Ad Placeholder Image

Mata Plus: Penyebab, Gejala, Solusi Agar Tak Rabun Dekat

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 Juni 2026

Mata Plus: Pandangan Dekat Kabur? Ini Sebabnya!

Mata Plus: Penyebab, Gejala, Solusi Agar Tak Rabun DekatMata Plus: Penyebab, Gejala, Solusi Agar Tak Rabun Dekat

DAFTAR ISI


Kesehatan mata merupakan salah satu aspek paling vital dalam menunjang aktivitas dan produktivitas kita sehari-hari. Sayangnya, banyak orang baru menyadari adanya gangguan penglihatan ketika gejalanya sudah mulai mengganggu kualitas hidup. Salah satu gangguan refraksi yang paling umum dialami oleh masyarakat, baik anak-anak maupun orang dewasa, adalah rabun dekat atau yang sering dikenal secara awam dengan sebutan mata plus.

Secara medis, mata plus adalah kondisi di mana mata mampu melihat objek yang berada di jarak jauh dengan cukup jelas, namun kesulitan dan tampak buram ketika harus fokus pada objek yang jaraknya dekat, seperti saat membaca buku, menjahit, atau melihat layar ponsel genggam. Kondisi ini terjadi akibat ketidaksempurnaan bentuk bola mata atau kelengkungan kornea, sehingga cahaya yang masuk ke dalam mata tidak difokuskan tepat pada retina, melainkan jatuh di belakang retina.

Penting bagi kamu untuk mengenali dan menangani mata plus sejak dini. Jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini tidak hanya akan menurunkan ketajaman penglihatan, tetapi juga dapat memicu serangkaian keluhan fisik lainnya seperti sakit kepala kronis, mata lelah, hingga penurunan konsentrasi dalam bekerja atau belajar. Pada anak-anak, mata plus yang tidak terkoreksi dapat menyebabkan kondisi mata juling (strabismus) atau bahkan mata malas (ambliopia).

Nah, mau tahu apa saja penyebab pasti, gejala, perbedaan mata plus dengan mata tua (presbiopi), serta bagaimana solusi medis yang tepat untuk menanganinya? Berikut ulasan lengkap mengenai kondisi medis ini!

Apa Itu Mata Plus?

1. Mekanisme Terjadinya Mata Plus (Hipermetropi)

Untuk memahami apa itu mata plus, kita perlu memahami bagaimana mata normal bekerja. Saat melihat suatu objek, cahaya dari objek tersebut masuk ke mata melalui kornea (lapisan bening di bagian depan mata) dan kemudian melewati lensa mata. Kornea dan lensa bekerja sama untuk membiaskan (membelokkan) cahaya agar jatuh tepat di atas retina—jaringan peka cahaya yang berada di bagian belakang bola mata. Retina kemudian mengubah cahaya menjadi sinyal listrik yang dikirim ke otak melalui saraf optik, sehingga kita bisa mengenali gambar tersebut.

Pada penderita mata plus atau hipermetropi, proses pembiasan ini tidak berjalan sempurna. Cahaya yang masuk ke mata difokuskan pada titik di belakang retina, bukan tepat di atasnya. Hal ini menyebabkan penglihatan jarak dekat menjadi kabur. Meskipun penderita sering kali bisa melihat objek yang jauh dengan lebih jelas, pada kasus hipermetropi yang parah, objek yang berada di jarak jauh pun bisa tampak buram.

2. Mata Plus (Hipermetropi) vs Mata Tua (Presbiopi)

Banyak orang mengira mata plus adalah kondisi yang sama dengan mata tua atau presbiopi karena keduanya sama-sama menyebabkan kesulitan melihat jarak dekat dan sama-sama dikoreksi menggunakan lensa plus (cembung). Namun, keduanya merupakan kondisi medis yang berbeda.

Hipermetropi terjadi karena bentuk bola mata yang lebih pendek dari ukuran normal atau bentuk kornea yang kurang melengkung. Kondisi ini bisa dialami sejak lahir, masa kanak-kanak, hingga dewasa. Sementara itu, presbiopi murni disebabkan oleh proses penuaan alami. Seiring bertambahnya usia, umumnya setelah usia 40 tahun, lensa mata akan kehilangan kelenturannya. Lensa yang kaku ini menjadi sulit menebal atau mengubah bentuknya saat harus fokus melihat objek dekat, sehingga fungsi akomodasi mata menurun drastis.

Gejala dan Penyebab Mata Plus

1. Gejala Umum yang Sering Dikeluhkan

Gejala mata plus dapat bervariasi dari ringan hingga berat, tergantung pada seberapa besar kelainan refraksi yang dialami. Beberapa penderita hipermetropi ringan mungkin tidak merasakan gejala sama sekali karena otot mata mereka (otot siliaris) masih mampu berakomodasi dan mengubah bentuk lensa untuk menutupi kekurangan fokus tersebut. Namun, saat otot mata dipaksa bekerja ekstra terus-menerus, maka akan muncul gejala-gejala asthenopia (mata lelah).

