Ad Placeholder Image

Mengatasi Bacterial Vaginosis: Gejala dan Pengobatan

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   12 Juni 2026

Bacterial Vaginosis dipicu oleh ketidakseimbangan bakteri di vagina.

Mengatasi Bacterial Vaginosis: Gejala dan PengobatanMengatasi Bacterial Vaginosis: Gejala dan Pengobatan

DAFTAR ISI


Kesehatan area kewanitaan sering kali menjadi topik yang sensitif, namun sangat penting untuk dipahami oleh setiap wanita. Salah satu gangguan kesehatan yang paling sering terjadi pada organ intim wanita, namun jarang disadari sejak awal, adalah bacterial vaginosis (BV). Kondisi ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Bacterial vaginosis pada dasarnya bukanlah infeksi menular seksual, melainkan ketidakseimbangan flora normal (bakteri baik dan bakteri jahat) di dalam vagina. Vagina yang sehat secara alami menampung berbagai macam bakteri. Namun, ketika bakteri tertentu berkembang biak terlalu cepat dan mendominasi, keseimbangan alami ini akan rusak dan memicu peradangan.

Penting untuk dipahami bahwa penanganan kondisi ini tidak boleh dilakukan sembarangan. Menggunakan obat-obatan bebas atau ramuan herbal tanpa dasar medis justru dapat memperburuk keadaan dan membunuh sisa bakteri baik yang sangat dibutuhkan oleh vagina. Oleh karena itu, pengobatan yang tepat sasaran di bawah pengawasan medis sangatlah krusial.

Nah, mau tahu apa saja gejala, penyebab, dan bagaimana penanganan medis yang tepat untuk mengatasi bacterial vaginosis? Berikut ulasan lengkapnya!

Apa Itu Bacterial Vaginosis?

Bacterial vaginosis adalah infeksi vagina yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri secara berlebihan. Dalam kondisi normal, vagina didominasi oleh bakteri baik bernama Lactobacillus. Bakteri ini bertugas memproduksi asam laktat, yang membuat lingkungan vagina menjadi sedikit asam (pH antara 3,8 hingga 4,5). Keasaman inilah yang mencegah bakteri jahat (patogen) berkembang biak.

Ketika seseorang mengalami bacterial vaginosis, jumlah Lactobacillus menurun drastis, sementara bakteri anaerob (seperti Gardnerella vaginalis) berkembang biak dengan sangat cepat. Akibatnya, tingkat pH vagina meningkat menjadi lebih basa, dan timbullah berbagai keluhan klinis yang mengganggu.

Gejala Bacterial Vaginosis

Banyak wanita yang mengalami kondisi ini bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang terinfeksi, karena pada beberapa kasus, bacterial vaginosis tidak menimbulkan gejala yang nyata. Namun, ketika gejala muncul, tanda-tanda yang paling umum meliputi:

  • Keputihan yang tidak normal: Cairan vagina biasanya menjadi lebih encer, berwarna putih keabu-abuan, atau bahkan agak kehijauan.
  • Bau tidak sedap: Ini adalah ciri khas utama BV. Keputihan sering kali disertai dengan bau amis yang sangat menyengat, terutama setelah berhubungan seksual atau saat menstruasi.
  • Rasa gatal dan iritasi: Terasa gatal di area luar vagina (vulva) hingga ke bagian dalam.
  • Sensasi terbakar saat buang air kecil: Beberapa wanita melaporkan adanya rasa perih atau panas saat urin menyentuh area yang meradang.

Jika kamu mengalami gejala seperti keputihan berbau amis dan gatal yang tidak kunjung reda, segeralah konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan diagnosis yang akurat serta resep obat yang tepat.

Tips Mencegah Bacterial Vaginosis
  1. Hindari penggunaan douching (menyemprotkan cairan pembersih ke dalam vagina) karena dapat merusak flora normal.
  2. Gunakan sabun yang lembut, tanpa pewangi, dan tanpa bahan kimia keras untuk membersihkan area luar kewanitaan (vulva) saja.
  3. Ganti celana dalam secara rutin dan pilih bahan katun yang menyerap keringat agar area intim tidak lembap.
  4. Bersihkan area kewanitaan dari arah depan (vagina) ke belakang (anus) setelah buang air, untuk mencegah masuknya bakteri dari feses ke vagina.

Penyebab dan Faktor Risiko

Meskipun bacterial vaginosis bukan penyakit menular seksual, aktivitas tertentu dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami ketidakseimbangan bakteri ini. Beberapa faktor pemicu utama antara lain:

1. Aktivitas Seksual

Berganti-ganti pasangan seksual atau memiliki pasangan seksual yang baru dapat memicu perubahan keseimbangan bakteri di dalam vagina. Wanita yang aktif secara seksual memiliki risiko yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang belum pernah berhubungan seksual.

2. Penggunaan Douching dan Sabun Kewanitaan

Pembersih kewanitaan yang mengandung pewangi, antiseptik kuat, atau prosedur douching akan menyapu bersih bakteri Lactobacillus. Tanpa bakteri pelindung ini, bakteri penyebab infeksi akan dengan mudah mengambil alih lingkungan vagina.

3. Faktor Hormonal dan Penggunaan IUD

Perubahan hormonal saat menstruasi, kehamilan, atau penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) juga dikaitkan dengan peningkatan risiko BV. Beberapa studi menunjukkan adanya korelasi antara wanita pengguna KB spiral dengan frekuensi kekambuhan bacterial vaginosis.

