Ad Placeholder Image

Mengenal 4 Jenis Attachment Style dan Ciri-Cirinya

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   11 Juni 2026

“Attachment style memiliki 4 jenis, yaitu secure, avoidant anxious, dan disorganized. Masing-masing karakteristik tersebut memiliki ciri yang berbeda, tergantung dari pola asuh orang tua.”

Mengenal 4 Jenis Attachment Style dan Ciri-CirinyaMengenal 4 Jenis Attachment Style dan Ciri-Cirinya

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu merasa sangat cemas ketika pasangan tidak membalas pesan dalam waktu lama? Atau justru kamu merasa risih dan ingin menarik diri saat seseorang mencoba menjalin hubungan yang terlalu dekat denganmu? Pola-pola emosional ini bukanlah sebuah kebetulan. Dalam dunia psikologi, fenomena ini dikenal dengan istilah attachment style atau gaya kelekatan.

Attachment style adalah cara seseorang berinteraksi dan berperilaku dalam hubungan romantis maupun sosial lainnya. Pola ini biasanya terbentuk sejak masa kanak-kanak awal, berdasarkan bagaimana hubungan kita dengan pengasuh utama (orang tua). Memahami gaya kelekatan diri sendiri dan pasangan sangatlah penting karena hal ini menentukan cara kita berkomunikasi, menangani konflik, hingga cara kita memandang nilai diri dalam sebuah komitmen.

Kesehatan mental dan emosional memiliki kaitan yang sangat erat dengan kesehatan fisik. Stres yang dipicu oleh ketidakstabilan dalam hubungan dapat menurunkan sistem imun dan mengganggu keseimbangan hormon. Oleh karena itu, mengenali pola emosional adalah langkah awal menuju kesejahteraan yang menyeluruh.

Nah, mau tahu apa saja pilihan dan jenis attachment style serta pengaruhnya bagi kehidupanmu? Berikut ulasannya!

Apa Itu Attachment Style?

Attachment style merujuk pada ikatan emosional spesifik yang dikembangkan manusia dengan orang lain. Teori ini berpendapat bahwa cara seorang bayi mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya akan membentuk “cetak biru” emosional yang dibawa hingga dewasa. Jika seorang anak merasa aman dan didukung, mereka cenderung tumbuh dengan rasa percaya diri. Sebaliknya, jika kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi secara konsisten, mereka mungkin mengembangkan mekanisme pertahanan diri yang memengaruhi hubungan mereka di masa depan.

Penting untuk diingat bahwa gaya kelekatan bukanlah takdir yang kaku. Meskipun terbentuk di masa kecil, kesadaran diri dan terapi dapat membantu seseorang bergeser ke arah pola yang lebih sehat. Namun, langkah pertama selalu dimulai dengan identifikasi: gaya kelekatan manakah yang kamu miliki?

Sejarah Singkat Teori Kelekatan

Teori ini pertama kali dipelopori oleh John Bowlby, seorang psikolog Inggris, pada tahun 1950-an. Bowlby percaya bahwa kelekatan adalah insting evolusioner untuk bertahan hidup. Kemudian, Mary Ainsworth mengembangkan penelitian ini melalui eksperimen “Strange Situation” di tahun 1970-an, di mana ia mengamati reaksi bayi saat ditinggal dan dipertemukan kembali dengan ibunya. Dari sinilah muncul klasifikasi awal mengenai jenis-jenis kelekatan yang hingga kini menjadi standar dalam psikologi modern.

1. Secure Attachment (Kelekatan Aman)

Orang dengan secure attachment umumnya merasa nyaman dengan keintiman dan tidak takut akan kesendirian. Mereka mampu mengekspresikan emosi secara terbuka dan percaya bahwa orang lain dapat diandalkan. Dalam sebuah hubungan, mereka cenderung jujur, suportif, dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap konflik.

