor fisik eksternal dan kondisi kesehatan sistemik di dalam tubuh. Faktor fisik yang paling sering ditemukan adalah trauma atau cedera langsung pada mata akibat benda tumpul atau tajam. Selain itu, tindakan sederhana seperti mengucek mata terlalu keras juga dapat memicu pecahnya pembuluh darah.

Tekanan mendadak pada area kepala dan leher juga menjadi pemicu signifikan bagi perdarahan subkonjungtiva. Hal ini meliputi batuk yang sangat kuat, bersin yang keras, muntah, hingga mengejan saat buang air besar. Aktivitas fisik berat atau mengangkat beban berlebihan secara tiba-tiba juga diketahui dapat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah kapiler mata.

Kondisi medis sistemik seperti hipertensi (tekanan darah tinggi) dan diabetes melitus seringkali menjadi penyebab mendasar kerusakan pembuluh darah. Selain itu, penggunaan obat-obatan pengencer darah (antikoagulan) atau adanya gangguan pembekuan darah dapat meningkatkan risiko perdarahan spontan. Infeksi mata yang parah atau komplikasi pasca operasi mata juga termasuk dalam faktor risiko potensial.

“Perdarahan pada mata dapat menjadi indikator adanya masalah kesehatan mendasar seperti hipertensi atau gangguan pembekuan darah yang memerlukan evaluasi klinis menyeluruh.” — Kementerian Kesehatan RI, 2023

Diagnosis Medis

Diagnosis mata berdarah dimulai dengan pemeriksaan fisik secara mendalam terhadap struktur mata oleh tenaga medis atau dokter spesialis mata. Dokter akan melakukan anamnesis untuk mengetahui riwayat cedera, penggunaan obat-obatan, serta gejala penyerta lainnya. Evaluasi ketajaman penglihatan (visus) dilakukan untuk memastikan tidak ada penurunan fungsi penglihatan.

Pemeriksaan menggunakan slit-lamp (lampu celah) diperlukan untuk melihat struktur internal mata dengan perbesaran tinggi. Alat ini membantu dokter membedakan antara perdarahan di permukaan dengan penumpukan darah di dalam bilik mata depan (hifema). Pengukuran tekanan intraokular (tonometri) juga wajib dilakukan untuk mendeteksi adanya glaukoma sekunder akibat perdarahan.

Jika dicurigai adanya trauma tembus atau kerusakan pada bagian belakang mata, pemeriksaan penunjang seperti USG mata atau CT scan mungkin diperlukan. Tes darah laboratorium juga dapat disarankan untuk memeriksa fungsi pembekuan darah atau kadar gula darah. Diagnosis yang akurat menjadi kunci dalam menentukan apakah pasien memerlukan observasi mandiri atau tindakan bedah segera.

Bagaimana Cara Mengobati Mata Berdarah?

Pengobatan mata berdarah sangat bergantung pada diagnosis akhir dan tingkat keparahan yang dialami oleh pasien. Untuk kasus perdarahan subkonjungtiva ringan, biasanya tidak diperlukan pengobatan khusus karena darah akan terserap kembali secara alami dalam 1 hingga 2 minggu. Penggunaan air mata buatan (artificial tears) dapat membantu meredakan sensasi mengganjal pada mata.

Pada kasus hifema atau perdarahan internal, pengobatan menjadi lebih kompleks dan memerlukan pengawasan ketat. Pasien biasanya disarankan untuk beristirahat total (bed rest) dengan posisi kepala ditinggikan minimal 30 derajat untuk membantu drainase darah. Dokter mungkin meresepkan tetes mata steroid untuk mengurangi peradangan atau tetes mata sikloplegik untuk mengurangi nyeri.

Penanganan terhadap penyebab sistemik seperti pengontrolan tekanan darah atau penyesuaian dosis obat pengencer darah sangat krusial. Jika tekanan dalam mata meningkat drastis atau darah tidak terserap dalam waktu lama, tindakan bedah mungkin diperlukan untuk mengeluarkan darah dari bilik mata. Selama masa pemulihan, pasien dilarang melakukan aktivitas fisik berat atau mengucek mata guna mencegah perdarahan berulang.

Langkah Pencegahan

Pencegahan mata berdarah berfokus pada perlindungan fisik mata dan pengelolaan kesehatan tubuh secara menyeluruh. Penggunaan alat pelindung mata atau kacamata pelindung (safety goggles) sangat dianjurkan saat melakukan aktivitas berisiko tinggi. Hal ini mencakup olahraga kontak, bekerja di bengkel, atau menggunakan bahan kimia berbahaya.

Mengelola kondisi medis kronis secara rutin merupakan langkah pencegahan yang sangat efektif bagi kelompok berisiko. Pasien dengan hipertensi dan diabetes harus menjaga tekanan darah dan kadar gula darah dalam rentang normal untuk mencegah kerusakan mikrovaskular. Selain itu, menghindari kebiasaan mengucek mata secara kasar dapat mencegah pecahnya kapiler konjungtiva yang rapuh.

Penerapan gaya hidup sehat dan konsumsi nutrisi yang mendukung kesehatan pembuluh darah juga bermanfaat secara jangka panjang. Rutin melakukan pemeriksaan mata tahunan dapat membantu mendeteksi masalah kesehatan sejak dini sebelum berkembang menjadi komplikasi serius. Memastikan tangan dalam keadaan bersih sebelum menyentuh area sekitar mata juga meminimalisir risiko infeksi yang dapat memicu perdarahan.

“Perlindungan mata yang tepat saat beraktivitas dan pengendalian faktor risiko sistemik dapat menurunkan kejadian cedera mata dan perdarahan okular secara signifikan.” — World Health Organization, 2021

Kapan Harus ke Dokter?

Pasien harus segera mencari pertolongan medis jika mata berdarah disertai dengan penurunan ketajaman penglihatan secara tiba-tiba. Nyeri hebat pada bola mata atau nyeri yang menjalar ke area kepala juga merupakan tanda bahaya yang memerlukan penanganan darurat. Kondisi ini seringkali menandakan adanya peningkatan tekanan intraokular yang dapat merusak saraf optik.

Riwayat cedera atau benturan keras pada mata yang diikuti munculnya darah wajib segera dikonsultasikan untuk menyingkirkan kemungkinan hifema. Selain itu, jika perdarahan tidak kunjung membaik setelah dua minggu atau terus berulang tanpa penyebab jelas, evaluasi medis menyeluruh diperlukan. Segera lakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan diagnosis awal yang tepat.

Kondisi medis lain seperti muntah terus-menerus, pusing, atau adanya darah yang menutupi bagian pupil juga tidak boleh diabaikan. Penanganan dini pada kasus mata berdarah yang serius dapat mencegah komplikasi permanen seperti kehilangan penglihatan. Memantau setiap perubahan fisik pada mata adalah tanggung jawab penting bagi setiap individu.

Kesimpulan

Mata berdarah mencakup spektrum kondisi dari perdarahan subkonjungtiva yang ringan hingga hifema yang mengancam fungsi penglihatan. Sebagian besar kasus permukaan akan sembuh dengan sendirinya, namun evaluasi medis tetap diperlukan untuk menyingkirkan risiko cedera internal. Pencegahan melalui perlindungan mata dan manajemen penyakit kronis adalah kunci utama menjaga kesehatan okular. Konsultasi dengan dokter di Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.