Komplikasi Jika Dibiarkan

Bacterial vaginosis yang tidak diobati dengan tuntas dapat memicu berbagai komplikasi kesehatan yang serius, di antaranya:

  • Meningkatkan risiko infeksi menular seksual (IMS): Lingkungan vagina yang tidak sehat membuat wanita lebih rentan tertular HIV, herpes simpleks, chlamydia, hingga gonore.
  • Komplikasi kehamilan: Pada ibu hamil, BV yang tidak ditangani berkaitan erat dengan kelahiran prematur dan bayi lahir dengan berat badan rendah.
  • Penyakit Radang Panggul (PID): Bakteri dari vagina dapat naik ke rahim dan saluran tuba, menyebabkan infeksi rahim kronis yang berisiko memicu masalah kesuburan (infertilitas).

Kapan Harus ke Dokter?

Kondisi bacterial vaginosis tidak bisa diobati hanya dengan obat-obatan bebas (OTC). Kondisi ini mutlak membutuhkan antibiotik resep dari dokter, seperti Metronidazole atau Clindamycin (baik dalam bentuk tablet minum maupun krim/ovula yang dimasukkan ke dalam vagina). Antibiotik ini masuk dalam golongan obat keras dan penggunaannya harus dalam pengawasan medis agar bakteri tidak menjadi kebal (resisten).

Kamu harus segera memeriksakan diri ke dokter jika:

  • Mengalami keputihan baru yang berbau tidak sedap dan disertai demam.
  • Telah mencoba menjaga kebersihan namun gejala tidak kunjung membaik setelah beberapa hari.
  • Pernah terkena infeksi menular seksual dan merasa khawatir gejala saat ini adalah infeksi berulang.
  • Sedang hamil dan mengalami perubahan cairan vagina.

Meski tidak ada obat bebas untuk menyembuhkan BV, kamu tetap perlu menjaga imunitas tubuh agar proses penyembuhan berjalan optimal. Untuk kebutuhan vitamin dan suplemen daya tahan tubuh pendamping pengobatan, kamu bisa beli obat, beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah dengan aman dan praktis.

Studi Mengenai Tingkat Kekambuhan Bacterial Vaginosis

The Journal of Infectious Diseases menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa lebih dari 50% wanita yang telah diobati dari bacterial vaginosis berpotensi mengalami kekambuhan dalam kurun waktu 12 bulan pertama.

Studi ini menyoroti bahwa pengobatan antibiotik memang efektif membunuh bakteri jahat, namun sering kali gagal memulihkan populasi Lactobacillus (bakteri baik) secara maksimal. Oleh karena itu, para ahli merekomendasikan modifikasi gaya hidup serta menghindari faktor pemicu (seperti douching) pasca-pengobatan agar keseimbangan flora vagina tetap terjaga secara jangka panjang.

Kesehatan organ kewanitaan bukanlah hal yang bisa disepelekan. Jangan mencoba mengobati sendiri infeksi yang memerlukan penanganan antibiotik spesifik dari ahlinya.

Selain menerapkan gaya hidup bersih, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter Spesialis Kandungan terkait masalah kesehatan reproduksi yang sedang dialami melalui aplikasi Halodoc untuk penanganan yang aman dan privat.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Bacterial vaginosis – Symptoms and causes.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. Bacterial Vaginosis – CDC Basic Fact Sheet.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Bacterial Vaginosis (BV): Causes, Symptoms, Treatment & Prevention.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Sexually transmitted infections (STIs) and Vaginal Infections.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Keputihan dan Infeksi Saluran Reproduksi pada Wanita.

FAQ

1. Apakah bacterial vaginosis bisa sembuh dengan sendirinya?

Pada sebagian kecil kasus ringan, keseimbangan bakteri dapat kembali normal dengan sendirinya tanpa pengobatan. Namun, jika gejala sangat mengganggu, berbau busuk, dan tidak membaik dalam beberapa hari, kondisi ini mutlak membutuhkan penanganan medis berupa antibiotik resep untuk mencegah infeksi yang lebih parah.

2. Apakah pria bisa tertular bacterial vaginosis dari pasangannya?

Bacterial vaginosis tidak dianggap sebagai penyakit menular seksual secara tradisional. Pria umumnya tidak akan tertular kondisi ini dan tidak memerlukan pengobatan medis meskipun pasangannya terdiagnosis BV. Namun, BV dapat ditularkan antar pasangan sesama wanita.

3. Apakah aman berhubungan intim saat sedang terkena BV?

Sebaiknya hindari dulu berhubungan seksual selama masa pengobatan. Berhubungan intim saat infeksi sedang aktif tidak hanya menyebabkan rasa sakit dan iritasi, tetapi sperma (yang bersifat basa) juga dapat memperburuk ketidakseimbangan pH vagina dan memicu bau amis yang semakin menyengat.

4. Makanan apa yang baik dikonsumsi untuk mencegah BV?

Makanan yang kaya akan probiotik sangat dianjurkan. Yogurt, kefir, kombucha, dan makanan fermentasi lainnya mengandung bakteri baik (termasuk strain Lactobacillus) yang dapat membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan dan secara tidak langsung mendukung keseimbangan flora normal pada vagina.