Gejala umum yang sering muncul antara lain:

  • Pandangan kabur saat melihat objek dekat, seperti saat membaca tulisan kecil atau melihat layar komputer genggam.
  • Harus menyipitkan mata atau menjauhkan objek agar tulisan terlihat lebih jelas.
  • Mata terasa perih, berair, lelah, atau panas (terbakar) setelah melakukan aktivitas yang membutuhkan fokus jarak dekat.
  • Sakit kepala yang terasa tumpul atau berdenyut, biasanya terpusat pada area dahi (frontal) atau di sekitar mata, yang muncul setelah membaca atau menggunakan gawai dalam waktu lama.
  • Kesulitan membedakan kedalaman (depth perception) atau kesulitan memfokuskan pandangan dengan cepat antara objek dekat dan jauh.

Pada anak-anak, gejala ini bisa lebih sulit disadari karena mereka mungkin menganggap bahwa penglihatan mereka normal. Jika anak sering mengucek mata, mengeluh sakit kepala sepulang sekolah, atau memiliki kecenderungan juling (mata menyilang), hal tersebut bisa menjadi tanda hipermetropi.

2. Faktor Penyebab dan Risiko

Penyebab utama dari mata plus adalah kelainan anatomi mata, yaitu anatomi bola mata yang terlalu pendek (hipermetropi aksial) dari ukuran standar atau kornea mata yang tidak memiliki kelengkungan yang cukup (hipermetropi kurvatur). Akibatnya, daya bias sistem lensa kornea tidak cukup kuat untuk memfokuskan cahaya tepat di retina.

Kondisi ini umumnya dipengaruhi oleh faktor genetik atau keturunan. Jika kamu memiliki orang tua dengan riwayat mata plus, maka peluang kamu atau anakmu untuk mengalami hal yang sama akan lebih besar. Beberapa kondisi kesehatan tertentu, seperti diabetes, sindrom mata tertentu, atau tumor pada area mata (walau sangat jarang terjadi), juga dapat mengubah bentuk kornea atau lensa dan memicu hipermetropi.

Tips Mencegah Mata Lelah Akibat Mata Plus
  1. Terapkan aturan 20-20-20: Setiap menatap layar atau membaca selama 20 menit, alihkan pandanganmu ke objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik untuk mengistirahatkan otot siliaris mata.
  2. Pastikan ruangan memiliki pencahayaan yang terang dan memadai, terutama saat kamu membaca atau bekerja di depan komputer.
  3. Lakukan pemeriksaan mata rutin setiap satu atau dua tahun sekali, untuk memastikan ukuran kacamata kamu masih sesuai dengan kondisi matamu.

Cara Mengatasi Mata Plus

Diagnosis mata plus harus dilakukan oleh dokter spesialis mata (oftalmologis) atau optometris melalui pemeriksaan mata komprehensif. Pemeriksaan ini biasanya meliputi tes ketajaman penglihatan menggunakan Snellen chart, pemeriksaan dengan phoropter untuk menentukan resep lensa yang tepat, serta pemeriksaan kesehatan bagian dalam mata menggunakan slit-lamp dan retinoscopy.

Jika kamu mengalami gejala yang tak kunjung membaik, sering sakit kepala, atau menyadari ada penurunan ketajaman penglihatan yang tiba-tiba, segera konsultasi ke dokter di Halodoc agar mendapatkan diagnosis dan penanganan medis sedini mungkin. Mata plus bukanlah penyakit berbahaya, melainkan kondisi optik yang memiliki tingkat keberhasilan koreksi yang sangat tinggi. Berikut beberapa cara medis untuk mengatasinya:

1. Penggunaan Kacamata (Lensa Cembung)

Kacamata dengan lensa positif (cembung) adalah metode paling sederhana, aman, dan paling banyak direkomendasikan untuk mengoreksi hipermetropi. Lensa cembung bekerja dengan cara mengumpulkan sinar cahaya sebelum masuk ke mata, sehingga ketika cahaya mencapai kornea, pembiasan yang terjadi sudah cukup untuk membuat titik fokus jatuh tepat pada retina. Besaran kekuatan lensa ini diukur dalam satuan Dioptri (D) dengan tanda plus (+), misalnya +1.00 D atau +2.50 D.