Ciri-ciri Secure Attachment:

  • Memiliki kepercayaan diri yang baik dan harga diri yang stabil.
  • Mampu mencari dukungan emosional saat merasa tertekan.
  • Tidak mudah curiga atau cemburu buta terhadap pasangan.
  • Memahami batasan (boundaries) dalam hubungan.

Individu dengan pola ini biasanya memiliki masa kecil di mana orang tua mereka sangat responsif terhadap kebutuhan emosional mereka. Mereka belajar bahwa dunia adalah tempat yang aman dan orang lain adalah sumber kenyamanan.

2. Anxious-Preoccupied Attachment (Kelekatan Cemas)

Pemilik anxious attachment seringkali merasa sangat membutuhkan kedekatan yang intens (clingy). Mereka sangat sensitif terhadap perubahan kecil dalam perilaku pasangan dan sering merasa takut akan ditinggalkan. Ketakutan ini sering kali membuat mereka melakukan tindakan impulsif untuk mendapatkan kepastian dari pasangan.

Ciri-ciri Anxious Attachment:

  • Sangat membutuhkan validasi dan perhatian terus-menerus.
  • Sering merasa tidak cukup baik untuk pasangan mereka.
  • Memiliki kecenderungan untuk menganalisis secara berlebihan pesan atau ucapan pasangan.
  • Merasa sangat hancur jika ada tanda-tanda penolakan.

Pola ini sering terbentuk jika orang tua di masa kecil memberikan perhatian yang tidak konsisten—terkadang sangat penyayang, namun di lain waktu tidak tersedia secara emosional. Akibatnya, anak merasa harus terus berjuang untuk mendapatkan perhatian tersebut.

3. Dismissive-Avoidant Attachment (Kelekatan Menghindar)

Berbeda dengan tipe cemas, individu dengan dismissive-avoidant cenderung menjaga jarak secara emosional. Mereka sangat menghargai kemandirian dan seringkali memandang keintiman sebagai ancaman terhadap kebebasan mereka. Mereka mungkin terlihat dingin atau menutup diri saat hubungan mulai menjadi terlalu serius.

Ciri-ciri Dismissive-Avoidant:

  • Menarik diri saat merasa pasangan terlalu menuntut perhatian.
  • Sering menyembunyikan perasaan atau masalah pribadi.
  • Merasa tidak butuh orang lain untuk merasa bahagia.
  • Cenderung mematikan emosi (shutdown) saat terjadi konflik.

Biasanya, ini terjadi karena di masa kecil, orang tua mereka mengabaikan ekspresi emosi anak atau menuntut anak untuk terlalu mandiri sebelum waktunya. Anak belajar bahwa mengekspresikan kebutuhan hanya akan berujung pada penolakan, sehingga mereka memilih untuk tidak berharap pada orang lain.

4. Fearful-Avoidant Attachment (Kelekatan Takut-Menghindar)

Tipe ini juga dikenal sebagai disorganized attachment. Ini adalah kombinasi antara kebutuhan akan kedekatan dan ketakutan akan luka emosional. Individu dengan pola ini ingin dicintai, namun mereka sangat takut untuk percaya. Hubungan mereka sering kali penuh dengan drama dan ketidakpastian (on-and-off).

Ciri-ciri Fearful-Avoidant:

  • Memiliki pandangan negatif terhadap diri sendiri dan orang lain.
  • Sulit mengatur emosi dan sering mengalami perubahan suasana hati yang drastis.
  • Mendekat namun kemudian lari karena takut tersakiti.
  • Sering terjebak dalam hubungan yang toksik.

Pola ini paling sering dikaitkan dengan trauma masa kecil atau pengasuhan yang menakutkan, di mana sosok yang seharusnya memberikan perlindungan justru menjadi sumber ketakutan bagi sang anak.

