
Mata Silinder, Ini Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya
Penyebab utama mata silinder adalah kelainan bentuk kornea atau lensa mata.

DAFTAR ISI
- Apa Itu Mata Silindris (Astigmatisme)?
- Penyebab dan Faktor Risiko Mata Silindris
- Gejala yang Sering Dialami Penderita Silindris
- Bagaimana Dokter Mendiagnosis Mata Silindris?
- Cara Mengobati dan Menangani Mata Silindris
- Studi Terkait Kesehatan Mata
- FAQ Mengenai Mata Silindris
Pernahkah kamu merasa penglihatanmu kabur atau berbayang saat melihat benda dari jarak dekat maupun jauh? Atau mungkin kamu sering merasa pusing dan mata cepat lelah setelah membaca atau menatap layar gadget dalam waktu lama? Jika iya, ada kemungkinan kamu mengalami kondisi yang disebut mata silindris atau astigmatisme. Kondisi ini sangat umum terjadi di masyarakat Indonesia, namun sering kali tidak disadari hingga gejalanya mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Mata silindris bukanlah sebuah penyakit menular, melainkan gangguan refraksi yang terjadi akibat kelainan pada kelengkungan kornea atau lensa mata. Berbeda dengan mata minus (miopia) atau mata plus (hipermetropia) yang fokus gangguannya pada jarak pandang, silindris membuat cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus pada satu titik di retina. Akibatnya, bayangan objek yang diterima otak menjadi tidak tajam, miring, atau bahkan tampak ganda.
Memahami kondisi mata silindris sejak dini sangatlah penting untuk mencegah penurunan kualitas hidup dan komplikasi lebih lanjut seperti mata malas (ambliopia), terutama pada anak-anak. Penanganan yang tepat, mulai dari penggunaan kacamata hingga prosedur bedah, dapat membantu kamu kembali melihat dunia dengan jernih. Selain itu, dukungan nutrisi yang tepat juga berperan penting dalam menjaga kesehatan mata secara menyeluruh.
Nah, mau tahu lebih dalam mengenai penyebab, gejala, dan bagaimana langkah penanganannya? Yuk, simak ulasan lengkapnya di bawah ini!
Apa Itu Mata Silindris (Astigmatisme)?
Secara medis, mata silindris dikenal dengan istilah astigmatisme. Untuk memahami kondisi ini, kita perlu membayangkan mata yang ideal. Mata yang normal memiliki kornea (lapisan bening terluar mata) dan lensa yang permukaannya melengkung sempurna seperti bola basket. Kelengkungan yang rata ini memungkinkan cahaya yang masuk membias secara merata dan jatuh tepat pada satu titik fokus di retina, sehingga menghasilkan penglihatan yang tajam.
Namun, pada penderita mata silindris, bentuk kornea atau lensa mata cenderung lonjong atau tidak rata, lebih menyerupai bentuk telur atau bola rugbi. Perbedaan kelengkungan ini menyebabkan cahaya yang masuk dibiaskan ke beberapa titik yang berbeda, baik di depan retina, di belakang retina, atau keduanya. Ketidakmampuan mata untuk memfokuskan cahaya pada satu titik inilah yang menyebabkan penglihatan menjadi kabur dan berbayang di semua jarak.
Mata silindris sering kali terjadi bersamaan dengan gangguan refraksi lainnya, seperti miopia (rabun jauh) atau hipermetropia (rabun dekat). Kondisi ini bisa bersifat stabil atau berkembang seiring bertambahnya usia, tergantung pada faktor penyebab yang mendasarinya.
Penyebab dan Faktor Risiko Mata Silindris
Hingga saat ini, penyebab pasti mengapa bentuk kornea atau lensa seseorang bisa berubah menjadi tidak rata belum diketahui sepenuhnya secara medis. Namun, para ahli telah mengidentifikasi beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap munculnya kondisi ini:
- Faktor Genetik: Ini adalah penyebab yang paling umum. Banyak orang terlahir dengan kondisi mata silindris karena diturunkan dari orang tua.
- Cedera Mata: Luka pada kornea akibat kecelakaan atau benda asing dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut yang mengubah kelengkungan kornea.
