Ad Placeholder Image

Mata Tinggi pada Anak? Jangan Panik, Ini Penjelasan

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   13 Mei 2026

Mata Tinggi pada Anak? Kenali Kejang Demamnya, Yuk!

Mata Tinggi pada Anak? Jangan Panik, Ini PenjelasanMata Tinggi pada Anak? Jangan Panik, Ini Penjelasan

Istilah “mata tinggi pada anak” sering kali menjadi kekhawatiran bagi orang tua. Kondisi ini umumnya merujuk pada kejang demam, yaitu respons otak anak terhadap demam tinggi yang terjadi secara mendadak. Memahami gejala, penyebab, dan penanganan yang tepat sangat penting untuk memberikan pertolongan pertama serta mengetahui kapan harus mencari bantuan medis. Kejang demam tidak selalu berbahaya, namun memerlukan perhatian serius untuk memastikan tidak ada komplikasi yang mendasari.

Apa Itu Kejang Demam (Mata Tinggi pada Anak)?

Kejang demam adalah kondisi kejang yang terjadi pada anak-anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, dipicu oleh demam tinggi di atas 38°C yang tidak disebabkan oleh infeksi otak. Frasa “mata tinggi pada anak” sering digunakan masyarakat untuk menggambarkan salah satu gejala kejang demam, di mana mata anak terlihat berputar ke atas atau melotot. Kejang ini merupakan respons normal otak yang sedang berkembang terhadap peningkatan suhu tubuh yang cepat.

Gejala Kejang Demam yang Perlu Diwaspadai

Gejala kejang demam, termasuk apa yang disebut “mata tinggi pada anak”, dapat muncul secara tiba-tiba. Penting untuk mengenali tanda-tanda ini agar dapat bertindak cepat dan tepat.

  • Mata berputar ke atas atau melotot.
  • Tangan dan kaki menyentak atau kaku secara tidak terkontrol.
  • Hilang kesadaran atau tidak responsif.
  • Tubuh kaku atau lemas secara tiba-tiba.
  • Mulut berbusa atau gigi terkatup rapat.
  • Kulit terlihat pucat atau kebiruan.
  • Durasi kejang biasanya berlangsung beberapa detik hingga maksimal 15 menit.

Penyebab Umum Kejang Demam pada Anak

Penyebab utama kejang demam adalah demam tinggi itu sendiri. Demam ini seringkali disebabkan oleh infeksi, baik virus maupun bakteri, yang bukan merupakan infeksi pada sistem saraf pusat. Beberapa kondisi yang dapat memicu demam tinggi dan kejang demam meliputi:

  • Infeksi saluran pernapasan, seperti flu atau batuk.
  • Infeksi telinga.
  • Roseola (campak jerman), penyakit umum pada bayi dan balita.
  • Infeksi saluran kemih.
  • Vaksinasi tertentu, meskipun jarang, dapat menyebabkan demam dan memicu kejang demam.

Penting untuk diketahui bahwa kejang demam bukanlah epilepsi, karena tidak disebabkan oleh kelainan aktivitas listrik otak yang persisten.

Kapan Harus Segera Mencari Bantuan Medis?

Meskipun sebagian besar kejang demam bersifat jinak dan tidak menyebabkan kerusakan otak, ada beberapa situasi di mana bantuan medis segera diperlukan. Hal ini untuk menyingkirkan kemungkinan komplikasi serius atau kondisi medis lain.

  • Kejang berlangsung lebih dari 15 menit.
  • Kejang berulang dalam waktu 24 jam.
  • Kejang hanya terjadi pada satu sisi tubuh.
  • Anak tidak sadar atau sulit dibangunkan setelah kejang berhenti.
  • Disertai gejala infeksi serius, seperti kaku leher, muntah hebat, ruam kulit, atau penurunan kesadaran yang signifikan.
  • Anak tampak sangat sakit setelah kejang.
  • Usia anak kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun saat pertama kali mengalami kejang.

Gejala-gejala tersebut dapat menjadi tanda adanya masalah neurologis lain atau infeksi serius seperti meningitis, yang memerlukan penanganan medis darurat.

Pertolongan Pertama saat Anak Mengalami Kejang Demam

Saat anak mengalami kejang demam, orang tua mungkin panik. Namun, tetap tenang adalah kunci untuk memberikan pertolongan pertama yang efektif.

  • Baringkan anak di tempat yang aman, seperti lantai, jauhkan dari benda tajam atau berbahaya.
  • Miringkan tubuh anak untuk mencegah tersedak air liur atau muntahan.
  • Longgarkan pakaian di sekitar leher anak.
  • Jangan memasukkan apa pun ke dalam mulut anak, termasuk jari atau sendok.
  • Jangan menahan gerakan kejang anak.
  • Catat durasi kejang dan gejala yang muncul untuk dilaporkan kepada tenaga medis.
  • Jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit, segera hubungi atau bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat.

Pencegahan dan Manajemen Risiko Kejang Demam

Meskipun kejang demam tidak selalu dapat dicegah sepenuhnya, beberapa langkah dapat membantu mengelola risiko dan memastikan anak tetap aman.

  • Pantau suhu tubuh anak secara rutin saat sakit.
  • Berikan obat penurun panas sesuai dosis dan anjuran dokter saat demam.
  • Pastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup dan hidrasi optimal.
  • Hindari pakaian tebal saat anak demam untuk membantu menurunkan suhu tubuh.
  • Konsultasikan dengan dokter jika anak memiliki riwayat kejang demam berulang atau memiliki kekhawatiran lainnya.

Kesimpulan dan Rekomendasi Halodoc

“Mata tinggi pada anak” yang mengacu pada kejang demam adalah kondisi yang seringkali membuat cemas, namun umumnya tidak berbahaya. Pemahaman yang akurat tentang gejalanya, pertolongan pertama yang tepat, dan kapan harus mencari bantuan medis adalah kunci untuk penanganan yang efektif. Jika anak mengalami kejang demam, penting untuk tetap tenang dan segera konsultasikan kondisi anak dengan dokter. Melalui Halodoc, orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter anak terpercaya untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, diagnosis, dan rencana penanganan yang sesuai. Prioritaskan kesehatan anak dengan informasi medis yang akurat dan berbasis riset ilmiah.