2. Lensa Kontak

Bagi sebagian orang yang merasa aktivitasnya (seperti berolahraga berat) terhambat oleh kacamata, lensa kontak menjadi pilihan yang nyaman. Lensa kontak diletakkan langsung di atas kornea sehingga memberikan bidang pandang yang lebih luas, koreksi optik yang lebih tajam, dan tidak menimbulkan distorsi tepi yang kadang ditemui pada kacamata berukuran tinggi. Tersedia berbagai jenis lensa kontak, mulai dari lensa harian (daily disposable), lensa bulanan, hingga lensa multifokal untuk mereka yang juga mengalami presbiopi secara bersamaan.

3. Operasi Refraktif (LASIK)

Untuk mereka yang ingin bebas dari ketergantungan pada kacamata dan lensa kontak, prosedur bedah refraktif dapat dipertimbangkan. Operasi yang paling populer adalah LASIK (Laser-Assisted In Situ Keratomileusis). Pada LASIK untuk mata plus, dokter akan membuat sayatan tipis pada kornea (flap), kemudian menggunakan laser excimer untuk mengikis jaringan di bagian tepi kornea. Hal ini bertujuan untuk membuat bentuk kornea menjadi lebih melengkung dan curam (steepening), sehingga daya biasnya meningkat dan cahaya bisa kembali fokus ke retina dengan benar.

Selain tindakan dokter, penting juga untuk menjaga kesehatan mata dari dalam. Untuk mencegah perburukan gejala mata lelah dan kering, kamu bisa beli suplemen vitamin mata yang mengandung lutein dan vitamin A, atau obat tetes mata pelumas yang aman digunakan sehari-hari untuk menghidrasi mata.

Studi Mengenai Prevalensi dan Penanganan Mata Plus

The American Journal of Ophthalmology menerbitkan studi komprehensif yang menjelaskan bahwa hipermetropi merupakan kelainan refraksi yang memiliki korelasi erat dengan proses penuaan otot siliaris dan panjang aksial mata sejak lahir. Studi tersebut menegaskan pentingnya pemeriksaan (screening) mata dini pada anak-anak prasekolah, karena deteksi hipermetropi yang terlambat sering kali berujung pada komplikasi ambliopia bilateral yang permanen pada fase dewasa.

Penelitian ini juga menyoroti bahwa penggunaan gawai (screen time) yang berlebihan tidak secara langsung menyebabkan hipermetropi secara anatomi, namun memicu kelelahan pada otot akomodasi mata yang membuat gejala hipermetropi laten menjadi lebih terasa dan manifestasinya muncul lebih cepat dari seharusnya.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
American Academy of Ophthalmology. Diakses pada 2026. Farsightedness (Hyperopia): What Is It, Symptoms, Causes & Treatment.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Farsightedness – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Hyperopia (Farsightedness): Symptoms & Treatment.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Blindness and vision impairment.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2026. Mengenal Kelainan Refraksi pada Mata.

FAQ

1. Apakah mata plus adalah kondisi yang bisa disembuhkan secara total?

Mata plus pada dasarnya adalah kelainan anatomi ukuran bola mata atau kornea. Kondisi ini tidak bisa “disembuhkan” dengan obat, tetes mata, atau suplemen. Namun, penglihatan dapat dikembalikan menjadi normal secara permanen melalui tindakan operasi refraktif seperti LASIK atau PRK, atau dapat dikoreksi menggunakan kacamata dan lensa kontak.

2. Apa perbedaan paling mencolok antara mata plus dan mata tua (presbiopi)?

Meskipun gejalanya mirip (buram melihat dekat), penyebabnya berbeda. Mata plus (hipermetropi) disebabkan oleh bola mata yang terlalu pendek sejak awal dan bisa terjadi pada usia berapa pun. Sedangkan mata tua (presbiopi) disebabkan oleh lensa mata yang menjadi kaku dan kehilangan elastisitasnya secara alami akibat proses penuaan, yang umumnya dialami oleh orang berusia di atas 40 tahun.

3. Apakah anak-anak bisa mengalami mata plus?

Sangat bisa. Faktanya, sebagian besar bayi lahir dengan kondisi mata plus (hipermetropi ringan). Namun, seiring dengan pertumbuhan anak, bola mata mereka juga akan memanjang sehingga penglihatan perlahan menjadi normal. Jika mata plus pada anak cukup tinggi dan menetap, hal ini memerlukan koreksi kacamata segera agar tidak berlanjut menjadi mata malas (ambliopia).

4. Kapan waktu yang tepat untuk memeriksakan mata jika ada kecurigaan mata plus?

Kamu sebaiknya segera memeriksakan mata ke dokter jika mulai merasa sering sakit kepala setelah membaca, mata terasa cepat lelah, harus memicingkan mata untuk melihat layar, atau ketika pandangan dekat mulai tampak buram. Pada anak-anak, periksakan matanya sebelum memasuki usia sekolah (sekitar usia 3-5 tahun), terutama jika orang tuanya memiliki riwayat berkacamata tebal.