Ad Placeholder Image

Memahami Olive Undertone pada Kulit: Panduan Lengkap

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   17 Juni 2026

Olive undertone adalah warna dasar kulit yang memiliki nuansa hijau atau abu-abu kehijauan.

Memahami Olive Undertone pada Kulit: Panduan LengkapMemahami Olive Undertone pada Kulit: Panduan Lengkap

DAFTAR ISI


Dalam dunia dermatologi dan estetika, memahami warna kulit tidak hanya sebatas melihat warna di permukaan saja. Pernahkah kamu membeli foundation atau concealer yang sepertinya pas dengan warna kulitmu, namun saat diaplikasikan justru terlihat terlalu abu-abu, terlalu kuning, atau bahkan kemerahan? Jika ya, kemungkinan besar kamu memiliki apa yang disebut dengan olive undertone skin.

Warna kulit manusia pada dasarnya terbagi menjadi dua komponen utama: skin tone (warna permukaan kulit) dan undertone (rona warna di bawah permukaan kulit). Sementara skin tone bisa berubah karena paparan sinar matahari atau kondisi medis tertentu, undertone bersifat genetik dan tidak akan pernah berubah seumur hidup. Memahami undertone sangat penting, tidak hanya untuk urusan kosmetik, tetapi juga untuk mengenali kecenderungan atau masalah kesehatan kulit tertentu.

Olive undertone skin sering kali disalahartikan sebagai kulit “kuning langsat” atau warm undertone biasa. Padahal, secara anatomis dan visual, olive undertone memiliki karakteristik perpaduan antara pigmen kuning dan rona kehijauan atau keabu-abuan. Kondisi ini membuat pemilik kulit olive memiliki keunikan tersendiri, sekaligus tantangan khusus dalam hal hiperpigmentasi dan reaksi kulit terhadap peradangan.

Nah, mau tahu apa saja fakta medis di balik olive undertone skin, bagaimana cara merawatnya, dan tantangan apa saja yang mungkin dialami? Berikut ulasan lengkapnya!

Apa Itu Olive Undertone Skin?

Secara medis dan dermatologis, warna kulit ditentukan oleh pigmen yang disebut melanin. Ada dua jenis utama melanin yang diproduksi oleh sel melanosit dalam kulit kita: eumelanin (pigmen cokelat hingga hitam) dan pheomelanin (pigmen merah hingga kuning). Perbandingan antara eumelanin dan pheomelanin inilah yang menciptakan spektrum warna kulit manusia yang sangat beragam.

Pada pemilik olive undertone skin, terdapat kombinasi unik dari eumelanin dan pheomelanin yang menghasilkan rona dasar agak kehijauan atau abu-abu (ashy) di bawah permukaan kulit. Hal yang sering membuat bingung adalah, olive undertone tidak bergantung pada tingkat kecerahan kulit. Kamu bisa memiliki kulit yang sangat putih (fair), sedang (medium), hingga gelap (deep), namun tetap memiliki rona bawah olive.

Dalam klasifikasi Fitzpatrick Skin Type yang sering digunakan oleh dokter kulit untuk menilai risiko kerusakan akibat sinar matahari dan kanker kulit, pemilik kulit olive biasanya jatuh pada tipe III hingga V. Tipe kulit ini memiliki jumlah melanin aktif yang cukup tinggi. Keuntungannya, kulit ini memiliki pertahanan alami yang sedikit lebih baik terhadap sinar UV dibandingkan kulit tipe I atau II. Namun kerugiannya, sel melanosit pada kulit ini sangat reaktif terhadap trauma, peradangan, atau perubahan hormonal.

Cara Mengetahui Kamu Memiliki Olive Undertone

Menentukan apakah kamu memiliki rona kulit olive terkadang cukup membingungkan. Berbeda dengan warm undertone yang jelas terlihat kekuningan, atau cool undertone yang terlihat kemerahan/kebiruan, olive sering berada di area abu-abu. Berikut adalah beberapa metode observasi yang bisa kamu lakukan di rumah:

1. Tes Pembuluh Darah (Vein Test)

Lihatlah pembuluh darah di pergelangan tangan bagian dalam di bawah cahaya matahari alami. Jika pembuluh darahmu terlihat biru keunguan, kamu memiliki cool undertone. Jika terlihat hijau cerah, kamu memiliki warm undertone. Namun, jika pembuluh darahmu terlihat hijau namun ada bias warna biru, atau warnanya sulit ditentukan (kadang terlihat hijau, kadang terlihat seperti warna kulit), kemungkinan besar kamu memiliki rona olive atau netral.

2. Tes Perhiasan (Jewelry Test)

Biasanya, kulit dengan rona hangat (warm) akan terlihat sangat bercahaya menggunakan perhiasan emas kuning, sedangkan rona dingin (cool) cocok dengan perhiasan perak. Pemilik olive undertone sering merasa bahwa emas kuning terlalu mencolok dan perak terlalu pucat. Mereka biasanya paling cocok menggunakan perhiasan rose gold, emas dengan kadar karat rendah yang warnanya lebih lembut, atau perhiasan dengan hasil akhir matte.