Dampak Ketidakstabilan Emosional pada Tubuh
  1. Peningkatan Kortisol: Kecemasan dalam hubungan meningkatkan hormon stres yang bisa memicu darah tinggi.
  2. Gangguan Tidur: Pikiran yang terlalu aktif karena cemas membuat kualitas tidur menurun.
  3. Kelelahan Mental: Terus-menerus waspada dalam hubungan menghabiskan energi otak secara signifikan.

Cara Memperbaiki Attachment Style dalam Hubungan

Meskipun gaya kelekatan sudah mendarah daging, kamu tetap bisa bertransformasi menuju secure attachment melalui proses yang disebut “Earned Security”. Caranya adalah dengan membangun kesadaran diri dan mulai menantang pola pikir negatif yang selama ini kamu miliki.

Pertama, identifikasi pemicumu. Jika kamu tipe cemas, berhentilah mengirim pesan berulang-ulang saat merasa takut, dan cobalah untuk menenangkan diri sendiri. Jika kamu tipe menghindar, cobalah untuk secara bertahap membuka diri tentang hal-hal kecil kepada pasanganmu. Jika kamu merasa pola hubunganmu selalu bermasalah dan menyebabkan stres berat, jangan ragu untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan bantuan profesional atau rujukan ke psikolog.

Selain menjaga kesehatan mental, pastikan kondisi fisik tetap prima dengan rutin mengonsumsi vitamin. Tubuh yang sehat akan membantu otak memproses emosi dengan lebih jernih. Kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah dengan mudah jika membutuhkan suplemen penunjang daya tahan tubuh.

Studi Terkait

The Journal of Personality and Social Psychology menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa individu dengan gaya kelekatan aman cenderung memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi dan risiko depresi yang lebih rendah dibandingkan tipe lainnya.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pasangan yang terdiri dari satu orang “secure” dapat membantu pasangan yang “anxious” atau “avoidant” untuk menjadi lebih stabil secara emosional seiring berjalannya waktu. Hal ini membuktikan bahwa lingkungan sosial dan dukungan pasangan berperan besar dalam penyembuhan trauma kelekatan.

Punya Keluhan Kesehatan Mental tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu mungkin merasa bingung dengan emosi yang naik turun dalam hubungan, atau merasa lelah secara fisik karena beban pikiran, tapi bingung harus mulai mencari bantuan dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Jangan biarkan pola emosional yang tidak sehat merusak kualitas hidupmu. Dengan bantuan yang tepat dan tekad untuk berubah, kamu bisa memiliki hubungan yang lebih harmonis dan bermakna.

Referensi:
Bowlby, J. (1988). A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Human Development. Basic Books.
Levine, A., & Heller, R. (2010). Attached: The New Science of Adult Attachment and How It Can Help You Find—and Keep—Love. TarcherPerigee.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Stress management: How to improve your relationships.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. What Is Attachment Theory?

FAQ

1. Apakah attachment style bisa berubah saat dewasa?

Ya, gaya kelekatan bisa berubah. Melalui terapi, pengalaman positif dalam hubungan, dan kesadaran diri yang tinggi, seseorang dapat bergeser dari gaya tidak aman (insecure) ke arah gaya aman (secure).

2. Bisakah dua orang dengan gaya avoidant menjalin hubungan?

Bisa, namun hubungan ini seringkali terasa sangat berjarak dan kurang keintiman emosional. Keduanya mungkin merasa nyaman karena tidak ada yang menuntut perhatian berlebih, namun hubungan tersebut bisa menjadi stagnan.

3. Bagaimana cara menghadapi pasangan yang anxious?

Kuncinya adalah memberikan kepastian dan komunikasi yang konsisten. Dengan memberikan validasi secara teratur, kecemasan mereka akan berkurang dan mereka akan merasa lebih aman dalam hubungan.

4. Apakah gaya kelekatan memengaruhi kinerja di tempat kerja?

Sangat mungkin. Mereka yang memiliki secure attachment cenderung lebih baik dalam bekerja sama dan menerima kritik, sementara mereka yang anxious mungkin terlalu khawatir tentang penilaian rekan kerja.