- Operasi Mata: Prosedur bedah tertentu pada mata, seperti operasi katarak, terkadang dapat meninggalkan efek samping berupa perubahan bentuk kornea.
- Keratoconus: Ini adalah kondisi medis langka di mana kornea menipis secara perlahan dan menonjol keluar menyerupai kerucut, yang menyebabkan silindris tingkat berat.
- Kebiasaan Buruk: Meskipun tidak secara langsung menyebabkan perubahan bentuk bola mata, kebiasaan membaca sambil tiduran atau dalam cahaya redup dalam jangka panjang dapat memperburuk ketegangan pada otot mata.
Siapa yang Berisiko Mengalami Astigmatisme?
- Orang dengan riwayat keluarga penderita astigmatisme atau keratoconus.
- Penderita rabun jauh atau rabun dekat yang sudah parah.
- Individu yang pernah mengalami trauma fisik pada area mata.
- Seseorang yang memiliki riwayat operasi mata sebelumnya.
Gejala yang Sering Dialami Penderita Silindris
Gejala mata silindris bisa bervariasi pada setiap orang, tergantung pada derajat keparahannya. Jika silindris yang dimiliki masih sangat rendah, mungkin kamu tidak akan merasakan gejala yang berarti. Namun, seiring bertambahnya derajat silindris, gejala berikut biasanya akan muncul:
1. Penglihatan Kabur atau Terdistorsi: Objek tampak buram baik dari dekat maupun jauh. Garis lurus mungkin tampak miring atau bergelombang.
2. Mata Lelah (Asthenopia): Mata terasa perih, panas, atau berat setelah melakukan aktivitas yang membutuhkan fokus visual intens, seperti bekerja di depan komputer.
3. Sakit Kepala: Ketegangan otot mata yang terus-menerus berusaha memfokuskan bayangan sering kali memicu sakit kepala, terutama di area dahi.
4. Kesulitan Melihat Saat Malam Hari: Penderita silindris sering mengeluh melihat “pendaran cahaya” atau glare pada lampu kendaraan atau lampu jalan di malam hari, yang bisa membahayakan saat berkendara.
5. Sering Menyipitkan Mata: Ini adalah respons alami untuk mencoba memfokuskan penglihatan yang kabur.
Jika kamu merasakan gejala-gejala di atas secara terus-menerus, sangat disarankan untuk segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam untuk mendapatkan saran medis awal dan rujukan pemeriksaan mata lebih lanjut.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Mata Silindris?
Mata silindris hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan mata komprehensif oleh dokter spesialis mata (oftalmolog) atau refraksionis optisien. Beberapa tes yang umum dilakukan meliputi:
- Tes Tajam Penglihatan (Visual Acuity): Kamu akan diminta membaca huruf-huruf pada bagan Snellen dari jarak tertentu untuk mengukur sejauh mana ketajaman penglihatanmu.
- Keratometri: Alat yang disebut keratometer digunakan untuk mengukur kelengkungan permukaan kornea. Ini sangat membantu dokter untuk menentukan kekuatan lensa silindris yang dibutuhkan.
- Autorefractor/Retinoskopi: Alat ini secara otomatis akan memberikan gambaran kasar mengenai gangguan refraksi yang dialami mata dengan cara menembakkan cahaya ke dalam mata.
- Topografi Kornea: Sebuah tes canggih yang memetakan permukaan kornea secara detail, berguna untuk mendeteksi kondisi seperti keratoconus.
Cara Mengobati dan Menangani Mata Silindris
Tujuan utama dari pengobatan mata silindris adalah untuk mengompensasi kelengkungan yang tidak rata sehingga cahaya dapat terfokus dengan benar ke retina. Berikut adalah pilihan metode penanganannya:
1. Penggunaan Kacamata
Ini adalah cara yang paling umum, aman, dan ekonomis. Kacamata untuk penderita silindris menggunakan lensa khusus yang disebut lensa torik. Lensa ini memiliki kekuatan pembiasan yang berbeda pada satu meridian dibandingkan meridian lainnya untuk menetralisir kelainan pada kornea.