3. Reaksi Terhadap Sinar Matahari

Reaksi kulit terhadap paparan sinar matahari berkaitan erat dengan jumlah melanin. Kulit olive undertone, karena biasanya memiliki kadar melanin yang cukup, jarang mengalami sunburn atau terbakar hingga memerah dan mengelupas (kecuali pada kulit olive yang sangat pucat). Sebaliknya, kulit mereka akan dengan cepat menggelap (tanning) atau memproduksi hiperpigmentasi jika terpapar matahari dalam waktu lama.

Faktor Pemicu Masalah Kulit pada Olive Undertone
  1. Paparan sinar UV tanpa perlindungan yang memicu produksi melanin berlebih (hiperpigmentasi).
  2. Peradangan akibat jerawat (Post-Inflammatory Hyperpigmentation/PIH).
  3. Perubahan hormonal yang memicu melasma.
  4. Penggunaan produk eksfoliasi yang terlalu keras hingga menyebabkan iritasi.

Tantangan Kesehatan Kulit pada Olive Undertone

Memiliki kulit dengan rona olive memberikan keuntungan berupa resistensi alami yang sedikit lebih tinggi terhadap penuaan dini (kerutan halus) akibat paparan UV, berkat perlindungan ekstra dari melanin. Namun, di dunia dermatologi, tipe kulit ini sangat rentan terhadap gangguan pigmentasi. Berikut adalah beberapa kondisi medis yang sering dialami:

1. Post-Inflammatory Hyperpigmentation (PIH)

Ini adalah keluhan paling umum. Ketika kulit olive mengalami trauma—baik itu karena jerawat, gigitan serangga, luka gores, atau bahkan prosedur kosmetik seperti laser yang tidak tepat—kulit merespons dengan memproduksi melanin secara berlebihan di area peradangan tersebut. Hasilnya, setelah jerawat atau luka sembuh, akan tertinggal noda kehitaman atau kecokelatan yang sangat sulit hilang dan bisa bertahan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

2. Melasma

Melasma adalah kondisi hiperpigmentasi yang ditandai dengan bercak cokelat atau keabu-abuan, biasanya muncul di wajah (pipi, dahi, hidung, bibir atas). Melasma sangat umum terjadi pada wanita dengan kulit olive hingga gelap. Pemicu utamanya adalah kombinasi antara genetika, perubahan hormonal (seperti kehamilan atau penggunaan pil KB), dan paparan sinar matahari serta cahaya tampak (visible light).

3. Warna Kulit Tidak Merata (Uneven Skin Tone)

Karena distribusi melanin yang mudah berubah akibat faktor eksternal, area di sekitar mulut, hidung, atau mata pada kulit olive sering kali terlihat lebih gelap atau keabu-abuan dibandingkan area wajah lainnya. Hal ini bukan berarti kulit kotor, melainkan kecenderungan alami pigmen di area lipatan atau area yang lebih tipis.

Tips Perawatan dan Skincare yang Tepat

Fokus utama dalam merawat kulit dengan rona olive adalah mencegah peradangan, menekan produksi melanin berlebih yang tidak merata, dan melindungi dari sinar UV. Untuk mendukung kesehatan kulit, pastikan kamu menggunakan produk perawatan kulit yang tepat secara rutin. Berikut adalah panduan perawatannya:

1. Penggunaan Sunscreen Adalah Harga Mati

Meskipun kulitmu tidak mudah terbakar, sinar UVA dapat memicu penuaan dan sinar UVB dapat memicu hiperpigmentasi. Gunakan tabir surya berspektrum luas (broad-spectrum) dengan SPF minimal 30 setiap hari. Bagi pemilik kulit olive yang rentan melasma, disarankan menggunakan tinted sunscreen (tabir surya berwarna) yang mengandung iron oxide, karena kandungan ini terbukti secara klinis dapat melindungi kulit dari visible light (cahaya tampak) yang juga dapat memicu pigmen.

2. Bahan Aktif Penghambat Tirosinase

Tirosinase adalah enzim yang berperan dalam produksi melanin. Untuk mengatasi dan mencegah bekas jerawat atau melasma, gunakan serum yang mengandung inhibitor tirosinase. Bahan-bahan seperti Vitamin C (L-ascorbic acid), Niacinamide (Vitamin B3), Alpha Arbutin, Kojic Acid, atau Tranexamic Acid sangat efektif dan aman digunakan sehari-hari untuk menjaga warna kulit tetap merata tanpa merusak melanosit.