2. Lensa Kontak Torik
Bagi kamu yang memiliki mobilitas tinggi atau alasan estetika, lensa kontak torik bisa menjadi pilihan. Lensa ini dirancang khusus agar tetap stabil di mata dan tidak berputar saat kamu berkedip, sehingga penglihatan tetap tajam. Selain itu, ada juga prosedur Orthokeratology (Ortho-K) di mana penderita menggunakan lensa kontak keras pada malam hari untuk mengubah bentuk kornea secara sementara.
3. Bedah Refraktif (LASIK)
Jika kamu ingin terbebas dari alat bantu penglihatan, bedah laser seperti LASIK (Laser-Assisted in Situ Keratomileusis) atau PRK dapat dipertimbangkan. Prosedur ini dilakukan dengan menggunakan laser untuk membentuk kembali kelengkungan kornea secara permanen. Namun, tidak semua orang kandidat yang cocok untuk prosedur ini, diperlukan pemeriksaan menyeluruh sebelumnya.
4. Menjaga Kesehatan Mata dengan Nutrisi
Meskipun makanan atau vitamin tidak dapat menghilangkan kelainan bentuk kornea secara fisik, nutrisi yang tepat sangat vital untuk menjaga kesehatan saraf mata dan kejernihan lensa. Pastikan kamu mengonsumsi makanan kaya vitamin A, lutein, zeaxanthin, dan omega-3. Kamu juga bisa beli obat online di Halodoc untuk mendapatkan suplemen kesehatan mata yang sudah terjamin kualitasnya.
Studi Mengenai Kesehatan Mata
Journal of Ophthalmology menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa astigmatisme yang tidak dikoreksi pada anak-anak berhubungan erat dengan penurunan prestasi akademik dan risiko terjadinya ambliopia (mata malas). Studi ini menekankan pentingnya skrining penglihatan dini pada usia sekolah untuk memastikan perkembangan visual yang optimal.
Penelitian lain yang dipublikasikan oleh American Academy of Ophthalmology menunjukkan bahwa penggunaan kacamata dengan koreksi silindris yang tepat dapat secara signifikan mengurangi frekuensi nyeri kepala tegang (tension headache) pada orang dewasa yang bekerja lama di depan komputer.
Masalah penglihatan yang dibiarkan tanpa penanganan dapat memicu komplikasi jangka panjang dan mengganggu kenyamanan hidup. Jangan menunda jika kamu merasa ada yang salah dengan matamu. Selain menggunakan kacamata, pastikan kamu juga beristirahat secara berkala dengan aturan 20-20-20 (setiap 20 menit, lihat benda sejauh 20 kaki selama 20 detik).
Kamu bisa mendapatkan berbagai produk kesehatan mata dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc.
Punya Masalah Penglihatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu sering merasa penglihatan kabur atau mata cepat lelah, tapi bingung harus konsultasi ke mana atau butuh tindakan apa? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
American Academy of Ophthalmology. Diakses pada 2026. What Is Astigmatism? Symptoms, Causes, Diagnosis, Treatment.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Astigmatism – Symptoms and Causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Astigmatism: Types, Causes, Symptoms & Treatment.
National Eye Institute. Diakses pada 2026. Astigmatism.
FAQ
1. Apakah mata silindris bisa sembuh total tanpa operasi?
Mata silindris adalah kelainan struktur pada kornea atau lensa. Kondisi ini tidak bisa “sembuh” sendiri melalui makanan atau latihan mata. Koreksi permanen hanya bisa dilakukan melalui prosedur bedah laser seperti LASIK.
2. Apa perbedaan antara mata minus dan mata silindris?
Mata minus (miopia) menyebabkan penglihatan kabur hanya saat melihat benda jauh. Sedangkan mata silindris menyebabkan penglihatan kabur atau berbayang di semua jarak, baik jauh maupun dekat.
3. Apakah penggunaan gadget bisa menyebabkan mata silindris?
Gadget tidak secara langsung mengubah bentuk kornea menjadi silindris. Namun, penggunaan berlebih dapat menyebabkan kelelahan mata yang memperburuk gejala silindris yang sudah ada sebelumnya.
4. Bisakah penderita silindris memakai lensa kontak biasa?
Penderita silindris memerlukan lensa kontak khusus yang disebut lensa torik. Lensa kontak biasa (sferis) tidak akan memberikan penglihatan yang tajam karena tidak mampu mengoreksi kelainan pembiasan pada meridian tertentu.