3. Eksfoliasi Kimia yang Lembut

Hindari penggunaan scrub wajah yang kasar (physical exfoliator) karena gesekan keras justru memicu peradangan mikro yang berujung pada hiperpigmentasi (PIH). Sebaliknya, gunakan eksfoliator kimia (chemical exfoliator) seperti AHA (Glycolic Acid, Lactic Acid) atau BHA (Salicylic Acid) dengan konsentrasi rendah, 1-2 kali seminggu untuk membantu mengangkat sel kulit mati yang mengandung pigmen berlebih secara perlahan.

4. Penggunaan Retinoid di Malam Hari

Retinol atau retinoid adalah standar emas dalam dermatologi untuk mempercepat pergantian sel (cell turnover) dan memperbaiki tekstur serta warna kulit. Namun, karena kulit olive rentan PIH jika teriritasi, sangat disarankan untuk memulai dari konsentrasi terendah dan menggunakan metode “sandwich” (pelembap – retinol – pelembap) untuk meminimalkan iritasi.

Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun perawatan topikal over-the-counter (OTC) dapat membantu mengatasi hiperpigmentasi ringan, ada kondisi di mana penanganan profesional mutlak diperlukan. Jangan mencoba mendiagnosis sendiri jika hiperpigmentasi di wajahmu semakin parah, melebar, atau tidak merespons terhadap produk skincare biasa selama 3 bulan pemakaian rutin.

Kondisi seperti melasma dermal (pigmen yang berada di lapisan kulit dalam) tidak akan hilang hanya dengan serum vitamin C biasa. Dokter kulit mungkin perlu meresepkan agen depigmentasi yang lebih kuat, seperti Hydroquinone (dalam pengawasan ketat), atau menyarankan terapi kombinasi seperti chemical peeling kelas medis. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi dokter spesialis kulit agar mendapatkan diagnosis yang akurat dan rencana pengobatan yang aman bagi tipe kulitmu, tanpa memicu efek samping peradangan lebih lanjut.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Kulit via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kulit terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Studi Mengenai Pigmentasi Kulit Olive

Journal of the American Academy of Dermatology menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa tipe kulit Fitzpatrick III hingga V, di mana olive undertone sering berada, memiliki tingkat melanosit yang secara biologis lebih reaktif terhadap stimulus sekecil apapun.

Studi ini menekankan bahwa pendekatan pengobatan untuk hiperpigmentasi pada tipe kulit ini harus dilakukan secara sangat berhati-hati. Penggunaan laser ablative atau peeling kimia dengan konsentrasi terlalu tinggi dapat berakibat fatal dengan memicu kondisi hiperpigmentasi pasca-inflamasi yang jauh lebih parah daripada kondisi awalnya.

Kesimpulannya, merawat olive undertone skin membutuhkan kesabaran dan kelembutan. Jangan tergiur dengan produk pemutih instan yang menjanjikan hasil cepat, karena biasanya produk tersebut mengandung bahan berbahaya yang dapat merusak struktur pertahanan kulitmu secara permanen.

Referensi:
American Academy of Dermatology Association. Diakses pada 2024. How to fade dark spots in darker skin tones.
DermNet New Zealand. Diakses pada 2024. Fitzpatrick skin phototype.
Journal of the American Academy of Dermatology. Diakses pada 2024. Hyperpigmentation in Skin of Color.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Melasma – Diagnosis and treatment.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Hyperpigmentation: Causes, Treatment & Prevention.

FAQ

1. Apakah olive undertone skin sama dengan kulit sawo matang?

Tidak selalu. Kulit sawo matang merujuk pada tingkat kecerahan kulit (skin tone) yang medium-deep. Sementara olive undertone adalah rona di bawah kulit. Kamu bisa memiliki kulit sawo matang dengan warm undertone (kekuningan/keemasan) atau sawo matang dengan olive undertone (ada rona kehijauan/abu-abu).

2. Bahan skincare apa yang harus dihindari oleh kulit olive?

Hindari bahan eksfoliasi fisik yang kasar seperti scrub biji aprikot atau sikat wajah berbulu keras. Gesekan kasar sangat mudah memicu hiperpigmentasi pasca-inflamasi (PIH) pada pemilik kulit olive.

3. Mengapa area sekitar mulut saya terlihat lebih gelap dan abu-abu?

Ini adalah kondisi umum pada kulit dengan melanin tinggi yang disebut pigmentasi perioral. Hal ini dipicu oleh gesekan alami di area tersebut, paparan sinar matahari yang terakumulasi, atau kecenderungan genetik. Penggunaan tabir surya dan serum pencerah (seperti Vitamin C atau Alpha Arbutin) secara rutin dapat membantu meratakannya.

4. Apakah kulit olive tetap berisiko terkena kanker kulit?

Ya, meskipun risiko kanker kulit (seperti melanoma) lebih rendah dibandingkan kulit putih pucat (tipe I), risiko tersebut tetap ada. Terlebih lagi, kanker kulit pada orang dengan warna kulit lebih gelap sering kali terdiagnosis pada stadium yang lebih lanjut karena gejalanya tertutupi oleh pigmen kulit alami. Pemeriksaan kulit rutin tetap diwajibkan.